Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 34


__ADS_3

"Mira, kamu saja ya yang ikut meeting hari ini!"


"Loh, Ibu mau kemana?"


"Ibu gak kemana-mana!"


"Ibu rasa, ibu akan mempromosikan kamu sebagai ketua Divisi marketing, sebagai pengganti ibu!" ucap bu Jena tersenyum.


"Kok tiba-tiba bu?" tanya Mira mengkerutkan keningnya.


"Apanya yang tiba-tiba?"


"Ibu kan sudah melatihmu selama tiga bulan!"


"Ibu rasa kamu sudah bisa menggantikan ibu!"


"Hmmm. jadi itu alasan ibu?"


"Selama tiga bulan terakhir, ibu selalu membuat Mira bekerja lembur?"


"Oh, ma'afkan ibu Mira!" Bu Jena beranjak dari kursinya lalu memeluk Mira.


"Suami ibu meminta ibu berhenti bekerja!"


"Ibu sudah berbicara dengan pak Riko, dan beliau menyutujui nya,"


"Asalkan ibu harus mencari pengganti ibu! dan Ibu rasa kamu adalah orangnya." bu Jena melepas pelukannya.


"Terima kasih atas kepercayaannya bu!"


"Tapi ini terlalu mendadak untuk Mira!"


"Ibu kan tahu, Mira cuma lulusan paket C, dan juga baru bekerja tak lebih dari 2 tahun!"


"Secepat itukah Mira sudah menjabat sebagai ketua Divisi?"


"Jangan patah semangat Mira!"


"Ibu selalu mendukung mu!"


"Dan bila ada sesuatu yang mungkin saja membuat kamu bingung?"


"Telfon saja ibu! Akan ibu usahakan selalu ada di belakang mu!"


"Terima kasih bu,"


"Bolehkan Mira meminta sesuatu?"


"Kamu mau minta apa?"


"Bisakah Ibu, membimbing Mira sekali lagi!"


"Setidaknya Mira masih perlu bimbingan ibu lagi!"


"Dua bulan apakah cukup?"


Mira tersenyum lalu menggangguk-anggukan kepalanya.


-----


Di ruang rapat.


Semua terkejut dengan proposal yang di ajukan Mira pada rapat itu, apalagi Mira menyampaikannya dengan perasaan hangat. Tidak terlalu bersemangat ataupun terlalu lamban. Bahkan orang yang menghadiri rapat itu, sangat penasaran dengan Mira, siapakah sosok wanita itu? Wanita yang selalu ada di belakang bu Jena? Bahkan tanpa wanita paru baya itu, dia bisa mengajukan prosposal sebaik itu.


"Sangat menarik!" ucap Riko dengan bangga.


"Aku setuju dengan ide nya!"


"Bagaimana dengan yang lain?"


"Setuju!"


"Setuju."


------


Di ruangan Mira.


Suara tepuk tangan gemuruh menyambut Mira ketika dia memasuki ruangannya.


"Cie, yang baru dapat promosi!" ucap Rena bangga.


"Apaan sih!" Mira malu-malu dengan ucapan Rena.


"Traktir kita dong!" pinta Faisal seraya merangkul Mira, sehingga Mira hampir terjatuh.


"Aduh!" keluh Mira seraya menepuk-nepuk tangan Faisal.


"Heh, lepasin!" tangan Rena menarik paksa tangan Faisal yang di kaitkan ke pundak Mira.


"Ma'af, terlalu bersemangat aku tuh!" jawab Faisal terkekeh.


"Kan, jadi berantakan!" Mira membenarkan posisi baju dan juga rambutnya, karena ulah Faisal.


"Jadi kapan?"


"Sekarang aku lagi kanker Sal!"


"Bulan depan deh!" kata Mira menawar, pasalnya dia baru saja mengirimkan gajinya kepada orang tuanya. Mira selalu mengirimkan gajinya tiga bulan sekali kepada orang tuanya.

__ADS_1


"Bukannya baru gajian?" tanya Faisal heran.


"Suka-suka Mira lah, mau nraktir kapan!"


"Kalau duit loe masih banyak, sekali-kali gantian loe yang traktir kita!"


"Hehehe,"


"Ya sudah besok sore kita ngopi gimana?"


"Gue yang traktir!"


"Kenapa harus nunggu besok, ntar aja gimana?"


"Gak jadi deh, kalau gak mau!"


"Oke!"


"Eh guys! kalian semua dengerkan apa yang dikatakan Faisal?"


Faisal mengkerut kan keningnya.


"Kita semua bakal di traktir besok sore!


"Semuanya jangan ada yang pulang dulu! oke!"


"Eh... eh... eh..." Faisal berusaha menghentikan ulah Rena, pasalnya yang ingin dia traktir cuma Rena dan juga Mira.


"Oke!"


"Huuuuu...." sorak semuanya dengan gemuruh.


"****** gue!" ucap Faisal dengan menepuk jidatnya.


-----


"Sudah ada kemajuan?"


"..."


"Apa?" teriak Riko menggema di ruangannya.


"Bisakan lebih cepat!"


"Aku ingin segera menjebloskannya ke penjara!"


Ponsel dimatikan.


Dikarenakan teriakan Riko yang sangat keras, Yunita mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruangan bos nya itu, meskipun begitu Yunita sempat menyunggingkan senyumnya, dan segera kembali ke meja kerja.


-----


Mira keluar dari lift itu menuju ke ruangan Riko, sempat dia mendengar Yunita sedang berbicara ditelfon. Namun ketika Mira datang, Yunita buru-buru menyembunyikan ponselnya,


"Oh sudah datang?"


Mira membalas Yunita dengan senyuman.


"Hati-hati ya Mir, kayaknya pak Riko lagi suntuk!"


Mira kembali membalas perkataan Yunita dengan senyuman.


Mira memasuki ruangan Riko setelah mengetuk pintu. Dilihatnya memang raut wajah Riko nampak tak senang,


"Masih sibukkah?" tanya Mira mengagetkan Riko.


Riko tersenyum dengan kehadiran Mira, merasa bahwa Mira adalah penyembuhnya.


"Enggak kok!"


"Mari makan! sebelum dingin!"


Apakah aku harus meminta mas Riko untuk berbagi bebannya? Mira.


Mira mengurungkan untuk bertanya.


"Apakah ada sesuatu?" tanya Riko seraya menyeka wajahnya.


"Ah gak kok mas."


"Tapi daritadi kamu melihat mas!"


"Hmmm." Mira mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan.


"Bolehkan Mira berbagi beban dengan mas?"


"Tentu saja!"


"Baiklah! kalau begitu nanti malam Mira akan bercerita!"


"Mas harus siap dengan cerita Mira!"


"Iya mas siap!"


-----


Di ruang baca.


Riko menunggu Mira seraya membaca novel yang baru di belinya. Mira datang tepat di saat ponsel Riko berdering. Riko pun meminta ijin Mira untuk mengangkatnya sebentar.

__ADS_1


"Ma'af lama!" kata Riko seraya menutup pintu.


"Gak pa pa kok mas!" jawab Mira dengan senyum manisnya.


-----


"Mas mau kemana?" tanya Mira.


"Oh, mas mau keluar sebentar!" jawab Riko seraya memakai jaket.


"Hati-hati mas!"


"Bismillah!"


"Iya, Bismillahirrohmanirrohim."


Malam-malam begini, mau kemana mas Riko? Mira.


Ingin sekali Mira bertanya, namun lagi-lagi diurungkan, dia ingin Riko sendiri yang bercerita. Dengan Mira bercerita mengenai masalahnya, mungkin saja Riko akan bercerita juga mengenai bebannya.


-----


Di taman kompleks. Di dalam mobil Riko.


"Kenapa harus bertemu?"


"Tak bisakah lewat email?"


"Mungkin ini akan membuat anda marah!"


"Apa? Supir itu bunuh diri?"


"Iya pak!"


"Tapi sebelum itu dua hari sebelum dia bunuh diri, ada seorang pengunjung selain istrinya, bahkan menurut polisi yang bertugas itu sama sekali tidak mencurigakan,"


"Tapi menurut ku itulah yang terlihat sangat aneh!"


"Lalu bagaimana dengan istri dan putrinya?"


"Untuk istrinya, setelah pengunjung misterius itu, istrinya itu terus-terusan menangis kata penjaga di sana, mereka sama sekali tidak berbicara, cuma saling menenangkan.


"Kenapa jadi serumit ini?"


"Apa kamu sudah mengunjungi istri dari supir itu?"


"Sudah pak, tapi dia sudah pindah rumah setelah pemakaman suaminya."


"Bagaimana dengan anaknya?"


"Operasi mata anaknya berjalan lancar, dan juga sudah keluar dari rumah sakit tempat dia dioperasi, namun saya mendengar!" detektif itu ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Apa? apa yang kamu dengar?"


"Saya mendengar bahwa anak itu tidak bersama ibunya."


"Baiklah,"


"Hmmm,"


"Kamu tahu apa rencana mu selanjutnya?"


Detektif itu menatap mata Riko dengan tajam.


-----


Di jakarta.


Rama baru pulang dari kantor. Memasuki Apartement dengan lesu,


"Hah..."


"Sampai kapan aku bermain dengan sandiwara ini?" kata Rama seraya melonggarkan dasi dengan kasar.


Ding... nada chat dari ponsel Rama.


Tertera inisial 'A' di layar ponsel Rama.


Besok temui aku di coffee shop dekat kantor!


Dan jangan lupa bawa berkas nya!


Rama tak membalas chat itu, pikirannya masih melayang-layang apa yang harus dia lakukan besok.


Karena teramat sangat pusing, Rama memutuskan untuk segera mandi, mungkin itu akan membuat otaknya encer, begitulah yang dia pikirkan.


Ting tong... bunyi bel apartement nya.


Rama segera membuka pintu, kemudian menerima paket makanan yang dia pesan,


"Mie seafood, kesukaan Mira,"


"Apa kabarnya ya? kok dia gak pernah chat aku!" kata Rama seraya melihat foto profil di WA Mira.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2