
Di Mall.
Bu Eny sedang memilah perhiasan yang akan Ia berikan nantinya ke Mira saat pertunangan. Dia sedang memilih sebuah liontin kecil namun elegan,
"Mbak tolong ambilkan yang ini ya!" pinta nya pada seorang karyawan yang melayani nya.
Karyawan itu mengambilnya dengan hati'hati, kemudian memperlihatkan ke Bu Eny,
"Ini Bu!"
"Ini akan cocok sekali jika dipakai untuk acara lamaran!" katanya setelah tahu bahwa pelanggannya memilih untuk acara itu.
Bu Eny melihatnya dengan takjub begitu juga saat menyentuhnya,
"Tolong di bungkus ya mbak!"
"Baik bu!"
Saat sedang menunggu liontinnya, Bu Eny di kejutkan oleh seseorang yang sedang mendekatinya.
"Anda wanita yang kemarin kan?"
Bu Eny terlihat syok saat melihat orang itu lagi, belum sempat dia mengambil liontunnya yang telah siap dibawanya, orang itu mencegahnya dengan mengambil barangnya.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Bu Eny heran.
"Anda dari kemarin menghindari saya!"
"Bahkan saya menabrak mobil anda pun, anda masih mengacuhkan saya!"
"Dan lagi, kalau tidak salah!"
"Kemarin anda memanggil saya dengan sebutan 'Ayah' kan?" tanya nya menyelidik.
"Ma'af anda salah dengar!"
"Bisa minta tolong kembalikan barang saya?"
"Oh, ma'af!" orang itu mengembalikan barang yang diambilnya.
"Terima kasih!"
Bu Eny beralih ke karyawan tadi dan akan membayarnya dengan kartu ATM, namun orang itu mencegahnya. Tentu saja Bu Eny kaget.
"Ini sebagai kompensasi atas kecelakaan kemarin!"
"Ma'af saya tak bisa menerima nya!"
"Ini terlalu mahal!"
"Anda tak usah khawatir!"
"Ini toko saya sendiri!"
"Ma'af, meskipun begitu, saya masih tak bisa menerima nya!"
Karena Bu Eny sangat ngotot untuk tak menerimanya, akhirnya orang itu mempunyai inisiatif sendiri.
"Baiklah!"
"Kalau begitu saya beri diskon 50%!"
"Tapi pak?"
"Terima lah!"
__ADS_1
"Ini sebagai permintaan ma'af saya atas kejadian kemarin!"
"Baiklah!" akhirnya Bu Eny menerima nya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya orang itu, saat melihat bahwa Bu Eny terlihat bingung karena bertemu dengannya.
"Ma'af! Kebetulan hari ini saya sangat sibuk!"
"Bagaimana dengan besok?" seakan ingin tahu apa yang dipikirkan Bu Eny, orang itu sangat mendesak agar Bu Eny menerima permintaannya
"Baiklah!"
"Bisa minta kartu namanya?"
"Agar besok saya bisa memberitahukan tempatnya!"
Bu Eny membuka tas nya kemudian memberikan kartu namanya. Orang itu melihat sekilas kartu nama Bu Eny lalu mengerutkan dahinya.
"Ok!"
"Besok saya akan memberitahukan tempatnya!"
Bu Eny berpamitan dan berjalan cepat, seakan ingin buru-buru meninggalkan orang itu. Sedangkan orang itu mengambil ponselnya dan berkata,
"Tolong kamu selidiki seorang wanita dengan nama Eny Gunawan!" ponsel dimatikan.
-----
Di rumah besar.
Riko sedang mengemas barang-barang yang akan di bawanya di rumah Mira nanti, rencana nya dia akan menginap lagi. Setelah selesai mengemasnya kini Riko mengambil kunci mobil dan segera berangkat ke kantornya lagi. Karena.dia tadi pulang mengambil sebuah dokumen yang tertinggal. Saat akan membuka pagarnya tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang yang berada di ujung gang rumahnya dengan membawa sebuah kamera. Orang itu terlihat seperti sedang mengawasinya, Riko yang mencurigainya berjalan menuju ke orang itu, namun orang itu segera menaiki motornya saat tahu bahwa Riko sudah tahu tentang keberadaannya.
Riko tak membuntuti motor orang tadi dikarenakan dia memang harus kembali ke kantor. Tapi Riko sempat melihat nomor plat motor itu. Agar tidak lupa, segera Ia mencatanya di ponselnya dia simpan di draf. Riko pun berangkat ke kantornya lagi.
-----
Orang itu sedang menikmati makan siangnya bersama seorang remaja perempuan. Gadis itu sangat cantik, hidungnya mancung dan rambutnya hitam bergelombang. Mereka sangat menikmati makan siang saat itu,
"Pa, nanti jangam jembit Lisa ya!"
"Lisa mau ke mall sama temen baru Lisa!"
"Hmmm,"
"Baiklah!"
"Tapi apa kamu yakin kalau temen-temen mu benar-benar orang yang baik?"
"Tentu saja Pa!"
"Baiklah!"
"Tapi ingat!"
"Kalau pulang jangan kemalaman!"
"Iya Pa!"
Di saat bersamaan ternyata Riko juga sedang mengadakan pertemuannya dengan kliennya bersama Yunita. Ketika Riko berpapasan dengan orang tadi, Riko terlihat fokus seakan memastikan bahwa orang itu adalaha orang yang Ia kenal. Orang itu pun juga melihat Riko saat duduk di kursi yang telah mereka pesan, tentu saja juga ada klien yang sudah datang duluan.
Lisa menyelesaikan makan siangnya kemudian berpamitan, tak lupa dia juga mencium punggung tangan Papa nya. Namun Orang itu tak ikut pergi bersama Lisa, dia duduk kembali dan memesan kopi untuk menemaninya. Dia memang sedang menunggu Riko.
Setelah selesai bersama kliennya mereka berjabat tangan dan berlalu meninggalkan mejanya. Riko pun meminta Yunita agar kembali ke kantor lebih dahulu, seakan tahu bahwa orang itu menunggunya. Riko mendekati meja itu dan duduk di depannya,
"Kapan Ayah kembali?" tanya Riko seraya menarik kursinya untuk di dudukinya.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu Nak?"
"Apa Anak?"
"Apakah saya tidak salah dengar?"
"Ma'afkan Papa Riko!"
"Papa salah tak menghubungi kalian!"
"Apakah dengan meminta ma'af akan memperbaiki semuanya?"
Orang yang di panggil Ayah oleh Riko terdiam, dia tak menyesali perbuatannya.
"Tahukah anda?"
"Bahwa Kak Angga telah menemui Ibu ku?" tanya Riko geram.
"Apa?"
"Ada apa dengan kakak mu?"
"Kenapa anda harus kembali sekarang saat semuanya telah meninggalkan ku?"
"Kenapa anda tak kembali saat aku dan kak Angga sangat membutuhkan anda ketika Ibu kami meninggalkan kita?"
"Ma'afkan Papa!"
"Riko, Ayah menyesali perbuatan ayah dahulu!"
"Ayah benar-benar salah!"
"Tak perlu minta ma'af!"
"Saya hanya ingin memastikan!"
"Tolong jangan prrnha lagi menghubungi aku maupun kakak ipar!"
"Kita sudah tak ada hubungan sekarang!"
"Tapi Riko?"
"Tolong penuhi permintaan ku!"
"Kakak ipar agar merasa sangt tersakiti kembali saat bertemu dengan anda!" Riko berdir lalu pergi meninggalkan orang itu.
Seto Bambang Gunawan. Dia adalah Ayah dari Alhamrum Pak Angga, Riko dan juga Lisa. Dia meninggalkan Bu Senja, Ibu dari anak-anaknya ketika lebih memilih untuk tinggal bersama selingkuhannya, dengan membawa Lisa anak terakhir dirinya dengan Bu Senja. Dia meninggalkan Riko dan Pak Angga serta Bu Senja saat Riko masih berusia 8 tahun sedangkan Pak Angga saat itu sudah berusia 14 tahun dan kenapa sampai Bu Eny mengetahui bahwa orang yang menabraknya adalah mertuanya, karena Bu Eny adalah tetangga dari Pak Angga dahulu, tentu saja dia tahu tentang keluarga dari almarhum suaminya. Karena harus mengurus diri serta anak-anaknya yang masih kecil, Bu Senja rela bekerja lembur setiap hari demi menghidupi anak-anaknya dan menitipkan ke orang tua Bu Eny. Sampai saatnya Riko dan Pak Angga sudah dewasa, Bu Senja menyembunyikan penyakit yang telah lama menggerogotinya yaitu kanker rahim.
Akhirnya tiba saatnya dia harus menibggalkan putra-putra nya saat Pak Angga sudah mandiri dan sudah bisa mendidik Riko, dia pergi dengan tenang meskipun dia sudah sangt lama tak.bertemu dengan putrinya. Kira-kira begitu yang di ceritakan oleh Bu Senja kepada Riko saat sedang di ujung maut, meskipun begitu, dia meminta agar putra-putra nya tak membenci ayah mereka, bagaimana pun Pak Seto adalah ayah kandung mereka. Almarhum Pak Angga sebenarnya juga sudah sering bertemu dengan Pak Seto setidaknya setahun tiga kali, saat Pak Angga berkujung ke Malaysia ataupun saat Pak Seto berkunjung ke Surabaya. Namun berbeda dengan Riko, dia sama sekali tak bisa memavafkan perbuatan ayahnya, dia sangat menyalahkan Ayahnya atas kematian ibunya.
Berbeda dengan apa yang Alharhum Pak Angga, bahwa semua itu hanya kesalah pahaman antara Ibu dan juga Ayahnya. Itu pun Ia tulis dalam sebuah buku uang Ia serahkan kepada Riko sebelum kepergiannya, bahkan sampai saat ini Riko belum membukanya. Mungkin dia lupa.
-----
Di perjalanan.
Riko mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tak menyangka akan bertemu dengan Ayahnya di saat dia akan melamar Mira. Dia tak ingin Mira maupun keluarganya mengetahu tentang ayahnya yang pergi meninggalkan nya karena sebuah perselinhkuhan.
.
.
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya. Dan terima kasih buat semangatnya.
__ADS_1