Pertama Kali

Pertama Kali
Episode 61


__ADS_3

Di kedai kopi.


Dua orang yang saling berhadapan di suguhkan dengan dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap nya. Pak Seto mengambil canggir itu untuk meminumnya, setelahnya di letakkan tanpa menimbulkan suara.


 "Ayah akan cerita semuanya!"


Flashback on,


Hari itu sekitar jam 10 pagi, tak biasanya Pak Seto meliburkan diri untuk tidak bekerja, dia lebih memilih untuk mengasuh putri kecil nya sendiri. Biasanya Bu Senja akan ikut membawanya saat bekerja di butiknya.


Ting… tong… bunyi bel rumah itu,


Pak Seto berjalan ke arah pintu, meninggalkan putrinya yang sedang bermain bola di kamarnya.


"Merry?" sapa Pak Seto saat membukakan pintu untuk wanita itu.


"Mas Seto!"


"Hik… hik… hik…" dia menangis dan Pak Seto pun mempersilahkannya untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Silahkan duduk!" ucap Pak Seto seraya duduk di ujung sofa yang empuk, sementara wanita yang bernama Mery itu duduk di kursi sofa single di dekat pintu.


"Kamu kemana saja selama ini?"


"Saya ada di Jogja mas!"


"Mas Aro meminta ku agar tinggal di Jogja!"


"Hik… hik... Hik…!"


"Saya…!" ucap Mery dengan membelai perutnya memperlihatkan bahwa dia sedang hamil.


"Kamu sudah menikah?"


"Belum mas!"


"Tapi saya hamil anak mas Aro!"


"APA?" pak Seto tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu.


"Bagaimana bisa Aro menghamili mu?"


"Karena mas Aro laki-laki mas!"


"Hik... Hik... Hik…"


"Bukan itu yang aku maksud!"


"Aku tahu kalau Aro itu pria baik-baik!"


"Bagaimana bisa dia menghamili kamu?" ucap Pak Seto dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Apakah mas gak percaya sama saya?" tanya Mery dengan berlinang air mata.


"Mas bisa mengajukan tes DNA, sekarang saya sudah siap!" ucapnya mantap.


"Ah, sial!" ucap Pak Seto dengan mengacak-acak rambutnya. Dia bingung, tiba-tiba mereka mendengar Lisa menangis, Pak Seto pun berlari ke arah kamar Lisa yang berada di dekat ruang tamu itu. Lisa yang di gendong oleh pak Seto masih merengek, dengan boneka barbie ditangannya Pak Seto berusaha untuk menenangkan putri kecilnya itu.


"Lalu sekarang apa yang kamu mau?"


"Saya minta mas mempertanggung jawabkan kehamilan saya ini!"


"Apa kamu gila?"


"Bagaimana saya bisa bertanggung jawab atas kehamilanmu yang saya yakini belum tentu anak Aro?"


"Lau haruskah saya ke kuburan dan meminta pertanggung jawaban mas Aro?" tanya Mery lantang.


Karena kaget Lisa yang duduk di pangkuan Papa nya menangis, Pak Seto menggendongnya seraya berdiri.


"Kamu benar-benar wanita gila!" ucapnya dengan mengayun-ayunkan Lisa.


"CEPAT PERGI DARI RUMAH SAYA!"


"Atau akan saya laporkan kamu kepada security?" teriak Pak Seto.


"Silahkan mas!"


"Biar semua orang tahu kalau Aro meninggal karena azab, telah menghamili seorang gadis!" ucapnya gak kalah tinggi.


Bi Marni yang baru pulang dari warung buru-buru masuk ke dalam rumah untuk melihat kegaduhan di rumah itu. Terlihat Pak Seto sedang marah pada wanita itu.

__ADS_1


"CEPAT PERGI!"


"DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!"


"Baik saya akan pergi mas!"


"Jangan sampai kamu menyesal karena telah mengusir saya!" ucap Mery seraya mengambil tas yang dia letakkan di sofa.


Saat diambang pintu, Mery memegangi perutnya. Bi Marni yang melihat itu pun membantu Mery. Pak Seto tak memperdulikannya di berjalan ke arah kamar Lisa. Namun saat akan masuk ke kamar Lisa, Bi Marni memanggilnya,


"Pak!"


"Kayaknya Nona itu akan melahirkan!" ucap Bi Marni dengan mendekati Pak Seto dan membiarkan Mery bersingkuh di teras rumah itu.


"Tolong carikan taksi untuknya Bi!" jawab Pak Seto dengan nada datar.


"Tapi pak?" Bi Marni kasihan melihat Mery mengaduh kesakitan dengan memegangi perutnya.


"Hemmm, baiklah!"


"Tolong gendong Lisa Bi!" Pak Seto memberikan Lisa ke Bi Marni.


"Menyusahkan!" gerutu Pak Seto saat berjalan menuju Mery.


Pak Seto menghampiri Mery yang masih menahan rasa sakitnya, dia membopong Mery agar duduk di kursi teras. Dan masuk kembali ke rumah untuk mengambil kunci mobil. Bi Marni yang masih menggendong Lisa mengekori Pak Seto,


"Tut… tut!" ucap Lisa saat melihat Papa nya mengambil kunci mobil. Pak Seto menggendongnya.


"Bi!"


"Tolong hubungi Ibu ya!"


"Kasih tahu kalau bapak ada di rumah sakit!"


"Baik pak!"


"Ini Lisa Bapak ajak?"


Pak Seto melihat Lisa,


"Lisa dirumah saja ya sama Bi Marni!"


"Kan sebentar lagi kak Riko pulang!"


"Hadeh!"


"Ya sudah saya ajak Lisa Bi!"


"Tolong Ibu kabari agar secepatnya ke rumah sakit ya?"


"Iya Pak!" Bi Marni berjalan mengekori Pak Seto saat di teras, Mery sudah mengalami perdarahan, tentu Pak Seto dan Bi Marni panik.


"Tolong antarkan saya ke rumah sakit mas!" kata Mery dengan menahan sakit.


Pak Seto buru-buru mendudukkan Lisa di kusi depan dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. Disaat bersamaan Bi Marni membopong Mery untuk memasuki mobil itu, namun dia sedikit kesulitan. Selesai mengurus Lisa, Pak Seto dengan sigap menggendong Mery untuk masuk ke dalam mobil dan Bi Marni membukakan pintunya. 


Tak disangka Riko pulang dari sekolahnya, diantar oleh Bu Retno saat menjemput anaknya juga. Bu Retno yang melihat Pak Seto menggendong seorang wanita hamil itu pun penasaran, siapa wanita itu.


"Papa mau kemana?" tanya Rjko setelah turun dari motor Bu Retno.


"Papa mau ke rumah sakit Riko!"


"Kamu di rumah aaja ya sama Bi Marni!"


"Riko mau ikut Pa!" Riko kecil menarik tangan Papanya saat akan membuka pintu mobil.


"Riko sayang!"


"Riko sudah besar kan?"


"Kasihan Tante itu akan melahirkan, jadi Papa harus segera mengantarkannya ke rumah sakit! Ya?"


"Tapi Pa?"


"Dia siapa?" tanya Riko kecil polos.


"Dia hanya seseorang yang kebetulan Papa tolong!"


"Riko sayang!"


"Sebentar lagi Riko akan punya adik lagi!"

__ADS_1


"Jadi tolong biarkan Papa mengantarkan Tante ke rumah sakit ya?" sahut Mery dari dalam mobil saat kaca diturunkan.


Pak Seto, Bi Marni, Bu Retno, bahkan Riko pun terkejut dengan pernyataan wanita itu.


"Kamu gila ya?" ucap Pak Seto geram, bagaiman mungkin dia yang bukan siapa-siapanya bisa berkata seperti itu bahkan di depan orang banyak.


"Mas, tolong cepat antarkan aku!"


"Kalau tidak aku akan melahirkan bayi ini disini!"


"Aduh… aduh…"


"Dasar menyusahkan!" gerutu Pak Seto.


"Ma'afkan Papa Riko, kali ini Riko jaga rumah ya!" ucap Pak Sero saat duduk di kursi kemudi. Lalu mengemudikan mobilnya, keluar dari rumah itu. 


-----


Di Rumah sakit.


Pak Seto duduk di kursi tunggu di ruang persalinan bersama Lisa yang telah tertidur di pangkuannya. Lisa di dudukkan menghadap dirinya, sehingga pak Seto memeluknya. Tak lama kemudian Dokter yang berada di ruang persalinan itu keluar, Pak Seto berdiri.


"Selamat pak!"


"Putra ada sehat dan selamat!" 


"Begitu juga dengan ibunya!" ucap Dokter itu dengan tersenyum.


"Terima kasih dokter!"


"Kalau begitu kami permisi dulu!" ucap Dokter itu sebelum pergi.


Di kejauhan ternyata Bu Senja datang, ada Bu Retno yang bersamanya. Meskipun di rumah tadi Bi Marni menceritakan semua apa yang dilihatnya, tapi Bu Retno juga namun dengan versi berbeda. Di sepanjang perjalanan tadi Bu Retno mengatakan bahwa wanita itu adalah selingkuhan pak Seto, apalagi ada adegan gendong menggendong. Bu Senja tak serta merta begitu saja mempercayai perkataan dari Bu Retno, dia bisa mendengarkan penjelasan dari suaminya itu.


"Akhirnya Mama datang!"


"Dia siapa Pa?" itu pertanyaan yang dikatakan oleh nya Bu Senja untuk mengkonfirmasi bahwa yang dikatakan oleh Bu Retno adalah salah.


Pak Seto terpaku, diam.


"Kenapa diam Pak?"


"Benarkan perempuan tadi selingkuhan Pak Seto?" tanya Bu Retno sedang mengintrogasi.


"Bukan Bu!"


"Dia hanya kebetulan wanita yang sedang saya tolong!"


"Oh, jadi dia wanita hamil yang kebetulan datang ke rumah Bapak dan kebetulan Bapak gendong dan juga kebetulan Bapak antar ke rumah sakit?" cerocos Bu Retno.


Pak Seto geram,


"Tolong Bu Retno!"


"Kalau mau fitnah orang jangan sekarang!" ucap Pak Seto tegas.


"Tapi benarkan apa yang aku bilangin tadi?"


"Iya Bu!"


"Tapi itu sama sekali gak seperti yang kalian pikirkan!" Pak Seto berusaha meredam emosinya.


"Nah gitu, jadi apa yang aku omongin tadi gak fitnah kan?"


"Sudah diam semuanya!"


"Pa?"


"Jadi siapa wanita itu?" Bu Senja melihat suaminya meminta penjelasan.


"Suami pasien!"


"Tolong ikut saya sebentar!" kata perawat yang tiba-tiba saja datang.


Bu Senja geram, Ia mengambil paksa Lisa yang berada di gendongan suaminya. Pak Seto yang kaget, berusaha mencegahnya. Namun Bu Senja keukeuh mengambil Lisa dan meninggalkan Pak Seto di rumah sakit itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.


__ADS_2