
Di Rumah Besar.
Adzan maghrib telah berkumandang. Semua penghuni rumah sedang antri mengambil air wudhu. Selagi menunggu giliran Izza dan Mira berbincang-bincang.
"Dek, siapa yang mengumandangkan adzan?" tanya Mira selagi memperhatikan pria itu.
"Oh, dia anak Bi Lastri Kak!"
"Kalau gak salah nama nya Hari."
"Hari?" Mira mengerutkan dahi nya, dia menerka apakah Hari yang di maksud oleh Izza adalah Hari yang juga di kenal oleh nya.
"Ayo Kak!" ajak Izza untuk mengambil air wudhu.
Mira bangun, lalu mengikuti Izza. Karena memang tempat air keran nya ada dua, Izza mendapat giliran setelah Mak Idah menyelesaikkan nya. Sedangkan Mira masih menunggu Bu Eny. Kini giliran Mira, di belakan Mira sudah ada Riko yang mengenakan baju koko berwarna putih, dia juga akan mengambil air wudhu. Izza telah menyelesaikan wudhu nya, saat akan menunggu Mira, Riko mengibaskan tangannya sebagai kode agar Izza meninggalkan mereka berdua. Izza mengerti seraya memberikan tanda 'OK' ke Om nya itu. Mira telah menyelesaikan wudhu nya, kemudia Ia berbalik, Riko tersenyum menyeringai kepada Mira, dan tentu saja Mira menyadari nya.
"Jangan mas!" ucap nya dan memberikan tanda stop dengan ke dua tangannya tepat di dada Riko.
"Hehehe." dengan sengaja Riko memegang tangan Mira dua-dua nya.
"MASSS!" tak sadar teriakan Mira cukup keras, hingga membuat semua orang menengok ke arah nya.
"Mas Riko kak!" adu Mira pada Bu Eny saat melihat mereka. Bukan menegur Riko, mereka malah cekikikan dengan kelakuan dua sejoli itu.
Mira mengambil air wudhu lagi dan Riko mengikuti nya tepat di sebelahnya. Saat Mira sudah membasuh ke dua lengan tangannya dengan sengaja Riko menyenggol dengan siku nya. Riko cekikikan. Mira yang sudah tak tahan lagi, mematikan keran air nya,
"Mas!"
"Jangan buang-buang air lagi!" ucap nya sebelum masuk ke dapur untuk mengambil air minum, tentu saja dia juga menghindari Riko agar tak mengerjainya lagi.
Setelah Riko masuk ke dalam mushola, Mira mengambil air wudhu. Iqomah sudah mengalun merdu, dengan cepat-cepat Mira menyelesaikan wudhunya. Mereka sholat maghrib bersama.
Sholat maghrib selesai.
Mak Idah dan Bi Lastri yang juga di ikuti oleh Bu Eny meninggalkan mushola. Mira dan Izza menggantung mukena mereka yang akan di simpan di lemari. Saat melewati pintu, sedikit condong Mira memperhatikan Hari.
"Hari?" sapa Mira. Hari menengok ke arah nya.
"Mbak Mira?" ucap Hari seraya mendekati nya. Mira menggantung mukena nya dan mendekati Hari. Hari mengulurkan tangan nya dan Mira menerima nya.
"Mbak baru pulang ya?" ucap nya seraya tersenyum.
"Iya Ri!"
"Tadi saat aku bertanya pada Izza, mbak kira bukan Hari kamu!"
"Eh ternyata memang kamu."
"Senang bisa bertemu dengan mu lagi Ri!"
"Iya mbak!"
"Saya duluan ya mbak!" pamit Hari.
"Eh iya."
"Hem… hem… hem…!"
"Apa mas?"
"Senang bertemu dengan Hari ya?"
"Iya." ucap Mira seraya meninggalkan mushola, mengikuti Izza yang sudah duluan.
"Dek!"
"Tungguin mas!" ucap Riko saat memakai sendal nya.
-----
Setelah menyelesaikan makan malam, Mira mengikuti Izza ke kamar nya. Sedangkan Riko dan Bu Eny kembali ke kamar masing-masing. Mira bersender di ranjang Izza dan membaca novel yang baru Izza beli, sementara Izza membuka buku pelajarannya. Izza menutup buku nya dan dia juga menjadwal pelajaran besok, lalu melempar tubuh nya di samping Mira.
"Hufff!"
Mira menengok ke arahnya,
"Capek?"
__ADS_1
"Iya kak,"
"Capek banget, meres otak lagi!" keluh Izza seraya memeluk boneka doraemonnya.
"Hmmm,"
"Jangan mengeluh Za!"
"Nikmati saja! Mungkin sekarang kamu mengeluh, tapi nanti setelah empat tahun kemudian kamu akan merindukan masa-masa sekarang!"
"Begitu ya kak?"
"Iya,"
"Tahukah kamu bahwa masa remaja seperti kamu sekarang ini!"
"Banyak anak yang tidak bisa merasakannya?"
"Ha?" tanya Izza agar Tantenya itu memperjelas perkataannya.
"Kakak kan dulu juga gak sekolah SMA,"
"Dan akhirnya kakak harus mengikuti paket C, agar setara dengan SMA."
Izza membuang nafas perlahan.
"Kakak beruntung, bisa bertemu dengan keluarga mu!"
"Terima kasih ya Za?"
"Kakak…" Izza memeluk Mira.
"Berkat keluarga kalian kakak bisa seperti sekarang ini"
"Bisa memperbaiki ekonomi keluarga kakak!"
"Bisa ketemu Om Riko!" ucap Izza menimpali.
"Iya, semua itu berkat keluarga mu Za!"
"Iya Kak!"
"Izza sayang kakak!"
"Kakak juga saaayang Izza!"
"Ehem… eheem!" Riko berdehem di samping pintu, menandakan kehadirannya.
"Apa Om?"
"Gak pa pa!"
"Cuma…?"
"Cuma apa Om?" Izza dan Mira saling melihat, tidak mengerti apa yang di maksud oleh Riko.
"Cuma sampai sekarang kenapa masih memanggil Tante mu dengan sebutan Kakak!" kata Riko seraya duduk di kursi belajar Izza.
"Hehehe!"
"Maaf Om! Masih belum terbiasa soal nya!"
"Makanya di biasakan dong!" Riko melempar boneka minion milik Izza yang ada di meja belajar nya.
"Aduh!"
"Om rese!" Izza melempar lagi boneka minion nya, dengan cepat Riko menghindar, Riko menengok ke arah boneka yang jatuh, kemudian dia menjulurkan lidah nya meledek mereka berdua. Dengan cepat Mira melempar boneka doraemon yang di berikan oleh Izza, benar saja boneka itu tepat sasaran mengenai wajah Riko.
Buk…
"Hahaha…" tawa Mira dan Izza menggema di kamar itu.
"Kasihan!"
"Tos!" Izza dan Mira mengadu telapak tangan mereka.
"Heh,"
__ADS_1
"Awas! jangan sampai kalian lengah!" Riko memperingatkan mereka.
"Tak akan!" jawab mereka bebarengan.
"Ok!"
"Lihat saja nanti!" mata Riko menyeringai.
Namun Izza dan Mira tak memperdulikannya.
"Dek!"
"Ayo ikut mas!" ucap Riko seraya berdiri.
"Kemana mas?"
"Izza gak di ajak nih?"
"Mau jadi setan?"
"Apaan sih Om?" Izza mengerutkan dahinya, tak suka dengan perkataan Riko.
"Jangan berduaan dengan lawan jenis, karena yang ketiga adalah setan!"
"Nah kamu mau jadi setannya?"
"Heleh!"
"Alesan Om saja tuh!"
"Ayo Dek!"
"Iya mas!" Mira bangun dari ranjang nya.
"Jangan malam-malam Om pulang nya!"
"Ntar Izza aduin sama pak RT loh!"
Riko tak memperdulikan ancaman Izza, dia menarik tangan Mira agar segera keluar dari kamar keponakannya.
"Assalamu'alaikum Za!" pamit Mira saat keluar dari kamar dengan melambaikan tangannya.
"Waalaikumsalam Kak!" Izza membalasnya tanpa turun dari ranjang.
"Hati-hati, Bismillah!"
"Iya!" jawab Mira yang sudah tak terlihat lagi dari kamar Izza.
-----
Di kedai es krim.
"Adek ingat tempat duduk ini!" kata Riko seraya duduk dengan membawa dua mangkok es krim pesannya.
Riko memberikan satu mangkok berukuran sedang untuk Mira, rasa coklat dengan taburan messes warna-warni. Mira menganggukkan kepalanya dengan tersenyum malu, sebagai jawaban atas pertanyaan calon suaminya itu. Riko tersenyum melihat Mira yang sangat manis sekali karena sekarang sudah berhijab, terlihat semakin muda saja.
Beberapa orang memperhatikan mereka berdua, seakan menghina Mira lebih tepat nya. Mira yang belum sadar masih menikmati es krim nya, berbeda dengan Riko. Dia melepas jaket denim nya dan berjalan ke arah tempat duduk Mira, memakaikan jaket nya. Mira yang polos menerima nya dengan senyum tipis, kemudian melanjutkan memakan es krim nya. Ya benar saja, banyak orang memperhatikan Mira. Karena dia hanya mengenakan babydoll panjang dengan kerudung ikat belakang. Seakan mereka berkata bahwa ini bukan tempat tidur dan babydoll hanya baju tidur tidak untuk jalan-jalan.
Riko memperhatikan mereka yang melihat ke arah nya dan Mira. Akhirnya mereka malu sendiri karena tertangkap oleh mata Riko. Riko kembali tersenyum setelah melihat es krim Mira masih menempel di ujung janggut nya.
"Sudah?"
"Iya mas!"
"Sebentar!" Riko mengelap janggut Mira.
"Ayo!" Riko dan Mira berdiri, meninggalkan kedai es krim.
.
.
.
**Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohon krisannya.
Untuk Mira yang kini sudah berhijab, namun masih kontak fisik dengan lawan jenis! Mohon di pahami dia seorang remaja yang masih memperdalamai ilmu agama agar lebih baik. Terima kasih yang sudah mengerti. Salam dari Bojonegoro, Jawa Timur. Kalian dari mana**?
__ADS_1