
Di Rumah Besar.
Izza yang sudah tak sabar bertemu dengan Eyang nya menunggu di luar rumahnya, di teras tepat nya. Seraya meminum jus alpukat, sesekali Izza menengok mobil yang lewat di depan rumahnya. Tak lama kemudian sebuah mobil hitam mengkilat pun berhenti di depan rumahnya. Izza berdiri, lalu membuka pagar rumahnya. Aro membuka pintu, lalu turun dari mobil, disusul oleh Lisa yang duduk di kursi belakang. Izza sangat senang melihat Lisa dia akhirnya punya seorang Tante perempuan,
Semoga dia tak seiseng Om Riko. Izza.
Lisa melihat Izza dan mendekatinya.
"Ini Izza ya?" ucap Lisa dengan memegang kedua tangan Izza.
"Iya tante Lisa!" Izza tersenyum lebar.
"Hai!" sapa Aro saat melihat Izza menatapnya.
Lisa melirik ke arah Aro,
"Izza jangan menatap buaya ya!"
Izza kaget,
"Apa Tante?"
"Dia buaya Za!" Lisa memincingkan matanya melirik ke arah Aro.
"Apaan sih!"
"Buaya apaan?" Aro mengerutkan dahinya.
"Kenalin saya Aro!" Aro mengulurkan tangannya ke Izza.
"Panggil Kak Aro ya!" Aro mengedipkan mata kirinya.
"Nah kan, tuh buaya nya beraksi!" Lisa mendorong tubuh Aro dengan bahunya.
"Kamu kenapa sih Sa?" tanya Aro dengan nada tak suka.
"Jangan ganggu ponakan aku!" Lisa mengajak Izza masuk dan mengabaikan tangan Aro yang masih mengadah.
"Hmmm,"
"Ayo masuk!" Pak Seto menepuk bahu Aro. Aro mengikutinya.
Izza mengajak Lisa ke kamarnya,
"Tante ke kamar ku yuk!"
"Ayuk!"
"Mama mu mana Za?"
"Mama keluar sebentar tadi sama Om Riko, Tante!"
"Oh, kamu kok gak ikut?" Lisa dan Izza berjalan berdampingan.
"Kan lagi nunggu Tante sama Eyang!"
"Wah pasti kamu sudah gak sabar kan?"
"Hehehe,"
"Tante cantik!"
"Izza juga cantik!"
"Yuk Tante masuk!" Izza membuka kamarnya.
"Wah kamar mu bagus banget Za!"
"Luas lagi!" Lisa menduduki ranjang Izza.
"Tante nanti tidur di sini saja!"
"Biar bisa tidur bareng sama Izza gimana?"
"Oke!"
"Oh ya Za,"
"Kamu tahu tunangan kak Riko gak?"
"Kak Mira?"
"Mira, namanya?"
"Iya kak!"
"Kak Mira baik orang nya, cantik juga!"
"Oh, sering main kesini juga gak?"
"Hahaha, apa Om gak cerita sama Tante?"
"Cerita apa Za?"
"Ya cerita tentang kak Mira?"
Lisa menggeleng.
"Sebenarnya kak Mira itu dulu asisten rumahtm tangga ini Tante."
"Apa, ART?" tak sadar Lisa berteriak.
"Sttt!" spontan Izza menutup mulut Lisa.
"Ah, Sorry!"
"Ayo lanjutkan!"
"Akan Izza ceritakan, tapi jangn berpikir aneh-aneh tentang ka Mira ya Kak!"
"Dia memang wanita yang baik!"
"Iya Tante gak akan pikir yang aneh-aneh!"
"Jadi begini..." Izza menceritakan pertama kali Mira menginjak di rumah besar, bahkan dia bercerita dengan sangat antusias, karena memang Izza sangat menyukai Mira. Izza juga mengulang cerita nya saat Lisa tak mengerti.
"Oh, jadi Mira dari desa kemudian sekolah lagi, dan bekerja di kantor yang sama dengan kakak?"
__ADS_1
"Iya Tante, begitulah kira-kira!"
"Hmmm,"
"Oke lah kalau begitu!"
"Ayo kita turun, mungkin saja Mama mu sudah pulang!" Lisa berdiri.
"Ayo Tante!" Izza juga berdiri lalu mengaitkan tangannya ke Lisa, Tante yang baru Ia temu sejam yang lalu.
-----
Di Ruang tamu.
"Jadi kapan rencana akan diadakan lamaran di pihak calon wanita nya?" tanya Pak Seto setelah meletakkan Jus jeruk yang baru Ia minum.
"Besok sabtu pagi, kita kesana Yah!"
"Oh, semoga pilihan Riko adalah pilihan yang terbaik!"
"Aamiin!"
"Menurut Eny, dia wanita baik-baik Yah!"
"Kan dulu nya dia tinggal di sini!"
"Jadi Eny tahu sifat dia!"
"Iya Ayah percaya sama Kamu dan Riko!"
"Papa...," teriak Lisa lantang. Semua menengok.
"Tebak ini siapa?"
"Ini pasti Izza cucu Eyang ya?"
Izza mendekat, lalu mencium punggung Eyang nya.
"Ini Lisa?" Bu Eny merentangkan tangannya.
"Iya kak, ini Lisa!" Lisa memeluk Bu Eny, kakak iparnya.
"Ayo sini duduk!" Pak Seto menepuk-nepuk sofa di dekatnya.
"Terima kasih Eyang!" ucap Izza sopan.
"Wah ternyata cucu Eyang cantik ya?"
Izza tersenyum malu, tak di sangka dia sangat antusias sebelum.bertemu dengan Eyang nya. kini dia hanya diam, seakan takut kalau dia langsung manja di pertemuan pertama nya.
"Oh iya, Aro mana Pa?"
"Tadi Aro sama kakak mu, gak tahu kalau sekarang!"
"Mungkin sekarang dia lagi di kamar Riko, Yah!"
"Tuh mereka datang!" ucap Bu Eny saat melihat Riko dan Aro tertawa cekikikan.
"Wah semua nya sudah kumpul ya?" ucap Riko dengan bahagia.
"Gak nyangka, akhirnya kuta kumpul bersama!" ucap Bu Eny dengan haru, dia teringat almarhum pak Angga suaminya.
"Kita do'akan almarhum kak Angga!"
"Ayo kalau begitu kita sholat bersama, pas sekali sudah waktu nya!"
"Ayo...." jawab semua nya.
Semua yang ada di rumah besar, bergiliran untuk mengambil wudhu, suasana yang sangat di nanti-nanti pak Seto akhirnya terwujud, meakipun keluaega nya sudah tak utuh lagi. Aro yang telah wudhu dahulu, mengumandangkan adzan, Riko mengambil sarung dan peci nya untuk Papa nya karena peci yang sudah ada di mushola rumah mereka di pakai oleh Aro. Mak Idah dan Bi Lastri pun sudah memakai mukena nya, Bu Eny juga sedang memakai mukena nya. Izza dan Lisa juga menyusul mereka. Untung saja mushola mereka sangat luas seperti kamar mereka, memang di desain seperti itu oleh almarhum pak Angga, karena dia tahu suatu saat keluarga mereka akan utuh kembali. Namun pada akhirnya dia tak bisa melaksanakan sholat bersama mereka, maut siapa yang tahu? bahkan jika sekarang kamu lagi membaca tak tahu apa yang akan terjadi lima menit kemudian.
Setelah semuanya telah berkumpul, Aro mengumandangkan Iqomah dengan suara nya yang khas, serak. Pada awal nya Pak Seto meminta putra nya untuk memimpin sholat bersama mereka, namun Riko menolak dengan halus. Pak Seto lah yang harus menjadi Imam untuk mereka. Suasana haru menyelimuti rumah besar itu. Andaikan waktu bisa di putar kembali, Pak Seto akan berusaha meyakinkan Bu Senja agar mereka tetap bersama dan utuh seperti sedia kala.
-----
Di rumah Mira.
"Bi?"
"Apa Di?" jawab Mira tanpa menoleh ke Adi, dia masih fokus mengupas mangga yang Riko dapat dari pak Handoko tempo hari.
"Mas Rudy suka sama Bibi loh!" ucap Adi santai.
"APA?" refleks Mira teriak dan akhirnya tangannya tergores oleh pisau tajam yang Ia gunakan, mangga yang Ia kupas pun juga meloncat ke arah Adi.
"AHHH... BIBI...!" teriak Adi. Adi mengambil mangga yang ada di atas buku latihan soalnya.
"Kan... kan... basah!"
"Ya maaf Di!"
"Bibi gak sengaja!"
"Nih, tangan Bibi juga terluka!" Mira menunjukkan tangannya yang terluka.
"Pokok nya Bibi harus tanggung jawab!"
"Iya... iya bawel!" Mira beranjak dari kursi nya.
"Ah, BiBi rese!" Adi bergumam kesal.
"Ada apa ini?" tanya Indah yang darang dari arah kamarnya.
"Itu Bu, Bibi!" gerutu Adi.
"Bibi kenapa?"
"Lihat Bu!" Adi memperlihatkan buku nya.
"Gara-gara tadi aku bilang kalau mas Rudy suka sama dia, eh dia malah melempar mangga nya ke buku ku!" Adi kesal.
"Apa Di?"
"Rudy suka sama lek mu?"
"Bibi Bu!"
"Sekarang Adi panggilnya Bibi!"
__ADS_1
"Sudah lah Di!"
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Iya Mas Rudy suka sama Bibi!" Adi tambah kesal dengan ibu nya kini.
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah Bu!l
"Nama nya juga cowok!"
"Heh, kamu!"
"Dari mana kamu pelajari kata-kata itu?" Indah kaget dengan ucapan anaknya.
"Adi sudah dewasa Bu!"
"Tentu Adi juga tahu dong tentang suka sama suka!"
"Awas ya Di!"
"Jangan sampai ibu denger kalau kamu sudah pacaran!"
"Pacaran apaan sih Bu!" bela Adi.
"Tugas numpuk nih!l
"Mana sempat pacaran!"
"Apa?"
"Jadi kalau kamu gak punya tugas bakal pacaran gitu?"
"Santuy Bu! santuy!" Adi memilih untuk menghindar dari omelan Ibu nya, dia menutup buku nya dan masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau kemana?" teriak Indah.
"Mau tidur!"
"Bosen denger Ibu ngomel melulu!"
"Heh!"
"Dasar anak bandel ya!"
"Kerjakan dulu tugas mu!"
"Iya Bu! Iya... santuy dong!" jawab Adi dari dalam kamar nya.
"Apaan sih?l
"Kok teriak-teriak!"
"Itu mas!l
"Adi masa dia sudah bilang suka-sukaan!" Indah duduk di kursi dengan menyilangkan tangannya, dia kesal.
"Oh, aku kira apa?"
"Apa? kenapa mas gak kaget sama sekali?" Indah mengerutkam dahi nya
"Jangan-jangan mas dulu juka sudah suka-sukaan ya di umur segitu?"
"Ayo ngaku?"
"Lupa? hahaha..." Dimas menggoda istri nya, jika Indah kesal bukannya Dimas menenangkan istrinya tapi dia malah menggida Indah, karena menurutnya Indah lucu saat sedang kesal.
"Mas mau kemana?" tanya Indah, karena suaminya juga menghindari nya.
"Mau tidur, kenapa mau ikut?"
"Gak!"
"Hahaha..." Dimas tertawa dari dalam kamar nya.
"Kakak kenapa sih?" tanya Mira yang baru datang, dia sedang memberi plester ke tangannya yang terkuka tadi.
"Itu kakak sam ponakanmu!"
"Hadeh!"
"Mereka kan memang suka menggoda kakak!" Mira duduk di sebelah kakak nya.
"Eh, tadi Adi ngomong,"
"Kalau Rudy suka sama kamu loh!"
"Apa benar itu?"
"Kakak apaan sih!"
"Adi bohong itu!"
"Kalau kakak rasa dia tak berbohong!"
"Sebenarnya, beberapa kali kakak memergoki Rudy sering memperhatikan mu loh!"
"Ah biarin saja kak!"
"Kan kita sudha lama temenan!"
"Lagi pula, kan besok sabtu Mira sudah mau di lamar!"
"Jadi Mira gak mau bahas-bahas masalah Rudy lagi loh!"
"Ingat loh kak!"
"Iya-iya... calon pengantin!"
.
.
.
Bersambung. Terima kasih sudah mampir, mohin krisannya.
__ADS_1
***Selamat hari kemerdekaan. Terima kasih negeri ku, semoga setelah hari kemerdekaan ini bumi kita bisa sembuh kembali seperti sedia kala.
Al-fatihah untuk para pejuang negeri kita***.