Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Sembilan •


__ADS_3

Malam pun tiba,


Aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit bersama Zera menggunakan sepeda motor miliknya.


Aku menunggu di teras depan, setelah mengunci dan memastikan bahwa rumahku aman dari jeratan maling.


Saat aku menunggu, Kyeri datang membawakan bekal untuk ibu. Padahal aku sudah membawa juga, tetapi tidak apalah.


"Mana kok Zera belum dateng?" tanya Kyeri menemani aku di teras depan.


"Sebentar lagi mungkin," jawabku santai.


"Jangan tidur malem-malem ya, inget besok kita mau ke SMA."


"Siap pak bos," ucapku sembari memberikan hormat ke arah Kyeri.


Tidak lama kemudian Zera datang,


Motornya terlihat penuh karena ada karet motif yang di lipat dan di taruh di depan serta tas mudik entah apa isinya.


"Lo mau kemana?" cetus Kyeri.


"Kenapa? Lo mau ikut? Sorry motor gua gak cukup lagi," jawab Zera.


Bak kucing dan guguk, Zera sama sekali tidak bisa akur dengan Kyeri begitu pun dengan Kyeri ke Zera.


"Ayok Nadt, nanti keburu malem."


"Iya, iya. Kamu repot amat sih Ze, udah kayak mau mudik aja!" omelan ku saat naik ke atas motor.


"Ya gak apa-apa lah. Itung-itung kita lagi piknik, tapi piknik di Rs hehehe," jawab Zera sembari tertawa.


"Aku berangkat ya Ke, bye."


"Eee dadah Kyeri, gua mau culik Nadta dulu bye-bye," ledek Zera.


Selama di perjalanan, hanya ada lampu penerangan dari motor saja dan sinar rembulan malam ini pun cukup membantu perjalanan kami.


20 menit perjalanan ke rumah sakit,


Aku dan Zera pun akhirnya sampai juga. Aku langsung membantu Zera membawakan barang-barang yang ia bawa dan kami masuk ke RS bersama.


"Hoam, ngantuk gua Nadt," ucap Zera saat menaiki tangga.


Kami berdua melewati lorong rumah sakit yang cukup gelap dan aura dingin pun seketika menyelimuti kami.


Tiba-tiba angin dingin pun lewat tepat di antara Aku dan Zera. Seketika bulu kuduk kami merinding, entah apa yang baru saja lewat yang pasti aku dan Zera lari secepatnya melewati lorong yang cukup panjang ini.

__ADS_1


Setelah lolos melewati lorong itu, Aku dan Zera pun merasa tenang dan aura hangat kembali menyelimuti tubuh ini.


"Tadi itu apa Ze?" tanya ku ke Zera.


Wajah Zera masih pucat dan tangan Zera pun masih dingin. Setelah aku menamparnya cukup keras, barulah Zera kembali hangat lagi tubuhnya.


"Gu-gua ta-tadi liat i-itu," ucap Zera gemetaran.


"Liat apaan?" tanya Nadta.


"Udah lah ayok kita cepet ke ruangan ayah," lanjut aku lagi sembari menarik tangan Zera.


Sebenarnya aku takut tetapi kata orang zaman dulu, kalau kita takut sesuatu yang tidak kita nampak itu malah semakin ingin menganggu kita.


Tetapi jika kita biasa saja walau sebenarnya takut, mereka yang tidak terlihat itu malah bingung dan heran.


Sesampainya di ruangan ayah, aku dan Zera terengah-engah karena lari di turunan.


"Ibu, maaf baru datang," ucapku menghampiri ibu.


"Iya, gak apa-apa kok."


"Zera kenapa?" tanya ibu saat melihat wajah Zera begitu pucat.


Tanggannya dingin dan berkeringat, tetapi tubuhnya hanya bisa mematung di tempat depan pintu ini.


"Ze, kita udah sampe," ucapku menepuk pundak Zera.


"Kamu kenapa Ze?" tanya ibu.


"I-itu Bi, pas jalan di lorong tadi ada angin dingin lewat di antara aku dan Nadta. Terus pas aku gak sengaja nengok, ada cwe baju putih gak napak."


"Makanya dari tadi pas di lorong aku diem aja. Setelah aku dan Nadta berhasil lewat lorong itu, ada suara ketawa kenceng banget di telinga aku. makanya aku diem aja," lanjut Zera.


Seketika bulu kuduk aku merinding dan badanku juga mulai beraura dingin. "T-tapi gua gak denger loh Ze," sahutku saat keluar dari toilet.


"Kayaknya cuma aku aja deh, soalnya aku lagi haid. Mungkin dia nyium kali ya," ucap Zera ketakutan.


"Yaudah kalau gitu lain kali kesini jangan malem-malem lagi ya."


"Iya bu."


Setelah makan malam bersama dan aura mistis itu hilang, aku menceritakan sesuatu yang penting ke ibu.


Yaitu tentang beasiswa yang aku dapat dari sekolah. Tanpa biasa sama sekali. Saat mendengar hal itu, ibu hanya bisa menangis sembari bersujud syukur.


Memeluk tubuhku dan berkata, "Ayah juga pasti senang karena dia tau kalau kamu menerima beasiswa lagi untuk melanjutkan sekolah di SMA."

__ADS_1


"Dapet di SMA mana Nadt?" tanya Zera.


"Di SMA Citra Bangsa, satu sekolah lagi deh sama Kyeri."


"Wah bagus itu, jadi kan ada yang jagain kamu selama disana," ucap ibu.


Mata ibu berbinar, bahagia juga meliputi raut wajahnya yang begitu kelelahan tadi. "Hebat," ucap Seseorang di dalam ruangan ini.


Mereka semua mendengarkan suara yang sama, tetapi karena hal mistik tadi aura dan sugesti mereka bermain kembali.


"Kan merinding lagi," bisik Zera memeluk tangan ibu.


Begitupun dengan aku memeluk lengan ibu begitu kencang. Ibu hanya bisa terdiam jantungnya pun berdegup kencang.


Tidak lama kemudian terdengar suara lakukan kaki dari luar ruangan entah itu asli manusia atau bukan. Yang pasti aku, ibu dan Zera mematung selama beberapa menit.


"Kok diem?" tanya suara itu lagi.


'Aneh, kalo memang itu suara mistik, mungkin saja aku Zera dan ibu tidak bisa mendengar tapi kali ini sudah dua kali kami mendengar hal yang sama,' batinku memecahkan kasus mistik ini.


Aku dengan berani melepaskan pelukan tangan ibu dan beranjak bangkit dari duduk. "Mau kemana?" bisik Zera.


"Syuut," ucapku menempelkan jari telunjuk di depan mulut.


"Kenapa?" bisik Zera lagi.


Aku melihat ke sekeliling dan tidak ada siapa-siapa, Ayah pun belum sadar dari tidurnya. Aku hanya menengok kanan kiri, kemudian mengangkat bahu diiringi ke dua tangan naik.


"Gak ada?" tanya Zera.


"Gak ada," ucap ku santai.


Saat aku menoleh ke arah ayah lagi, Tiba-tiba saja ada sepasang mata melotot menatap ku. Sontak aku berteriak hingga terjatuh.


"Aaaaaa," Brugh!


Deg.. deg.. deg..


Jantungku tidak beratutan dan Zera pun mematung kembali. Ibu sudah tau pasti ini ulah siapa dan saat ibu bangkit dari duduknya, Plak.. plak.


Pukulan mendasar tepat di bahu ayah. Ayah ternyata sudah sadar dari tadi siang, saat aku dan Kyeri kembali ke rumah.


Saat aku kembali ke ruangan, ternyata ayah hanya pura-pura tertidur saja dan mendengar semua ceritaku dan Zera selama di perjalanan tadi.


Akhirnya ayah memiliki niatan untuk menjahili kami. Tapi..


"Suara langkah kaki di luar tadi siapa? orang kah atau bukan?" tanya Zera sembari merinding kembali.

__ADS_1


Akhirnya malam itu aku dan Zera hanya bisa berpeluang sembari tidur terbungkus selimut dan menutupi telinga kami dengan bantal saja.


Bersambung...


__ADS_2