Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Dua Puluh •


__ADS_3

...Rival Baru...


..._______________________________...


'Apaan sih nih orang cari perhatian Nadta aja!' umpat Kyeri dalam hatinya.


Kyeri pun menyalakan motornya dan meninggalkan Kediaman tante ku dan pergi pulang ke rumah ku.


"Siapa sih itu Nadt? Kok sombong banget kelihatannya!"


"Itu sepupu aku, umurnya di atas aku 2 tahun. Tapi aku juga baru tau kalau dia sekolah di SMA kita."


"Nah makanya itu."


"Kamu pernah ketemu dia?" tanyaku lagi.


"Iya waktu mos aku pernah ketemu dia."


"Kayaknya dia anak osis. Kamu jangan ikut osis ya Nadt," pinta Kyeri.


"Iya, aku juga gak minat."


"Bagus, bagus."


"Emang kenapa kalo aku ikut osis?" tanyaku lagi.


"Ya gak apa-apa, aku gak suka aja."


"Hmmm, alasan yang gak masuk akal."


"Udah pokoknya kamu gak usah ikut-ikut organisasi ya. Udah anteng aja belajar bareng sama aku."


"Apa? Sama kamu? Hmm ada geh kamu yang nyontek aku terus nanti."


"Hehehe iya juga ya."


Sesampainya di depan rumahku, aku langsung menuju pintu masuk, membuka pintu dan menaruh bingkisan makanan yang tante titipkan untukku dan juga menaruh bingkisan yang Viko berikan untukku.


"Nadtaaaa," panggil Kyeri dari luar.


"Apa?"


"Gak apa-apa. "


"Hmmm nganeh."


"Numpang nonton tv Nadt, mamah lagi nonton sinetron gak bisa di ganggu jadi," jelas Kyeri dengan wajah memelas.


"Yaudah masuk."


Aku pun membukakan pintu untuk Kyeri. Membiarkannya menonton bola hingga tengah malam.


Bahkan aku pun tertidur di depan ruang keluarga demi menemani Kyeri menonton sepak bola.


Kyeri juga lah yang membukakan pintu saat ibuku pulang bersama Zera. Bahkan Zera pun menginap di rumahku.


...~▪︎~...


Pagi pun tiba, Aku sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Bahkan Kyeri pun sudah menunggu di depan pintu.


"Kyeri kalian udah belajar full belum sih?" tanya ibu.


"Belum terlalu bu, tapi mungkin sebentar lagi masuk full."


"Oalah, gitu. Jadi hari ini kalian pulang kayak biasa kan?"

__ADS_1


"Iya bu, sekitar jam 12.00an lewat gitu."


"oh, yaudah. Makasih ya infonya."


Tap ... tap ... tap ... tap ...


Aku sengaja menghentak-hentakan kaki agar sepatu yang aku pakai pas di ukuran kakiku.


Aku pun siap berangkat. Sembari menyalimi tangan ibu, begitu pun dengan Kyeri barulah kami berangkat.


Saat baru saja menaiki motor Kyeri aku melihat mobil clasik berwarna cokelat turun melewati jalan di atas.


'Kayaknya itu Viko deh!'


Aku pun langsung menepuk pundak Kyeri agar ia segera melajukan motornya pergi dari rumah sekarang.


Setelah aku merasa motor Kyeri sudah jauh dari perkarangan rumah, aku langsung berkata ke Kyeri. "Agak ngebut dikit Ke, di belakang Kayaknya ada mobil Viko." Dan Kyeri pun menuruti perkataanku.


Layaknya balapan di tengah jalan perkampungan, Kyeri mengendarai motornya dengan kecepatan full dan begitu pula dengan Viko.


Tidak sampai 30 menit, aku, Kyeri dan Viko sampai di sekolahan.


Kyeri yang begitu emosional langsung turun dan menghampiri mobil Viko sembari menggebrak kap mesin mobil.


"Keluar Lo!" ucap Kyeri sembari menunjuk.


Blam!


Viko keluar dari mobilnyadengan santai, wajahnya tenang bahkan tidak terpancing emosi sama sekali.


"Kenapa men?"


"Kenapa-kenapa, lo ngajak ribut?"


"Ke udah, masih pagi ini."


"Kyeri! Udah ayok kita masuk."


Aku menggandeng tangan Kyeri penuh dengan kekuatan tinggi agar sama dengan emosi yang Kyeri keluarkan.


Grek!


"Udah duduk!" ucapku begitu tegas.


Bruk!


"Kamu ini ngapain nyari gara-gara sih Ke? Kita ini masih murid baru. Janganlah cari masalah sama keting."


"Bukan karna Viko sepupu aku makanya aku nyebelin dia, Bukan! Aku gak mau kamu jadi inceran guru BK cuma karena masalah sepele."


"Kyeri! Kamu denger aku gak sih?" tanyaku saat melihat Kyeri begitu acuh tak acuh.


"Iya, maaf."


"Huh ... udah sekarang kita fokus aja belajar dulu. Buat citra baik di sekolah ini."


"Iya Nadta ku yang cerewet!"


...~▪︎~...


Pelajaran pun tak lama di mulai, bahkan menyelesaikan seluruh tugas bersama lebih awal.


Teng ... teng ... teng ....


"Kantin yuk woy," ajak Renaldi.

__ADS_1


"Ayok!" ucap semangat Tiyas.


"Ayok Ke, ayok Nadt, ayok Teo."


"Iya, iya."


Sesampainya di kantin, tumben kantin belum banyak penghuninya. Jadi kami masih bisa memilih tempat yang ingin kami pilih.


Tak lama kemudian, benar saja segerombol siswa datang memenuhi kantin tepat di pojok. Dan siswi di bagian tengah kadang sesuka hati mereka.


Baru saja aku menikmati makanan yang ada di hadapnku, tiba-tiba saja sekelompok siswa datang menghampiri kami menggebrak meja kami.


Membuat aku terkejut dan sedikit naik pitam. Aku kali ini tidak memikirkan emosiku tetapi aku memikirkan Kyeri.


Karena Kyeri dari tadi pagi sudah memasuki puncak emosionalnya. Benar saja, saat aku menatap Kyeri, tatapan tajam dan dingin pun terlihat.


Sebelum Kyeri bangkit dari kursinya, aku langsung melontarkan sebuah kata,"APA?!"


"Set langsung ngegas aja lu!"


"Tau gak ini tempat apa?"


"Kantin."


"I-iya bener sih bos ini kantin, tapi ..." ucap anak buah yang berada di belakangnya.


"Ini wilayah gua!"


"Ini kantin sekolah dan milik sekolah. Bapak lo rektor sini? Atau bapak lo pelopor sini atau bapak lo kepsek sini?" tanyaku begitu berani.


"Lo ini berani ya sama gua?!"


"Gua tandain nama lo, Nadta."


"Gua juga nandain nama lo boy! Sampah masyarakat!" cetus Kyeri.


"Apa? Coba ulang lagi!"


"SAM PAH MAS YA RA KAT!"


"Ngelunjak lo ya!" ucap orang ini sembari melayangkan sebuah bogem mentah ke Kyeri.


Namun sayang bogem mentah itu tertahan oleh ketua osis dan ketua osis pun langsung melerai perkelahian itu.


"Cih! Sial!" orang itu pun langsung mengelap tangannya dengan bajunya dan langsung pergi meninggalkan lokasi.


"Lain kali jangan berkelahi di kantin."


Deg!


'Jadi ketua osis ini Viko?!' ucapku dalam hati.


"Dia yang cari masalah."


"Kamu ini perempuan Nadt jangan suka cari keributan sama mereka. Mereka itu biang sekolah."


"Mereka masih manusia kan? Bukan tuhan? Lalu kenapa aku harus takut? Mau saya berkelahi dengan siapa pun, kamu gak ada hak ngatur saya."


Ting ...


Aku melemparkan garpu ke atas sebuah piring dan pergi meninggalkan kantin. Menitipkan bayaran ke Tiyas dan langkah ku di susul oleh Kyeri.


"Baru kali ini gua liat semarah dan seberani itu," gumam Kyeri saat menyusul langkahku.


'Apa mungkin dia seperti ini karena ayahnya ya? Karena ayahnya sudah tiada makanya dia harus bersikap kuat demi melindungi dirinya sendiri?!'

__ADS_1


Pertanyaan demi pertanyaan terucap dalam batin Kyeri. Bahkan rasa kekaguman Kyeri pun terucap dalam batinnya.


Bersambung ....


__ADS_2