
"Kamu abis nangis ya Ke?" tanya ku masih setengah-setengah sadar.
"Apaan sih enggak geh, tadi ada nyamuk masuk ke mata."
"Hah? Nyamuk masuk ke mata emang bisa?" tanya ku lagi sembari menatap Kyeri serius.
"I-i iya bisa."
"Tapi kok mata kamu enggak bentol? Apa belum kali ya," ucapan ku itu membuat diriku sendiri malu.
"Nadt, Nadt. Lo ini pinternya beneran apa enggak sih? Bingung gua. Yakali aja nyamuk masuk ke mata gua, kalo debu iya."
"Lah iya, ya."
Kyeri yang begitu kesal dengan sikap ku yang begitu polos atau emang nyawaku belum sepenuhnya kumpul.
Ctek..
Kyeri menyelentik dahi ku, mungkin itu akan menjadi maskot baru yang akan Kyeri lakukan ke diriku kalau ia sedang kesal denganku.
"Sakit! Kyeriii!"
"Hahaha makanya sih lo ini jangan ppb."
"Apa ppb?"
"Pinter pinter bodoh."
"Ngelujak kamu ya Ke."
"Udah, udah, udah. Ini sayur dari nenek kamu, tadi si cempreng itu yang ngasih," jelas Kyeri memberikan bungkus sayur yang Kyeri gantung di gagang pintu.
"Cempreng siapa?"
"Sesepu kamu lah."
"Oh Zera, yaudahlah aku mau pulang. Kamu mau disini apa ikut?"
"Ikutlah, ya kali di sini sendirian."
Sore itu aku dan Kyeri pulang dari rumah pohon dengan berjalan kaki. Aku membawa bungkus sayur yang Zera titipan ditangan sebelah kanan dan tangan sebelah kiri menghimpit bantal yang tadi terjatuh.
Sedangkan Kyeri membawakan kain gendongan yang dia ikat di pingangnya, seperti penari-penari di desa.
Banyak orang yang lewat tersenyum ketika memperhatikan Kyeri, bahkan aku sendiri malu melihat Kyeri seperti itu. Tetapi Kyeri sama sekali tidak malu bahkan lebih percaya diri.
"Aaaa Erii," sapa gembira sang adik mungil di depan teras rumahnya.
Kyeri hanya membalasnya dengan lambaian tangan sembari tersenyum manis.
Grek..
Hoam..
"Lah Kyeri mana?" tanyaku saat menoleh ke arah belakang.
"Nadt liat geh."
Kyeri dengan percaya diri memamerkan gedongan yang salah saat menggendong sang adik.
"Bhaahahaha itu salah Kyeri," tawa puas dari ku saat melihat gendongan itu.
Gendongan yang ia pakai hanya seperti dililit ke tubuhnya saja tanpa ada kekuatan. Sementara adiknya duduk tepat di bahu tangan Kyeri.
"Oh salah ya," ucap Kyeri langsung membenarkan gendongan tersebut.
Setelah dua menit berlalu, "Gini?" ucap Kyeri menunjukan hasil kain gendongannya lagi.
"I-iya bener sih cuma, bagus kok."
'Cuma kebakaran Kyerii,' umpatku dalam hati.
"Siip kan."
Kyeri menggendong adiknya bukan tepat di pinggang melainkan di bawah tepat di bagian belakang (bo***g).
"Kyeri, Kyeri," gumam ku.
...----------------...
15 menit berlalu.
"Udahlah dek kita pulang aja ya kamu berat banget, sampe kemeng sebelah tangan aa."
Kyeri membawa adiknya pulang saat aku sedang membersihkan tubuh dan ia kembali lagi sembari membawa buku serta gorengan hangat yang ibunya buat.
"Nadt, Nadta?"
"Apa? Aku lagi salin sebentar Ke."
"Gua dateng nih sambil bawa makanan ke sukaan mu," ucap Kyeri dari dapur.
__ADS_1
"Taro aja nanti aku wadahin."
"Iya, udah."
Grek..
"Makasih ya Ke," ucapku walau belum tau makanan apa itu.
"Iya sama-sama. Nadt sini geh."
"Apa?"
Kyeri pun menunjukan sebuah kertas surat yang ia dapat setelah selesai masa orientasi siswa.
"Coba liat."
Srek..
Aku mengambil surat yang ada di tangan Kyeri dan membacanya bait demi bait.
_______________________________
Untuk Matteo
Aku mengenalmu sangat lama
Mungkin hati ini akan terasa hampa
Jika aku harus bersaing dengannya
Aku akan kecewa jika kamu tidak membalas
Tetapi aku tidak boleh menyerah
untuk mendapatkan perhatian darimu sekaligus
Aku harus berjuang walau hati ini terasa perih
Matteo ku,
Aku ingin memberi tahu dirimu
kalau aku benar-benar mencintaimu
Tulus dari hati ku paling dalam.
Jika aku ada kesempatan kau harus membalas surat yang aku berikan ini.
_______________________________
Srek..
"Hmmm, hmm agaknya bentar lagi ada yang jadian nih. Kepoin tuh sama siapa yang ngasih biar kamu gak jomblo melulu."
"Gak, gua gak mau."
Srek ... srek ....
Kyeri merobek surat cinta yang ia dapat dan dan langsung mengepalnya seperti bola.
Ting..
Kyeri membuang kertas itu dengan raut wajah kesal. Mungkin Kyeri mengira aku akan cemburu atau marah tetapi aku malah tertawa begitu bahagia.
"Pokoknya besok lu ikut gua masuk sekolah. Jam 7.30 kita berangkat, lo harus bareng gua pokoknya." Kyeri memberikan perintah.
"Ih maksa banget kamu ini Ke, udahlah pulang sana."
Blam!
Kyeri akhirnya kembali ke kediamannya sembari mendengus kesal karena kenyataan yang ia inginkan tidak sesuai expetasi.
'Kyeri bakal punya cewe ya? Masa secepat itu? Apa Kyeri bakal ngelupain aku? Atau Kyeri ... Argh sial! kenapa overthiking gini sih kamu Nadt?!" ucapku dalam hati.
"Dah dah, besok kita harus sekolah. Jangan buat ibu kesel atau pun sedih. Sekarang aku harus buat ibu bangga sama aku."
Pukul 23.00
"Oh astaga Nadta! Kenapa kamu gak ngantuk sih? Astaga ayok tidur Nadt ayok, jangan sampe besok telat," ucap ku sembari menepuk-nepuk kedua pipi.
Pukul 01.30 am
"Bentar lagi sekolah Nadta! ayok istirahat," gumam ku sembari memeluk guling.
Pukul 03.00 am
"Hoam ... Akhirnya aku bisa- Hooorgh."
...----------------...
Pukul 07.00 am
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ....
"Nadta! Nadta!" panggil Kyeri dari pintu depan.
"Pasti anak ini begadang lagi deh," gumam Kyeri berjalan menuju pintu belakang.
Tok ... tok ... tok ....
"Nadta! Nadta!"
"Hmmm kayaknya masih tidur deh, oke. Mari kita bangunkan tepat di jendelanya." Kyeri memulai rencana.
Jendela kamar Nadta.
Tok ... tok ... tok ....
"NADTA! NADTA!"
Tok ... tok ... tok ....
"NADTA! NADTA!"
Tok ... tok ... tok ....
"NADTA! NADTA! AYOK BANGUN HEY! KITA MAU BERANGKAT SEKOLAH."
Tok ... tok ... tok ....
Brak ...
"BERISIK WOY! GUA BARU TIDUR."
Aku melempar sesuatu ke arah jendela, entah apa karena mataku masih terpejam. Begitu sulit untuk membuka mata ini bahkan mimpi saja tidak mau aku pergi.
"Kan bener," gumam Kyeri.
"NADTA UDAH JAM SETENGAH DELAPAN INI, AYOK BANGUN. EMANG LO MAU DAPET KELAS PALUNG AKHIR?" teriak Kyri lagi.
"Hah? Iya juga ya, aargh sialan. Kenapa aku baru bangun sih? Hoaaam."
"NADTA!"
Tok ... tok ... tok ....
"Iya, iya, gua mandi dulu."
Walau terpaksa tetapi aku harus mandi secepat mungkin, berpakaian rapih dan pastinya harus wangi.
10 menit kemudian.
Grek..
"Morning," sapa ku pada hari yang begitu sejuk.
"Ayok cepet berangkat," ucap Kyeri di atas motornya.
"Lah udah dateng aja."
"Sebentar ya aku pake sepatu dulu," ucapku memakai sepatu berwarna hitam.
Sedangkan di mulutku menggigit sebuah roti yang kemarin Zera kirim. Selama di perjalanan, aku memakan 2 roti yang aku pegang.
Walau sedikit sulit tetapi sebelum sampai di sekolah 2 roti itu habis tak bersisa.
"Untung kita gak telat, telat banget Nadt," ucap Kyeri saat di parkiran sekolah.
Aku dan Kyeri pun langsung menuju ke mading sekolah untuk mencari tau kelas apa yang akan mereka masuki.
"Wah ... hmmm astaga Ke aku masuk IPA 2 senengnya."
"Kok aku IPS?" tanya Kyeri lesu.
Kyeri pun menemui salah satu guru untuk protes kelas yang ia dapat.
"Maaf pak, saya mau bertanya kalau kelas IPS bisa pindah ke kelas IPA gak ya pak? Kan kita masih di kelas awal pak," tanya Kyeri begitu serius.
"Kamu dari kelas mana?" tanya pak petugas.
"Saya Matteo Kyeri Bram dari kelas IPS 1."
"Emangnya kamu mau masuk IPA? Mau jadi apa? Gayamu itu udah kayak anak IPS, udah IPS aja." Pak petugas mencela gaya Kyeri.
Gaya Kyeri memanglah seperti anak nakal, tengil dan suka membuat onar. Tetapi percayalah Kyeri tidak seperti itu.
"Pak, saya ini mau jadi dokter untuk banggain mama saya. Kalau bapak mencela hanya karena pakaian saya seperti ini lantas apa guru-guru yang memakai seragam ketat bisa menjadi contoh para siswi di sekolah ini?"
"Ingat pribahasa dalam film dilan pak, guru itu di gugu dan di tiru. Kalau guru berpakaian ketat jangan salahkan anak murid mengikuti mereka."
"Kalau guru merokok, jangan salahkan para siswa-"
Monolog panjang dari Kyeri pun di pungkas langsung oleh pak petugas dan Kyeri pun boleh bertukar kelas dengan teman lainnya.
__ADS_1
"Dasar anak jaman sekarang," gumam pak petugas.
Bersambung...