
Deg!
Guru pun datang tepat bel berbunyi dan Tiyas pun datang setelah 5 menit guru datang ke kelas.
Raut wajah panik Kyeri dan Renaldi pun muncul, jantung mereka berdegup kencang. 'Pasti bakal hukum,' batin Kyeri.
Dan benar saja, setelah berdoa guru meminta ketua kelas mengumpulkan semua PR kemarin di kumpulkan ke mejanya.
"Mat, gimana ini?" bisik Renaldi.
"Kalian kenapa? Gak ngerjain PR ya?" tanya Tiyas.
"Sttt, jangan gede-gede ngomongnya. Nanti ibu itu denger," ucap Renaldi menutup mulut Tiyas.
"Ada yang belom selesai? Atau ada yang belom ngerjain?" tanya bu guru tiba-tiba membuat Kyeri dan Renaldi terdiam kaku.
"Kelewatan banget sih kalo belum ngerjain! Ini tugas udah ibu kasih kemarin pas latihan loh dan boleh di lanjutkan sebagai pekerjaan rumah."
"Tapi kalo belum, ibu bakal kurangi nilai kalian -50."
Deg!
"Mampus!" ucap Kyeri dan Renaldi kompak.
"Hahahaha mampus kalian," ucap Tiyas senang.
"Lo ini Yas, bukannya bantuin malah ngetawain," ucap Renaldi keringat dingin.
Kyeri pun sama dengannya jantungnya berdegup kencang saat membuka tas. Takut di marahi sang mama karena nilainya mengalami ke anjlokan.
Saat Kyeri melihat tasnya, Kyeri terkejut sekaligus bingung mengapa buku tidak bersampul ada di dalam tas nya.
Padahal semalam Kyeri tidak memasukannya. Kyeri pun langsung mengeluarkan buku tersebut dan melihat isinya.
Kyeri terkejut kala mengetahui buku ini sebenarnya milik Nadta karena Kyeri hapal betul tulisannya.
Dan ada pula Kertas sepotong di tengah-tengah buku tersebut bertuliskan ....
"Ke pakai aja dulu buku tugas aku, kebetulan tulisan kita hampir sama. Aku tau kamu belum mengerjakan tugas ini karena kamu pasti nunggu aku selesai dulu."
"Tapi aku gak bisa kasih buku ini ke kamu langsung karena tragedi ini. Tapi kali ini aku kasih pinjam buku mtk aku agar nilai kamu gak berkurang."
'Ya ampun Nadta kamu baik banget,' batin Kyeri sedikit terharu.
"Buku-buku!" pinta ketua kelas.
"Duh gua belum selesai," ucap siswa di sebelah tempat duduk Kyeri.
"Udah seadanya aja, dari pada nilai lo berkurang."
"I-ini."
"Buku-buku!" pinta ketua kelas ke Teo.
"Ini." Teo langsung memberikan bukunya.
"Lo udah Te? Gila parah banget lu gak kasih tau lagi!"
"Lah lo belom Ren?"
"Belum Teo," ucap Renaldi panik.
"Buku-buku!" pinta Ketua kelas ke Tiyas.
"Ini!" memberikan bukunya dengan senang hati.
__ADS_1
"Duh gua belum lagi," ucap Renaldi panik.
"Sama sekali?" tanya ketua kelas.
"Baru dua."
"Yaudah gak apa-apa dari pada gak sama sekali."
"Duh tapi?"
Ketua kelas langsung menyerobot buku yang di dekap Renaldi dan menaruhnya di tumpukan buku yang akan di kumpul.
"Buku-buku?! Nadta kemana?" tanya ketua kelas melihat bangku Nadta kosong.
"Nadta sakit, dia demam semalem."
"Oalah, mana buku lo?!"
"Sabar woy gua lagi nulis nama ini!"
Dan seterusnya hingga murid terakhir di kelas. Menaruh buku di atas meja lalu, ibu guru tersebut memberikan sebuah tugas kembali.
Menerangkan materi lalu membuat kelompok untuk tugas kali ini.
"Gua sama lo aja Yas!" ucap Kyeri.
"Gua juga lah!" ucap Renaldi.
"Iya-Iya, ini kan satu kelompok isinya 5 orang. Jadi ini aku masukin nama aku, Renaldi, Nadta, Kyeri sama Teo," jelas Tiyas.
"Teo lu mau gabung gak?" tanya Renaldi.
"Boleh."
Saat semua berkelompok, Renaldi fokus melihat ibu guru itu dengan raut wajah panik diiringi jantung berdegup kencang.
"Hmm saya bu." Siswa di pojok dekat jendela pintu masuk mengangkat tangan.
"Siapa nama kamu?!"
"Ical bu."
"Ya ampun! Udah sampul halo kucing, isi jawaban cuma satu. Nilai kamu ibu kurangi 40 ya!"
"I-iya udah bu." Siswa itu pasrah.
"Duh, bentar lagi gua ini!" ucap Renaldi semakin panik.
"Makanya Ren, kalo aku ngerjain itu kamu ngerjain juga, jangan nunggu-nunggu!" ucap Tiyas.
"Gua tuh semalem mau ke rumah lo Yas, tapi gua futsal jadi gua lupa!"
"Makan noh futsal, nilai lo anjlok bunda mu ngomel," ucap Tiyas membagi tugas.
"Nah berhubung Nadta lagi sakit pas banget di bagian kepala, jadi untuk hitung menghitung aku tugasin ke Kyeri sama Teo." Tiyas membagi tugas.
"Gua buat Grafik yang udah kalian hitung dan RENALDI! Tulis semua materi di sini, nanti aku bantu." Tiyas menjelaskan namun Renaldi tidak mendengar.
"Paham?" tanya Tiyas.
"Paham-paham," ucap Kyeri.
"Paham kok," ucap Teo.
"Paham gak Ren?" tanya Tiyas ke Renaldi.
__ADS_1
"Iya-Iya paham cerewet!" ucap Renaldi masih fokus ke guru di depan.
"Bagus jadi sekar ..." ucapan Tiyas terpotong kala bu guru mengangkat satu buku.
Ya ... buku siapa lagi kalau bukan buku milik Renaldi.
"Buku siapa ini?" tanya ibu guru.
"Saya bu," ucap Renaldi mengangkat tangan.
"Udah buku gak ada sampul, gak ada nama, gak ngerjain juga pr nya. Kenapa cuma dua jawaban kamu Renaldi?!"
"Kok ibu tau nama saya? Kan buku saya gak ada nama?"
"Kamu itu sering mejeng di kantin kan? Sama Matteo sama Teo jadi paham lah ibu."
"Hehehe iya bu."
"Kamu ini, udah duduk sama perempuan masih aja malas ngerjain tugas. Ibu kurangi nilai kamu 30."
"Iya bu gak apa-apa."
"Gak apa-apa, gak apa-apa nilai kamu belum cukup ini di pelajaran matematika!"
"Hehehe iya bu."
Srek ... srek .. srek ...
"Nah Matteo sekarang rajin, ngerjain tugas cuma bukunya aja yang gak di sampul!"
"Hah? Kyeri ... eh maksudnya Matteo ngerjain tugas bu?" tanya Renaldi.
"Lah ini, lagi ibu koreksi."
"Matteo Kyeri Bram, kelas 10 MIPA."
"Gila! Kata lo gak ngerjain?! Wah sumpah sih jahat banget lo Ke, pantes lo anteng bener, tau-taunya!"
"Hehehe maaf Ren, gua baru inget."
"Gak yakin gua itu hasil kerja keras Kyeri," gumam tiyas.
"Lah? Kenapa lo gak percaya?"
"Karena gua tau Kyeri sama Renaldi itu bak pohon pinang di belah dua. Terus kek angka 11 12, kalian itu sama."
"Mana ada!" ucap Kyeri mengelak dengan nada bicara kecil.
Sang penyelamatan, sang bidadari hati, sang kekasih hati telah menyelamatkan nilainya dari ibu guru rusuh ini.
'Walaupun nilai Nadta kosong karena absensi tetapi setidaknya nilai ku terbantu dengan tugasnya.'
'Pokoknya pulang nanti gua harus beliin Nadta makanan enak untuk ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya.' Kyeri membatin diiringi raut wajah gembira.
Renaldi yang melihat raut wajah tersebut sedikit tidak senang karena hari ini dia tidak selamat dari ibu rusuh tersebut.
"Udah ayok kerjain lagi, jangan sampai nilai kamu anjlok lagi Ren."
"Bisa-bisa kamu jadi musca setelah pulang ke rumah nanti," ucapan Tiyas ada benarnya juga.
"Musca apaan?" tanya Kyeri.
"Lalat penganggu, coba lah cari di internet pasti ada."
"Males betul gua mau ke warnetnya."
__ADS_1
Bersambung ...