Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Hilang •


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga bulan berlalu, Nadta, Kyeri, Renaldi, Tiyas dan Teo duduk di bangku kelas akhir jenjang SMA.


Sebentar lagi mereka akan memasuki ujian-ujian, les, dan segala macam tes.


"Kamu mau lanjut kemana Nadt?" Tanya Kyeri sembari menatap Nadta begitu dalam.


"Entahlah, mungkin aku akan lanjut mengejar S1 Pendidikan. Kamu sendiri Ke?"


"Melamar kamu."


Pefft! Uhuk ... uhuk ...


"Lo serius Ke?" Tanya Renaldi.


"Hmm serius asalkan ... Nadta siap."


"Tuh Nadt siap gak?" Ledek Tiyas.


"Kamu gak mau lanjut S1 dulu Ke?" Tanya Nadta.


"Iya sambil ..." jawab Kyeri namun tiba-tiba saja ucapannya ia pungkas.


'Jika kamu tidak merawat dirimu dengan baik, maka kau akan mengalami hal ini lebih buruk lagi.'


"Baiklah aku akan melanjutkan S1 dulu sambil menjagamu!" Lanjut ucapan Kyeri.


"Hmm emang kebucin banget orang satu ini!" celetuk Zera melihat jijik dengan kelakuan Kyeri.


"Lo iri Ze?" Tanya Renaldi.


"Gak! Mending gua sama Hanami aja deh." Zera langsung menolak dan lebih memilih karakter komik yang paling ia cintai.


"Hanami siapa?" Ucap Renaldi.


"Karakter komik jepang di serial terbaru. Baru terbit sekitar awal tahun ini," jelas Teo.


"Ohh pecinta gepeng. Kertas aja di cintain yang asli dong. Gak laku lo ya?" Ledek Renaldi.


"Dih gak laku? Lo kira gua dagangan yang jejer di pasar atau warung apa? Gak dong! Gua ini brand kelas atas dan limited editions!"


Perdebatan pun terjadi antara Renaldi dengan Zera membuat Tiyas pusing dan menyeletuk seperti ini, "Renaldi ini duta ribut agaknya."


"Iya bener! Cocok banget ya," sahut Nadta.


"Oh iya besok kita udah mulai ujian ya?" Tanya Kyeri.


"Iya, untuk IPA jadwal besok adalah fisika dengan Bahasa," jawab Teo.


"Huh ... ya ampun Fisika! Gak kuat," keluh Tiyas.


"Lo mah pinter Yas, lah gua sama Kyeri bisa apa? Kalau bukan bergantung sama kalian berdua," sahut Renaldi.


"Gua ini pinter, cuma gua gak mau lebih pinter dari Nadta aja," jawab Kyeri sembari membelai rambut Nadta.


"Tuhan, Jauhkanlah makhluk bucin dari hadapanku amin." Zera tiba-tiba menyeletuk lagi.


Mereka hanya bisa tertawa saja saat mendengar doa yang di lontarkan Zera begitu lantang.


...----------------...


Dua bulan berlalu.


Kini mereka siap untuk menjalankan ujian demi ujan dan tes demi tes agar dapat bersaing di perguruan tinggi.


Kelas IPA 2.

__ADS_1


Guru sedang mengulas materi yang akan keluar saat ujian nanti dan saat di tengah-tengah pembelajaran, Kyeri tiba-tiba keluar dari kelas setelah batuk cukup lama.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ..."


"Matteo kamu gak apa-apa?" Tanya guru pengajar.


"Iya bu gak apa-apa kok."


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ..."


'Sial! Mengapa terjadi di sekolah sih?!' umpat Kyeri dalam hatinya.


Dan setelah itu Kyeri pergi keluar kelas entah kemana. Teo mengejar Kyeri karena perintah dari guru dan Teo menemukan Kyeri terduduk lesu di toilet pria.


"Ke?! Lo kenapa?" Tanya Teo.


Teo melihat bercak darah di bajunya dan beberapa tisu yang ada di dalam toilet.


"Gua pulang duluan ya!" Ucap Kyeri sembari beranjak dari lantai toilet.


"Gak mau ke UKS?" Teo menawarkan jasa.


"Tidak perlu."


"Teo?" Panggil Kyeri sebelum keluar dari toilet.


"Iya?" Teo menatap Kyeri begitu khawatir karena Teo sudah tau apa yang sedang di alami Kyeri selama ini.


"Titip Nadta untuk gua ya. Jaga dia dan buat dia bahagia! Jika lo gak bisa buat dia bahagia, gua bakal hajar lo abis-abisan."


Deg!


'Apa ini?'


Teo berdiri kaku di toilet. Tangannya bergetar, matanya ingin menangis dan tangannya ingin sekali menggenggam Kyeri agar tidak pergi dari pandangan Nadta.


...~▪︎~...


Kelas.


Ibu guru bertanya ke Teo, "Dimana Kyeri? Apa yang terjadi dengannya?" Lalu Teo hanya menggelengkan kepala saja sembari menjawab, "Tidak tahu bu, sudah aku cari di lorong kelas, toilet, kantin bahkan lapangan tidak ada."


Deg!


"Kyeri," Gumam Nadta.


'Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari aku?' Nadta bertanya dalam hatinya.


Setelah pulang sekolah, Nadta membawakan tas serta buku-buku milik Kyeri. Nadta tidak banyak berbicara dan hanya diam selama perjalanan menuju gerbang.


Berharap kendaraan Kyeri masih ada di parkiran namun sayang harapan itu langsung runtuh.


"Pulang bareng aja yuk Nadt," ajak Tiyas.


"Enggak usah Yas, makasih. Kalian duluan saja," jawab Nadta diiringi senyum palsu.


'Rasanya aku ingin cepat pulang dan mengetuk rumah Kyeri.'


'Namun apalah daya aku tidak memiliki teman yang searah dengan rumahku. Jika bukan Kyeri dan Viko mana mungkin aku mendapatkan tebengan.'


Tin ... tin ...


Klakson motor scope keluaran terbaru, siapa lagi kalau bukan Teo.


"Ayok Nadt, biar aku antar kamu ke rumah."

__ADS_1


"Gak usah Teo, kita gak searah," tolakan dari Nadta masih dengan senyuman palsunya.


'Kamu ini masih saja bisa tersenyum palsu seperti itu,' batin Teo.


"Udah ayok cepet naik!" Perintah Teo


"Gak usah T-"


"Nadt, kita mau mastiin kalau Kyeri ada di rumah kan? Kalau iya ayok cepat ikut." Teo menyadarkan Nadta.


Sontak raut wajah Nadta sangat nampak sekali berbeda dari yang tadi. Terlihat raut wajah khawatir dan sedih.


'Raut wajah ini terakhir aku lihat kala ayahnya meninggal. Jika hal yang sama terulang kembali ...' Teo berdialog dengan dirinya sendiri selama di perjalanan.


'Akankah Nadta seperti Nadta yang aku kenal saat ini?' Tanyanya dalam hati.


"Apa yang Kyeri sembunyikan dariku?" Ucap Nadta secara tiba-tiba.


"Dia pulang dengan wajah pucat, berpura-pura sehat padahal suhu badannya berkata tidak."


"Tiba-tiba saja menceritakan silsilah keluarganya, tiba-tiba menyatakan cintanya tanpa alasan."


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kyeri? Seberapa jauh aku mengenalnya?" Nadta bergumam sepanjang perjalanan.


Teo hanya mendengarkan saja karena ia sendiri tidak tau apa yang akan terjadi dengan Kyeri.


'Tetapi ... Jika ucapan mamah benar, aku berjanji akan melindungi Nadta sesuai perintah Kyeri tadi.'


Dreet ... dreet ... dep .... (Mesin motor mati di depan halaman rumah)


Tok ... tok ... tok ...


"IBU! IBU! AKU PULANG!" Ucap Nadta dengan nada panik.


"Wah kamu sudah pulang, sama siapa?" Tanya ibu.


"Teo."


Bruk!


Nadta menaruh tas di kamarnya dan membuka jendela selebar-lebar nya agar ia bisa melihat Kyeri dari balik jendela.


"Ibu? Apa ibu melihat Kyeri pulang?" Tanya Nadta begitu khawatir.


"M ... Tidak."


"Ibu serius?"


"Iya, tetapi tadi mereka sekeluarga pergi," jelas ibu.


"Membawa koper?"


"Sepertinya ia, tapi ibu tidak tau pasti."


Nadta tidak percaya dengan ucapan sang ibu pun langsung berlari ke rumah Kyeri dan mengetuk pintu sembari memanggil nama Kyeri.


'Lagi Ke? Lagi?'


'Kamu tiba-tiba pergi, tiba-tiba datang, tiba-tiba menyatakan cinta, tiba-tiba pergi lagi tanpa satu kata pamit sedikit pun.'


'Kamu jahat banget sih Ke!'


'Enggak Nadt, mungkin aja malam ini dia kembali.'


'Tapi mungkin kan?!'

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2