
"Kamu gak sendiri lagi kok sekarang," ucapnya diiringi senyum manis.
Kalau kalian bisa tebak dia itu siapa, aku akan memberimu senyum manis yang tak boleh di bagi ke siapapun.
Karena dia bilang aku hanya boleh senyum ke keluarga saja, tidak boleh membaginya ke orang lain apalagi si Viko.
Lucu sih memang tapi begitulah gayanya mencintaiku sepenuh hati. Ayo mari tebak siapa orangnya akan aku hitung ya!
Satu, dua, tiga!!
Yaa! Benar sekali.
Dia Geofani, Abraham Geofani atau yang lebih di kenal dengan Teo. Dia menikahiku setelah satu tahun panti berjalan.
Dia datang bersama mamahnya ke rumah dengan tujuan ingin meminangku. Lalu aku bertanya kepadanya, "apa kamu serius denganku?"
Lalu jawabannya membuqt aku terkejut, "Sangat siap Nadt, setelah melalui proses pertimbangan yang matang, pertimbangan yang membuatku hampir tak tau arah, tapi kali ini aku yakin untuk melamar kamu sesuai janjiku ke almarhum."
Deg ... deg ... deg ....
"Janji apa?" Tanya ku singkat.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, hanya saja aku akanembuktikan kalau aku akan menjagamu, ibumu, dan juga mamah sekuat tenagaku," tutur katanya sangat baik.
Entah mengapa kali ini aku tergelak untuk menjawab iya dari semua pernyataan yang iya buat.
Setelah malam itu, aku dan Teo tidak berkomunikasi lagi tapi tepatnya kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu.
Kami menabung untuk membangun rumah yang akan kami tempati nantinya setelah menikah.
Lalu 2 bulan berikutnya kami menikah secara sederhana, hanya dihadiri keluarga besar dari 2 belah pihak, teman terdekat semasa SMA dan kuliah Lalu keluarga besar Matteo.
Kami menikah di sebuah gedung dekat dengan SMA ku dulu dan sekarang aku resmi menjadi seorang istri dari Geofani.
Setelah menikah aku mengganti panggilan Teo karena itu bukan lagi namanya. Nama yang sebenarnya ialah Abraham Geofani, suami.
...****************...
Sreek ... sreek ... sreek ....
Akhirnya cerita ini pun selesai. Kini sudah 6 tahun berlalu kisahku bersama Matteo dulu seleai sudah aku membaca bukuku saat masih remaja, tidak-tidak. Saat aku kecil hingga dewasa.
Kini aku menatap ke masa depan yang cerah, 2 pria yang sedang berlari di halaman rumah dekat rumah pohon.
Siapa lagi kalau bukan suamiku dan anakku, Geofani dan Kyeri Abraham.
"Bun?" Panggil anak kecil yang sedang berada di sampingku.
"Iya sayang."
"Buna baca apa sih? Kok celius banget, Nana uga mau baca," ucap anakku dengan wajah mungilnya.
Anakku terlahir kembar walaupun bukan termasuk kembar siam dan yang ini namanya Keyna Abraham pendiam dan sangat suka membaca, sepertiku.
__ADS_1
Kalau Kyeri, dia lebih atraktif dan lebih melibatkan diri ke Geo.
Aku memang mengambil namanya karena untuk mengenang dia dan dia bisa hidup sebagai orang lain.
Kalau kalian berfikir kalau nama ini aku yang meminta, itu salah besar. Nama itu Geo yang memberikan entah apa alasannya.
Bahkan sampai saat ini aku tidak tau apa alasan Geo meminangku sebagai teman hidupnya.
Aku ... aku jatuh cinta lagi setelah dia menjadi seorang ayah yang siap siaga demi anak-anaknya dan juga aku.
...~▪︎~...
Syuut ....
"Waaaah, yah apa itu?" Tanya Kyeri.
"Itu pesawat kertas, dia bisa terbang jauh sekali jika kita melempar dari ketinggian," jelas Geo.
"Boleh aku mencobanya?" Tanyanya lagi penuh dengan wajah ekspresif.
"Sangat-sangat boleh, ayok kita ajak buna dan Nana juga," ucap Geo.
"Iya ayo!!"
"Mari kita buat pesawat kertas!" Ajak Kyeri saat menghampiriku.
"Tidak, aku ingin membuat surat cinta untuk buna dan ayah saja," Tolak Nana.
"Bunaaaa, Nana gak mau masa," rengek Kyeri kesal.
Geo mengambilkan kertas berwarna agar kami dapat membuat pesawat kertas bersama-sama lalu menggantungkannya di rumah pohon.
"Buna, kertas ini bisa tulis surat?" Tanya Nana.
"Bisa sayang."
"Ayo kita tulis."
Nana menulis sebuah surat yang katanya untukku dan Geo tapi aku tidak boleh lihat isi suratnya hingga menjadi pesawat kertas.
Nana sama sepertiku dulu, membuat surat lalu di lipat menjadi pesawat kertas untuknya dan terus menerus aku lakukan.
Kini, dia yang baru ada di hadapanku dengan wajah baru dan senyuman manis yang masih sama terjaga.
Aku akan menjaga keluarga ini seperti ibu menjaga keluargaku dulu hingga kini.
...~▪︎~...
"Mari kita pasang pesawatnya!" Ajak Geo.
"Ayok!" Jawab Kyeri dengan exaited.
"Nana sudah?" Tanyaku.
__ADS_1
"Belum buna dikit lagi selesai."
"Oke baiklah kalau begitu." Aku menemaninya hingga selesai.
Ketika selesai, aku menemani Nana menggantungkan pesawat kertas merah jambu tepat di atas tangga agar bisa terlihat cantik saat menaiki tangga.
...~▪︎~...
Suasana berbeda saat aku menjadi ibu dengan suasana yang hangat aku kembali bisa merasakan kasih dan sayang tulus dari orang-orang sekitar.
Aku pun akan membagikan hal itu ke anak-anakku agar mereka tidak seperti kami yang selalu mencari kasih sayang banyak orang.
"Buna ada nenek!" ucap Kyeri.
Ibu ku datang malam hari karena ia rindu dengan cucunya dan dia menginap di rumah kami selama 2 hari.
Bermain bersama cucunya membuat kekosongan dalam dirinya menjadi terisi aku bahagia begitu juga dengan ibu yang bahagia melihatku.
...~▪︎~...
Saat mereka sedang asik bermain, aku datang ke rumah pohon untuk melihat suart apa yang di tulis oleh Nana untuk aku dan Geo.
...~▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎~...
Untuk buna dan ayah.
Aku sayang kalian, aku ingin kita bahagia selamanya ya, aku ingin jalan-jalan, ingin makan kue ulang tahun, makan bakso, main di sungai, main di kali, main prosotan, aku mau semua pokoknya.
I Love You Buna Ayah♡
...~▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎~...
Nana memang anak yang romantis di bandingkan dengan Kyeri, pemahamannya akan tulisan membuat aku terpukau, apalagi pemahamanya tentang bahasa asing.
Tetapi, aku kmbali teringat kala membaca kalimat, "I Love You." Seperti ingin menumpahkan airmata kembali tapi surat ini bermakna lain.
Huh ....
"I Love .... you too baby," gumamku.
Setiap kali Geo ingin mengucapkan kalimat yang sama, Geo mempunyai bahasa lain untuk mengungkapkan kata itu.
"Yo Te Amo darling♡" Itu ucapannya.
Tapi tidak apa, aku akan berusaha menyukai lagi kata I Love You ini demi anak-anakku sekarang.
END
"Pesawat kertas yang kau ajarkan dulu kepadaku, kini aku mengajarimu lagi cara melihatnya, menerbangkannya bahkan mengantungnya."
...--------------------------------...
Terimakasih banyak telah membaca seluruh cerita ini dari awal hingga akhir. Maaf jika pembawaanku masih belum sempurna karena kita masih sama-sama harus belajar.
__ADS_1
Aku akan tunggu masukan serta saran dari kalian, aku akan mnunggu ya. Sampai jumpa lagi bye-bye.