
Pagi masih berembun menelisik setiap relung di dalam daksa. Tetapi desiran angin ini pun terhempas akan hangatnya obrolan pagi hari.
Obrolan selama di perjalanan antara aku dan Kyeri membawa kehangatan, entah rasanya nyaman sekali saat aku dan dia bersama.
"Liat geh Nadt, surya ingin menampakan dirinya tetapi ia malu akan senyuman kita di pagi hari."
"Tapi ya Ke, surya pun akan menyumputkan dirinya di balik mega mendung saat ia tau seseorang di bumi sedang ingin bersedih."
"Kamu sedih Nadt?" tanya Kyeri panik.
"Dikit."
"Kenapa?"
"Aku tiba-tiba kangen ayah Ke."
Deg!
'Perasaan Nadta hari ini lagi gak baik-baik aja berarti. Apa yang harus gua lakuin demi mempertahankan senyum manis di pipinya?' tanya Kyeri dalam hatinya.
"Tapi aku gak kenapa-kenapa kok. Im fine."
"Sure?"
"Yeah, im fine and im gonna be okey."
Kyeri hanya menganggukan kepalanya saja, entah apa yang Kyeri fikiran pagi ini tetapi setelah aku memberi tahukan tentang perasaanku, Kyeri terlihat sangat menjaga diriku.
Bahkan saat kami sampai di kelas pun Kyeri melakukan berbagai cara agar aku tidak berlarut-larut dalam perasaan sedih ini.
...----------------...
Jam istirahat pun tiba.
Seperti biasa aku, Teo, Kyeri, Tiyas dan Renaldi menuju kantin bersama.
Kami tidak memilih bangku yang kemarin karena aku tidak ingin mencari keributan lagi bersama kating sok galak itu.
"Pesen apa ?" tanya mbak-mbak kantin.
"Mie ayam 3 nasi rames 1 sama tekwan 1, terus minumnya es jeruk 2 es teh 2 sama es lemon tea 1." Tiyas memesankan makanan untuk kami.
Setelah memesan, Tiyas kembali ke bangku dan mengobrol bersama.
"Huh ..." Aku dari tadi menghela nafas entah mengapa.
Bahkan diriku sendiri saja tidak tau mengapa aku menghela nafas berkali-kali. Seperti ada perasaan yang menganggu tapi entah apa.
10 menit kemudian.
Pesanan kami datang. Makan siang bersama pun di mulai, tidak ada pembicaraan selama makan siang sampai semua makanan habis tak bersisa.
"Aku ke toilet bentar ya." Aku pamit ke mereka semua dan langsung menuju toilet karena tiba-tiba saja aku ingin membuang air kecil.
...~•< Toilet >•~...
Corrrgt ....
"Huh... lega!"
Tek ....
__ADS_1
Blam!
"Hem ... hem ... hem ..."
"Batuk neng," sahutku saat mendengar suara seseorang berdehem dari balik jalan pintu keluar.
"Mulai sombong lo ya!" ucap Gita tiba-tiba muncul.
"Kenapa? Gak suka? Lo iri sama gua? Gua? Anak Yatim yang di cemburuin? Hahaha lucu banget sih ibu geng," Aku meledek Gita.
"Ngelunjak lo ya!"
Grep!
Gita menjambak rambut aku sangat kuat sekali bahkan ikat rambutku saja sampai berantakan karena ia menjambak rambutku.
"Arght! Sakit gila, lepasin!"
"Sakit? Masa iya?"
"Teriak dong, kan lo punya pahlawan disini," ucap teman Gita.
'Sialan mereka ini. Kalau aku lawan dan mereka terluka, kemungkinan besar beasiswa aku akan di cabut. Kasian ibu, aku gak mau nyusahin ibu lagi.'
'Tapi kalo gini terus, aku akan selalu di tindas sama anak-anak orang kaya ini!' lanjut batinku lagi.
'Tapi apa yang harus aku lakukan?'
Bruk!
Gita mendorong tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Perlahan-lahan Gita mendekati aku sembari mencengkram wajahku dengan kuku-kuku lentiknya.
"Ngerti lo?!"
"Hahaha dasar menang otak doang, wajah sok polos tapi simpanan hahaha."
"Jaga mulut lo ya! Apa maksudnya simpanan?" aku bentak mereka.
Karena ini sudah di luar batas, mereka merendahkan harga diriku entah apa maunya.
"Oh lo gak ngaku kalo lo simpanan? Kasian ya kak Icha. Cowoknya punya simpanan. Modelan kek dia lagi hihihi gak level."
"Gua gak kenal sama cowo yang di maksud lo itu ya Git! dan gua gak akan pernah ngejauh dari Kyeri apapun kondisinya. "
"Satu hal lagi gua gak tau siapa kak Icha itu. Bahkan gua gak mau tau!"
"Wah songong banget lu ya!"
Brugh!
Lagi-lagi Gita mendorong tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Tapi kali ini kepalaku terbentur tembok kasar sehingga kepalaku berdarah.
Bahkan aku pun sedikit demi sedikit kehilangan kesadaranku. Gelap, gelap sekali. Bayangan semuanya menjadi dua dan akhirnya aku tergeletak di lantai toilet.
Gita and the gangers keluar toilet dengan wajah panik. Tiyas yang melihat kejadian itu pun langsung bisa menerka apa yang sedang terjadi.
"Ke ikut gua ke toilet. Teo, sama Renaldi ikuti Gita and the gangers dari belakang."
"Kenapa?" tanya Kyeri tak suka di perintah kecuali dengan aku.
"Gua punya feeling gak enak sama Nadta."
__ADS_1
"Udah ikutin aja rencana gua oke."
"Iya."
Akhirnya mereka pun berpencar sesuai rencana Tiyas. Teo dan Renaldi mengikuti Gita and the gangers hingga ke taman sekolah.
Bahkan mereka terkejut kala mendengar ucapan salah satu temannya yang mengaku kalau merekalah yang membuat Nadta mengalami kepala bocor.
"Duh gimana ini Git, Nadta bocor lagi kepalanya. Gua takut di panggil ke BK."
"Shhtt, jangan keras-keras ngomongnya. Nanti ada yang denger malah kita masuk ke BK beneran."
"Tapi gua juga panik Git, gimana kalo ada cctv di luar ruang toilet?"
"Gak ada lah gila, ya kali kepsek mau intip siswi ke toilet?"
"Yakan siapa tau kata gua Gita."
'Jadi feeling Tiyas bener. mereka punya niat jahat ke Nadta. Eh malah udah ngejalinin niat jahat itu walau gak sengaja.'
'Apasih motif Gita ngelakuin ini semua ke Nadta? Dari jaman SMP dia gak pernah berbuah! Mereka ini layak di sebut Canes Venatici, anjing-anjing pemburu,' batin Teo.
Setelah mereka mendengar semua pembicaraan Gita and the gangers, mereka kembali ke tempat semula . Berjalan dengan sangat hati-hati sampai ke lorong menuju kantin lagi.
Di waktu yang bersamaan.
"Lo tunggu sini Ke, nanti gua panggil lo kalo gua tau Nadta kenapa-kenapa oke."
"Iya cepetan. Gua takut ada siswi lain ke sini."
"Iya sabar ih!"
Tiyas pun masuk ke dalam toilet dan benar saja feeling Tiyas benar. Nadta sudah tergeletak di lantai toilet dengan kepala bersimbah darah.
"KYERI!"
Kyeri pun langsung berlari kedalam dan betapa terkejutnya ia melihat kekasih hatinya terbaring lemah di lantai toilet.
Tiyas membantu Kyeri menopang Nadta ke tubuhnya dan menggendongnya keluar toilet menuju UKS sekolah.
Selama perjalanan ke UKS, Viko melihat Kyeri menggendong seseorang. Sedikit penasaran dan rasa cemas tinggi, Viko langsung berlari ke arah UKS dan meninggalkan Icha sendiri di ruang osis.
Begitu pula dengan Teo dan Renaldi, menyusul sahabatnya ini ke ruang UKS.
"Permisi bu!" ucap Kyeri langsung masuk ke dalam ruangan.
Menaruh tubuh Nadta di atas ranjang pasien, sedangkan Tiyas menjelaskan apa yang terjadi.
"Jadi gitu bu."
"Yasudah kalian berdua keluar dulu ya. Biar Nadta istirahat di sini dulu."
"Baik bu."
Tap ... tap ... tap ... tap ...
Hentakan kaki menghampiri Tiyas dan Kyeri sembari bertanya.
"Siapa yang sakit?"
Bersambung ....
__ADS_1