
Aku bahagia, aku senang dan aku sangat gembira. Rasanya dadaku ingin meluap karena aku terus-terusan menahan rasa bahagia ini.
Sudah hampir 4 tahun aku dan Kyeri tidak bersama tetapi kali ini takdir menemukan kita kembali.
Di perjalanan kali ini, aku dan Kyeri duduk bersebelahan. Tidak seperti dulu, aku yang selalu di boncengnya dengan duduk miring ataupun aku memeluknya.
Kali ini suasananya berbeda, aku bisa menatap wajahnya dengan puas sembari tersenyum tipis.
Wajah Kyeri sangat berbeda kala SMA dulu. Wajah yang biasanya terdapat jerawat di bagian dagu dan dahi, kini hilang terkikis oleh perawatan wajah.
Wajah Kyeri yang dulunya terlihat kuning kecoklatan, kini berubah menjadi putih. Entah mengapa setiap aku melihat wajahnya, hatiku berdegup kencang hingga membuat raut wajah ini memerah.
'Serindu ini kah dia dengan ku? Sampai tatapannya tidak lepas memandangi wajah ini,' batin Kyeri menahan senyum.
Ketika aku ingin memulai pembicaraan, "Ke," dia juga memanggil nama ku, "Nadt?"
Saat itu aku pun lupa dengan pertanyaan yang ingin aku tanyakan, hingga akhirnya seperti di drama-drama, "kamu aja dulu mau ngomong apa?" Dan tolakan dari pihak sebelah, "Udah kamu aja dulu, aku lupa."
Akhirnya Kyeri lah yang memulai pembicaraan terlebih dahulu denganku.
"Oke, aku dulu."
"Hmm."
"Selama aku pergi, apa aktivitas yang kamu lakukan?" Tanya Kyeri dengan nada datar.
"Seperti biasa." Singakat jawaban yang aku berikan.
"Aku tau, maksudku aktivitas lain selain itu," jelas Kyeri.
"Pergi ke sekolah, pulang, belajar, ujian, ke rumah Zeva terus ke rumah Viko, terus main sama anak mereka, ke rumah tante Lia bantu buat kue perpekan, pulang, bantu ibu masak, beres-beres rumah, tidur." penjabaran itulah yang hanya bisa aku berikan ke Kyeri.
"Udah itu aja," lanjutku lagi.
"Gak ke rumah pohon?" Tanya Kyeri penasaran karena nama tempat itu tidak di sebutkan lagi.
"Tidak."
Kyeri disini hanya menyerengitkan dahinya karena dalam kondisi sesedih apapun Nadta rumah pohon pasti tujuan akhirnya.
"Kenapa?" Tanya Kyeri sembari menatap wajah Nadta.
"Gak apa-apa."
" ... " Hening.
Tidak ada pembicaraan sama sekali setelah aku menjawab, "Gak apa-apa." Sepertinya Kyeri menatapku walaupun ia harus fokus dengan laju jalan mobil ini.
Kyeri menatapku sebentar lalu fokus ke jalan, lalu menatapku lagi, lalu ke jalan lagi dan begitu terus hingga aku menhela nafas berat.
"Huuh...."
"Rumah pohon udah hangus Ke." Singkat jelas dan padat bukan jawaban ini yang aku berikan.
Deg!
"Maksudnya?" Tanya Kyeri tidak faham akan ucapan Nadta.
"Iya hangus, hancur, jadi abu," jawabku mengsinkronisasi otak Kyeri.
"Siapa pelakunya?" Tanya Kyeri yang sudah maksud apa jawabanku tadi.
" Orang."
__ADS_1
"Oh ayolah Nadta, jangan jawab singkat-singkat aku jadi bingung kayak main kuis jadinya," rengek Kyeri yang sangat aku rindukan.
"Iya pelakunya orang, cewe, teman kamu," jawabku.
"Siapa? Perempuan teman aku?" Tanya Kyeri lagi sembari menyerengitkan dahinya untuk berfikir keras.
"Tiyas?!" Lanjutnya lagi sembari menebak.
"Bukanlah," jawabku.
"Ya siapa Nadta? Aku gak punya teman cewe banyak," ucapnya sembari menggaruk kepala seperti orang frustrasi.
Aku hanya diam, menatap jalan raya karena sebentar lagi akan sampai di tujuan dan aku juga melihat motor Teo melaju ke arah rumah.
"Itu Teo," ucapku.
"Iya, sebentar lagi kita sampai ya. Tidak ada perbedaan di tempat ini hanya bangunan rumah yang semakin bertambah." Kyeri memperhatikan sekeliling jalan dan kembali fokus.
"Iya benar."
Setelah perjalanan memakan waktu hampir 1 jam, akhirnya kami sampai tepat setelah Teo dan ibu berbicara.
"Nah ini mereka, baru aja di bilangin hehehe," ucap Teo ke ibu sembari menunjuk mobil Agya warna Biru muda hasil modifikasi Kyeri.
"Eh iya, panjang umur."
Deg ...
"Aamiin." Teo mengaminkan ucapan ibu tadi.
Ibu hanya kebingungan atas ucapan biasa di balas menjadi doa dan Teo hanya bisa menyeringai saja.
Kyeri pun keluar dari mobil dan begitu pula dengan Nadta. Ibu terpaku melihat sosok pria tampan, putih nan tinggi datang memberi tumpangan ke sang anak.
"Siapa Nadt?" Tanya ibu sebelun mereka berdua mengucapkan salam.
"Ih ibu, ini Kyeri," jawabku.
"Oalah Kyeri, ya ampun ganteng banget ih kamu," ucap ibu sembari memkuli badan Kyeri yang bidang.
"Hehehe ibu bisa aja." Kyeri nampak malu-malu saat ibu ku berkata seperti itu.
"Masuk dulu yuk semua! Makan malem bareng-bareng! Mumpung ibu baru masak," ucap ibu menarik 2 anaknya masuk.
Sedangkan aku mengikuti mereka bertiga dari belakang saja sembari menatap punggung yang aku incar selama bertahun-tahun.
...~▪︎~...
Makan malam pun mereka santap dengan nikmat. Walaupun sederhana, tetapi suasana ini tidak akan pernah terulang dua atau tiga kali lagi.
Suara hentakan sendok kepiring, di badut dengan pembahasan yang cukup hangat membuat aku ingin menangis.
Tetapi aku menahannya dan canda tawa pun menghiasi ruang makan ini. Disinilah aku, Kyeri, Teo dan ibu bisa bersama.
'Indah rasanya, tidak ada ketegangan ataupun aturan saat makan. Bahkan aku bisa menjadi diriku sendiri di sini.' Kyeri membatin sembari menatap keliling meja makan ini.
'Hangat ya, andai aku bisa memiliki keluarga seperti ini nanti kelak aku berkeluarga," batin Teo.
'Huaaa, bahagia tapi sedih banget bisa kumpul sama mereka berdua. Udah kayak keluarga banget rasanya," batinku sembari menahan air mata jatuh.
...~▪︎~...
Makan malam pun selesai kini Teo dan Kyeri pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
"Ibu makasih banyak makanannya, enak banget." Teo memuji ibu dengan menunjukan dua jempolnya.
"Ibu makasih ya udah mau di tumpangin makan sama kita berdua, enak banget, nanti aku mampir kesini lagi ya," ucap Kyeri.
"Iya, sama-sama nak, nanti mampir aja kalau perlu rikuis mau makan apa," jawab Ibu walaupun ada kata yang salah dalam pengucapannya.
"Request ibu." Aku membenarka.
"Sama aja Nadt."
"Hehehe kalau gitu kami pamit ya bu, selamat malam."
Mereka pun pergi dari pekarangan rumah dan rasanya sepi sekali rumah seperti biasa lagi.
...~▪︎~...
Di perjalanan.
Teo memimpin jalan tetapi Kyeri memberi klakson untuk berhenti di sebuah kafe dekat dengan bendungan arah rumah Teo.
"Mampir bentar!"
"Belum kenyang apa?" Tanya Teo bingung.
"Ada yang mau di omongin."
Mereka pun berhenti dan masuk ke dalam kafe tersebut.
...~▪︎[ Cafe ]▪︎~...
"Makasih ya udah mau jaga Nadta."
"Sama-sama."
"Tapi boleh gua minta hal itu selamanya?" Tawar Kyeri ke Teo.
"Maksudnya?"
"Tolong jaga Nadta selamanya ya!" Permintaan Kyeri.
"Gak." Teo menolak.
"Dia punya lo Ke, bukan punya gua. Hati dia juga punya lo bukan gua, gua hanya pengganti untuk sementara dan saat lo balik dia punya lo seutuhnya," lanjut Teo.
"Lo salah!" Ucap Kyeri.
"Gua gak bisa selamanya dan itu lo tau kan?"
"Lo bisa sembuh Ke, percaya sama gua." Teo tetap menolak.
"Hahaha mau sembuh gimana? Penyakit gua udah berada di stadium akhir dan gua udah menjalani kemoterapi dari gua SMP sampai sekarang gak sembuh-sembuh."
"Konsisten itu pasti membuahkan hasil Ke," tegas Teo.
"Kurang konsisten apa lagi? Rambut gua udah gak ada sekarang yang gua pakai ini wig biar Nadta gak khawatir sama gua."
Deg...
"Serius?"
"Iya, besok kemoterapi gua yang terakhir. Kalau memang setelahnya gua gak kenapa-kenapa lagi, dia gua ambil tetapi kalau ada hal yang mengganjal di dalam diri gua lagi, gua mohon jaga dia dengan baik." Kyeri memohon ke Teo.
"Gua sayang sama dia, dia cinta pertama dan terakhir gua, gua gak bisa bilang kita pacaran karena gua gak mau dia sedih karena gua gak ada dan gua mau lo jadi diri lo di sisi dia nantinya," lanjut Kyeri.
__ADS_1
Seperti pesan singkat yang Kyeri sampaikan dengan nada terbata-bata, Kyeri kembali mengucapkan permintaan terakhirnya.
Bersambung ....