
"Hmmmm, yeeee, huuuuuu, hoaaaaah."
Aku bernyanyi saat sedang memasak mie instan di dapur sembari berjoget ria, tanpa ada yang mengahalangi.
Setelah mie instan yang aku masak tadi jadi, aku membuka pintu belakang dan menuju ke teras belakang.
"Sruuupp."
"Hmmm enak," ucapku dengan wajah berseri-seri.
Kyeri dari tadi memperhatikan aku dari rumah hanya bisa tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya.
"Itu si Nadta kenapa?" tanya mamah Kyeri.
"Mamah tadi liat tv gak?" tanya Kyeri balik.
"Hah? Mamah belum nonton berita hari ini, emang kenapa?"
"Tadi sekitar jam 2 an, wali kelas kami dulu saat SMP datang ke rumah Nadta untuk mengantarkan surat rekomendasi beasiswa SMA."
"Jadi, Nadta bisa kembali ke sekolah tanpa biaya sepeserpun," jelas Kyeri.
"Wah keren ya dia Mat, kamu harus jaga dia baik-baik tuh. Biasanya anak-anak pintar lulusan beasiswa itu kebanyakan gak di suka sama anak-anak berduit," ucap mamahnya memperingati Kyeri.
"Iya tah mah?" tanya Kyeri lagi.
"Iya bener, liat aja nanti kalo kamu gak percaya."
'Pokoknya gua harus ngelindungin Nadta dalam kondisi apapun,' ucapnya dalam hati.
"Aku ke sana dulu ya mah, " Kyer berpamitan menuju ke arahku.
Aku hanya bisa menikmati mie instan ini dengan hati yang berbunga-bunga, seperti mimpi tapi ini adalah kenyataan.
"Makan mie terus lo ini Nadt."
Tap.. ~ menaruh air minum di atas meja.
"Baru kali ini gua makan mie gila."
"Iya tah?" tanya Kyeri tidak percaya.
Aku tetap saja melanjutkan makan tanpa memperdulikan Kyeri yang berada di dekatku. Tetapi sepertinya Kyeri dari tadi melihatku.
"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Nadta langsung menebak.
"Enggak kok, siapa yang liatin lo?" tanya Kyer mencari alasan.
"Halah. Kenapa?" tanya Nadta lagi.
"Jadi lo gimana?" tanya Kyeri seperti sedang merangkai kata.
"Apaan sih Kyeri?! kamu tuh kalo mau ngomong yang jelas, buat aku pusing aja," cetusku.
"Sekolah kamu gimana? Kamu mau lanjut sekolah kan?" tanya Kyeri menemukan inti pembicaraan yang ingin ia ucapkan.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala saja dan tetap menikmati makanan yang sedang aku pegang.
"Serius? Dimana?" tanya Kyeri penasaran, walau pun sebenarnya ia sudah tau dimana.
"Bentar, sebentar ya," aku memotong jawaban dari ucapan Kyeri dan aku pun langsung masuk kedalam rumah lagi.
Kyeri mengira kalau aku akan membawakan sebuah amplop berisi surat rekomendasi tetapi saat aku keluar rumah.
Sama saja tidak ada yang di bawa saat aku keluar lagi, pertanyaan singkat pun muncul seketika di dalam benak Kyeri.
"Ngapain lo kedalem?"
"Nambah lah aku, nih pake nasi."
Aku menunjukan mangkuk berisi mie instan dan juga nasi putih. Walau sebenarnya itu tidak boleh, tetapi aku hanya berfikir cara cepat kenyang ya seperti ini.
"Astaga! Nadta nasi sama mie itu gak boleh di satuin. Karbohidrat ketemu Karbohidrat Nadt!"
Kyeri mengomeli aku lagi, tetapi aku tetap melanjutkan makan ki yang penuh kegembiraan.
"Sampe mana tadi kamu nanya Ke?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.
"Di sekolah mana lo bakal lanjutin SMA?" tanya Kyeri menatap bola mata yang indah nan cantik milik Nadta.
"Kepo banget sih kamu Ke."
"Gua bukannya kepo, hanya saja gua mau jagain lo bener-bener," jelas Kyeri
"Huaaaa, sejak kamu berteman sama Iqbal dan Koko, kamu jadi alay gini tau gak?"
"Gua serius Nadt lo bakal sekolah dimana?"
"SMA Citra Bangsa."
"Serius? Kita satu sekolah lagi dong ya, wah asik nih. Nanti gua minta sama guru untuk satuin kita di kelas yang sama,"ucap Kyeri.
Ucapan Kyeri seketika membuat aku tersrdak, terlihat sekali ke alayan seorang Kyeri. Padahal mereka tidak mengobrol hanya hampir setahun.
Tetapi sifat Kyeri seperti ini memuat aku geli, Kyeri yang biasanya cuek, sok dingin dan sok segala-galanya bisa bersikap layaknya seorang gadis yang tak ingin berpisah dari sahabat dekatnya.
"Ini yang di samping aku beneran Kyeri?" tanya ku menatap iris Kyeri.
"Kenapa emangnya? Ganteng ya?" tanya Kyeri.
Mendadak aku hanya bisa membulatkan mata sembari menyeringitkan dahi. 'Kyeri kenapa sih, sok manis banget tingkahnya geli ih,' umpat dalam hati.
"Besok gua mau ke SMA Citra Bangsa lo mau ikut Nadt?" tanya Kyeri.
"Mau, mau. Gua juga mau nyiapin semua berkas," ucapku menerima ajakan Kyeri.
"Yaudah nanti gua tunggu ya jam 8 pagi, jangan begadang lu, istirahat yang bener."
"Iya Matteo Kyeri!"
"Kamu gak ke rumah sakit lagi?" tanya Kyeri.
__ADS_1
"Nanti malem aku ke rumah sakit bareng sama Zira," jelasku.
"Zira? yang tadi itu?"
"Iya, itu Zira sepupu aku. Rumahnya di desa bawah deket tanah lapang."
"Oalah, gua kira tadi cowo yang mau lecehin lo ternyata pas gua liat cewe dan ternyata sepupu lo."
"Ya kamu sih asal tebak aja, untung kamu cuma di banting sama Zira."
'Kok untung sih Nadt? Gua di tonjok sama Zira tau gak?' ucap Kyeri dalam hatinya sembari menggosok pipinya yang masih sakit terasa.
"Gua di tonjok Nadt."
"Hah? Oalah ya aku gak tau, aku kita kamu di banting. Ternyata di tonjok toh hahahaha."
"Jahat banget sih kok malah di ketawain," lirih Kyeri memelas.
Aku pun melanjutkan makan lagi hingga selesai. "Hmmm kenyang," ucapku tersenyum manis.
Tap.. ~ menaruh mangkuk di atas meja.
"Selama lulus dari SMP, kamu kemana aja? Selain ngurus ayah kamu," tanya Kyeri penasaran.
Aku meneloh ke arahnya dan tidak sengaja mata kami beradu, iris mataku menatap bulat iris mata Kyeri yang begitu bening.
"Aku bantu ibu, jualan di pasar."
"Pasar mana? di deket SD kita dulu apa di pasar perbatasan kota?"
"Pasar di deket SD kita dulu."
"Bukannya disana banyak preman pasar ya? Lo gak apa-apa kan?"
"Menurut kamu gimana?"
"Kamu di ganggu ya sama mereka? Dasar mereka itu meresahkan saja."
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala mendengarkan Kyeri mengomel layaknya tokoh utama di novel fantasi.
"Ya, waktu kami pulang, kami di hadang oleh dua orang bertubuh kekar. Aku kira kami melakukan kesalahan tetapi ternyata dia meminta pajak tempat, tetapi uang yang kami punya hanya cukup untuk membayar cicilan rumah sakit ayah."
"Jadi aku mencari cara untuk menjauh dari mereka. Aku menarik ibu lari memasuki gang sempit dan ya seperti biasa aku menabrak orang tidak di kenal."
"Tetapi aku saat aku melihat wajahnya ternyata itu Teo. Aku mengira dulu Teo anak yang begitu nakal, mengejek orang lain tanpa berkaca. Tetapi aku sadar semua orang pasti punya fase perubahan dan ya.. Aku rasa Teo berubah."
Begitulah monolog cerita yang aku sampaikan ke Kyeri, terlihat jelas raut wajah tidak suka saat aku menceritakan Teo.
Tetapi itu kebenarannya bukan? Teo yang dulu begitu nakal dan jahil berubah seketika Saat memasuki jenjang SMP.
Bersambung...
..."Semua orang berhak untuk berbuah dan semua orang berhak untuk membuat kebaikan di versi mereka masing-masing."...
...-Nadta...
__ADS_1