
...~•< Perjalanan ke kelas >•~...
"Gimana? Pindah?" tanyaku.
"Iya pindah ke IPA, tapi aku maunya kelas kamu."
"Hemm, aku kamu lagi kayaknya nih."
"Enggak gitu loh Nadta. Hmm yaudah deh iya, gu-aku ngaku kalo beberapa waktu ini aku sengaja belajar pake bahasa aku kamu," jelas Kyeri.
"Hmm, kayaknya aku tau nih karena apa."
"Karna apa?" tanya Kyeri penasaran.
"Karna kamu mau nembak cewe kan buat jadiin pacar kamu. Makanya latihan pake aku kamu segala."
"Mana ada Nadta!" ucap Kyeri sembari mencubit pipiku.
"Sebentar kelasnya yang mana ya?" tanya Kyeri memberhentikan langkahku.
Kyeri menatap plang-palang nama kelas yang berada tepat di ujung pintu dari kelas pertama hingga kelas terakhir.
"Oh in-"
"Salah Kyeri yang ini kelasnya," ucapku menarik tangan Kyeri masuk ke dalam kelas IPA 2.
Aku dan Kyeri pun masuk ke dalam ruangan yang Sudah di penuhi anak murid. Tetapi aku heran, mengapa anak IPA seperti anak IPS.
Memiliki kubu masing-masing atau memiliki geng masing-masing seperti tidak ingin berbaur dengan yang lain.
"Kita dimana ya?" tanyaku sembari memperhatikan wajah asing di dalam kelas ini.
"Matteo," teriak laki-laki di sudut kelas.
"Disana aja," tunjuk Kyeri sembari menarik tanganku.
Aku pun duduk tepat di depan orang yang memangil Kyeri tadi dan seperti biasa aku lebih suka duduk di bangku sebelah kanan.
Sudut mata pun menatap kami, bahkan semua pandangan tertuju kepada aku dan Kyeri.
"Bukannya lo IPS ya Mat?" tanya orang itu.
"Gua pindah ke IPA."
"Boleh?"
"Bolehlah asalkan ada yang mau barter sama gua," jelas Kyeri.
"Oh oke, sebentar."
Dreet ....
"Disini tadi yang mau barter sama anak IPS siapa?" Pertanyaan lantang dari teman Kyeri itu ke murid disini.
"Gua!" ucap salah satu anak laki-laki di ujung paling depan kelas.
"Emang boleh?" tanya siswi lain.
"Siapa yang mau barter sama gua?" tanya anak itu lagi.
"Gua, dari IPS 1. Lo bisa langsung pindah ke kelas itu, nanti jam istirahat kita temui pak petugas untuk konfirmasi," jelas Kyeri.
"Iya siip," anak laki-laki mengacungkan jempol.
"Tunggu sebentar ya Nadt," ucap Kyeri pada ku.
Kyeri langsung pergi menemui anak itu untuk berkenalan, agar ia tidak salah informasi nantinya.
Tap ... tap ... tap ....
"Gua Matteo Kyeri Bram," ucap Kyeri mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Gua Rizal Ardiansyah."
Perkenalan pun terjadi di antara mereka berdua, sedangkan aku hanya bisa menatap mereka saja.
Aku sedikit risih karena banyak mata menghampiri diriku, seperti seseorang yang sedang di introgasi.
Puk ... Puk ....
Seseorang di belakang menepuk pundakku, aku sedikit takut tetapi aku coba membalikan badan untuk berkenalan.
"Halo, aku Tiyas senang berkenalan denganmu," perkenalan pun di mulai.
"Nadta."
"Hmm, lo pacarnya Matteo?" tanya teman Kyeri.
"Bukan, kita teman dari kecil. Jadi saya anggep Kyeri kayak kakak saya sendiri."
"Buh ... Matteo punya panggilan sendiri. Jangan-jangan lo lagi orang yang dimaksud."
"Hah?"
"Oh iya gua Renaldi teman SMP Matteo tepatnya temen satu ekstrakulikuler basket dulu," perkenalan orang itu.
"Oh, berarti kita satu sekolah ya dulu."
"Wah kalian satu sekolah? Iri banget aku," sahut Tiyas.
"Apaan sih? Lo ngiri apan? Lo emang gak bosen apa sama gua mulu dari bayi sampe sekarang sama-sama mulu."
"Eh apanya sama-sama mulu. Kita pas SMP pisah sekolah ya."
"Cuma SMP doang udahnya bareng lagi."
Mereka berdua malah berdebat. Yah ... nasib mereka sama dengan ku. Bedanya Kyeri dan aku di pertemukan saat usia kami baru 6 tahun sedangkan mereka dari bayi sudah bersama.
"Semoga kita bisa berteman baik ya," ucap ku diiringi senyum.
"Oh iya, Rinaldi. Kamu kenal Koko sama Iqbal?" tanya ku.
"Kenal. Mereka berdua tuh kek prangko satu kelas mulu, kenapa emang?" tanya Renaldi.
"Mereka masuk di sini juga kan? Kelas apa?"
"Kalau gak salah mereka kelas IPA 7 sedangkan Teo di kelas IPS 4."
"Lah? Kamu kenal Teo? Dia disini juga?" tanya ku sedikit terkejut.
"Iya dia sekolah disini juga."
Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan semua informasi dari Renaldi.
Tidak lama kemudian, Kyeri datang menghampiri ku lagi dan ikut mengobrol bersama teman-temannya.
Hari pertama mendapatkan kelas memang tidak ada guru, bahkan sampai hari ke 3 biasanya guru belum datang.
...~•< Dua hari kemudian >•~...
Masih sama seperti awal saat masuk sekolah. Guru juga tak kunjung datang menemui kelas ini, bahkan wali kelas kami saja belum menampakan dirinya.
Tok ... tok ... tok ....
"Permisi?" sapa senior saat berada di depan kelas.
"Masuk kak."
"Disini ada yang namanya Nadta Garwita Langsih?"
"Saya kak," ucap ku sembari mengangkat tangan.
"Ke ruang guru sebentar ya, kita mau pendataan siswa-siswi berprestasi."
__ADS_1
"Baik kak."
"Lama gak kak?" tanya Kyeri.
"Enggak kok, cuma 5 menit aja paling."
"Sebentar ya Ke," ucap ku sembari ke luar dari tempat duduk.
"Mau aku temenin gak?" tanya Kyeri.
"Gak usah, orang cuma sebentar geh."
"Yaudah hati-hati."
Aku pun keluar kelas bersama senior itu menuju ruang guru. Tidak hanya berdua saja tetapi masih banyak siswa dan siswi berprestasi lainnya.
...~•< Kelas IPA 2 >•~...
"Posesif banget sih lo ini Mat," ledek Renaldi.
"Kenapa?"
"Takut bener diambil sama senior itu."
"Bukannya takut, tapi gua gak mau Nadta ke sentuh sama orang lain."
"Itu sama aja Matteo. Sama aja itu namanya Posesif," sahut Tiyas.
"Jadi itu cewe yang lo ceritain?"
Kyeri hanya menjawabnya dengan anggukan saja sembari memainkan pena di tangannya.
Teng ... teng ... teng ....
"Matteo ayok ngadep," ucap Rizal.
"Iya."
"Dah gua mau ke ruang guru dulu ya, mau ngadep."
"Mau ngadep apa mau nungguin ayang beb lo?" tanya Renaldi, namun Kyeri tidak menjawab pertanyaan itu.
...----------------...
Saat sampai di ruang guru, Matteo dan Rizal menemui pak petugas untuk menukar bangku kelas.
Tetapi pak petugas belum ada disana. Kyeri tidak sengaja mengintip ruang guru dan melihat wanitanya sedang menulis di atas meja tersebut.
'Cantik banget,' batin Kyeri sembari tersenyum.
Rizal merasa aneh dengan kondisi tersebut pun langsung menepuk pundak Kyeri sembari berkata, "Lo pacar dia ya?"
"Hah? Be-belum," jawab Kyeri sedikit gugup.
"Berarti akan. Hebat ya lo milih cewe yang gak salah, gak kayak gua."
"Kenapa?"
"Cewe gua tukang ganti-ganti pasangan dan terakhir gua dapet berita dia hamil di luar nikah. Untung posisinya udah gak pacaran lagi sama gua."
Kyeri hanya diam mendengarkan penjelasan dari Rizal. Masa remajanya telah di hancurkan oleh patah hati dan kenakalan remaja.
"Tapi lo yakin itu bukan perbuatan lo?"
"Iya gua yakin 1000% kalau bukan gua yang ngelakuin. Karena gua kerja, gua jarang ketemu, bahkan kita ketemu cuma hari weekend doang."
Kyeri hanya mengangguk-angguk saja sembari menatap wajahku begitu serius di meja ini. Tidak lama kemudian suara asing menyahut dari belakang.
"Cuma wekend apanya?"
Deg ....
__ADS_1
Bersambung...