Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Story Life •


__ADS_3

Pov Teo.


'Mereka sama-sama beruntung.'


'Kyeri beruntung bisa di cintai begitu tulus dengan Nadta dan Nadta pun di treat like a Queen, like a sister and like a bf.'


"Saling melengkapi itu perlu dan saling menyayangi juga perlu." Aku bermonolog saat melihat Kyeri dan Nadta bermain bersama.


'Sudahlah biarkan saja, mereka akan bahagia seperti itu.'


Aku pun kembali ke rumah langsung setelah sekolah selesai. Aku juga sudah memberhentikan penyelidikan tentang kepsek.


Aku tidak mau lagi ikut hal-hal seperti itu lagi, karena aku harus membantu ibu demi biaya hidup kami kedepannya.


...~▪︎~...


Grek ...


"Bu aku pulang," sapa ku saat hendak masuk ke ruko kami.


"Selamat datang sayang, tumben kamu pulang cepet," ucap ibu sedikit heran.


Karena aku biasanya berangkat telat dan pulang kerumah pun akan telat karena aku harus melakukan tugasku kemarin.


Tetapi saat aku menghentikan untuk tidak melanjutkan penyelidikan lagi, aku harus sering membantu ibu di ruko.


"Aku mau bantu ibu, kalau aku sering di sekolah, aku hanya punya waktu sedikit untuk bareng sama ibu."


"Hah?!"


"Kamu sedang mab*k? Atau sedang mengigau?" Tanya ibu menatapku penuh curiga.


"Huh ... aku sedang waras bu dan ucapanku tadi itu benar. Jadi ada makanan apa untuk siang ini?" tanya ku lagi ke ibu.


"Hah? Itu, hmmm, aku belum masak."


"Yasudah, ibu disini saja. Aku yang akan membeli makan siang di warung bi Inem."


"Wah serius? Terimakasih sayang ibu."


"Iya bu."


Aku hanya membuka seragam lalu menggantinya dengan kaos biasa dan aku langsung pergi ke warung dengan berjalan kaki.


Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan Renaldi yang ingin pergi ke toko buku baru samping warung bi Inem.


"Oy! Teo," panggil Renaldi dari jauh.


"Ngapa Ren? Lo mau kemana?" Tanya Teo sembari menjawab sapa Renaldi.


"Gua mau ke toko buku deket sini, yang baru itu."


"Oh, mau beli buku biologi ya?" Tanyaku.


"Iya, baru sempet beli gua. Lo udah beli tah?" Tanya Renaldi.


"Belum, nantilah gua belinya."


"Huh ... lo ini, udah sekalian aja yuk sama gua belinya." Renaldi mengajak Teo dengan merangkul pundak Teo.


Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan ini sembari tersenyum.


Berkeliling mencari buku yang dicari namun mereka tidak menemukannya. Lalu Renaldi berinisiatif untuk menanyakan ke salah satu karyawan toko untuk mencari dimana letak buku tersebut.


Mereka pun menemukannya. Buku tersebut berada di lantai 2 dekat buku anak-anak atau buku dongeng anak.


"Baru kali ini gua liat toko buku naro buku pelajaran di buku dongeng anak-anak." Renaldi bergumam sepanjang jalan ke lantai 2.


"Namanya juga toko baru Ren."


"Aneh aja tapi Teo."

__ADS_1


"Nah ini ada 5 lagi, nh ambil satu." Renaldi langsung mendekapkan buku tersebut ke dada Teo agar ia bisa mengambilnya.


"Gak usah Ren, saya nanti aj-"


"Udah ayok bayar, gua mau abis ini mau pergi sama Tiyas," ucap Renaldi langsung mendorong tubuh Teo maju ke kasir.


Bruk ... bruk ...


"Ini aja mas?" Tanya mba kasir.


"Iya mba 3 ini aja."


"Baik, totalnya jadi 320 ribu."


"Ren, batalin aja yang punya saya ya, kemahalan itu." Teo panik kala mendengar total harga buku yang harus Renaldi bayar.


"Udah santai aja Te."


Puk ...


Renaldi merangkul pundak Teo sembari menunggu bon dari kasir keluar. Setelah membayar buku-buku yang di ambil tadi, barulah mereka pergi meninggalkan toko.


"Ren, makasih ya."


"Sama-sama. Gua balik dulu ya, mau jalan gua sama si Tiyas." Renaldi pamit untuk pulang lebih dulu karena dia dan Tiyas akan pergi entah kemana.


"Oke."


'Syukurlah, terimakasih atas bantuanmu tuhan,' Batin Teo sembari memandangi bungkus plastik berwarna hitam.


"Hadiah yang tidak terduga ya," gumam Teo sembari jalan mendekati warung bi Inem.


...~▪︎~...


"Halo bi," sapa Teo saat sampai di warung bi Inem.


"Halo den Teo, mau makan apa hayo?"


"Ada, mau sayur apa?"


"Apa aja deh bi, basing yang penting sayurnya 10 ribu, 10 ribu lagi lauk yang lain kayak telor sama kerupuk," jelas Teo.


"Okey, ditunggu saja."


Aku pun menunggu pesananku sembari membaca buku yang di belikan Renaldi tadi. Tidak, tidak, ini memang buku sekolah wajib punya.


Jadi mau tidak mau aku harus membacanya secara perlahan hingga aku paham apa isinya.


'Oh iya, sebentar lagi Nadta ulang tahun.' Tiba-tiba Teo mengingat sesuatu dan langsung berbicara dengan hatinya.


'Beli apa ya untuk dia?'


'Dia suka apa?'


'Kalau di belikan baju? .... Tidak jangan, Kyeri pasti sudah membelikannya.'


'Hadiah untuk wanita itu apa ya? Agak sedikit sulit jika memikirkannya.'


Drug...


"Ini den sudah."


"Wah makasih bi, ini uangnya."


"Terimakasih kembali den."


"Bi!" Panggilku saat baru saja beranjak dari kursi.


"Iya den, kenapa?"


"Bibi tau gak kado yang pas untuk cewe? Atau kado yang bagus untuk cewe?"

__ADS_1


"Hayo mau beliin kado siapa?"


"Hehehe teman bi."


"Biasanya sih baju, sepatu, boneka, bunga, cokelat, bando, dan pernak-pernik cewe gitu," jelas bi Inem.


"Iya-Iya, yaudah deh makasih lahi bi."


"Sama-sama lagi den."


Aku pun berjalan kembali ke ruko mamah sembari memikirkan kado apa yang pas untuk Nadta dan bagaimana cara memberikannya agar Kyeri tidak tahu.


Karena jika Kyeri tahu, yang ada aku akan baku hantam dengannya. Karena Kyeri tak mau sampai perempuannya itu di sentuh atau di perhatikan oleh laki-laki lain.


"Apa tanya mamah aja ya?" Gumamku sembari menendangi batu kerikil di pinggir jalan.


...~▪︎~...


Sreek ...


"Mah!" Panggilku saat sampai di ruko.


"Iya sayang." Sahut mamah dari arah belakang.


"Ini mah. Ayok kita makan bareng!" Ajakku.


"Tumben, biasanya kamu makan di tempat bibi langsung."


"Gak apa-apa mah, aku lagi mau makan bareng sama mamah. Aku juga yakin mamah pasti belum makan dari pagi."


"Ish kamu sok romantis, sok perhatian."


Aku dan mamah kala itu makan siang bersama sampai di tengah-tengah makan siang, niatku semakin besar untuk menanyakan suatu hal penting itu.


"Mah!"


"Iya?"


"Aku boleh nanya?"


"Boleh, silahkan."


"Hmm ...." Aku mengaduk-aduk pinggir piring makananku dan ternyata mamah menunggu pertanyaan yang akan aku ucapkan.


"Nanya apa Bram?"


"Bram? Eh ... iya Mah maksud aku itu."


"Apa? Nanya apa? Mamah penasaran loh."


"Mamah tau gak kesukaan cewe itu apa?"


"Maksudnya?"


"Hmmm ... itu mah, aku .... hmmm...." Aku mengucapkan dengan kalimat yang terbata-bata.


"Nadta ulang tahun sebentar lagi," lanjutku.


"Terus?"


"Mamah tau gak kesukaan perempuan itu apa?"


"Banyak."


"Huh .... jawaban mamah gak membuahkan hasil," gumamku tertunduk lesu.


"Bisa kamu kasih boneka, bisa kamu kasih sendal yang model lucu-lucu."


"Bisa juga kamu kasih bunga, bisa kamu kasih parfume, bisa juga kamu kasih tas."


'Oh iya, kayaknya yang itu aja deh pas.'

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2