
'Oh iya, kayaknya yang itu aja deh pas.'
"Oke mah, makasih atas jawabannya."
"Iya sama-sama sayang."
"Jadi yang mana?" Tanya mamah sedikit penasaran.
"Nanti aku kasih tau."
Dreet ...
Aku beranjak dari tempat makan, membersihkan semua piring, gelas yang aku gunakan lalu pergi ke tempat yang akan aku tuju.
Tap ... tap ... tap ...
Hosh ... hosh ... hosh ....
' Ternyata benar, segala kunci atas pikiran kita yang tidak bisa kita pecahkan adalah mamah.'
Hosh ... hosh ... hosh ...
Tap ....
"Akhirnya sampai juga!" ucapku saat berdiri di depan toko aksesoris.
Clink.... clink .... (bunyi lonceng gantung di toko)
"Selamat datang, selamat berbelanja."
Aku hanya membalas ucapan pegawai toko dengan senyuman saja.
Deg!
'Kyeri!'
Sialnya hari itu bertemu dengan Kyeri. Mungkin ia juga sedang mencari sebuah hadiah untuk Nadta karena ini adalah satu-satunya toko hadiah terdengar di dekat desa kami.
'Duh, mana dia berdiri di tempat barang yang mau gua ambil lagi.'
'Harus muter dulu ini.'
Aku mengelilingi toko ini dan melihat satu persatu barang lucu-lucu. Sembari memantau Kyeri, aku menemukan satu barang yang cocok di jadikan hadiah.
tetapi aku tidak mau mengambil itu terlebih dulu, karena aku takut jika di depan kasir nanti aku bertemu dengan Kyeri maka Kyeri akan curiga dengan benda ini.
'Oh iya, pulpen gua abis.'
'Sekalian ajalah beli pulpen, kayaknya si Kyeri itu ngeliatin gua deh.'
Aku pun dengan sigap langsung menuju arah pena dan mengambil beberapa pena serta alat tulis lainnya.
"Oy!" Panggilan ciri khas dengan suara yang khas.
Aku menoleh ke arah suara tersebut dan benar saja Kyeri memanggilku.
"Eh, lo. Sama siapa?"
"Sendiri, lo ngapain?"
"Nyari pena sama buku."
"Untuk?"
"Gua lah aneh, untuk siapa lagi emangnya?"
"Udah?"
"Udah. Lo kenapa?"
"Biar gua yang bayar."
Dengan lagak yang begitu angkuh, Kyeri jalan menuju kasir sembari membawa tas kecil dan juga boneka beruang berwarna cream.
Sreek ....
"Ini aja mas?" Tanya mbak kasir.
"Iya, sama ini juga." Kyeri mengambil barang-barang milikku.
Tit ... tit ... tit ...
__ADS_1
"Totalnya 150 ribu mas, ada tambahan lain?"
"Enggak."
"Oh iya mbak, yang dua ini bisa tolong di kadoin?" Tanya Kyeri ke mbak kasir.
"Bisa mas, tunggu sebentar ya."
"Pulih kertasnya aja dulu mas," lanjut mbak kasir.
"Ini barang lo." Kyeri memberikan bungkus plastik putih ke Kyeri.
Kala itu aku hanya terdiam dan rasanya ingin bergerak saja susah sekali. Tetapi saat aku keluar dari toko, Kyeri menghentikan langkahku.
"Oy!"
Aku menoleh sembari menunjuk ke diri sendiri bertanda, "Gua?"
"Iya."
"Kenapa? Oh bonnya ya, in-"
"Bukan."
"Terus?"
Sreek!
"Bawa ini, 2 hari lagi Nadta ulang tahun. Gua gak bisa ngasih kado ini langsung ke dia. Jadi, gua harap lo bisa kasih ini ke dia."
"Dan gua gak mau sampe lo kasih buku atau pena ke dia, karena gua udah beliin itu bulan kemarin, pasti masih banyak dan belum ke pakai mungkin."
"Tapi ke?"
"Ambil aja itu, anggap aja dari lo dan jangan bilang kalo itu dari gua."
Kyeri pun langsung pergi entah kemana. Dengan rasa bimbang, aku kembali ke ruko.
Pandangan penasaran sekaligus bahagia terpancar jelas di depan etalase biru milik kami.
Mamah pasti menyangka kalau aku yang membelikan ini, padahal ... ini semua punya Kyeri.
"Cieee yang beliin kado untuk cewenya."
"Apa sih mah! Ini bukan punya aku tau, ini punya Kyeri. "
"Lah kok bisa?"
Aku pun menjelaskan yang terjadi di toko tadi dan mamah sedikit memberi masukan ke aku. Hingga haru yang di nanti tiba.
...~•{ Sekolah }•~...
"Nadtaaaaaa," Teriakan tiap pagi dari kelas IPA 2.
"Morning Tiyas," Sambut Nadta dan sudah pasti di samping Nadta ada Kyeri.
"Morning Ke-"
"Hmm." Begitulah jawaban dingin dari Kyeri ke sahabatnya sendiri.
"Ish dasar Kutub Utara!" cetus Tiyas pagi-pagi.
"Pagi Teoo."
"Pagi juga Iyas."
"Nah gitu Ke, lo itu kalo di panggil ya panggil balik," omel Tiyas.
Bruk ...
Entah mengapa dari 2 hari yang lalu Kyeri bersikap dingin, dingin sekali ke teman-temannya. Tetapi ke Nadta tidak.
Hanya saja ada beberapa momen mereka sedikit canggung dan diam seperti mati topik.
"Kamu sakit tah Ke?" Tanya Nadta.
"Enggak."
"Yakin? Kok beberapa hari ini kamu diem aja? Bahkan jarang main ke rumah."
"Hah? Sejak kapan seorang Kyeri jarang datang ke rumah Nadta?" Sahut mulut-mulut julid di belakang bangku Nadta.
__ADS_1
"Huh ..." Kyeri hanya menghela nafas.
Dan sikapnya ini berlanjut hingga pulang sekolah.
"Nadt duluan aja ke parkiran. Nanti aku nyusul."
"Emang kamu mau kemana?" Tanya Nadta.
"Ke toilet sebentar."
"Oh, oke deh klo gitu, jangan lama-lama!"
"Iya."
Tetapi sepertinya Kyeri tidak ingin ke Toilet, melainkan ia ingin pergi ke suatu tempat. Mungkin saja itu ....
"Oy!"
Dia memanggil aku kembali dengan nada yang sama.
"Apa?"
"Kapan lo kasihnya?"
"Hari ini."
"Dimana?"
"Di pertigaan arah rumah lo sama jalan ruko mamah."
"Oke, kalo gitu gua nanti pura-pura mogok di sekitar pertigaan itu."
"Terus? Dia gak curiga apa kalo gua ngasih ini tanpa lo marah?"
"Tenang aja, gua udah ngelatih sikap dingin kayak gini dari 2 hari yang lalu, jadi gua bisa sedikit pura-pura marah."
"Oke kalo gitu gua duluan."
"Iya."
Aku tidak menyangka kalau Kyeri ternyata hanya berlatih bersikap dingin dan bukan benar-benar bersikap dingin.
aku pun langsung berlari berlari sekuat-kuatnya, bahkan saat Nadta, Tyas dan Renaldi memanggilku saja, aku tidak menyahut.
pasti mereka mengira ada suatu kejadian di rumah ataupun di ruko mamah. Karna aku sedikit melihat raut wajah khawatir mereka bertiga.
Dan setelah aku sampai di ruko, rencana pun di mulai.
...~•{ Ruko }•~...
"Kenapa ngosh, ngosh an kayak gitu?" Tanya mamah heran.
"I... itu ... aku .... abis ... di kejar ... an .... guguk. " Aku menjelaskan sesuatu secara terbata-bata.
Rasanya dadaku ingin melebur karena jantung yang berdecak begitu cepat dan cuaca hari ini yang lumayan terik.
"Ada-ada aja kamu ini Ham."
"Huh ... kemaren mamah manggil aku Bram sekarang Ham, besok Yam, besoknya lagi Ayam, besoknya lagi Ayam geprek," Aku mengomel karena Mamah seringkali mengganti namaku.
"Hehehe iya maaf ya, mamah lupa tau."
"Nama anak sendiri lupa? Astaga mamah, untung aku cinta mamah."
Sreek ... Sreek ....
"Mau di kasih sekarang?"
"Iya Mah, tapi aku mau siap-siap dulu biar maksimal rencananya gitu."
"Rencana apa?"
"Ada deh, mamah kepo terus ih."
"Ya namanya anak mamah sekarang udah dewasa pasti mau kasih suprise ke cewenya kan ya."
"Enggak loh mah, enggak gitu."
"Siapa? Coba kenalin ke mamah."
"Ih mamah ini, bukan cewe aku tau."
__ADS_1
Bersambung...