
"Aku akan istirahat di sini seharian," ucapku menyelimuti tubuh dengan kain gendongan yang aku bawa.
...~•< Rumah Nadta >•~...
Tok..tok..tok..
"Nadt, Nadta?" panggil Kyeri di depan rumah.
Kyeri mengetuk pintu rumahku mungkin sampai tiga kali tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Kyeri kembali kerumahnya terlebih dulu.
"Mah, Nadta gak ada di rumah rumah?" tanya Kyeri saat baru masuk ke dalam rumah.
"Gak tau, tadi pagi kalau gak salah ibunya pergi sama Zera. Mungkin mau ke rumah neneknya Nadta kali."
"Nadta?"
"Gak liat. Dari mamah pergi sampai mamah pulang, mamah belum ketemu Nadta bahkan rumahnya ketutup semua."
Penjelasan sang mamah membuat Kyeri kehilangan arah. Bahkan Kyri tidak terfikir untuk ke rumah pohon ini.
Dia malah lebih menungguku di teras belakang sembari meminum teh hangat.
"Apa jangan-jangan Nadta pergi ya?" gumam Kyeri.
...----------------...
Dreng.. deng.. deng.. deng..
"Nah itu motor Zera," gumam Kyeri langsung menghampiri suara itu.
Dreng.. deng.. deng.. deng..
"Ngapa lu?" tanya Zera.
"Lari, lari mau ketemu gua tah? Kangen lu ya sama gua," ledek Zera.
"Najis, Nadta mana?" tanya Kyeri langsung.
"Lah gua kesini mau nganter sayur dari nenek. Nih," jelas Zera sembari menunjukan bungkus plastik warna hitam.
"Hah? Serius dulu Ze."
" Lo kira gua nganter sayur bercanda apa? Ngapa sih?"
"Nadta gak ada di rumah, lo tau dia kemana?" tanya Kyeri langsung.
"Lah mana gua tau, gua aja baru balik sekolah langsung anter sayur dari nenek ini."
"Terus Nadta ke mana?"
"Kan lu yang tetangganya, lu yang sobat koribnya, lo yang satu sekolah. Masa iya lu gak tau?!"
"Gua pulang sekolah ke sini tapi dia gak ada, semua pintu ke kunci, bahkan jendela juga."
Zera hanya mengerutkan dahinya, menuju ke arah pintu masuk dan membukanya.
Grek.. Grek..
"Lah iya ke kunci."
"Coba ya, hm.. hmm.. NADTAAAAAAA," Zera tiba-tiba berteriak membuat Kyeri terkejut karena ia belum bersiap.
"Gila toak lu kenceng bener."
"Hahaha sorry ya Ke."
"Gua ini udah 2 jam duduk di belakang rumah Nadta tapi geh gak ada juga."
"Apa jangan-jangan-"
Plak..
"Guoblok, Nadta ini pasti di rumah pohon!"
__ADS_1
"Astaga iya, gua gak ke pikiran. Yaudah ayok ke sana."
Kyeri langsung menaiki motor Zera dan langung memutarkan arahnya dengan secepat itu. Mungkin motor Zera ringan makanya Kyeri bisa memutarkan motor itu dengan cepat.
"Huahahahaha coba liat diri lo sendiri Ke, lucu hahahaha."
Zera tertawa puas kala melihat tubuh jangkung yang biasa memakai motor vikson sekarang memakai motor ceper.
"Ketawa lu! Yaudah cepet, gua takut Nadta kenapa-kenapa."
Dreng..
Dreng..
Dreng..
Dreng.. deng.. deng.. deng..
"Susah bener motor lu ini di idupinnya Ze," ucap Kyeri sembari mengeleng.
"Cerewet lu, udah minjem gak tau diri lagi."
Selama di perjalanan, Zera berbicara di dalam hatinya sembari tersenyum-senyum.
'Pantes kak Nadta suka sama Kyeri. Kyeri wangi banget, padahal gua tau dia ini belum mandi.'
'Sumpah wangi banget, pake parfum berapa botol sih nih orang. Untung aja wanginya enak, coba kalo wangi nyong-nyong. Udah muntah duluan gua di jalan,' batin Zera lagi sembari menatap pundak Kyeri begitu lebar dan tegap.
5 Menit kemudian.
Syut..
"Astga Nadta!" tiba-tiba Kyeri menaikkan sedikit oktafnya.
"Ngapa Ke?" tanya Zera turun dari motor.
"Ini pegang motor lo," Kyeri menyerahkan motor itu ke Zera.
"Kenapa gil- Astaga Nadta!"
Zera dan Kyeri mengira kalau aku melakukan uji coba bunuh diri, padahal..
"Nadta? Nadta?" teriak Kyeri sembari memperhatikan jurang dangkal di penuhi semak.
"Nadta? Kak Nadta?" panggil Zera bernada lirih.
Kyeri pun terpaku di bawah rumah pohon ini, wajah syok pun terlihat jelas di wajah mereka berdua.
"Gua, gak nyangka lo bakal bertindak se bodoh ini Nadt, gua belom bilang sesuatu yang penting ke lo tapi lo-" suara Kyeri tersedat tangis yang hampir muncul.
Bahkan Zera pun sudah berlinang air mata, wajah mereka berdua mungkin seperti aku saat di tinggalkan ayah.
Aku hanya bisa memperhatikan mimik wajah mereka dari atas pohon ini dan aku biarkan rambutku terurai terhempas angin.
"Berisik."
"Hah? I-itu suara Nadta," ucap Kyeri menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Hmpt.."
"Itu Kak Nadta di atas."
"Sialan orang ini ya! Nadta, awas aja lo," geram Kyeri saat melihat aku tertawa lepas.
"Bentar jangan naik dulu."
"Kenapa?"
"Tolong ambilin bantal gua di bawah, tadi jatoh."
"ASTAGA NADTA!"
...----------------...
__ADS_1
"Makasih."
"Hoam.. Lo kenapa Ze? kok mata lo sembab?" tanya ku seperti tidak berdosa.
"Gara-gara lu ini!"
"Aneh, gua mau tidur tenang aja gak bisa bener loh, hoam."
"Gua nyariin lo dari jam satu sampe jam lima tapi gak ada, gua kira lo pergi ikut ibu ternyata lo! ih."
"Hahahaha panik ya, hehehe maaf ya sodara-sodara. Akhir, akhir ini gua.. ku..rang.. ti. Grook.. hook."
"Lah malah tidur lagi, kebo banget sih lu Nadt," ejek Zera.
Aku melanjutkan tidur lagi di paha Kyeri beralas bantal yang sudah Kyeri ambil tadi.
"Udah biar aja, dia ngantuk."
Kyeri hanya tersenyum sembari mengusap-usap kepala ku layaknya seorang kakak yang sedang memperhatikan sang adik tidur.
Zera yang melihat pemandangan langka ini pun tertegun, jarang sekali Kyeri senyum setulus ini. Bahkan hanya aku yang bisa membuat senyum Kyeri setulus ini.
'Gila! jadi gini perawakan Kyeri kalo lagi senyum tulus. Gua salut sama lo kak, lo bisa buat Kyeri si batu bisa senyum se manis ini.'
"Kenapa lo?" tanya Kyeri sinis.
"Apa sih?"
"Lo ngeliatin gua kan? Kenapa? karena gua ganteng kan?"
"Idih jijik, huek. Siapa yang bilang lo ganteng hah? Siapa?" tanya Zera.
"Ada, Nadta. Nadta bilang gua ganteng kok," ucap Kyeri percaya diri.
"Karena dia gak tega sama lo. Ini nanti kasih ke Nadta bilang dari nenek, gua mau balik. Mau kerjain tugas, Nanti malem gua nginep di rumah Nadta bilangin ya tolong. Bye," jelas Zera panjang lebar.
Padahal sikap Zera kali ini karena ia tidak mau mengganggu aku bersama Kyeri.
"Nadta, Nadta."
...----------------...
"Ayah?"
"Ayah jangan tinggalin Nadta sama ibu sendirian. Nadta takut Ayah, Ayah aku ikut ya."
"Jangan Nadta sayang. Ayah bakal nunggu kamu sama ibu disini, tapi jangan cepat-cepet nyusulnya ya."
"Iya, aku mau peluk ayah sebentar."
"Sini sayang ayah."
"Aku sayang ayah."
Hiks.. hiks.. hiks...
"Nadt? Nadta," ucap Kyeri menepuk lenganku.
"Nadta? Nadta."
"Hmm."
Aku pun langsung berposisi duduk dan membuka mata ini secara perlahan. Walau sedikit silau, tetapi bayangan ayah seperti ada di ujung sana.
Sedang melambaikan tangan, bahkan cahayanya saja tepancar jelas, "Ayah."
Deg..
'Nadta masih mengigau ya?' tanya Kyeri dalam hatinya dengan raut wajah khawatir.
"Hoam, Eh ada Kyeri. Aku kira tadi mimpi."
Kyeri hanya tersenyum manis saat menatapku sembari menyeka air mata yang berada tepat di ujung matanya.
__ADS_1
Bersambung...