
15 menit kemudian, Nadta pun datang dengan wajah sedikit lesu. Entah apa yang terjadi tetapi Nadta tidak seceria pagi-pagi kemarin.
Kyeri yang mentap Nadta dari kejauhan dengan tatapan sinis pun bertanya-tanya karena Nadta hanya diam tidak menyapa, "selamat pagi!" kepada teman-temannya.
Bahkan Teo, Renaldi dan Tiyas pun bertanya-tanya akan hal serupa. "Apa yang terjadi dengan Nadta?"
Bahkan sampai di bangku kelas pun Nadta hanya diam tidak banyak berbicara dan lebih memilih membaca buku novel yang ia bawa.
"Kenapa?" Tanya Tiyas dengan kode ke Renaldi.
"Entah," jawab Renaldi sembari menaikkan pundaknya.
"Kenapa?" Tanya Tiyas ke Kyeri langsung.
Kyeri hanya menikan pundaknya yang berarti, "Tidak tahu."
Sampai jam istirahat pun tiba, Nadta lebih dulu pergi ke luar dan tidak menyapa teman-temannya sama sekali.
Kyeri yang merasa janggal dengan hal tersebut pun bertanya-tanya dan juga memunculkan banyak praduga.
"Apa yang Viko lakuin ke Nadta?" gumam Kyeri menatap tajam ke arah Nadta yang semakin menjauh.
"Belum juga 24 jam Nadta bareng sama si Viko, tapi dia udah buat Nadta jadi menghindar dari gua gini!" gumam Kyeri kesal.
...~▪︎~...
Tok .... tok .... tok ....
"Masuk!" ucap seseorang dari balik pintu.
"Siapa?" Sambung tanyanya lagi.
"Saya," ucap Nadta.
POV Nadta (Aku)
...Flasback on....
Malam itu Viko dan aku pergi ke rumah nenek untuk bermalam disana karena tante atau Mamah Viko akan menyampaikan sebuah berita besar.
Tapi aku tidak tau mengapa ibu tidak ikut, apa mungkin karena ini adalah keluarga pihak almarhum ayah.
Aku masih belum paham dan nanti akan aku tanyakan ke ibu setelah pulang sekolah.
...----------------...
"Kenapa mah?" Tanya Viko ke tante Lia (mamah Viko).
"Mamah sengaja ngumpulin kamu, Nadta, Zera dan juga Bi Roiah untuk berkumpul disini," ucapan pembukaan dari tante Lia.
Wajah tante Lia sedikit mencurigakan, bahkan jantungku saja berdegup kencang. 'Apa aku akan di jodohkan oleh orang ini?' Begitulah Tanyaku di dalam hati.
Tetapi aku masih mengamati situasi, mengamati wajah bi Roiah dan juga nenek.
Mereka juga memasang wajah sedikit aneh, seperti ada rahasia besar yang akan terungkap tapi kami belum tau apa itu.
__ADS_1
'Tapi setauku tante Lia sudah berpisah dengan suaminya 2 tahun lalu, apa mungkin tante Lia akan segera menikah kembali?' Tanyaku di dalam hati.
Banyak sekali pertanyaan yang membuat kepalaku sedikit pusing, entah karena pertanyaan yang aku buat sendiri atau ada hal lain.
"Mamah, akan pergi ke Australia selama 5 tahun untuk bekerja disana. Kemungkinan besar Mamah tidak bisa menjelaskan apa yang akan terjadi saat semuanya terungkap."
Pernyataan yang memuat teka-teki itu langsung membuat kepala ku sakit. Karena begitu banyak teka-teki, begitu banyak pertanyaan yang harus di pecah.
Walaupun aku masih memantau situasi, tetapi tidak dengan isi kepalaku. Saat aku melihat ke arah Viko, wajahnya terlihat bertanya-tanya.
Alisnya sudah berkumpul dan menimbulkan lekukan-lekukan di dahinya. Wajahnya yang begitu tegas seketika dan hanya bisa ia lihatkan ke siswa-siswi di sekolah, kini wajah itu nampak jelas di dalam rumah ini.
Zera hanya bisa diam karena dia juga tidak tau apa maksud dari perkumpulan ini. Bukan masalah keuangan, bukan masalah bagi harta warisan apa lagi ada arisan keluarga.
'Huh .... waktuku sia-sia hanya berkumpul di tengah keluarga ini,' batin Zera.
"Kenapa mah? Apa yang harus di ungkap?" Pertanyaan pun terlontarkan dari mulut Viko.
"Huh ...." hela nafas berat dari tante Lia sembari mengambil aba-aba untuk bercerita.
"Selama 16 tahun Mamah, bi Roiah dan juga nenek merahasiakan ini dari kamu Ko."
Deg!
'Rahasia?'
'Tentang apa? Apa pradugaan aku waktu itu benar?' Tanyaku lagi dalam hati sembari menatap tante Lia, bi Roiah dan juga nenek dengan begitu serius.
"Maksud Mamah?"
"Kamu berasal dari keluarga Hero, salah satu donatur di SMA Citra Bangsa yang kami angkat sejak kamu berusia 1 setengah tahun."
Deg!
Deg ... deg ... deg ....
Tap ... (Menggenggam tangan Viko)
Entah mengapa tante berbicara seperti ini secara terburu-buru. Tapi aku mengerti tujuannya, tetapi aku juga tidak suka dengan caranya menyampaikan berita yang begitu privasi di hadapan keluarga.
"Maksud Mamah?!"
"Iko bukan anak kandung Mamah? Hah? Iya Mah?" Pertanyaan yang langsung di trabas oleh Viko dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tangannya gemetar walaupun ia mengepalkan tangan begitu erat. Aku juga sangat yakin kalau hatinya pasti begitu hancur.
"Viko," lirihku menatap Viko dengan penuh rasa iba.
"Aku anak yang di buang? Iya kan mah? Dan sekarang Mamah mau pergi ke Australia gitu aja karena Mamah udah gak sayang lagi kan sama Viko?!"
"Mamah mau ninggalin aku karena aku ini beban Mamah. Iya kan mah?"
"Huh ... Mamah bohong kan?!" Tanya Viko lagi begitu serius menatap sang mamah.
Tante Lia hanya mendengar monolog panjang dari sang anak. Karena ia tidak mau membantah ucapan anaknya, tetapi ia harus meluruskan ucapan yang ia buka tadi.
__ADS_1
"Bukan begitu den Viko," sambung bi Roiah.
"Terus?!"
"Keluarga den Viko meminta den Viko kembali ke keluarga mereka karena saat ini kondisi keluarga asli den Viko sudah berhasil membaik kembali."
"Mau di ambil lagi, setelah di buang?"
"Den Viko gak di buang, tetapi-"
"Argh! Udahlah terserah!" Viko langsung pergi keluar secara tergesa-gesa.
Aku dan Zera dengan sigap langsung menyusul Viko ke luar rumah.
Langkah kaki Viko yang begitu cepat membuat kami sedikit kesulitan untuk menyusul nya karena aku yakin Viko tidak akan kembali ke rumah nenek.
Dan aku juga yakin kalau Viko sekarang akan pergi ke rumah pohon di tanah lapang tempat aku dan Kyeri berkumpul.
"Oh iya Kyeri, tugas PPKN," gumamku saat ingat nama Kyeri.
"Kenapa lu?" Tanya Zera.
"Lo susul Viko ya, gua mau nelfon ibu dulu pake telfon rumah."
"Oke deh."
Zera pun menyusul langkah Viko entah hingga ke mana, yang pasti aku kembali ke rumah nenek.
Walau aku juga sedikit takut tetapi saat aku menginjak kaki di depan pintu, aku mendengar obrolan tante, bi Roiah dan juga nenek.
...Flasback off....
...~▪︎~...
Ruang osis.
"Boleh kita bicara sebentar?" Tanyaku ke Viko.
Ini kali pertama aku masuk ke ruang osis dan bicara tegas di hadapan banyak orang.
Sekertaris osis juga ada disana, tetapi aku tidak menghiraukannya karena kali ini aku harus berbicara serius dengan Viko.
"Gua lagi sibuk." Viko menolak ajakan aku.
"Saya gak mau tau, sibuk gaknya kamu saya mau ngobrol 4 mata sama kamu. Temui saya di taman belakang kantin!" ucapku berlagak bos yang memerintah anak buahnya.
Aku pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan segera pergi ke taman belakang kantin.
...----------------...
Di waktu yang bersamaan saat Nadta hendak ke taman belakang kantin.
"Itu dia!"
Bersambung ....
__ADS_1