
Aku pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan segera pergi ke taman belakang kantin.
...----------------...
Di waktu yang bersamaan saat Nadta hendak ke taman belakang kantin.
"Itu dia!" Tunjuk Renaldi dari sebrang kelas.
"Oh iya, itu dia," ucap Kyeri mengambil ancang-ancang ingin menyusul langkah ku.
Tap ....
Teo menahan langkah Kyeri karena Teo melihat Viko menyusul langkah Nadta dengan raut wajah kesal dan sedikit sarkras.
"Ada apa ini?" Tanya Renaldi memperhatikan mereka berdua.
"Jangan kesana dulu Ke, kita liat dulu mereka ada urusan apa. Kalau nanti Viko mau main tangan baru kita maju," ucapan bijak dari Teo.
"Iya juga, bener kata Teo. Mending sekarang kita ke kantin," ajak Tiyas melerai bara yang ingin memanas.
Mereka berempat pun menuju kantin, namun mereka tidak memilih tempat duduk yang biasa mereka pakai, melainkan mereka duduk dekat dengan pintu belakang arah taman.
...~▪︎~...
"Huh ..." Aku menghela nafas.
'Viko si kepala batu ini nyusul apa enggak sih?' Tanyaku dalam hati.
Tidak lama kemudian, Viko muncul di hadapanku dan langsung duduk di kursi taman.
Deg!
"Orang ini! udah kek hantu main nyelonong aja!" gumamku.
Bruk!
Aku langsung membanting tubuhku ke taman dan duduk bersebelahan dengan Viko.
"Kenapa?" Tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
"Coba kamu tarik nafas dulu terus buang, biar saya enak ngomong sama kamunya!"
"Kalo mau ngomong tinggal ngomong!"
"Gak mau, kalo kamu gak ngeredain amarah kamu, aku gak bakal mau ngomong sama kamu sampai batas waktu yang tidak di tentukan."
"Hmmmm .... Huuuh .... Jadi apa?" Tanya Viko melembutkan tutur bicaranya.
"Kamu marah sama siapa?" Tanya ku ke Viko.
"Tante Lia? Bi Roiah? Nenek? Keluarga kamu sekarang? Atau ke keluarga asli kamu?" Lanjut pertanyaanku lagi.
"Gak tau Nadt."
__ADS_1
"15 Tahun gua di bohongin, dan selama 2 tahun terakhir gua ngerasain yang namanya anak broken home."
"Tapi gua kecewa karena Mamah mau ninggalin gua gitu aja. Apa gak tersiksa batin gua Nadt," ucapan Viko dari hati paling dalam.
"Saya paham, gimana rasa sakitnya itu. Tapi kamu mau denger gak cerita lanjutan kemarin malam sebelum kamu pergi keluar."
Viko hanya menoleh dan menatap wajahku. Menaikan ailsnya sebelah bertanda "Apa itu?"
...----------------...
...Flasback on....
Malam itu aku mendengar percakapan tante Lia, bi Roiah dan juga nenek. Mereka bilang seperti ini di awal kalimat setelah tangisan tante Lia pecah.
"Sepertinya ini bukan jalan yang baik untuk kita, karena ini rahasia yang besar."
"Tapi sekarang dia sudah tau."
"Tidak apa, biarkan dia berfikir. Ego anak muda masih sangatlah tinggi dan disitu kita harus memberi ruang agar mereka bisa berfikir." Sepertinya ucapan itu adalah ucapan dari nenek.
"Tapi apa kau benar pergi selama itu?" Tanya nenek ke tante Lia.
"Tidak, aku hanya pergi selama 5 bulan saja untuk mengurus toko kue yang aku bangun disana."
"Tapi kenapa ibu bilang 5 tahun?" Sepertinya ini adalah pertanyaan dari Bi Roiah.
"Karena saya ingin Viko mengenal keluarga aslinya. hiks ... hiks ... hiks ...."
Tangisan seorang ibu pun pecah kembali kala mengingat anak yang ia urus selama 15 tahun harus rela di ambil kembali oleh keluarganya.
Deg!
'Titipan? Maksudnya?' Tanyaku dalam hati.
"Sudah yuk bu, kita istirahat dulu. Besok kita bicarakan lagi baik-baik sama den Viko."
"Bawa mamak ke kamar saja dulu bi."
Dan saat bi Roiah membawa nenek ke dalam kamar, disitulah aku mulai masuk ke dalam rumah menuju telfon yang bersebelahan dengan tante Lia.
"Tante, permis. Aku mau ambil nelfon ibu sebentar, maaf ganggu ya tante."
"Iya sayang gak apa-apa."
Tut ... tut ... tut ....
"Yah ... kayaknya ibu udah tidur deh," gumamku.
Tek ... tap ....
"Nadta," panggil tante Lia.
"Iya tante?"
__ADS_1
"Boleh sampaikan pesan-pesan tante ke Viko?" Permintaan yang sederhana namun sudah untuk di ungkapkan.
"Boleh tante, eh ... bisa tante."
Tante pun menjelaskan asal usul Viko sebenarnya dan apa alasan tante pergi ke Australia (walau sebenarnya aku sudah tau karena menguping tadi).
Tante berkata, Viko bukan anak yang di buang oleh keluarganya. Melainkan di titipkan ke keluarga tante Lia karena mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan.
Sudah menikah cukup lama namun belum memiliki anak dan di kesempatan inilah tante Lia mau mengambil Viko sebagai anaknya agar ia bisa menjadi seorang ibu.
Membesarkannya dengan sepenuh hati hingga Viko remaja. Hal yang paling berat pun mereka tempuh.
Suami tante Lia atau ayah Viko tiba-tiba saja mencerikan tante Lia dengan dalih tidak ada kecocokan lagi di antara mereka.
Tetapi setahun setelah mereka berpisah, barulah terungkap kalau mantan suami tante Lia sudah memiliki istri, 1 anak laki-laki berumur 2 tahun dan 1 bayi yang baru saja lahir.
Mendengar hal tersebut, tante Lia seperti di sambar petir siang bolong dan tante Lia selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memiliki keturunan.
Tetapi tante Lia selalu melihat ada Viko yang sedang berjuang demi masa depan yang cerah, walau kondisi mereka sedang tidak baik-baik saja.
Baru saja selang 3 bulan dari berita tersebut, mantan suami tante Lia di kabarkan meninggal dunia karena kecelakaan mobil saat akan pergi perjalanan bisnis.
Itulah titik dimana keluarga mereka sedikit hancur dan sedikit runtuh. Tetapi dengan susah payah, tante Lia berhasil bangkit kembali karena Viko (malaikat kecilnya).
Setelah kejadian itu berlalu, tepat 1 minggu sebelum tante Lia memutuskan mengungkapkan kebenaran ini, keluarga asli Viko datang ke toko kosmetik tante Lia yang berada di kota.
Mereka membicarakan hal ini karena keluarga asli Viko tau tante Lia sedang di ambang kesulitan.
Demi membalas jasa 15 tahun, mereka akan membantu tante Lia membuka toko kue yang sedang di rencanakan tante Lia di luar negeri.
Lalu keluarga asli Viko akan mengambil kembali Viko dan akan menyekolahkannya hingga sarjana.
Tetapi keputusan yang sangat mendadak ini membuat batin tante Lia berantakan.
Malaikat kecil yang selalu ia sambut tiap pagi, yang selalu ia bangunkan tiap subuh, yang selalu minta merapihkan dasi dan selalu menyiapkan satu bekal, kini akan hilang begitu saja.
"Tante belum siap kehilangan Viko Nadt."
"Tante belum siap hidup sendiri, tante belum siap beradaptasi dengan semua itu."
"Viko satu-satunya harapan tante untuk bisa bangkit kayak sekarang dan Viko juga satu-satunya penyemangat tante tiap tante lelah hiks ... hiks ...."
"Tante, semua memang butuh proses. Tapi, Viko sudah besar. Dia sudah bisa memilih mana yang ia rasa nyaman untuk di tempati." Aku baru bisa membuka ucapan.
"Jadi sekarang, biarkan dia memilih siapa yang akan menjadi tempat dia pulang dan biarkan dia memilih kepada siapa dia akan merengek setiap kali dia sakit," lanjutku lagi.
"Dan sekarang, tante tidur ya. Istirahat, besok masih harus liat Viko sekolah kan? Nanti biar aku yang nasehatin si kepala batu itu, oke."
"Hehehe hiks .... makasih ya Nadta, kamu baik banget persis kayak kedua orangtua kamu."
"Hehehehe, makasih kembali tante."
...Flasback off....
__ADS_1
...~▪︎~...
Bersambung ....