Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Enam •


__ADS_3

"Enggak apa-apa kok, ini gak sebanding sama apa yang udah saya lakuin ke kamu dulu Nadt."


Aku hanya terdiam dan ibuku juga mengucapkan terimakasih banyak ke orang itu sebelum kami pergi pulang.


"terimakasih banyak ya nak Teo sudah mau membantu kami," ucap ibu.


"Iya bu terimakasih kembali."


Huh....


Aku hanya menghela nafas berat saja selama perjalanan pulang. Yang aku harapkan bukan Teo tetapi Kyeri yang menolong aku dan ibu tapi takdir malah berkata lain.


Selama di perjalanan, aku dan ibu mengobrol layaknya kakak adik yang sedang bercengkrama.


Tepat di pertigaan jalan, aku dan ibu memilih jalan kanan untuk pergi ke rumah sakit menengok ayah.


Walaupun perjalanan cukup jauh tetapi kami selalu bersemangat untuk kesembuhan ayah.


...~•< Rumah Sakit >•~...


Huh...


Aku menghela nafas berat lagi sembari menyadarkan tubuhku di sebuah kursi tunggu yang berada di depan ruangan ayah.


Aku memejamkan mata dan kedua tanganku aku lipat di perut. Aku tidak tidur, aku hanya beristirahat saja sebentar.


Aku mendengar suara-suara langkah kaki melewati aku, suara pintu di buka bahkan suara orang berbincang.


"Huh... lelah sekali ya badanku," aku bergumam saja.


"Akhirnya kita ketemu juga ruangannya," suara yang tidak asing di dengar mendekati ku.


Tetapi aku masih menutupkan mata saja sperti posisi awal tadi dan aku juga mendengar suara perempuan berkata, "Dia kelihatannya kelelahan sekali ya."


'Siapa? Siapa yang kelelahan memangnya? Aku tidak kelelahan. Aku hanya sedang beristirahat saja disini sebentar,' aku mengomel dalam hati.


Grek..


Suara pintu ruangan ayah terbuka dan aku pun langsung membuka mataku sembari membenarkan posisi tubuhku.


Sembari menunduk saja karena mataku akan kaget bila langsung melihat cahaya. Ibuku menghampiri aku tetapi...

__ADS_1


"Eh ibunya Kyeri ya, ya ampun maaf ya saya gak tau kalian datang," ucap ibu menyambut tamu yang baru datang menjenguk ayah.


Telinga ki tiba-tiba saja berdenging dan jadi aku tidak mendengar siapa yang datang itu. Saat ibu ku menepuk pundakku untuk memberikan salam, aku melihat Kyeri dan ibunya serta adik kecilnya berada di hadapan aku.


"Oh, halo tante." Aku mengambil tangan ibu Kyeri memberikan salam.


Ibuku mengajak Ibu Kyeri untuk masuk ke dalam ruangan untuk mengobrol. Aku pun ingin mengikutinya, tetapi langkahku ditahan oleh Kyeri.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Kyeri.


"Boleh," ucapku.


Kyeri pun mengajak aku ke sebuah lantai paling atas gedung rumah sakit ini. Kyer bertanya kepadaku saat kami sudah sampai disana.


"Kenapa lo ngilang gini sih Nadt?" tanya Kyeri.


"Bukannya kamu yang ngejauh dari saya ya Ke?" tanya aku balik.


"Percakapan kita terakhir kali saat gua pulang telat karena habis bertengkar dengan Teo. Saat itu lo marah banget sama gua Nadt sampe akhirnya gua gak mau ganggu lo sementara waktu karena gua takut buat tersinggung perasaan lo," jelas Kyeri panjang lebar.


Hampir setahun kami perang dingin dan tidak memberikan kabar satu sama lain. Bahkan aku hanya sendiri main ke tahap lapang tempat rumah pohon berada.


"Aku memang marah saat itu, tetapi kamu malah ngejauh dari aku Ke. Jadi yaudahlah aku berfikir kalau kamu udah gak mau main lagi sama aku," aku memberikan penjelasan juga.


"Gua baru tau setelah Teo ngomong ke gua. Gua udah berteman sama Teo, eh? Enggak gua cuma udah baikan aja. Ih? Enggak gitu Nadt maksudnya.."


"Hmppt... ahahaha," aku hanya bisa tertawa saja melihat Kyeri gugup saat menjelaskan hal yang memalukan baginya itu.


"Kyeri, Kyeri... Ngapain lo minta maaf coba? Kita perang dingin kemarin itu bukannya bagus ya?" tanya aku lagi ke Kyeri


"Kok bagus sih?"


" Ya bagus lah, selama satu tahun aku gak di ganggu lagi sama Gita and the gangers itu dan kita sekarang jadi bisa lebih akrab lagi dar sebelumnya."


"Iya sih tapi gua gak suka Nadt. Gua janji ini pertama dan yang terakhirnya kita kayak gini, gua janji. Gua gak mau ninggalin lo lagi, gua kesepian tau gak?"


"Oh ya? Seorang Matteo Kyeri Bram bisa kesepian juga hah? Sejak kapan?" tanya aku bernada meledek.


"Gua serius Nadt, mau sebanyak apa pun orang yang ada di sekeliling gua, kalo gak ada lo ya gua hampa."


"Idih hahahaha lo lebay banget sih Ke, di ajarin sapa lo kek gini hah?" tanya ku terheran-heran.

__ADS_1


"Iqbal sama Koko itu."


Aku hanya bisa tertawa lepas saja saat mendengar penjelasan Kyeri itu. Aku tidak tau kapan terakhir kali aku tertawa.


Mungkin saat aku menonton acara lawak di televisi bersama ayah dan ibu. Setelah ayah masuk rumah sakit aku jarang sekali tertawa seperti ini.


"heemm.. huh..." Aku membuang nafas berat.


Aku tau Kyeri sedang menatap wajahku dari tadi tapi aku tidak mau ke geeran dan lebih memilih memandang lurus pemandangan dari atas rumah sakit ini.


"Kenapa kamu gak mau ngelakuin sekolah Nadt?" tanya Kyeri.


"Udah jelas kan kondisi aku gimana sekarang ke, walaupun aku coba lewat jalur prestasi, tetapi aku enggak mau ngerepotin ibu karena bayaran daftar ulang yang begitu mahal," jelasku.


"Gua bisa bantu lo Nadt, apa gunanya gua selama ini? Kalo lo aja gak mau manfaatnya gua. Masa iya cuma temen-temen yang lain aja yang manfaatnya gua? Sedangkan lo sahabat gua."


"Pernyataan lo itu buat gua pusing tau gak?! muter-muter gak nyambung gua."


"Ish lo ini," tiba-tiba Kyeri mengacak-acak rambutku dan memeluk kepalaku.


"Arghh Kyeri lepas," raungku.


"Pokoknya lo harus balik ke sekolah lagi sama gua, biaya lo sekolah biar gua yang urusan ya."


"Hah gak mau Ke, makasih banget. Kasih aja ke yang lebih membutuhkan," tolak aku.


Kyeri benar-benar heran dengan tingkah dan fikiranku. Padahal sudah jelas aku juga membutuhkan uluran tangan darinya, tetapi aku malah menolak.


"Aneh lo," ledek Kyeri.


Saat itulah aku dan Kyeri pun akur kembali dan kami menjalani hari-hari kami seperti biasa.


Kabar gembira pun datang saat aku dan Kyeri turun menuju ruangan ayah. Ibu memberi tahu kalau ayah sudah sadar dan di bolehkan pulang beberapa hari lagi.


"Wah," ucapku sembari tersenyum lebar.


Kyeri dan ibunya pun ikut tersenyum juga. Saat di perjalanan pulang, Kyeri berbicara kepada ibunya untuk membantu aku melanjutkan sekolah lagi.


Ibu Kyeri pun setuju dengan rencana Kyeri dan mereka pun mendaftarkan aku ke sekolah favorit yang sama dengan Kyeri.


"APAAAAA?" teriakku saat di rumah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2