
Hari itu pun aku pun langsung pergi ke tempat yang sudah di tentukan dengan raut wajah bingung sembari menunduk memperhatikan jalan.
Di waktu yang bersamaan.
Kyeri, Nadta, Tiyas dan juga Renaldi sudah pergi menuju suatu tempat. Seperti yang sudah di rencanakan, Kyeri sengaja membuat motornya seolah-olah ingin mogok di dekat simpang tiga.
"Kenapa motor kamu Ke?" Tanya Nadta sedikit khawatir.
"Entahlah Nadt."
"Aku mau periksa tanki bensin dulu ya."
"Iya Ke."
Dreeet ... deet .... dreeet ...
"Kenapa lo Ke?" Tanya Renaldi saat menghampiri mereka berdua.
"Motor gua tiba-tiba mogok."
"Bawa ke bengkel deket sini aja gimana?" Tawar Renaldi ke Kyeri.
"Ada tah?"
"Ada, di daerah simpang ini," sahut Tiyas.
"Yaudah kesana dulu ya."
"Yo!"
"Lo sih, pasti gak pernah di servis nih motor," ledek Renaldi.
"Udah Ren, 3 bulan yang lalu."
" Tiga bulan yang lalu?! Panteslah mogok."
Kyeri pun mulai mendorong motornya dan di temani Nadta yang berada di samping Kyeri, mereka berempat pun sampai di lokasi bengkel.
Tap ... tap ...
"Pegang Nadt," memberikan kunci motor.
Kyeri pun mengobrol dengan tukang bengkel tersebut, di temani Renaldi yang tahu akan mesin motor.
Sedangkan Tiyas menemani Nadta duduk di tempat tunggu. Selama menunggu, Nadta memperhatikan sekitar kanan dan kiri hingga akhirnya...
"Nadta!" Panggil seseorang dari jauh.
Nadta pun langsung mencari suara itu dan di saat yang sama Kyeri menerima telfon entah dari siapa.
"Teo? Kenapa?" Tanya Nadta langsung menghampiri ku.
Aku belum bisa menjawab pertanyaan Nadta tadi karena nafasku masih terengah-engah.
"Se .... be.... tar .... ya ..." Begitulah jawabanku saat itu.
"Ehem...." suara yang entah dari mana dan sudah di pastikan itu bukanlah Nadta.
"Ini!"
Jujur aku bukanlah orang yang tipe basa basi. Aku tidak tau harus bilang apa kala berhadapan dengan Nadta.
Jantungku berdegup kencang tetapi bukan karena lari tadi. Berdegupnya beda, beda dari biasanya.
"Hmm?"
"Selamat ulang tahun Nadt, maaf saya cuma bisa ngasih ini. Mohon di terima ya!" seru Teo.
"Se- serius Teo?"
"Iya, Nadt. Mohon di terima!"
"Terimakasih Teo, tapi ..."
"Terimakasih kembali, saya pamit ya. Bye!"
Aku pun langsung pergi meninggalkan Nadta di bengkel itu dengan berlari. Sesak sekali rasanya tapi aku tidak tau ini kenapa.
Aku tidak pulang dan aku pergi ke sungai bawah untuk merenung sedikit tentang sikapku hari ini.
Di bengkel.
__ADS_1
"Itu si Teo?" Tanya Tiyas.
"Iya."
"Dia ngasih kado kamu Nadt?"
"Iya, Teo baik banget ya."
"Wah, agaknya bakal ada saingan nih!" Seru Tiyas.
"Saingan apa?" Sahut Renaldi.
"Ada deh."
Nadta hanya diam memandangi bungkus kado yang cukup besar ini sembari bertanya-tanya.
'Dari mana Teo tau aku ulang tahun hari ini?'
'Bahkan orang yang aku anggap rumah saja sepertinya lupa akan hari ulangtahun ku.'
'Apa dia ingat karena kejadian itu?'
...Flasback on ...
Sd kelas 3.
Kala itu di jam pulang sekolah, Ayah dan Ibu Nadta membawakan sebuah tumpeng untuk di rasakan bersama di sekolah.
Bahkan banyak teman-teman Nadta yang memberikan hadiah sebelum acaranya di mulai.
Hingga akhirnya pukul 11.00 Ibu dan Ayah Nadta datang membawa sebuah tumpeng dan cake mini untuk sang anak tercinta.
Di saat yang bersamaan, Teo and the gang sedang berlari di teras kelas dan salah satu teman Teo menabrak Ibu Nadta hingga cake yang ada di tangan ibu terbang dan jatuh ke lantai.
Melihat kejadian itu, Teo langsung membantu ibu mengambil kembali cake tersebut dan meminta maaf atas kejadian ini.
"Tante maaf," ucapnya dengan raut wajah takut.
"Iya gak apa-apa, lain kali hati-hati ya," jawab Ibu dengan lembut.
"Tapi ... kuenya rusak, bagaimana in-" ucapannya terpotong kala walikelasnya datang.
"Teo!"
"Usah gak apa-apa," ucap ibu karena ia tahu betul perasaan anak laki-laki ini.
Walaupun bukan dia yang bersalah, tetapi ia berani meminta maaf kepada Ibu dan berani membenarkan cake tersebut walaupun sudah tak berbentuk.
Setelah masalah selesai, ibu guru membawa kelas 3 dan merayakan ulang tahun bersama.
Betapa terkejutnya Teo kala cake yang di jatuhkan temannya tadi milik Nadta. Rasa tidak enak pun bercampur menjadi satu, bahkan ... memakan sesuap potongan kue ini saja ia tidak tega.
...Flasback off ...
'Apa mungkin dari kejadian itu ya?"
"Nadt!" Panggil Kyeri.
"Iya?"
"Ayok, udah bener ini."
"Oke."
Di perjalanan menuju tanah lapang, Nadta masih berperang dengan pikirannya.
'Ada yang aneh.'
'Kenapa Kyeri tidak bertanya kado dari siapa ini? dan mengapa Kyeri tidak marah, kesal atau pun kecewa kala aku mendapatkan kado dari orang lain.'
'Apa jangan-jangan ...'
"Bingkisan apa itu?" Tanya Kyeri memecahkan seluruh pertanyaan isi kepala Nadta.
"Teo."
"Hah? Teo?"
"I ... itu Ke, maksud aku ini kado dari Teo," jelas Nadta sedikit gugup.
"Teo? Geofani?" Tanya Kyeri sembari mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"I-iya."
"Kapan ngasihnya? Perasaan kamu tadi gak bawa pas pulang sekolah."
'Tuh kan dia nanya, nanya juga. Berarti pikiran aku salah tadi.'
"Tadi pas kamu terima telfon, dia lari-lari nemuin aku."
"Kok bisa dia tau kamu ada di bengkel?"
"Ya mana aku tau Kyeriii, mungkin aja dia mau ke rumah terus ketemu kita di bengkel jadi dia ngasih deh," jelas Nadta agar tidak terjadi salahfaham.
"Oh, oke."
"Kamu gak marah?"
"Gak, tapi kita pulang dulu."
"Lah? Bukannya kita emang langsung pulang ya?" Tanya Nadta.
Namun Kyeri tidak mau menjawabnya karena ini rahasia atau lebih tepatnya suprise untuk Nadta.
Sesampainya di rumah, Nadta langsung membawa kado tersebut ke kamarnya dan memberi tahu sang ibu kalau Teo memberinya hadiah.
Ibu pun menyuruh Nadta memberikan makanan ke Teo dan mamahnya sebagai balasan dari kado tersebut.
Rumah Kyeri.
"Matteo, kamu gak mau ngasih kado ke Nadta?" Tanya mamah.
"Iya nanti."
"Udah ngucapin belum?"
"Iya nanti."
"Matteooo."
"Iya Mah?"
"Ini kasih ke Nadta, " Mamah memberikan sebuah paperbag berisi pakaian.
"Hmmm... aku yang ngasih?"
"Enggak, bukan! Cila aja yang ngasih nanti."
"I-iya mah iya, aku kasih nanti."
Matteo pun bersiap-siap untuk menuju rumah Nadta, lalu pergi ke tanah lapang bersama karena Renaldi dan Tiyas sudah lebih dulu berada disana.
Tok ... tok ... tok ...
"Nadt ... a, hehehe tante," Sambut Kyeri sembari mencium tangan Ibu Nadta.
"Nadta?"
"Iya tante, oh iya ini dari mamah untuk Nadta."
"Serius?"
"Iya tan."
"Waduh ... makasih ya nak Kyeri, bilangin sama mamah kamu juga."
"Iya tante siap."
Ibu pun memanggil sang anak untuk ke ruang tamu segera karena Kyeri sudah menunggu.
"Kenapa bu?"
"Itu Kyeri nungguin loh."
"Ini, bingkisan dari mamah mertua," lanjut ibu sembari meledek.
"Ih ibu, malu ih."
"Hehehe, yaudah cepet sana temuin pangeran kodok kamu."
"Huhuhu pangeran kodok."
Nadta pun akhirnya menghampiri Kyeri dengan berpakaian seperti biasa. Tidak istimewa atau pun mewah, bahkan dandan saja tidak.
__ADS_1
"Ayok," Ajak Kyeri singkat.
Bersambung ....