
"Itu! Lo liat di mading!" tunjuk Teo.
Deg!
Kyeri akhirnya paham mengapa siswa-siswi berkumpul di depan mading tadi pagi.
"Ini? Bukannya ini Nadta?!" Tanya Kyeri ke Teo.
"Iya ini Nadta, kayaknya ini kejadian waktu di toilet kantin itu," jelas Teo.
"Tapi yang masih jadi pertanyaan, siapa yang ngambil foto ini? Dan siapa 3 perempuan itu?" Tutur Teo mengenai poster foto di mading.
Bahkan Teo menjelaskan saat di kelas tadi, semua guru bahkan semua siswa-siswi di sekolah ini telah heboh dengan kejadian yang ada di mading.
Bahkan kepala sekolah dan sekretaris osis pun mendapatkan surat berantai dari seseorang tak dikenal.
"Hah? Maksudnya?" Tanya Kyeri penasaran.
"Kalau feeling gua teror berantai ini dari korban yang pernah mendapatkan bulying di sekolah ini," ucap Teo menganalisis.
"Iya ada benarnya juga sih."
Mereka berdua saling memandang poster di mading tersebut sampai mamah Kyeri datang dan menyuruhnya pulang.
"Matteo pulang!" Perintah mamah.
"Iya Mah."
"Ayok balik, lo sama gua aja. Rumah kita searah." Kyeri mengajak Teo.
"Gak ngerepotin?" Tanya Teo.
"Enggak, udah ayok. Mamah tadi dateng sama tante gua, jadi gua gak bareng mamah."
"Oh yaudah gua bareng lo."
Selama di perjalananereka hanya diam, bisu seribu bahasa. Mungkin mereka berbicara dengan pikirannya sendiri.
...~•< Rumah Nadta >•~...
Aku duduk di teras belakang rumah sembari memandangi pemandangan yang ada di luar.
Rasanya bosan jika harus di rumah terus, padahal aku baru di rumah seharian penuh tapi rasanya sudah seminggu aku di rumah.
Aku ingin kembali ke sekolah, ke rumah pohon dan juga ke ... Tiba-tiba lamunan aku terpotong kala seorang wanita datang menghampiri aku.
"Permisi, apa benar ini rumah Nadta Garwita?" tanya perempuan itu.
"Iya, aku sendiri. Kakak siapa ya?" tanya aku kembali.
"Aku Ayu, senior di sekolah kalian."
"Hah? Oh, silahkan duduk kak. Tapi kenapa kakak bisa tau rumah aku?" Tanya aku lagi.
"Aku tau rumahmu karena kejadian 2 hari yang lalu. Aku mengikutimu hingga tepat ke rumah pohon yang ada di tanah lapang," jelas wanita ini.
"Hah? Maksudnya?"
Wanita ini menjelaskan apa yang ia lihat dan juga menjelaskan apa yang telah terjadi di sekolah itu selama beberapa dekade.
Aku sedikit terkejut dengan penjelasan wanita ini. Aku mendengarkannya hingga selesai dan tepat pukul 2.30 Pm, wanita ini berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya.
"Terimakasih atas informasinya."
"Tenang saja aku akan membantu mu," ucap wanita itu lalu pergi meninggalkan perkarangan rumah.
'Tapi apa ucapan wanita itu benar?' Batinku masih menebak-nebak.
Kepalaku mulai pusing kembali dan aku pun langsung kembali ke dalam, beristirahat sembari menunggu ibu kembali.
__ADS_1
...----------------...
Di perjalanan.
Puk ... puk ... puk ....
"Sampe sini aja Ke, saya masih mau ke warung dulu. Lagian kan deket juga jarak ke rumah," ucap Teo menepuk pundak Kyeri.
Kyeri pun memberhentikan motornya tepat di tepi jalan dan Teo pun segera turun sembari berterimakasih ke Kyeri.
"Yakin lo?" Tanya Kyeri.
"Iya, yakin. Makasih ya Kyeri. "
"Iya sama-sama. Oh iya tadi kan kita ada rencana mau jenguk Nadta, tapi kan kondisinya jadi kayak gini. Jadi lebih baik gua aja yang jenguk Nadta. "
"Yaudah, makasih ya Kyeri. Sampaikan salam dari kita bertiga," pinta Teo.
"Iya siap."
Kyeri langsung menancap gas kembali ke rumahnya dan Teo pergi ke suatu tempat untuk memastikan beberapa hal.
...~▪︎~...
POV TEO.
Teo berjalan menuju arah yang ia tuju, memasuki gang sempit penuh semak berduri berjalan perlahan sembari mengintai sesuatu.
'Kayaknya harus ganti pakaian dulu deh.' Teo membatin saat ia melihat segerombolan orang sedang berdiskusi.
Teo berbalik arah ke warung bi Inem, menaruh pakaiannya disana dan berdandan layaknya anak brandalan.
"Emang mau ngapain sih den?" Tanya bi Inem
"Aku lagi ngintai preman disini bi. Soalnya temanku lagi ada masalah sama anggota mereka," jelas Teo ke bi Inem.
"Iya bi, aku juga bantu ibu kok," Jawab Teo.
"Baguslah."
"Yaudah bi kalau gitu aku titip semua pakaian aku ya, aku mau lanjutin misi aku dulu."
"Siap, hati-hati ya."
"Siap grak bi Inem!"
Teo pun menjalankan misinya. Mengenakan baju kaos hitam tanpa lengan, celana jeans robek selutut serta lengan bertato buatan.
Teo berjalan melewati orang tersebut dan Teo juga memberhentikan tukang cilok tepat di dekat preman-preman tersebut.
"Mang beli ini, berapan?" Tanya Teo sembari menguping pembicaraan para preman tersebut.
"500an den, mau berapa?" tanya penjual cilok tersebut.
"Mau beli 5 ribu aja mang."
"Wiih! Apa nih?" Tanya salah satu preman menghampiri.
"Cilok bang," jawab Teo.
"Mau dong gua, berapaan?" tanya Preman tersebut.
"Gopek bang," jawab Teo.
"Beli ya gua mang, 10 rebu. Ini uangnya," ucap preman tersebut langsung memberikan uang tersebut.
'Uang asli, berarti preman-preman ini abis malak.' Batin Teo.
"Wiih tato lo bagus juga, buat dimane?" Tanya preman tersebut.
__ADS_1
"Gua sendiri bang," ucap Teo.
"Serius lu!"
"Iya bang gua ada alatnya."
"Bawa ke situ! Gua mau buat tato."
Deg!
'Entah ini gua masuk perangkap atau mereka masuk perangkap gua?!' Batin Teo.
"Iya bang, nanti gua ambil alatnya."
"Bener lu ya! Sampe gak lu bawa gua gor*k lu!"
"I-iya bang, serius gua!" Ucap Teo sedikit takut.
"Yaudah gua tunggu lo!"
Teo pun pergi setelah mengambil jajanannya, dan pergi menuju tasnya untuk mengambil alat pembuat tato.
'Gua harus cari cara agar gak masuk perangkap mereka!' Batin teo berwaspada.
...~▪︎~...
Kediaman Nadta dan Kyeri.
Sesampainya di rumah, Kyeri menaruh motornya, membersihkan badan sembari mendengarkan ceramah dari sang mamah.
Nadta yang mendengar hal itu terbangun dari tidurnya sembari bertanya dalam hatinya, 'Kyeri buat ulah apa lagi kali ini?'
Nadta beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka jendela kamar sembari memandangi jendela kamar Kyeri yang masih terkunci.
Tidak lama kemudian ...
Kreek ...
"Hay," sapa aku dari jendela kamarku.
"Hay, juga!" Sapa Kyeri tersenyum melihat aku.
"Gimana kepalanya masih sakit?" Tanya Kyeri khawatir.
"Dikit, tapi udah lumayan sembuh kok."
"Baguslah, kalau gitu."
Baru saja mereka berbincang, mamah Kyeri masuk ke kamar Kyeri. Menaruh pakaian milik Kyeri sembari mengomel.
"Nadta kamu tau gak sih, Kyeri di skors."
"Ih mamah, apaan sih?" Ucap Kyeri panik.
"Hah? Kenapa mah?" Tanyaku terkejut.
"Biasalah jagoan, berantem sama anak mana gitu. Sampe kantin ancur udah kayak kapal karam," jelas mamah Kyeri dengan nada kesal.
"Serius?" tanya tidak percaya.
"Tanya aja tuh sama anaknya!"
"Enggak kok Nadt, aku cuma main kuda-kuda kecil aja," ucap Kyeri melantur.
"Apaan sih Kyeri, yang bener dulu kamu itu!" ucapku kesal.
"Itu ... aku ..."
Bersambung ....
__ADS_1