
Bertepatan di hari ulang tahun Nadta kemarin.
Setelah Teo bercakap dengan ODGJ di sungai bawah, akhirnya Teo memutuskan untuk menjenguk sang papah di lapas.
Walau tanpa sepengetahuan mamah, Teo berjalan dengan hati berkecamuk dan rasanya sesak sekali.
...~▪︎~...
...Lapas....
"Permisi pak," sapa Teo.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Jam jadwal menjenguk apa masih bisa?" Tanya Teo dengan tutur kata lembut.
"Sebenernya masih ada, tapi waktunya tidak banyak hanya 20 menit saja."
"Gak apa-apa pak, saya mau jenguk papah saya."
"Atas nama?" Pak penjaga mengetik sedikit informasi yang di berikan Teo dan tak lama kemudian, Teo di arahkan ke sebuah tempat untuk mengobrol dengan sang papah.
Greek ...
"Waktu hanya 15 menit."
"Bukannya tadi 20 menit?" Tanya Teo ke sipir yang ada disana.
"Hanya 15 menit dari sekarang."
Teo terdiam dan Teo tidak tau mau berbicara apa. Tetapi jam terus berjalan, detik, menitnya masih berputar.
"Pah." Awal percakapan pun di mulai.
"Kamu apakabar nak?" Tanya sang papah.
Hanya dengan kalimat itu air mata Teo pun berlinang dan jatuh juga tepat di hadapan sang papah.
"Ada apa nak?" Tanya sang papah.
"Aku rindu."
"Aku ingin kita seperti dulu, apa hukuman mu masih lama dan panjang?"
"Entahlah, doakan saja aku disini sehat."
"Tapi apa papah tidak ingin kita bersama lagi?" Tanya Teo.
"Bukan tidak mau, tapi ibumu telah berjuang untuk mu dan untukku juga. Tapi sudah cukup, biarkan saja aku disini dan menambah pengalaman."
"Pengalaman?"
"Lapas bukan seperti apa yang kamu fikirkan Geo. Disini kami di didik untuk bisa berkarya, bertrampil dan memiliki kesempatan mencoba berbagai bidang."
"Aku juga rindu dengan mu, dengan ibumu dan juga suasana dalam rumah," lanjut sang papah.
"Tapi aku tidak mau menjadi beban fikiran ibumu, jaga ibumu dan buat dia bangga. Ketika dia bangga denganmu aku pun juga akan bangga denganmu."
"Jangan kecewakan ibumu, rawat dia seperti dia merawat kamu."
Sedikit nasihat yang di berikan sang papa selama mereka berbicara.
"Iya pah, aku akan buat kalian semua bangga dengan kerja keras ku."
"Bagus nak, jadi? Apa kau sudah memiliki kekasih?" Papah mengalihkan pembicaraan
"I- itu, entahlah aku belum memikirkannya."
"Perempuan yang pernah kau tangisi dulu apa kabar?"
"Nadta? Hmm.... dia, dia sekarang satu kelas lagi dengan ku."
"Bagaimana? Apa dia sekarang cantik? Apa dia sekarang galak?"
__ADS_1
"Tidak, dia perempuan yang kuat dan tegar, ayahnya sudah meninggal saat kelulusan sekolah menengah pertama dan dia mendapatkan beasiswa untuk duduk di bangku SMA saat ini."
"Tetapi susah untuk mendekatinya saat ini."
"Kenapa?" Tanya papah mencermati cerita sang anak.
"Dia dilindungi teman ku yang pasti temannya dari kecil. Namanya Kyeri dari keluarga Bram."
"Anak pertama keluarga Bram?" Tanya papah.
"Iya."
"Papah pernah mendengar cerita tentang dirinya."
"Cerita apa pah?"
"Dia sepertinya menderita sebuah penyakit langka yang di sebut dengan ...."
Dreet!!
"Maaf waktu habis," ucap sipir disana.
"Yasudah nanti kau datang lagi kesini untuk mendengar ceritanya, aku mencintaimu dan juga ibumu, salam untuknya ya."
"Iya pah."
Teo mentap langkah sang papah yang di kawal oleh sipir masuk kedalam sel kembali dan Teo pun memulai langkah kakinya keluar dari lapas.
'Kyeri? Sakit? Sakit apa?'
'Apa ini ada hubungannya dengan kado-kado yang ia beli dan aku?'
'Apa Nadta sudah tau akan hal ini?'
'Sepertinya aku harus mencari tau lebih dalam.'
...~▪︎~...
Teo kembali ke rumah dengan perasaan lega, bahkan senyuman terlihat di wajah Teo.
"Aku pulang mah!"
"Selamat datang sayang."
"Mandi sana, mamah lagi masak sop jamur kesukaan kamu," lanjut sang mamah sembari mengaduk kuah sop.
"Baik mah."
...~▪︎~...
Makan malam pun siap.
Teo datang ke meja makan sembari menatap sang mamah yang begitu lelah seharian menjaga toko, hingga beres-beres rumah.
"Selamat makan."
Makan pun di mulai dan hanya ada suara sendok garpu saja saat itu hingga di pertengahan makan malam, Teo bertanya sesuatu.
"Mah?"
"Iya?"
"Mamah kenal sama keluarga Bram?" Tanya Teo langsung.
"Tau, kenapa?"
"Gak apa-apa, mamah tau Matteo?"
"Tau, anak pertama keluarga Bram dari turunan pertama."
"Maksudnya mah?"
"Bapak Matteo merupakan keturunan pertama dari pemilik perusahaan roti, butik, dan kios-kios pinggir jalan."
__ADS_1
"Tetapi kenapa mereka tinggal di perkampungan gini mah?"
"Mamah kurang tau, karena yang dekat dengan keluarga Bram dulu adalah papah kamu tapi kalau tidak salah dengar, anak pertama pak Bram terkena penyakit langka yang jarang di sembuhkan."
"Penyakit apa itu mah?"
"Apa ya? Mamah juga lupa."
"Kenapa kamu pengen tau sekali dengan keluarga Bram? Bukannya dulu kamu sedikit benci dengan keluarga mereka?"
"Ada satu hal mah yang buat aku penasaran."
"Pasti perempuan kan?" Mamah Teo langsung menebak.
"Ih ... i-iya sih bener."
"Dasar anak muda."
Percakapan di keluarga kecil ini sangat hangat bahkan suasana seperti sudah biasa mereka rasakan tidak seperti dulu.
...~▪︎~...
...Ruang Keluarga....
Teo ingin sedikit percakapan hangat dan sedikit serius ada di antara mereka berdua, namun Teo takut mamahnya menangis karena hal itu.
"Mah?"
"Iya?"
"Kapan ya mah, papah bisa ada dan kumpul di tengah-tengah kita lagi?"
Deg!
"Kenapa?"
"Gak apa-apa mah, aku cuma rindu."
"Datanglah ke tempatnya sebelum dia lupa dengan kita."
"Iya nanti aku akan kesana."
"Mamah tidak marah?" Lanjut Teo lagi sembari menatap sang mamah.
"Tidak, itu hak mu nak."
"Dia papahmu kau berhak menemuinya, kau berhak rindu dengannya dan itu wajar."
Teo sedikit lega akan ucapan mamahnya terkait hal yang mengambang di kepalanya sedari tadi.
Teo takut jika dia bilang dirinya baru saja dari lapas, maka mamahnya akan sedih atau mungkin marah besar.
"Kamu fokuslah dan kejar cita-cita mu, mamah akan selalu mendukung apapun yang kamu inginkan."
Lagi-lagi hari ini Teo mendapatkan nasihat yang banyak dari kedua orangtua yang paling ia sayang.
"Dan satu lagi nak."
"Hmm?"
"Jika kelak kau menjadi orang tua nanti, jangan pernah kau terlibat hutang piutang apalagi sampai membuat kamu terjerat akan situasi seperti kita."
"Dan satu lagi nak, jangan pernah kamu buat wanita mu menangis karena kekecewaan. Buatlah ia menangis karena kebahagiaan kelak keluargamu akan menjadi harmonis."
"Perbedaan pendapat itu wajar, Perbedaan ide itu wajar. Tapi jangan sekali-sekali kamu berlaku kasar ke istrimu nanti."
"Pahamkan ucapanku?"
"Iya Mah, aku paham."
Setelah mendengar ceramah dan nasihat panjang dari kedua orang tuanya, Teo akhirnya merasa yakin ke dirinya sendiri.
Bahkan ia merasa pertanyaan tentang keluarga yang ia mengambang di kepalanya sekarang terjawab sudah.
__ADS_1
Kini Teo akan siap dan sangat siap menerjang semua rintangan yang akan datang di masa depan.
Bersambung ....