
"Ternyata seperti ini ya pemandangan malam hari di tengah kota, ramai, banyak cahaya dan juga banyak suara." monolog yang aku ucapkan saat melihat pemandangan malam hari di kota.
Kyeri hanya tersenyum simpul saja sembari memperhatikan aku yang begitu senang akan hal seperti ini.
...~▪︎~...
Sudah aku duga sejak semalam, aku dan Kyeri pasti akan terlambat masuk sekolah untuk yang pertama kalinya.
Dan saat kami sampai di depan pintu gerbang, benar saja kami sudah terlambat masuk sekolah.
"Gimana ini Ke?" Tanya ku sedikit panik.
"Santai dan tenang," ucap Kyeri ke padaku.
Lalu Kyeri membawaku ke sebuah tempat entah tempat apa ini, tapi yang pasti tempat ini berada di dataran paling tinggi dari tembok gerbang kami.
"Naiklah duluan," perintah Kyeri kepadaku.
"Kita masuk? Tapikan kita udah telat."
"Nadt, naik aja duluan."
"Iya, iya."
Kyeri sedikit membantuku dengan pahanya sebagai pijakan. Kalian pasti tau maksudku. Karena tubuhku yang begitu mungil, aku pasti tidak akan bisa naik melewati tembok ini.
"Jangan ngintip!" ucapku ke Kyeri.
"Iya enggak Nadta."
Aku pun berusaha untuk masuk ke dalam dan akhirnya aku pun berhasil melewati pintu rahasia ini dengan sedikit luka di tangan.
Huh ....
Aku tidak pandai melakukan pendaratan jadi wajar saja jika tanganku terluka sedikit.
Setelah aku berhasil turun, Kyeri pun akhirnya menyusul dan dengan cepat Kyeri melakukan pendapatan dengan sangat baik.
'Wah keren ya, pasti mantan maling nih orang,' umpatku dalam hati.
"Kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa, ayok masuk."
Baru saja aku melakukan selangkah perjalanan, Kyeri langsung menghentikan aku dengan cara menjepit kerah baju ini.
"Ih Kyeri aku ke cekik tau!" ucapku.
"Jangan lewat sana bodoh, nanti kita ketahuan satpam dan guru piket. Lebih baik kita lewat kantin dan menitipkan tas di dekat bi Inem."
"Setelah kamu bawa saja buku seadanya dan baru kita masuk ke kas dan kita akan bilang ke bu Lika kalau kita habis melakukan pengecekan bersama anak-anak osis," lanjut penjelasan Kyeri.
"Tumben."
"Apanya yang tumben?" Tanya Kyeri bingung.
"Ya tumben, kamu pinter."
"Aku pinter sejak lahir Nadta," ucap Kyeri sembari mengacak-acak rambutku.
"Dasar kamu ini Kyeri!!"
__ADS_1
...~▪︎~...
Setelah aku dan Kyeri berhasil melewati kantin dan menitipkan tas ke bibi kantin, kini rencana selanjutnya akan kami mulai.
Berjalan melewati lorong sekolah sembari menengok kanan kiri dan berjalan menyusuri tiap tempat hingga akhirnya kami sampai di depan kelas.
Tok ... tok ... tok ...
Grek ....
"Kalian telat?!" Tanya bu Lika dengan begitu tegas.
"Maaf bu kami terlambat masuk kelas, tadi kami di panggil oleh ketua osis untuk melakukan diskusi sebentar hingga 1 jam."
"1 jam? Bahas apa?"
"Pembullyan di sekolah kita ini bu," sahut Kyeri membantu aku.
"Oalah, ya ampun kalian ini. Yasudahlah duduk! Saya percaya kalau Nadta yang berbicara. Tapi kalau Matteo dan Renaldi, aiiih sudah tak percaya lagi aku!" umpat bu Lika.
'Alhamdulillah, untung ada Nadta,' ucap Kyeri dalam hatinya. Seperti bersyukur akan satu hal yang besar.
Aku dan Kyeri langsung menuju tempat duduk. Sorotan 6 mata melihat ke arah kami seperti bertanya-tanya.
Aku hanya tersenyum lebar saja sembari memamerkan gigi putihku ini.
"Hoam .... ngantuk banget Nadt," gumam Kyeri sembari meregangkan tubuhnya.
"Sama aja Matteo! Aku juga pegel-pegel plus ngantuk," ucapku bernada berbisik.
"Ehm ... ehm ..." suara dari belakang kami.
"Kalian telat kan?" Tanya Renaldi.
Aku dan Kyeri hanya diam tidak menjawab pertanyaan itu dan mungkin mereka kesal sendiri.
...~▪︎~...
Jam istirahat pun tiba.
Aku dan yang lain jalan ke kantin seperti biasa. Baru saja kami keluar kelas, mata-mata yang tidak aku suka pun mengarah ke kami.
"Geofani, lo di panggil ke ruang BK sekarang," ucap salah satu siswa kelas 11.
"Kenapa? Kamu berantem? Sama siapa?" Tanya ku begitu banyak ke Teo membuat Kyeri merasa sedikit terusik.
"Enggak kok Nadt, gua cuma mau bimbingan aja."
"Yakin?" Tanya ku lagi.
"Iya, yaudah gua ke BK dulu ya, kalian duluan aja ke kantinnya nanti nyusul." Teo pun langsung berlari ke arah lantai 2 menuju ruang BK.
Aku sedikit khawatir karena aku dengar sekolah ini sedang tidak baik-baik saja selama 2tahun kebelakang.
Aku takut Kyeri, Renaldi dan Teo di keluarkan karena kasus sepele. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjadi kuat seperti mereka.
'Kayaknya aku juga harus buka suara tentang beberapa kasus pembullyan di sekolah ini.'
'Tapi nanti saja deh, aku tidak mau Kyeri terlibat dalam hal ini.'
_______________________________
__ADS_1
...Kantin....
Aku dan teman-teman duduk di tempat biasa, memesan makanan seperti biasa dan pastinya kami berbincang lagi seperti biasa.
"Permisi," ucap seseorang wanita berhijap coklat.
Deg!
'Kakak yang waktu itu ya?' Tanyaku dalam hati.
"Iya? Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Tiyas bersikap ramah dan sopan.
"Boleh saya bicara dengan Nadta sebentar?" Tanya wanita ini.
"Gak!" Tolakan mentah-mentah dari Kyeri tanpa menatap wanita ini.
Wajahnya sudah tertekuk seperti tidak suka dan tatapan matanya sudah begitu tajam.
"Boleh kok kak, mau bicara dimana?" jawabku langsung membuat Kyeri membulatkan matanya.
"Hehehe, di taman belakang aja boleh?"
"Enggak Nadt!" Ucap Kyeri lagi.
"Gak apa-apa Ke, aku kenal kakak ini kok."
"Tapi Nadt!"
"Ke, percayalah. Aku kenal kok sama kakak ini," ucapku lagi lalu pergi meninggalkan kantin.
"Makananmu nanti bisa di bawa saja ke taman, sekalian kita makan bersama."
"Iya kak," ucapku sembari tersenyum.
Aku dan wanita ini pergi ke taman belakang untuk berbincang sedikit tentang masalah waktu itu.
Aku menduga wanita ini akan membuka beberapa kasus pembullyan yang pernah terjadi disini.
Karena aku merasa dia pun adalah korban pembullyan, entah itu dari sekolah ataupun memang asli dari teman-temannya.
_______________________________
...Taman....
"Jadi bagaimana kabar mu?" Tanya wanita ini.
"Baik, kak. Kakak sendiri?"
"Sama saja, aku malah lebih bahagia karena kamu sudah bisa bersekolah lagi."
"Jadi kakak ngajak saya ke sini mau membahas apa?" Tanya ku langsung tanpa basa-basi.
"Kamu ini bukan orang yang suka basa basi ya ternyata."
"Hahahaha, baiklah aku akan memberi tahu sesuatu lagi," lanjut wanita lagi.
Wanita itu pun mulai menceritakan lagi kejadian yang masih tertunda dan mungkin sedikit mengganjal di hatinya.
Baru saja memulai pembicaraan, makanan kami pun datang sehingga pembicaraan yang tadi baru di mulai terpotong.
Walau rasanya tidak nyaman, tetapi aku tidak mempermasalahkan. Tetapi pikiranku tetap saja merangkai teka-teki singkat.
__ADS_1
Hingga akhirnya....
Bersambung ....