
Teo terdiam dan ia berfikir kalau dirinya sudah tamat karena ketahuan menguntit kepsek Citra Bangsa hingga ketempat seperti ini.
"Lo dari SMA Citra Bangsa kan?"
Deg!
Teo tidak menjawab pertanyaan dari orang itu, Teo hanya diam dan mematung. Dirinya dibanjiri air keringat yang terus mengalir dan jantungnya berdegup dengan cepat.
Puk! (menepuk pundak Teo)
"Gak usah takut, gua Ayu alumni sekolah lu dulu. Alumni osis angkatan ke 10." Seseorang itu langsung menenangkan hati Teo.
"Oh, i-iya kak. Saya Teo," ucap Teo sedikit gugup.
"Gua tau lo kesini karena utusan dari ketos yang baru kan?" Tanya kak Ayu.
"Iya kak bener, bener banget. Tapi kok kakak bisa tau?" Tanya Teo lagi.
"Sebenernya tugas ini udah dari awal angkatan gua, tapi gua udah terlanjur lulus dan akhirnya gua gak bisa selesain beberapa kasus yang di tutup sama pihak sekolah."
"Emang banyak ya kak kasus di sekolah kita?" Tanya Teo mengorek informasi.
"Banyak. Kalo lo mau ikut gua ke suatu tempat, gua bakal kasih tau apa aja yang udah terjadi di sekolah kita."
"Termasuk pembullyan yang menimpah temen sekelas lo."
Deg!
Teo membulatkan matanya kala mendengar kata pembullyan yang menimpa Nadta. Teo pun bertanya-tanya, 'Bagaimana bisa seorang alumni mengetahui adanya pembullyan terbaru di sekolah Citra Bangsa.'
"Jangan tanya di sini apa yang ada di fikiran lo sekarang. Mending lo nanya setelah lo ikut gua."
"Oke siap. Gua bakal ikut lo."
~▪︎~
SMAN Citra Bangsa.
Kyeri datang bersama ku dan saat kami masuk ke dalam sekolah, seperti ada pemandangan yang tidak biasa.
Banyak sorotan mata memperhatikan aku dan Kyeri. Aku sudah menduga pasti ini karena ulah Kyeri dan Renaldi waktu itu.
Aku hanya bisa menunduk saja sembari berjalan menuju kelas. Kyeri tidak suka dengan tatapan siswa-siswi lain ke arah mereka.
Terlihat Kyeri memasang wajah kesal dan menatap orang-orang itu dengan tatapan tajam. Menarik tangan ku lalu merangkulku hingga sampai di depan kelas.
"Ke lepas."
"Kenapa?"
"Malu tau Kyeri! Liat tuh tatapan mereka," ucapku merasa tidak nyaman.
"Biarin aja!"
"Kyeri ih!"
Saat masuk ke dalam kelas, aku merasa sedikit aneh karena tatapan tidak biasa melirik ke arah kami.
'Kenapa sih? Emang ada yang aneh dari aku tah?' Tanya ku dalam hati.
__ADS_1
"Wheheey! Apa kabar nona?" Tanya Renaldi dari depan pintu masuk.
"Toak lo sih Ren malu-maluin," cetus Kyeri.
"Ya kenapa sih bro? Dah masuk lagi kita ini, kangen gak lo sama gua Nadt?" Ucap Kyeri langsung duduk tepat di depan meja ku.
"Ka-"
"Enggak!" Kyeri langsung memotong ucapanku dan langsung menarik Renaldi ke tempat duduknya.
"Ih posesif amat sih lu!"
"Morning," ucap seseorang yang suaranya tidak asing di dengar.
"Aaaaaaaahhhh Nadtaaaaaa."
Teriakan biasa di pagi hari, menyambut teman yang sudah hampir seminggu tidak masuk sekolah.
Tap ... Tap ... Tap ..
"Awas!" Tiyas mendorong tubuh Kyeri menjauh dari bangkunya.
"Ih apasih?!"
Brugh!
"Nadtaaaaaa aku kangen tau gak sih?!" ucap Tiyas sembari memelukku.
"Hahahaha kena sikut kan lo sama nih cwe," ucap Renaldi sembari tertawa puas.
"Dasar cewe-cewe ini." Kyeri menggerutu kesal.
"Udah kok, nih. Aku tutup pakai plester," ucapku sembari menunjukan luka di kepala ini.
"Ih udah-udah. Lebay banget gua mau duduk," ucap Kyeri sembari menarik kerah baju Nadta.
Tiyas hanya bisa merengut saja dan menatap Kyeri dengan kesal. Sedangkan Kyeri hanya bisa menyeringai saja.
...~▪︎~...
Jam pelajaran pun di mulai kembali seperti biasa dan kali ini tepat di jam pelajaran terakhir adalah pelajaran olahraga.
Semua murid kelas 10 IPA 2 sudah berada di lapangan untuk melakukan praktek senam lantai.
"Huh ... sayang ya Teo gak masuk hari ini. Padahal dia suka banget yang namanya olahraga kayak gini," ucapku ke Tiyas.
"Iya, kenapa ya dia gak masuk tumben banget."
"Siapa? Kalian mikirin siapa?" Sahut seseorang dari belakang kami.
Aku dan Tiyas segera menoleh dan sudah kami tebak Kyeri lah yang berada di belakang kami. Tatapan tajam mengarah ke kami diiringi dahinya yang mengerut.
"Kepo kamu ini Ke!" Ucapku lalu pergi kumpul bersama teman-teman.
"Tau kamu ini Mat, kepoooo."
'Sialan orang-orang ini, bisa-bisanya Nadta mikirin Teo tanpa seizin gua,' batin Kyeri sembari mengepalkan tangannya.
...~▪︎~...
__ADS_1
Praktek pun di mulai dan praktek pertama di lakukan oleh laki-laki terlebih dahulu.
Priit!
"Bagus, next," ucap guru kami memanggil satu persatu muridnya.
Priit!
"Bagus, Next Matteo."
'Akhirnya Kyeri di panggil juga.' Aku tersenyum di ujung lapangan sembari memperhatikannya.
Kyeri sekarang berada di depan matras untuk melakukan roll depan dan roll belakang.
Sebelum di mulai, Kyeri sudah melakukan ancang-ancang seperti biasa dan tidak aku duga Kyeri mengedipkan matanya ke arahku.
"Hmm, mulai Matteo!" Ucap guruku saat tau Kyeri sedang menggodaku di hadapan teman-teman.
Priit!
Gerakan indah dan cukup bisa di bilang sempurna. Kyeri berhasil melakukan senam lantai dengan baik kali ini.
Setelah selesai, kini siswi dari kelas 10 IPA 2 maju untuk melakukan gerakan senam lantai.
Tapi kali ini aku tidak di bolehkan untuk praktek karena Kyeri bilang ke guruku kalau, "Pak Nadta jangan praktek ya pak! Luka di keningnya masih belum kering nanti takut sobek lagi."
"Oh iya-iya, Nadta kamu gak perlu praktek sekarang. Minggu depan masih bisa kok, kita masih senam lantai besok pelajarannya," jelas guruku.
"Baik pak, terimakasih."
'Ih Kyeri ini ngerepotin aja! Orang lukanya udah sembuh geh, cuma lagi proses mengoreng.'
Priit!
Dan tak perlu waktu lama semua selesai praktek. Aku dan Tiyas duduk di tribun sembari memperhatikan Kyeri, Renaldi dan teman-teman lainnya bermain basket.
Siswi lain pun ikut menonton hingga jam pulang pun tiba. Di pertengahan bermain basket, celana Renaldi mengalami cidera cukup parah.
Bagaimana celananya tidak cidera, dia salah mengambil celana saat ganti pakaian.
Dan saat ia sedang berlari membawa bola basket, tiba-tiba ia di tabrak oleh temannya karen ingin merebut bola tersebut.
Saat tubuh Renaldi terjatuh, disitulah celana Renaldi cidera dan menampakan sedikit gambar bangau Pink yang cantik.
Wreek!
"Woy sialan, celana gua robek!" Ucap Renaldi langsung berdiri.
"Hahahaha bangau," ledek Kyeri sembari tertawa puas.
"Hahahaaha bangau sempaknya Renaldi hahahahaha," lanjut Kyeri lagi.
"Ngelunjak lo Ke!"
'Apa mungkin celana Renaldi itu yang aku kasih waktu itu?' Tanya Tiyas dalam hatinya.
Wajah Renaldi terlihat memerah begitu pula dengan Tiyas karena celana itu mungkin saja pemberiannya.
Bersambung ....
__ADS_1