Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Eridanus •


__ADS_3

Setelah mengantarkan diriku, Kyeri pun pulang tanpa membawa tasnya. Bahkan sedikit terdengar kalau mama Kyeri mengomelinya.


Tapi aku sudah tidak kuat untuk merespon dan tertidur kembali di kamarku. Ibuku belum menyadari kalau kepalaku terluka.


Karena ibu tidak ada di rumah saat aku pulang, tetapi pintu rumah tidak terkunci. Mungkin Ibu sedang berbelanja di warung atas.


Bahkan seharian aku tidak keluar kamar. Bahkan saat Kyeri dan teman-teman lain datang pun aku tidak tau.


"Nadta, Nadtaa," panggil Kyeri dari luar.


"Iya?"


Grek ....


Ibu membukakan pintu dan melihat beberapa teman-temanku sudah ada di depan teras rumah.


"Lah? Nadtanya gak ada?" ucap ibu kebingungan diiringi panik.


"Maaf tante, Nadta sudah pulang kok. Mungkin lagi istirahat di kamar," ucap Kyeri.


"Lah? Apa iya? Coba ibu lihat dulu."


Ibu pun membuka pintu kamarku dan benar saja aku sudah berada di kamar tertidur sembari mengenakan selimut.


"Tumben sore-sore pake selimut?" tanya Ibu.


"Nadt, Nadta?"


"Hmm?"


"Itu ada Kyeri sama teman-teman kamu di luar."


"Iya."


Ibu menyentuh pipiku dan ibu juga menyentuh kening ku. Ibu pun kaget kala melihat perban yang ada di keningku paling atas.


"Astaga kening kamu kenapa sayang?" tanya ibu.


"Gak apa-apa bu."


"Ya ampun kamu demam ya?"


"Enggak kok."


Padahal sudah jelas tubuhku mengigil dan tubuhku hangat bahkan hawa tidak enak terasa sekali.


kepalaku berat sekali, bahkan nyeri. Mungkin efek dari luka ini baru terasa.


Ibu pun keluar lagi menemui Kyeri dan teman-teman di teras rumah.


"Ke, Nadta kenapa?"


"Kepalanya luka kenapa?" tanya ibu lagi.


"Hmm, itu bu. Nadta pas pelajaran olahraga ke selandung terus kepalanya kena batu kalau tidak salah. Jadi sedikit luka."


"Ya ampun."


"Tapi tenang aja bu, aku udah bawa Nadta ke UKS dan kata suster untuk beberapa hari ini kemungkinan besar Nadta bakal demam."

__ADS_1


"Lukanya juga gak terlalu dalam, tapi harus sering di bersihkan sama di tutup agar kuman-kuman gak masuk."


Begitulah penjelasan Kyeri yang sangat masuk akal. Bahkan teman-temanku yang sedang berada di depan teras pun tertegun kala mendengar penjelasan Kyeri tanpa ada gugup sama sekali.


"Oalah, ya ampun kasian," ucap ibu lesu.


"Maaf ya bu, kali ini Kyeri gak bisa jaga Nadta dengan baik," permintaan dari Kyeri langsung membuat teman-temanku di tertegun kembali.


Seorang Kyeri yang bersikap cuek, cool bahkan tidak perduli dengan orang di sekelilingnya bisa berhati lembut jika di hadapan Nadta dan sang ibu.


"Iya nak Kyeri gak apa-apa. Nadta memang sering ceroboh anaknya, jadi wajar kalau dia ngalamin kayak gini lagi."


"Lagi? Maksudnya bu?" tanya Kyeri.


"Dulu Nadta juga pernah mengalami luka di kepalanya, gara-gara terpeleset baru karang."


"Hah? Serius bu?"


"Iya, pada dasarnya Nadta memang anak yang aktif jadi ibu tidak heran lagi kalau ada kejadian macam ini."


"Ya ampun, Nadta memang ceroboh ya," sahut Renaldi.


"Iya begitulah anaknya."


'Tapi nasib Nadta kali ini berbeda bu, Nadta mengalami perundungan bukan karena dirinya ceroboh,' batin Kyeri.


"Nak Kyeri boleh ibu tanya sesuatu?" ibu mengajukan sebuah pertanyaan.


"Boleh bu, tanya aja."


"Apa Nadta sering mengalami perundungan di sekolah?"


Seketika raut wajah Kyeri dan teman-teman seketika berubah. Sedikit menegang bahkan suasana riuh di dalam hati masing-masing pun timbul.


'Duh harus jawab apa?' tanya Kyeri dalam hatinya.


Baru saja Kyeri ingin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan ibu, Aku keluar kamar sembari menopang badan yang sedikit lemas.


Grek...


Tap ... tap ... tap ....


"Ibu aku laper," ucapku sembari duduk di sofa.


"Mau makan apa sayang?" tanya ibu langsung menghampiri aku.


"Huh... Untung aja," gumam Kyeri.


"Untung aja Nadta keluar, kalo gak kita bakal jawab apaan coba?" ucap Renaldi.


"Gua bisa aja jawab, disini juga kan ada Teo. Bisa gua bantalin lo nanti," ucap Kyeri.


"Iya boleh gak apa-apa." Teo hanya menganggukan kepala.


"Udahlah gua sama Teo balik duluan ya, jangan lupa lu, ada PR di kerjain!" ucap Renaldi.


Renaldi dan Teo pun berpamitan ke ibu, lalu pergi meninggalkan rumah ku.


Kyeri masih setia menemani bahkan saat aku masih terbaring lemas di sofa, Kyeri menawarkan pahanya untuk di jadikan sandaran.

__ADS_1


Sedangkan ibu membuatkan aku bubur ayam di dapur. Rasanya tidak nyaman seperti ini tapi, aku tidak ingin ibu khawatir dengan kondisiku saat ini.


Kyeri mengusap kepalaku, mengelus pipiku sembari bergumam, "Kamu cantik banget sih Nadt."


Siapa yang tidak terbawa suasana dengan ucapan Kyeri barusan. Seketika itu hati ku seperti berbunga-bunga.


Hanya semburat senyum yang bisa aku keluarkan saat itu dan Kyeri mengiranya aku sedang mengigau.


"Jangan sakit lagi Nadt, aku khawatir banget sama kamu, ibu kamu juga," ucap Kyeri sembari mengelus pipiku.


Dan Kyeri pun bertahan dengan posisi seperti ini sampai malam menjelang. Mungkin Ibu menyuruh Kyeri membiarkan aku tidur di sofa.


Tetapi Kyeri pasti menolak karena Kyeri tak mau aku sampai merasakan sakit kembali ketika bangun dari tidur nanti.


'Haduh, mamah! Nadta cakep banget. Boleh jadi mantan mamah gak?' batin Kyeri.


Kyeri selalu memperhatikan wajahku ketika tidur entah mengapa.


"Kok kamu tau sih Nadt?" tanya Autor.


Karena ibu memberitahu ku ketika aku sudah sembuh. Ibu selalu memperhatikan sikap Kyeri ke diriku.


Ibu menilai Kyeri orang yang baik seperti papahnya dan juga Kyeri pribadi yang romantis jika dia mau.


"Kyeri, jangan pergi ...." gumamku tiba-tiba memeluk kedua tangan Kyeri.


"Iya enggak sayang."


Aku seperti mimpi kala Kyeri bilang seperti itu. Tapi mungkin itu memang mimpi jadi aku tidak terlalu memperdulikannya.


Dan tepat pukul 20.00 Aku sadar dari tidurku dan perlahan-lahan mengumpulkan nyawa sembari mendengarkan percakapan antara ibuku dan mama Kyeri.


"Udah bangun peri cantik?" tanya Kyeri.


"Hmm?" ucapku sembari memaksakan mata untuk membuka.


"Kamu ngapain disini? Kok gak sekolah?" tanya ku.


Aku merasa hari sudah berganti karena sudah gelap dan suasanya sama seperti di subuh hari.


"Enggak, aku gak sekolah karena aku mau temenin kamu."


"Ih jangan gitu, sekolah sana. Aku bisa sendiri kok, akn ada ibu aku juga disini."


"Iya nanti aku izin ke guru supaya gak sekolah hari ini," ledek Kyeri.


"Ih Kyeri jangan gitu. Sana pulang, siap-siap sekolah. "


"Iya-Iya, cerewet. Nanti aku ke sekolah."


Aku pun beranjak dari sofa ini kala aku merasa nyaman sudah seimbang dan bisa jalan menuju toilet.


"Mau kemana?" tanya Kyeri.


"Kamar mandi, kenapa mau ikut?"


"Iya, ikut," ledek Kyeri.


"Ih! Udah sana aja."

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2