Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Hydra •


__ADS_3

"Kamu ini Mat, malah jahilin Nadta. Dia lagi sakit loh! Nanti kalau dia khawatir gimana?" tanya Mama Kyeri.


"Hehehe, gak bakal khawatir kok Nadta mah."


"Yaudah yuk pulang, kasian Nadta mau istirahat. "


"Iya Mah, tunggu Nadta keluar dulu."


"Yaudah mama tunggu di depan ya."


"Iya Mah."


Setelah aku keluar dari toilet, Kyeri membantu aku ke meja makan untuk makan malam walau sebenarnya aku tidak nafsu.


"Duduk, makan ya. Aku pulang dulu, besok aku janji kesini lagi."


"Iya, belajar yang bener ya Mat."


"Apa?"


"Belajar yang bener ya Mat."


"Apa?" tanya ulang yang di lontarkan Kyeri.


"Ih udah sana pulang."


"Kok Mat? Tumben? Jangan-jangan kamu ...?!"


"Udah sana pulang ih! Belajar yang bener ya Kyeri ku."


"Nah gitu dong, see you," ucap Kyeri sembari melambaikan tangan dan kembali ke rumahnya.


'Ada-ada aja orang ini!' batinku.


Ibu pun langsung menemaniku makan malam bersama. Walaupun aku makan dengan porsi sangat kecil tetapi ibu menemaniku hingga makanku habis.


"Kok kamu bisa terluka Nadt?" tanya ibu.


"Aku kepeleset bu."


"Oh, bener berarti kata Kyeri ya."


"Hah? Kyer bilang apa bu?" tanyaku sedikit terkejut.


Aku benar-benar takut kalau ibu sampai tahu yang sebenarnya. Apalagi sampai buat ibu sedih, aku benar-benar takut.


"Kyeri cuma bilang kalau kamu luka karena terpeles saat jam olahraga."


"Oh, iya. Maaf ya bu aku ceroboh."


"Hmmm, kamu memang gak berubah ya Nadt. Dari kecil sampe sekarang kamu masih aja ceroboh."


"Kalau ayah masih hidup, mungkin ayah bakal jadi orang terpanik saat kamu luka. Tuan putri yang selalu di rajakan oleh ayah," ucapan ibu membuat hatiku bergetar.


Bahkan rasanya nasi yang sedang aku kunyah pun tak mampu masuk ke dalam tenggorokan. Rasanya sulit sekali, antara menahan tangis disaat makan.


Mungkin aku bisa menangis saat sedang makan, jika ibu tidak ada. Tapi posisi saat ini, ada ibu di hadapanku. Mana mungkin aku menangis, hanya karena ucapan ibu yang begitu penuh arti.

__ADS_1


Setelah makan selesai, aku kembali ke kamarku dan beristirahat kembali. Tapi aku tidak beristirahat, aku duduk di depan meja belajarku sembari menatap langit gelap dari balik jendela.


"Ayah kau apa kabar?" gumamku.


"Nadta rindu."


Tak terasa air mata mengalir di pipiku begitu derasnya. Dadaku terasa sesak karena menahan tangis agar ibu tidak mendengar.


Malam ini aku banar-benar merindukan ayah. Aku merindukan sosok laki-laki hebat yang selalu menjadi pelindung untuk aku dan ibu. Dan untuk keluarga kecil kami.


"Hiks ... hiks ... hiks ...."


Biasanya jika aku sakit ayah selalu ada di sampingku, menemani aku hingga aku sembuh, tapi kini aku harus sendiri.


Walaupun ada ibu, tapi aku tidak mau merepotkannya, aku tidak mau membuat ibu sedih berlarut-larut.


'Aku kuat, aku bisa sendiri, aku bisa sembuh sendiri,' batinku menguatkan diri sendiri.


...----------------...


Pagi pun tiba.


Kepalaku sedikit berat sekali karena efek luka ini baru terasa, bahkan kepalaku sedikit berdenyut.


Dan tadi malam aku demam tinggi, sampai ibu menemaniku saat tidur agar ibu bisa menurunkan demam tinggi ini.


Padahal niat hati ku, aku tidak mau merepotkan ibu kembali tapi malah aku merepotkannya lagi, dasar ya aku ini.


Tepat pukul 07.30 WIB.


Viko dan Kyeri datang untuk menjenguk aku, namun ibu melarang. Karena jika mereka menjengukku, mereka akan terlambat sekolah.


"Enggak Kyeri, kamu harus sekolah."


"Sih bu, bentar aja ya," pinta Kyeri.


"Iya bu, bentar aja. Kita mau liat keadaan Nadta." Viko ikut memohon.


"ENGGAK! Pokoknya enggak, kalian pergi berangkat sekolah sekarang. Nanti baru setelah pulang sekolah kalian boleh menjenguk Nadta. "


"Huh ... oke deh, aku berangkat ya bu." Kyeri mengalah, bersaliman dengan ibu lalu menarik Viko agar segera berangkat ke sekolah.


"Udah ayok berangkat!" ucap Kyeri menarik tas Viko.


"Uh, lepas!"


"Lo ketua osis, kalo lo telat malu! Lo itu contoh bagi siswa lain jangan sampe reputasi lo ancur cuma gara-gara lo telat." Kyeri mengingatkan.


"Iya, cerewet banget lu!"


Mereka pun berangkat bersama walaupun ada sedikit balapan di jalan tetapi Kyeri lah yang memenangkan balapan bukan perlombaan ini.


"Akhirnya dateng juga," ucap Renaldi langsung menghampiri Kyeri.


"Kenapa? Kangen sama gua?" cetus Kyeri.


"Ih ngada aja lo ini. Ayok ikut gua!" Renaldi menarik tangan Kyeri hingga menuju depan mading.

__ADS_1


Deg!


Perasaan tak enak muncul seketika kala Kyeri melihat kerumunan di depan mading.


Renaldi ingin menerobos para siswa dan siswi yang sedang berkerumun namun sayang tidak bisa.


Tetapi saat Viko datang dan bertanya seperti ini, "ada apa ini? Masih pagi loh, kok udah pada kumpul disini?!"


Ucapannya itu sangat tegas, Kyeri pun mengakuinya. Wajar saja dia menjadi ketua osis dan menjadi contoh bagi siswa-siswi yang lain.


"Ini ada berita di mading baru kayaknya," ucap siswi di dekat Viko.


"Apa? Coba liat!"


Mereka semua menepi dan betapa kagetnya ketua osis SMA Citra Bangsa ini kala melihat poster-poster bulying yang di alami para siswa-siswi di sekolah ini.


Seperti ada gebrakan memberontak, tapi entah siapa. Yang pasti semua poster yang di pajang di mading merupakan korban bulying di sekolah ini.


Dan mereka semua memakai logo yang sama di tiap-tiap saku baju mereka.


"Ada ya ternyata bulying di sekolah kita."


"Iya ngeri ya."


"Jahat banget, kayak gak punya hati nurani aja, siapa yang ngelakuin ini ya?"


Begitulah ucapan demi ucapan yang di lontarkan para siswa-siswi yang sedang berkumpul.


Deg!


Viko melihat satu poster berwarna biru tua tertempel di mading tersebut dan terlihat jelas wajah Nadta disana.


Nadta bersama dengan 3 perempuan di toilet kantin dan terlihat juga wanita di depannya mendorong Nadta hingga terjatuh.


'Sialan! Ternyata Nadta juga kena bulying di sekolah. Ini gak bisa di biarin!'


Viko pun berbalik arah menuju ruang osis dan mengadakan rapat mendadak setelah jam istirahat nanti.


"Ngapa sih orang itu," ucap Renaldi saat melihat Viko jalan terburu-buru.


"Emang ada apa sih di mading?" tanya Kyeri.


"Ada sesuatu Ke, ayok liat!"


"Duh ntar aja lah masih rame, gua mau nunggu Tiyas dulu."


"Ngapain lo nunggu Tiyas?" tanya Renaldi bingung + cemburu.


"Mau ngerjain PR gua."


"Hah? Ada PR tah?" tanya Renaldi balik.


"Ada Ren, ada 20 soal matematika. Ayok kita kerjain dulu."


"Lah ayok, kita cari Tiyas. Mana Nadta sakit lagi, jadi mau gak mau kita butuh Tiyas."


Tetapi sayangnya Tiyas datang terlambat, bahkan tepat pelajaran matematika di jam pertama.

__ADS_1


Deg!


Bersambung ...


__ADS_2