
"Apaan sih Kyeri? Coba jelasin yang bener dulu!" Ucapku bernada kesal.
"Hmm ... iya nanti aku ke rumah kamu ya, aku ceritain di rumah kamu. Aku mau mandi dulu sebentar." Kyeri pun langsung membawa handuknya ke kamar mandi.
"Aku tunggu ya!"
Aku menunggu Kyeri di ruang tamu, tidak lama kemudian mobil clasik berwarna cokelat datang dan parkir tepat di depan rumah.
'Pasti Viko!' Batinku sedikit tidak suka.
Blam!
Blam!
Blam!
'Huh ... sudah ku duga, ibu pasti nih orang!' Batinku kesal.
"Ibu kok lama?" Tanyaku langsung menggandeng lengan ibu.
"Itu tadi motornya si Zera mogok. Terus ibu nelfon Viko aja dan kebetulan dia juga baru pulang jadi sekalian deh," jelas ibu.
"Oh, tumben baru balik?" Tanyaku ke Viko.
"Abis rapat osis tadi."
"Oh."
"Nadta!" Pekik Zera.
"Apa?" Tanyaku.
"Mau gak?" Ucap Zera menyodorkan kue lupis yang ibu beli untukku.
"Mau!"
"Yaudah ayok kita masuk!" Ajak Zera.
"Ayok masuk dulu Ko, istirahat dulu disini baru nanti sorean kamu pulang," ujar ibu.
'Ih apaan sih? Tolak! Tolak! Tolak Viko!' Batinku.
"Iya bu, aku juga mau istirahat dulu di sini sebentar." Viko menerima tawaran ibu.
"Yaudah ayok kita masuk! Kak Viko tolong bawain belanjaan itu ya!" Ucap Zera masuk ke dalam rumah.
'Haih... kenapa kamu iyain Viko?!' Umpatku dalam hati.
Mereka pun masuk kedalam rumahku, Viko membawakan belanjaan ibu sedangkan Zera asyik memakan makanan yang sedang ia pegang.
...~▪︎~...
POV Kyeri.
Setelah selesai membersihkan badan, Kyeri memperhatikan jendela kamar Nadta namun tidak ada siapa-siapa di sana.
Kyeri menunggu di jendelanya berharap Nadta muncul dari balik jendela kamarnya.
"Nadta kemana sih?" Gumam Kyeri.
Blam! Blam! (Suara pintu mobil tertutup)
__ADS_1
"Pasti Viko!" Kyeri menyerengitkan dahinya.
"Harus ke rumah Nadta sekarang ini!" Kyeri pun langsung keluar dari kamarnya, berpamitan ke mamah lalu pergi ke tempat sahabatnya tersebut.
...~▪︎~...
"Nadta!" Sapa Kyeri tepat di depan pintu rumah.
"Eh, elo? Ngapain?" Tanya Zera.
"Mau ketemu Nadta!"
"Kenapa? Lu kangen ya? Atau lu ..." ucapan Zera terpotong kala Kyeri masuk ke dalam rumah.
"Ibu, gimana Nadta?" Ucap Kyeri bersalaman dengan ibu.
"Udah baikan, cuman lukanya belum kering karena baru sehari kan." Ibu menjelaskan keadaan aku.
"Oh gitu, terus Nadta sekarang di mana bu?" Tanya Kyeri lagi.
"Itu di teras belakang sama Viko."
"Oh, yaudah aku ke sana dulu ya bu."
"Iya, gabung aja sana."
'Bisa-bisanya lo lebih dulu ketemu Nadta di bandingkan gua Ko! Liat aja gua bakal buat jarak antara lo sama Nadta!' Batin Kyeri.
...~▪︎~...
Teras belakang rumah.
"Gimana kondisi kamu Nadt?" Tanya Viko.
"Bagus deh. Kapan kamu sekolah lagi?" Tanya Viko
"Kalau lukanya udah kering aku bakal ke sekolah kok," jelas aku mengelus perban luka di kepala.
"Gak, gak boleh! Walau udah kering kamu harus istirahat dulu di rumah," Kyeri menyahut dari belakang.
"Kyeri? Lama banget mandinya?" Tanyaku ke Kyeri.
Kyeri datang dan tiba-tiba langsung duduk tepat di tengah-tengah antara aku dan Viko.
'Gua gak bakal biarin Kyeri deket sama lo Nadt!' Batin Viko.
'Gua gak bakal biarin si Viko ketos ini deketin kamu Nadt!' Batin Kyeri.
Mereka membatin secara bersamaan dan Kyeri pun sedikit menggeser duduknya agar Viko menjauh dari Aku.
"Nadt, ke tanah lapang yuk!" Ajak Kyeri menggandeng tangan ku.
"Bilang dulu sama ibu, boleh enggaknya."
"Iya juga aku belom bilang, tunggu ya!" Kyeri melepaskan genggamannya dan beranjak ke dalam rumah menemui ibu.
"Kamu kenapa sih deket banget si emosian itu?" Tanya Viko bernada tidak suka.
"Karena dia teman aku dari kecil dan dia juga yang selalu ada di saat aku susah, seneng. Pokoknya dimana ada aku pasti di situ ada Kyeri," tuturku sembari menatap awan kosong.
Tidak lama kemudian Kyeri kembali dan mengambil tanganku lagi, menggenggam erat lalu pergi ke tanah lapang bersama.
__ADS_1
Viko tidak ikut karena ia ingin tidur sebentar di rumah karena badannya sedikit pegal-pegal.
...~▪︎~...
Perjalanan ke tanah lapang memakan waktu cukup lama karena aku dan Kyeri pergi ke tanah lapang sembari bercerita.
Aku bertanya-tanya mengapa ia bisa di skors dari sekolah, tetapi jawaban Kyeri selalu." Tunggu sampai kita di rumah pohon."
Dan saat sampai aku bertanya lagi dan jawaban Kyeri membuat aku kesal, "Tunggu! Kita bahas di atas aja."
Tetapi mau tidak mau aku menurut saja. Kembali lagi ke tempat ini, memandangi barisan sawah yang sudah mulai menghijau kembali.
Melihat para pengembala domba dan sapi dari balik rumah pohon membuat hatiku nyaman, tenang, bahkan pikiran yang menganjal pun seketika hilang.
"Aku berantem di kantin." Kyeri membuka ucapan atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala ku.
"Sama siapa? Kenapa? Ada masalah apa?" Tanyaku langsung.
"Sama anak IPS kating."
"Masalahnya apa?" Tanya ku lagi penasaran.
"Aku gak tau Nadt, dia tiba-tiba dateng terus naik kerah baju aku dan aku langsung dapet bogem mentah."
"Ya ampun! Pantes wajah kami sedikit memar, coba aku mau liat," ucapku reflek langsung mengambil wajah Kyeri.
Menolehkannya ke kanan, ke kiri sembari menyerengitkan dahi. Mengelus pipi Kyeri yang memar sembari berkata, "Ya ampun memar gini, tapi gak apa-apa ya sekali ini aja dan jangan di ulang lagi!"
'Ya ampun manis banget! Gua gak kuat ngeliat Nadta perhatian gini!' Batin Kyeri langsung menarik wajahnya dan langsung berpandang lurus ke pemandangan desa.
"Udah ah! Lakik harus bisa gelut Nadt, biar bisa ngelindungi perempuan-perempuan yang di sayang!" Jawab Kyeri membuat aku membulatkan mata.
"Terus siapa aja yang kena skorsing?" Tanya ku lagi.
"Aku, Renaldi, sama anak-anak IPS itu. Tapi anak-anak IPS itu kena skorsing lebih lama karena mereka yang mulai duluan dan ada buktinya."
"Apa buktinya?"
"Rekaman CCTV kantin."
"Ya ampun, jangan di ulang lagi ya Ke. Kasian mamah kamu," ucap ku merangkul pundak Kyeri.
"Iya Nadta ku siap!"
Baru saja hati Kyeri di buat berbunga-bunga oleh sikap lembut Aku, Kyeri pun langsung diam kala aku menanyakan tugas matematika.
"Mana buku aku?"
Deg!
"Buku apa?" Tanya Kyeri lagi bersikap acuh.
"Hmmm gitu, oke-oke gak akan aku pinj-" ucapanku langsung di pungkas oleh Kyeri.
"Hehehe jangan gitu geh, ada itu di dalem tas. Makasih ya Nadta atas bantuannya," ujar Kyeri berlagak manja.
"Iya sama-sama, tapi lain kali kalau aku ngerjain kamu juga ikut ngerjain oke!"
"Iya sayang ku, eh ma-maksudnya Nadta ku." Kyeri langsung meralat ucapannya.
"Sayang-sayang, nilai matematika masih kurang sok sayang-sayang hahaha," Aku tergelak dengan perkataanku sendiri.
__ADS_1
Dan Kyeri hanya bisa memasang wajah cemberut bercampur malu karena ucapan itu harusnya ada di pikirannya bukan terucap di bibirnya.
Bersambung ....