
"Gua dateng kesini mau menyampaikan sesuatu, penting Nad. Kalau... itu... Nadt, hmm Om, hmm om Gary."
"Ayah? Ayah kenapa?" tanya ku mulai sedikit panik.
"Om, emm.. om tiba-tiba Kritis lagi Nadt."
"Lo harus ke sana sekarang," ucap Zera menunduk lesu.
"A-Apa? Yaudah anterin gua ke rumah sakit sekarang. Ke gua titip rumah ya."
Aku pun kembali ke rumah sakit bersama dengan Zera, jantungku mulai berdegup kencang dan firasat firasat buruk pun muncul kembali.
...~•~●~•~...
Tap..tap.. tap..
Aku berlari menuju ruangan Ayah. Aku melihat ibu sedang menunggu di luar sembari menangis sesengukan di kursi tunggu.
"Ibu?" panggilku menghampiri ibu.
"Nadta," ibu memeluk aku begitu erat.
Dan tangisannya pun semakin menjadi, aku tidak tau harus berbuat apa, yang pasti ibu menangis sejadi-jadinya.
"Ibu, ayah kenapa?" tanya ku tidak tau apa penyebabnya.
"Ibu juga gak tau Nadt."
"Ibu, habis ke ruang dokter terus ibu ngobrol sebentar sama ayah. Ibu ceritain kalo kamu dapet beasiswa di SMA Citra Bangsa dan ayah kamu senyum dia juga bilang 'Bangga sama kamu Nadt.' hiks..hiks.."
"I-ibu, duduk dulu yuk duduk dulu."
"Pas ibu tinggalin ayah ke toilet, tiba-tiba ayah kejang-kejang entah apa penyebabnya. Terus ibu panggil dokter."
"Dan dokter dari tadi belum selesai meriksa ayah," penjelasan ibu yang begitu susah untuk aku cerna.
'Kata Zera tadi koma, tapi ini belum selesai di periksa. Gimana yang bener lah ini? Ayah...' lirihku dalam hati.
Setelah setengah jam berlalu,
Grek..
"Kita harus memindahkannya ke ruang ICU bu, karena kondisinya cukup parah," ucap dokter ini.
"Ayah kenapa Dok?" tanya ku.
"Kami belum bisa memastikan secara tepat, tapi kami mengira ada pembengkakan di area pembuluh darah yang ada di kepalanya."
"Pembengkakan pembuluh darah," gumam Ku.
...----------------...
__ADS_1
Begitulah kondisi ayahku saat itu. Aku tidak ingin menceritakan hal sedih itu lagi karena hatiku akan semakin sedih kala mengingatkan kembali.
Setelah berjuang di rumah sakit selama 60 hari, ayah akhirnya dapat pulang dengan tenang, tidak merasakan sakit ataupun terbebani lagi.
Ayahku, Gary meninggal di rumah sakit ini saat aku baru saja masuk SMA. Rasa terpukul begitu dalam menyelimuti hatiku.
Orang yang biasanya selalu ada di sampingku, tertawa bersamaku, bermain bersamaku, kini aku hanya bisa melihatnya terbujur kaku di selimuti kain kafan.
'Aku akan merindukanmu selalu dan aku akan menjaga rumah pohon peninggalanmu. Ayah aku mencintaimu dan ini adalah ucapan terakhir ku untukmu.'
Aku masih mengingat semua yang kami lakukan bersama, bermain layang-layang di teras belakang, membenarkan sofa biru bersama, membantu ibu masak, mengobrol, menonton tv bersama dan masih banyak lainnya.
Semua isi dan sudut di rumah ini pernah kita nikmati bersama, aku, ibu dan ayah. Tapi kini tinggal aku dan ibu saja yang memenuhi rumah ini.
Tidak, ayah juga masih memenuhi ruangan ini. Ruang kenangan bersama ayah Gary tersayang.
'Aku tidak boleh menangis, tidak tidak boleh,' gumam ku saat tanah terakhir menutup makam ayah.
"Hiks.. hiks.. hiks..." tangisan ibu pecah kala makam ini tertutup dan terbentuk sempurna.
Aku hanya bisa mengusap pundak ibu, memberikan kekuatan untuk tegar menjalani kehidupan yang akan datang.
"Gary," lirih ibu memanggil nama ayah.
Bisik-bisik tetangga pun muncul kala mereka melihatku tidak menangis, hanya sekedar berkaca-kaca saja.
Sedangkan ibuku menangis sejadi-jadinya. Aku ingin menangis, tetapi siapa yang akan menopang bahu ibu untuk tegar?
Apakah mereka bisa melakukannya? Tidak. Hanya aku yang bisa melakukannya, walau hatiku hancur, harapanku runtuh tetapi aku harus bertahan.
Sepulang dari makam, Kyeri dan orang tuanya masih menemani ibu ku menenangkan perasaannya, dan menghiburnya.
"Nadt, gua akan selalu ada disisi lo. Gua janji, gua bakal jadi penganti ayah lo di masa depan yang akan datang."
"Makasih Ke, atas dukungan kamu, aku bener-bener berterimakasih ke keluarga kamu. Udah mau di repotin sa-"
"Gak ada kata ngerepotin. Kita ini tetangga, kita ini saudara. Aku bantu kamu kamu bantu aku, begitulah sistem kerja makhluk hidup Nadt," potong Kyeri.
"Kyeri," gumamku.
Aku hanya bisa tersenyum pahit saat melihat Kyeri, melihat semua kejadian yang begitu cepat ini.
...~•~●~•~...
7 hari berlalu,
Aku tidak bisa datang ke sekolah untuk melakukan masa orientasi karena aku tidak ingin meninggalkan ibu.
Jadi aku selalu izin ke Kyeri untuk memberitahukan ke pihak sekolah kalau aku belum bisa hadir di orientasi siswa.
Untunglah pihak sekolah mengerti keadaanku. "Huh..." Aku selalu menghela nafas berat setiap kali aku melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Nadta, ibu mau ke rumah nenek mu hari ini. Apa kamu mau ikut?" tanya ibu.
"Enggak bu, aku mau di rumah saja."
"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya, besok ibu akan pulang."
"Ibu menginap? Emangnya nenek kenapa?" tanya ku heran.
"Tante mu sedang berada di luar kota selama 3 hari jadi ibu harus menggantikan nenekmu supaya beliau tidak kesepian."
"Oh oke bu, hati-hati ya."
"Bye sayang."
...----------------...
Setelah ibu berpamitan, aku membawa makanan yang aku masak ini ke tanah lapang atau rumah pohon.
"Aku datang," ucapku setiap kali datang ke rumah pohon ini.
Sengaja membawa bantal dan kain gendongan ntuk bersantai disini.
Tek..
Bruk..
"Huh... Mataku berat sekali, seperti adabyang ingin tumpah tapi tidak bisa."
"Hah... Nadta Garwita, kamu kenapa?" tanya ku sendiri sembari memukul dadaku.
...~•< Sekolah >•~...
Renungan rohani pun di mulai.
Tidak semua orang bisa atau langsung sukses. Pasti ada saja cara untuk melewati tikungan yang berliku tajam saat mencoba membuat dirinya sendiri seperti superhiro.
Bahkan jika seseorang yang tidak bisa menangis itu adalah jiwa yang lemah dan pastinya rapuh karena menutupi ke hampaan dihatinya.
Apalagi perempuan, paling sensitif masalah hati, kalau sudah diam, diam saja itu harus di waspadai. Bukan karena ia maling harus di panatau tetapi, ada yang membuat hatinya kesal sehingga dia menabung emosinya.
"Pak, ada gak sih perempuan yang gak nangis di saat kedua orangtuanya meninggal atau ada keluarganya yang meninggal?" tanya siswi lain.
Ada aja, mungkin dia menutupi kesedihannya dengan cara seperti itu. Tapi ada juga yang hatinya mati. Kenapa mati? karena cinta pertamanya telah pergi.
"Tau siapa cinta pertama perempuan?" tanya pak ustad di depan.
"Ayah!"
"Iya benar, jika cinta pertama perempuan ini sudah tidak ada. Maka jangan berharap lebih untuknya banyak ekspresi."
"Berarti Nadta?" gumam Kyeri dalam tanya bingung.
__ADS_1
"Gua harus ketemu Nadta habis pulang sekolah ini, gua harus jadi pundak baginya."
Bersambung...