Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Draco •


__ADS_3

...~▪︎~...


Rumah Nadta.


Ibu sudah kembali dari pasar dan ibu juga memberi tahukan kalau dagangan ibu kali ini laris manis terjual semua.


Bahkan tidak ada sedikit pun makanan yang tidak terjual. Ibu pun pulang dengan raut wajah bahagia.


"Siang anak ibu yang cantik." Sapa ibu saat masuk ke dalam rumah.


"Siang juga ibu sayang."


"Tumben udah pulang? Laris semua ya?" Tanyaku lagi dengan raut wajah bahagia.


"Iya dong sayang, hari ini kita dapet rezeki lumayan. Dagangan ibu laris manis terjual semua."


"Dan hari ini, ibu beli sesuatu untuk kamu." Ibu memberikan kejutan untuk sang anak.


"Apa itu?"


"Pejamkan matamu dulu."


"Baiklah."


Tap ...


"Bukalah."


Aku membuka mata dan melihat sebuah kotak sepatu baru. Seketika mataku di buat berkaca-kaca dengan hadiah ini.


"Bu, sepatu aku masih bagus," ucapku mentap wajah ibu.


"Nadt, sepatu itu jaman kamu SMP. Kamu belum beli sepatu baru lagi. Jadi gak salahkan kalau ibu beliin ini untuk kamu?"


"Ih ibu. Hiks .... makasih," ucapku langsung memeluk tubuh ibu.


'Mungkin sebagian orang beranggapan hadiah yang ibu berikan ini bukan apa-apa. Tapi aku sangat-sangat menghargai perjuangan ibu, untuk diriku.' Batinku saat memandangi sepatu ini.


"Oh iya si Kyeri kemana? Kok ibu udah lama gak liat?" Tanya ibu sembari berjalan ke dapur.


"Baru juga seharian gak liat, ibuku sayang sudah kangen sama orang itu," godanya.


"Oh iya juga," ucap ibu tersadar.


"Hah .... kayak ibu gak tau aja Kyeri itu gimana, laki-laki mana ada yang diem di rumah kayak aku."


"Pati dia maen tuh sama si Renaldi, dari pada di omelin sama mamahnya."


"Oh iya juga ya Nadt bener kata kamu."


"Iya ... Nah itu yang deket jendela apa bu?" Tanya Nadta sadar akan gantungan berwarna putih di deket jendela.


"Gak tau ibu juga."


"Aku ambil ya?"


"Iya ambillah. "


Aku pun perlahan-lahan datang mengambil benda yang tergantung di dekat jendela dan tidak sengaja menghirup aroma khas di dalam plastik tersebut.


Aku menaruhnya di atas meja sembari memberikan tebak-tebakan ke ibu.


"Bu, ibu!"


"Iya?"

__ADS_1


"Coba tebak ini isinya apa?" Tanyaku ke Ibu.


"Hmm ... apa ya?"


"Sayur? Bakso? Hmm ... somay? Seblak?" Ibu menebak-nebak.


"Salah, salah semua."


"Apa dong?"


"Jawabannya ... deng ... deng ... deng ... deng .... adalah ...." Aku perlahan-lahan membuka plastik itu lalu mengeluarkan kotak cokelat tersebut.


"Adalah?" Tanya ibu penasaran.


"Adalah geprek bi Inem!" jawabku sangat-sangat bersemangat.


"Hah? Siapa?"


"Ini geprek di sekolah loh bu, mau coba gak?" Tanyaku menawarkan makanan ini.


"Suap aja boleh?"


"Boleh dong ibu aku sayang."


Aku pun makan bersama dengan ibu hari ini, menikmati makanan tanpa ada pengirim hingga habis tidak bersisa.


"Tapi ini dari siapa ya Nadt?" Tanya Ibu.


"Entahlah bu, mungkin aja Kyeri atau gak Viko," tebakku asal.


"Heh! Viko, Viko. Kak Viko Nadta!" ucap ibu meralat panggilan ku ke Viko tadi.


"Heheheh iya kak Viko maksudnya."


"Tadi ibu di anterin kan sama dia? Sampe tempat?"


"Bagus deh, kalau gak sampe tempat aja. Aku hajar dia sampe babak belur," ucapku reflek.


"Heh, anak perempuan harus kalem Nadta, gimana nanti laki-laki suka sama kamu coba?" Ucap ibu menasihati.


"Hehehe iya-iya bu, maaf."


Ibuku memenag tidak suka jika aku terlalu bersikap seperti laki-laki karena ibu menganut perempuan itu harus lembut bertutur kata, lembut bersikap dan lembut kepada siapa saja.


Jadi wajarlah aku lebih diam di bandingkan aku harus baku hantam dengan orang-orang di luar sana.


...~▪︎~...


Aku berjalan kembali ke kamar, sembari membatin dan berfikir yang seharusnya tidak terfikirkan.


Greek ... (Membuka jendela)


'Katanya Kyeri juga di skorsing tapi kok gak ada di rumah ya? Bahkan jendela kamarnya aja ketutup rapat.' Aku membatin.


"Kyeri ... Kyeri ... Kyeri." Aku memanggil-manggil Kyeri lewat telepon kaleng.


"Kyeri ... woyyy kemana kamu ini?" Aku bertanya lagi.


Namun tidak ada balasan hingga akhirnya aku tertidur di meja belajar.


Mungkin ada 15 menit aku tertidur hingga akhirnya aku terbangun gara-gara suara dari telepon kaleng ini berbunyi.


"Sayang aku, kamu tidur ya? Nadta? Nadta cantik? Nadta? Liat aku dong."


"Aku di skorsing loh dari sekolah, aku kangen banget deh sama kamu."

__ADS_1


"Nadta, Nadta i love u ... ih ih hihihi geli ya, Nadt."


Aku hanya tersenyum-senyum saja saat mendengar suara itu sembari mengintip sedikit dari jendela bagaimana reaksi Kyeri saat berbicara.


Aku juga ikut tergelak akan tingkah lakunya hingga akhirnya, aku membalasnya dengan jawaban, "I Love you too."


"Eeeeeh?!" Jawabnya kembali sangat panjang.


Kyeri berjanji mengintip jendela kamarku dan saat aku bangun, aku mengharapkan wajahku ke dia diiringi senyum manis.


"Makasih ya gepreknya," ucapku lagi.


"Ahahaha bagus deh kalo udah dimakan."


"Kemana tadi kamu?" Tanya Kyeri penasaran.


"Aku? Aku di rumah aja kok."


"Bohong, kata mamah kamu pergi sama si Viko itu?" Tanya Kyeri bernada cemburu.


"Aku di rumah aja Matteo Kyeri Bram. Aku lagi tidur kali makanya aku gak denger kamu manggil," jelasku ke Kyeri.


"Masa iya?"


"Kangen, aku kangen Nadta. Pokoknya nanti kami masuk pas aku masuk titik," ucap Kyeri memaksa.


"Tapi besok aja aku udah bisa mas-"


"Gak boleh Nadta, pokoknya kamu harus masuk ketika aku udah abis masa skorsing aku."


"Yaudah deh iya."


Aku dan Kyeri hari itu bercerita menggunakan telepon kaleng ini. Sembari menatap wajah Kyeri yang begitu bahagia kala melihatku.


Entah kenapa tatapan Kyeri begitu berbeda apalagi saat ia menatap teman perempuan yang lain.


Tatapannya begitu dingin malah lebih tepatnya bersikap acuh, cuek dan tidak peduli sama sekali.


Beda saat ia mentap wajahku atau bertemu denganku. Tingkahnya langsung berubah bak kucing ketemu dengan majikannya.


Begitu manja, begitu lembut tutur katanya dan juga begitu lembut sikapnya. Tapi dia akan berbicara sedikit keras kepadaku ketika aku bersama dengan Viko ataupun laki-laki yang lain.


'Namanya juga Kyeri, laki-laki yang bermimpi menjadi draco paling besar di dunia agar bisa melindungi siapa pun yang ingin ia lindungi.'


"Tes ... tes ... tes ... tes ... kenapa kamu senyum-senyum? Lagi mikirin siapa?" Tanya Kyeri mentapku penuh curiga.


"Gak ada, aku cuma mau liat aja gimana reaksi kamu kalau temen-temen kamu tau tingkah sebenernya kamu."


"Maksudnya?" Tanya Kyeri bingung dengan ucapanku.


"Ya gitulah pokoknya, kamu itu aneh. Aneh aja!"


Tap ... (Aku menaruh kaleng telepon ini dengan kasar di atas meja.)


Menutup jendela kembali sembari melihat raut wajah Kyeri yang begitu lucu saat wajahnya merengut.


"Dasar anak kecil," gumamku.


Greek!


Tap ... tap ... tap ...


Aku berjalan ke toilet dengan kaki sedikit kesemutan bahkan jalan pun aku seperti robot.


Belum saja aku masuk ke toilet, aku mendengar suara benda terjatuh di depan teras rumah. Tapi entah apa.

__ADS_1


Suaranya seperti buah nangka jatuh ke tanah, begitu jelas terdengar.


Bersambung ....


__ADS_2