Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Arunika •


__ADS_3

Jika saja alasan Viko bukan Nadta, mungkin saja Kyeri tak mau pergi tapi karena alasan Viko adalah Nadta mau tidak mau Kyeri menuruti Viko.


...~▪︎~...


...Pulang sekolah pun tiba....


Nadta dan Kyeri pun pulang bersama namun mereka hanya diam dan tidak banyak bicara seperti awal berangkat sekolah.


Entah apa yang terjadi di antara mereka, tetapi yang pasti Kyeri tidak membawa Nadta pulang ke rumah.


Melainkan mereka pergi ke sebuah gunung tempat mereka kemarin melihat pemandangan indah malam hari.


"Kenapa ke sini?" Tanya Nadta.


"Gua mau ngomong sesuatu Nadt."


"Gua? Kamu tumben pake kata itu."


"Oh iya lupa, maaf Nadt."


"Kamu lagi mikirin sih apa Ke?" Tanya Nadta sedang menganalisis raut wajah Kyeri.


"Entahlah Nadt, aku masih bingung."


"Bingung kenapa?"


"Nanti aku ceritain, kalau kita sudah sampai."


"Iya deh."


Perjalanan pun memakan waktu cukup lama yaitu sekitar 35 menit dari sekolah dan 40 menit jika dari rumah mereka.


Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Kyeri menggandeng tangan Nadta ke tempat kemarin mereka bersantai.


"Kamu kenapa Ke?" Tanya ku Ke Kyeri.


"Entahlah Nadt, aku bingung."


"Kamu masih ngulang kata yang sama kayak di perjalanan tadi, kenapa kamu gak langsung bilang aja apa yang sedang kamu bingungkan," tuturku sembari menopang kedua tangan di dada.


"Tadi aku ke ruang osis, ngobrol sama Viko."


...Flasback on....


"Jadi gua mau nyusul sebuah rencana sama lo Ke," ucap Viko.


"Rencana apa?"


"Gua udah dapet beberapa kasus pembullyan di sekolah ini dan rata-rata pelakunya adalah anak petinggi sekolah."


"Maksudnya?"


Bruk!


Viko mengeluarkan beberapa buku hitam yang ia bawa dari gudang arsip bawah tanah.


"Buku hitam?" Ucap Kyeri masih penuh pertanyaan.


"Gini, disini gua bukan hanya mau menyelamatkan Nadta dari hal-hal yang gak menyenangkan. Tetapi gua juga mau menyelamatkan seluruh siswa-siswi di sekolah ini." Viko mulai mengeluarkan dialog yang dari tadi ingin ia ucapkan.


"Demi kepentingan jabatan lo kan?" Tanya Kyeri begitu menyakitkan hati Viko.


Deg!


"Bukan. Tapi ini demi reputasi sekolah ini dan demi reputasi anak-anak penerima beasiswa."


'Oh iya juga, Nadta siswi penerima beasiswa.' Kyeri membatin.


"Jadi?" Tanya Kyeri singkat.

__ADS_1


"Gua udah nemu beberapa kating kita yang di DO dari sekolah hanya karena dia korban tetapi malah di putar balikan faktanya."


"Dan juga, gua nemu sebuah nama yang gak asing di telinga gua. Bahkan wajahnya pun gak asing menurut gua."


Sreek ... sreek ....


"Walau fotonya masih berlatar hitam putih, tetapi masih terlihat jelas wajahnya," ucap Viko sembari mencari data yang ia temukan di dalam buku hitam ini.


Tap ....


"Nah ini!" Tunjuk Viko ke sebuah bio data perempuan.


"Namanya Diayu Chaya Goe."


"Kayak gua kenal mukanya," sahut Kyeri memandangi foto tersebut.


"Berarti bukan cuma gua aja."


"Coba gua liat dulu bio datanya dan lo jelasin dia ini siapa." Kyeri memberikan perintah ke Viko.


"Oke-oke. "


"Diayu ini merupakan siswi berprestasi. Walau dia bukan penerima beasiswa full, tetapi dia selalu mendapatkan junjungan, pujian, penghargaan serta banyak bantuan datang ke keluarganya."


"Keluarganya bukanlah keluarga kaya, melainkan keluarga sederhana yang penuh dengan segala kecukupan."


"Dia juga merupakan korban pembullyan di sekolah ini dan mengharuskannya pindah sekolah secara terpaksa."


"Tapi pembullyan tidak hanya mendarat di sekitar sekolah, di luar sekolah pun dia tetap mendapatkan bullyan hingga akhirnya dia dan keluarganya pindah entah kemana."


"Terus? Lo curiga sama orang ini?" Tanya Kyeri ke Viko begitu serius.


"Bukan curiga. Tapi gua rasa dia ini kunci bagi kita."


"Maksudnya?" Tanya Kyeri lagi.


Deg!


'Bener juga.'


"Jadi tujuan lo manggil gua?" Tanya Kyeri lagi.


"Gua mau minta lo nyelidikin semua siswa-siswi serta guru disini."


"Lo gila?!"


"Enggak, gua cuma minta lo selidikin doang."


"Emang lo gak mau Nadta bebas dari semua ini?" Tanya Viko lagi.


"Iya juga," gumam Kyeri.


...Flasback off....


"Jadi kamu bakal nerima itu?" Tanya ku begitu khawatir dengan Kyeri.


"Belum tau Nadt, aku masih bingung."


Puk ...


Aku menepuk pundak Kyeri dan bersandar di pundaknya, agar beban pikiran Kyeri sedikit menghilang.


'Hal seperti ini yang akan rindukan suatu hari nanti Nadt,' ucap Kyeri dalam hatinya.


"Jangan mikirin hal yang terlalu berat sendiri ya Ke, aku disini untuk kamu dan aku akan selalu ada untuk kamu."


"Jadi jangan sungkan untuk bilang tolong ataupun butuh bantuan," ucapku ke Kyeri.


"Iya Nadt, iya."

__ADS_1


'Tapi mungkin di kesempatan aku kali ini, aku gak bakal mau ngerepotin kamu Nadt,' batin Kyeri lagi.


...~▪︎~...


Entah sampai jam berapa aku dan Kyeri berada di tempat ini. Tetapi yang pasti aku membayangkan betapa bahagianya aku nanti jika seperti ini selamanya.


Mengobrol bersama tiap menit, jam, hari dan semuawaktu kita habiskan bersama. Bercanda tawa layaknya remaja yang sedang kasmaran.


Meminum secangkir teh hangat di pagi hari yang bersamaan dengan surya terang di ufuk sana.


Menikmati dentingan jam, ketukan garpu dan sendok, serta menikmati paduan suara yang asing tiap malam.


Tapi aku rasa itu hanya sebuah angan yang terbentuk saat ini. Hayalan yang sedang kami rangkai di penghujung cerita.


Di penghujung sore dan di penghujung hari menuju minggu.


"Besok main yuk Nadt," ucap Kyeri membuyarkan lamunanku.


"Kemana?" Tanyaku sembari melirik wajah Kyeri.


"Kemana aja, asal bareng sama kamu."


"Idih, bahasa kamu sok banget deh."


"Kenapa? Gak boleh?" tanyanya bernada mengejek.


"Iya, emang gak boleh."


"Yaudah kalau gitu aku ajak-"


"Iyaudah iya, aku mau," jawabku dengan cepat.


...~▪︎~...


Dan malam pun tiba.


Kini suara bising berubah menjadi hening. Hanya ada suara-suara jangkrik, dan hewan-hewan lainnya yang beradu suara di malam hari.


Tiba-tiba saja telfon sambung ku berbunyi dan bergeser sedikit dari jarak awal.


Sudah pasti Kyeri ingin mengajakku berbicara lagi. Entah apa yang Kyeri fikirkan, mengapa dia tidak bosan dengan ku?


Dan pertanyaan itupun terus mengelilingi isi kepalaku sampai akhirnya aku sadar kalau ucapannya waktu itu ternyata ...


"Woy!!!"


"Apasih Kyeri?"


"Liat tugas PPKN."


"Gak mau males, kamu kan pinter PPKN. Masa iya kamu yang nyontek aku?" ucapku sedikit kesal.


"Aku lagi males mikir Nadta!"


"Ya udah resiko kamu!"


"Ya ampun jahat banget kamu Nadt."


"Emang kamu mau, liat aku di marahin sama si ibu aneh itu?" Lanjut ucapan Kyeri.


"Astaga mulut, gak boleh bodyshaming!"


"Aku gak bodyshaming Nadt, tapi kesel aku ini! Tugas banyak bener."


"Yaudah sini!"


Sampai akhirnya aku sadar kalau ucapannya waktu itu ternyata adalah ....


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2