
...~▪︎~...
Ting ....
Pintu lift pun terbuka dan kini Nadta bersama Teo menuju ruangan yang akan mereka datangi.
"Rs. Dyagun, gedung A lantai 5 ruang Vvip no. 4." Nadta mendikte kembali alamat yang tercatat dalam kertas itu.
"Ini!" Ucap Teo sembari menunjuk ruang pintu berwarna hijau.
Namun, tidak ada tulisan nama pasien di samping pintu ini. Tetapi mungkin mereka salah dan segera mungkin mereka masuk ke ruang itu.
Grek ...
...~▪︎~...
"Apa kamu tidak mau makan sayang?" Ucap mamah.
"Nanti saja mah, aku menunggu dia datang."
"Mengapa kamu tidak mengabarinya lewat telfon rumah?" Tanya mamah lagi.
"Kata ibu, Nadta belum pulang."
"Oalah yasudah kalau begitu, panggil mamah jika kau ingin sesuatu ya sayang," ucap mamah dengan tutur kata begitu lembut.
"Siap mamah sayang."
...~▪︎~...
Gbrek ... gbrek ...
"Eh?"
"Permisi sus, pasien bernama Kyeri ... maksudnya Matteo Kyeri Bram di ruang ini kan?" Tanya Teo saat melihat Suster sedang membenarkan selimut.
"Oh pasien ganteng itu ya, dia tadi pagi sudah keluar."
"Eh tidak, bukan tadi pagi sekitar jam 10an mereka keluar dari rumah sakit karena sudah di perbolehkan keluar oleh dokter," jelas Suster ini.
"Oh begitu. Baiklah terimakasih sus," ucap Teo dan Nadta.
Mereka langsung pergi keluar meninggalkan gedung A Rumah Sakit ini dan segera menuju parkiran.
"Lalu kita akan kemana?" Tanya Teo.
"Alamat Rumah ini," tunjuk Nadta ke kertas yang ia pegang.
"Sebentar biar aku cari alamatnya."
Teo pun mencari alamat yang ada di kertas itu melalui maps dan Teo mencari patokan titik gang rumah ini.
"Ini pegang kertasnya. Nanti jika aku lupa alamatnya tolong bacakan ulang ya Nadt," pinta Teo.
"Baiklah."
Teo dan Nadta pun pergi keluar menuju alamat Rumah itu.
'Kalau tidak salah patokan gang perumahan ini adalah Restoran mewah ala Prancis dan sebelahnya lagi SPBU.' Teo mengingat-ingat jalan alamat tersebut.
Perjalanan pun cukup lama karena jalan sangat penuh. Mungkin saja karena waktu pulang kerja, makanya jalan sangat-sangat macet.
"Nadt?" Panggil Teo.
"Iya?"
"Bacain lagi alamatnya ya!" Pinta Teo.
"Baiklah."
"Jalan Linggar no 10 blok F no 108, Rumah berwarna cream gerbang cokelat," ucap Nadta sembari mendikte alamat rumah di secarik kertas tersebut.
"Kita telah memasuki kawasan jalan Linggar," ucap Maps.
__ADS_1
"Oh jalan Linggar ini sampingan sama resto Prancis yang terkenal itu ya ternyata," gumam Nadta.
"Hebat," Lanjutnya lagi.
Teo pun tiba-tiba saja berhenti di sebuah gerbang perumahan elit dan bertanya ke satpam setempat.
"Stop ..." ucap Satpam memberhentikan laju motor Teo.
"Iya pak. Pak kalau boleh tau jalan Linggar no 10 blok F nomor 108 ada di mana ya?" Tanya Teo.
"Emang mau ketemu siapa mas?" Tanya Satpam satunya yang sedang berjaga di posko.
"Mau ke rumah keluarga Bram. Mau bertemu dengan kak Matteo karena nona ini adalah kekasih dari Kak Matteo," jelas Teo.
"Yakin?" Tanya Satpam.
"Iya pak yakin sekali." Teo benar-benar meyakini Satpam.
"Mbanya atas nama siapa?" Tanya pak Satpam.
"Nadta Garwita," Jawab Nadta namun tidak dengan nama lengkap.
"Oh mbak Nadta, yasudah boleh masuk tapi titip KTP mas atau mbaknya disini dulu ya," jawab pak Satpam yang berada di posko.
"Iya pak, ini pake KTP saya aja." Teo langsung mengeluarkan KTP nya dari dompet cokelat.
"Coba tak liat dulu."
"Mukanya sama, cuman ini hitam disini sekarang putih," ledek Satpam yang berjaga di luar.
"Hehehe, ya namanya juga jaman SMA pak." Teo sedikit malu.
"Siapa namamu?" Tanya pak Satpam lagi.
"Abraham Geofani, di panggil Teo." Teo langsung menjelaskan nama panggilannya juga ke pak Satpam tersebut.
"Yasudah kalau begitu kalian boleh masuk, tapi tetap KTP nya di titip di sini yak!"
"Iya pak," jawab Teo santai.
"Rumah berwarna apa Nadt?" Tanya Teo lagi.
"Rumah berwarna cream gerbang cokelat," jawab Nadta.
Mereka mengelilingi komplek perumahan ini dan akhirnya mereka tiba di blok F dengan nomor urut 50.
"Nomor berapa Nadt?"
"Nomor 108."
"Blok F10 no 108 gerbang cokelat rumah warna cream," gumam Teo.
"Nadt liat nomor rumahnya ya!" pinta Teo.
"Iya."
Mereka pun sepanjang jalan memperhatikan nomor-nomor rumah satu persatu hingga akhirnya mereka masuk tepat di rumah nomor 100.
"Nah udah seratus ini berarti maju lagi atau ikut belok ke kanan ini?" Tanya Nadta.
"Sebentar."
Teo memberhentikan motornya tepat di tengah-tengah simpang 3 dan Teo pun mulai menghitung nomor-nomor urutnya.
"Gang di depan Nadt, disini gak ada," ucap Teo yang telah menghitung satu persatu rumah.
Dret ... dreet ... det ... dett ... det ....
"INI!" Ucap Nadta begitu bahagia.
Akhirnya mereka bisa menemukan rumahnya dan terlihat jelas bagaimana bahagianya wajah Nadta saat menemukan rumah ini.
"Tetapi ..." Wajahnya pun mulai terlihat sedih lagi.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Teo.
"Kalau nyatanya Kyeri ada di rumah samping rumahku bagaimana?" Tanya Nadta karena hari ini begitu merepotkan Teo.
"Ya kita nanti pulang," sesimple itu jawaban dari Teo.
"Yasudah pencet belnya biar aku menunggu di luar," ucap Teo lagi.
"Baik."
Tap ... tap ... tap ...
Nadta pun perlahan-lahan menuju gerbang rumah dan tangannya begitu gemetar sehingga ia susah sekali untuk menekan bel rumah.
"Haih ..." Keluh Teo.
Ting nong ... ting nong ... ting nong ...
"Eh? Teo?!" ucap Nadta terkejut karena bel tiba-tiba saja berbunyi.
"Kelamaan mikir kamu Nadt."
...~▪︎~...
"Mah, mereka datang," ucap seseorang yang sedang berdiri di jendela sembari menelfon.
Sembari tangan di masukan kedalam saku, orang ini yang tak lain Kyeri melihat dari arah jendela kamarnya dengan wajah tersenyum bahagia.
"Iya, bibi sudah membukakan gerbang untuk mereka."
"Baiklah terimakasih mah."
...~▪︎~...
"Iya tunggu sebentar," ucap wanita paruh baya.
Ctek ...
Grek ...
Groooom ...
Bibi membukakan pintu gerbang cukup lebar, agar motor Teo dapat masuk kedalam.
"Untuk apa di buka cukup lebar bi pintunya?" Tanya Teo.
"Biar motor den juga bisa masuk," jawab bibi.
"Hah? Saya? Masuk juga?" Tanya Teo kebingungan.
"Iya den, disuruh sama ibu."
"Udah masuk aja, biar kita sama-sama masuk ke rumah ini. Aku takut kalau sendirian karena rumah ini terlalu besar," bisik Nadta ke Teo.
"Huh ... baiklah."
Teo pun mendorong masuk motor scope cyan kesayangannya masuk ke dalam halaman rumah mewah ini.
"Kenapa?" Tanya Teo saat Nadta memperhatikannya.
"Tidak apa. Aku ingin kita masuk bersama, sudah ku bilangkan kalau aku takut." Nadta berbisik.
"Kau ini apa yang kau taukutkan?" Ucap Teo dengan lesu.
"Ayok kita masuk."
'Kyeri benar-benar orang kaya ya. Aku minder dengan dirinya,' batin Nadta.
Grek ...
"Silahkan masuk den," ucap bibi membukakan pintu.
"Terimakasih bi," ucap Nadta dan Teo secara bersamaan.
__ADS_1
Dan saat pintu terbuka, terlihat wajah tak asing di depan sana sedang menyambut mereka ...
Bersambung ....