
Wanita itu pun mulai menceritakan lagi kejadian yang masih tertunda dan mungkin sedikit mengganjal di hatinya.
Baru saja memulai pembicaraan, makanan kami pun datang sehingga pembicaraan yang tadi baru di mulai terpotong.
Walau rasanya tidak nyaman, tetapi aku tidak mempermasalahkan. Tetapi pikiranku tetap saja merangkai teka-teki singkat.
Hingga akhirnya di tengah makan siang ini, Kak Ayu membuka obrolan.
"Saya seneng sekali akhirnya kamu sudah bisa masuk ke sekolah lagi," ucap kak Ayu sembari memandangi air mancur di taman.
"Hmm iya kak, aku juga seneng akhirnya bisa kumpul lagi sama mereka."
"Aku boleh tanya?" Tanya kak Ayu lalu menatap wajahku.
"Boleh, silahkan."
"Kamu sama Matteo ada hubungan apa?" Pertanyaan kak Ayu membuatku sedikit tersedak.
Uhuk ....
"Eh? Sorry Nadt, sorry." Kak Ayu menolongku dengan memberikan minum.
"Hehehe," aku hanya bisa menyeringai saja lalu aku lanjutkan kembali perkataanku.
"Pertanyaan kakak sedikit aneh tapi aku sudah gak heran sih."
"Kenapa? Banyak yang nanya kek gitu juga ya?"
"Iya, banyak banget malah."
"Oh," jawaban singkat yang di berikan kak Ayu membuat aku bertanya-tanya kembali.
'Apa dia yang mengirimkan surat cinta waktu masa orientasi siswa? Dan apa dia juga yang memberikan Kyeri cokelat waktu masa orientasi berakhir?'
Begitulah kira-kira pertanyaan yang sedang melakat di kepalaku dan juga banyak hal yang membuat perasaanku sedikit aneh.
"Huh ... aku sama Kyeri hanya teman biasa. Bedanya kami berteman sudah hampir 10 tahun lamanya."
"Hah? Serius?" Tanya kak Ayu dengan matanya yang terbelalak.
"Iya."
"Aku dan Kyeri sudah seperti saudara kandung, karena Kyeri begitu melindungi aku dan aku pun melindunginya," lanjutku lagi.
"Jadi wajar saja jika Kyeri terlalu protektif kepadaku dan Kyeri juga kadang terlalu posesif kepadaku."
"Kalau boleh tau kenapa kakak nanyain ini?" Tanyaku balik.
"Hmmm itu, aku ... cuma penasaran aja sih."
"Soalnya kalian terlalu dekat bahkan sangat dekat. Membuat aku teringat akan masa sekolah dulu."
Flasback on.
Tahun 2000.
...SMA CITRA BANGSA....
Pov Kak Ayu.
Nama ku Ayulin Hou, berdarah campuran tionghoa. Aku dulu memiliki teman bernama Jyordy Matteo dan aku memanggilnya Matteo.
Nama kesayangan itu selalu aku pakai dari pertama kali kami bertemu. Aku dan Matteo pertama kali bertemu di sebuah ladang cabai milik nenek.
Aku berkenalan dengannya, bermain bersama dengannya hingga akhirnya kami memutuskan satu sekolah yang sama.
__ADS_1
Mulai dari jenjang SD hingga kami lulus SMA. Tetapi waktu pembagian surat kelulusan, Matteo tiba-tiba saja mengirimkan sebuah undangan.
Undangan pernikahan dia dengan teman ku sendiri dan di saat itu pula aku kecewa dan benar-benar kecewa hingga akhirnya aku memutuskan menjadi anak rantauan dan kuliah di Sydney.
Dan di saat aku kembali ke asal ku, aku mendapatkan sebuah lembaran lowongan kerja di SMA ini.
SMA lama tang membuat aku terkesima akan indahnya sekolah ku yang baru ini.
Flasback off.
"Jadi gitulah kisah aku Nadt menyedihkan. Semoga kamu tidak bernasib sama denganku."
"Hehehe semoga aja ya kak."
'Pantas dia bertanya begitu, ternyata kisah seseorang yang begitu berarti di hidupnya pergi meninggalkan dia.'
"BTW nama panggilan sayang kamu ke Matteo, Kyeri ya?" Tanya kak Ayu.
"Enggak kok, itu masih nama dia, Matteo Kyeri Bram," jelasku.
"Oh pantas."
"Jadi? Kakak ngajak aku kesini untuk apa?" Tanyaku langsung karena begitu penasaran.
"Jadi seperti ini Nadt ..."
..._______________________________...
...Kantin....
Kyeri, Renaldi, Teo dan Tiyas masih asyik mengobrol di tempat biasa. Namun hatinya Kyeri tidak tenang, entah itu karena Nadta atau ada hal lain.
"Ngapa sih Mat?" Tanya Renaldi.
"Dia aman kok Ke, jadi santailah," sambung Tiyas.
"Gara-gara Nadta pergi? Gak kesini? Gak bantu-bantu?" Tanya Renaldi meledek.
"Bantu-bantu apa g**a? Orang gua cemas aja geh."
"Yakin?" Tanya kompak antara Tiyas dan Renaldi dengan nada meledek.
"Sialan kalian berdua ini! Lo gak mau ikutan juga tah?" Tanya Kyeri ke Teo.
Namun tak ada jawaban apapun dari Teo. Padahal dia sedang mengaduk-aduk manguk baksonya sembari memasang raut wajah sedikit tertekuk.
"Oy!!" Tiyas menyikut Teo hingga akhirnya Teo sadar dari lamunannya.
"Apa? Iya? Kenapa?" Tanya Teo yang tidak mendengarkan obrolan mereka.
"Lo ini, malah ngelamun!" ucap Kyeri kesal.
"Hahaha, ya maaf ya."
"Mikirin apa lo? Sampe alis lo mau nyatu gitu?" Tanya Renaldi.
"Entahlah, banyak bener beban gua akhir-akhir ini," ucap Teo kembali mengaduk mangkuk baksonya.
"Kenapa? Ibu lo?" Tanya Kyeri sedikit respek.
"Bukan, tapi ini tentang ..."
Teo memotong ucapannya sehingga mereka bertiga memiliki praduga yang cukup banyak.
"Kenapa?" Tanya Tiyas memaksa.
__ADS_1
"Tapi ini tentang .... kucing gua woy," jawaban Teo yang aneh membuat mereka bertiga terbelalak.
"Maksudnya?"
"Ya karena kemarin itu gua nemu di jalan 2 anak kucing jenis persia gitu. Tapi pas gua bawa ke rumah, ibu kek tau gitu."
"Tau gimana?" Tanya Renaldi sedikit aneh.
"Ya ibu tau, soalnya ... ibu ... hmm ... alergi sama kucing gitu," ucap Teo secara terbata-bata.
"Yakin?" Tanya Kyeri dengan tatapan penuh tanya.
"Iya beneran."
"Gak yakin gini gua," ucap Tiyas masih menebak.
Teo hanya diam saja dan tidak menjawab perkataan mereka lagi karena Teo tak mau mereka sampai curiga yang berlebihan.
"Mana Nadta ini? Udah makan siang apa belum lah?" Gumam Tiyas sembari mengaduk es mocachino miliknya.
"Iya juga, ngobrol dimana sih mereka?" Sahut Kyeri kesal.
"Taman belakang paling," ucap Teo.
Kyeri pun langsung masuk ke pergi menuju taman belakang sembari membawa satu buah minuman kaleng.
"Kemana woy?" Tanya Renaldi.
" .... "
"Matt!" Panggil Viko dari lorong belakang kantin.
Kyeri hanya menoleh ke arah Viko saja namun langkahnya tidak bisa berhenti.
"Ikut gua bentar!" Perintah Viko ke Kyeri.
"Gak." Langkah kaki Kyeri semakin cepat.
"Gua mau bahas seputar Nadta!"
Tap ....
Langkah kaki Kyeri pun akhirnya berhenti.
"Gua butuh bantuan lo dan ini masih seputar Nadta. Kalo lo mau, ikut gua ke sekretariat Osis."
"Apa?" Tanya Kyeri singkat.
"Makanya ikut gua sebentar," ucap Viko lalu pergi meninggalkan Kyeri.
Kyeri pun tak berfikir panjang dan akhirnya ia pun mengikuti langkah Viko ke ruang osis.
Selama di perjalanan, Kyeri berfikir banyak entah apa yang ia pikirkan. Tapi yang pasti Kyeri hanya berjalan lurus dengan tatapan dingin.
Walau banyak siswa-siswi yang membicarakannya di belakang saat ia lewat, tetapi Kyeri tetap fokus pada langkahnya.
"Masuk lah," ucap Viko membuka pintu ruang osis.
"Cuma gua doang?" Tanya Kyeri karena ruangan osis begitu sepi.
"Iya."
Kyeri pun menuruti ucapan Viko. Jika saja alasan Viko bukan Nadta, mungkin saja Kyeri tak mau pergi tapi karena alasan Viko adalah Nadta mau tidak mau Kyeri menuruti Viko.
"Jadi gua mau nyusul sebuah rencana sama lo Ke," ucap Viko
__ADS_1
"Rencana apa?"
Bersambung ....