
'Hehehe gimana? Permainan di dalam permainan? Keren kan?' Batin Teo menyeringai puas.
'Kerja bagus Teo,' batin Viko menunduk kepanasan.
Di tempat lain dan di waktu yang bersamaan.
Renaldi mengajak Kyeri pergi ke sekolah mereka untuk melihat sesuatu yang mereka tidak tau.
Bermodalkan pintu rahasia dari balik tembok dan juga lorong kantin, Kyeri dan Renaldi berhasil tembus memasuki sekolah.
Berpura-pura menjadi penjual makanan baru dan Berpura-pura menjadi anak bibi penjual makanan, Kyeri akhirnya paham akan ucapan Teo waktu itu.
"Apaan itu bi?" Tanya Renaldi.
"Itu lagi ada razia kulit." Renaldi bingung.
"Hah? Razia kulit maksudnya bi?"
"Ya itu loh den, kan anak-anak jaman sekarang lagi pada tren buat tato di badannya dan kemarin sekolah lain ada yang tawur*n eh pas diliat badannya ada tato gede di punggungnya."
"Terus pas di tanya sekolah mana, ketauanlah dia kalo dari sekolah tersebut dan akhirnya kepsek marah karena anak itu udah buat malu sekolahnya," lanjut penjelasan bibi kantin.
Kyeri yang menguping pembicaraan Renaldi dengan bibi kantin hanya bisa diam sembari berkata, "ooh."
'Jadi ini maksud ucapan Teo waktu itu, pantesan dia seneng bener. Hm? Bukannya Teo juga punya tato ya?' Kyeri menebak-nebak.
"Kenapa Ke?" Bisik Renaldi.
"Gak apa-apa, masakan bibi ini enak banget jadi laper," alasan Kyeri sambil berbisik.
"Oh, emang enak tau! Mau bungkus gak? Geprek buat Nadta?" Saran dari Renaldi masih berbisik.
"Kenapa pada bisik-bisik den?" Sahut bibi ikut berbisik.
"Gak tau bi, si Kyeri noh aneh."
Tap .. tap .. tap ...
Tidak lama kemudian suara tak asing terdengar jelas, bibi langsung menyuruh Kyeri dan Renaldi menunduk dan diam di bawah kolong meja.
Tap ... tap ... tap ...
Langkah kaki semakin mendekat dan perbincangan jelas pun terdengar. Nama yang Kyeri jaga pun terucap salam perbincangan tersebut.
"Ish Git, gimana ini? Si Nadta belum juga masuk sekolah."
"Udah sih lo diem aja, gua bakal urus semuanya."
"Tapi Git, kalo Nadta sampe kenapa-kenapa gimana? Kalo lukanya infeksi gimana? Kalo ada yang bocoran gimana?" Ucap panik teman Gita.
"Heh Lin, lo diem aja deh! Mending ikutin aja perintah Gita, jangan panik." Teman lain menyahut.
"Bi beli Es matcha 2 ya bi, satu lagi taro."
"Oke eneng cantik."
Dreet ... (Menarik kursi kantin)
"Gimana gua gak panik coba Git! Itu di mading ada foto Nadt-"
"Stttt!"
"Lo ini kalo ngomong jangan kuat-kuat dong! Ntar ada yang denger gimana? Bisa mampus kita!"
"Udah Lina jangan panik. Gua ada disini, gua gak bakal ke tangkep gitu aja dan kalian juga," ucap Gita sombong.
"Sial! Jadi selama ini dia biang dari segala."
__ADS_1
"Tahan Ke! Jangan sampe mereka tau kita disini." Renaldi menahan lengan Kyeri.
"Iya juga, bener."
"Eh, eh, eh! Tau gak sih?" Lanjut ucapan teman Gita.
"Kenapa?"
"Kalian tau kan? Kalo Matteo sama Renaldi lagi di skorsing karena kejadian kemaren?"
"Iya tau."
"Berarti si Nadta lagi ngedeketin Matteo dong sekarang? Secara rumah mereka sampingan. "
"Iya juga! Bener kata lo. Ini kesempatan mereka untuk berduaan." Gita semakin kesal.
"Argh sial! Kenapa dia sampe luka sih? Yaudah nanti abis pulang sekolah kita jenguk Nadta," ucap Gita memiliki rencana lain.
"HAH? LO SERIUS GIT?" Ucap kompak teman Gita.
"Seriuslah! Ya kali gua bohong."
Ting ... ting .... (bertanda pesanan sudah siap)
"Udah yuk balik kelas lagi."
"Berapa bi?"
"15 neng."
"Ini bi, ambil aja kembaliannya."
Mereka pun melangkah pergi jauh dan kembali ke kelas. Membawa minuman dalam gelas plastik ke dalam kelas.
Dugh!
Awh!
"Hati-hati den." Bibi membantu Kyeri berdiri.
"Hah? Lo ini Ke, mau ikutan Nadta juga, udah yuk balik. Lo dengarkan tadi rencana Gita and the gangers gimana," ucap Renaldi ada benarnya juga.
"Bi makasih ya atas bantuannya. Makasih juga atas infonya."
"Ini gepreknya den," bibi memberikan bungkus geprek.
"Ini bi ambil aja, makasih ya bi."
Kyeri dan Renaldi pun langsung berlari ke belakang sekolah, mengambil motornya lalu pergi mengantarkan Renaldi pulang.
Setelah mengantarkan Renaldi pulang, Kyeri langsung menuju rumah Nadta.
Tok ... tok ... tok ...
"Nadta, Nadta." Kyeri mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.
Kyeri menggantungkan bungkusan yang ia beli di paku dekat pintu, berjalan kerumah dengan wajah lesu.
"Mah," panggil Kyeri.
"Dari mana kamu?"
"Aku abis dari anterin Renaldi beli geprek." Kyeri beralasan tetapi memang benar Renaldi dan Kyeri membeli geprek.
Hanya saja Kyeri tidak memberitahukan dimana lokasi belinya.
"Sampai lama kayak gini?" Tanya mamah.
__ADS_1
"Huh ... Nadta kemana mah?" Tanya Kyeri.
"Oh pantesan menghembus nafas berat dari tadi ternyata gak ketemu Nadta?"
"Iya, emang kemana sih mah?"
"Gak tau mamah, yang pasti dia tadi berangkat naik mobil clasik warna coklat gitu sih." Mama Kyeri mengerjainya.
"Huh ... mobil klasik ya?!" Kyeri mengepalkan tangannya mengerutkan dahi lalu masuk ke dalam kamar.
Blam!
'Masa iya Nadta jalan sama Viko? Emang si Viko gak sekolah? Huh ... tau gitu gua pergi sepagi ini tadi,' Kyeri membatin kesal.
Greek ... (Membuka jendela kamar)
Menatap jendela kamar Nadta berharap Nadta datang menyapanya. Padahal belum 12 jam mereka bertemu tapi Kyeri sudah berlagak seperti itu.
Di tambah lagi sang mamah menggodanya membuat hati Kyeri semakin kesal, hatinya memanas, membara bahkan ingin sekali Kyeri menojok wajah Viko.
...~▪︎~...
Kantin sekolah SMA Citra Bangsa.
"Bi beli Es teh ya satu pakai mug yan besar aja," ucap seseorang datang menghampiri bibi kantin.
"Wokey siap."
Klak ... Tap ... Tek ....
Seseorang ini membuka sebuah kotak di depan bibi mengambil barang yang ia punya lalu duduk di meja kantin sembari menunggu.
'Heh ... budaya seperti ini ternyata masih ada ya? Dulu aku memang bukan dari orang berada bahkan pintar saja tidak.'
'Mendapatkan perundungan adalah hal yang wajar, benarkah? Aku datang lagi bukan untuk membalas dendam.'
'Tapi aku akan mengungkap sisi gelap sekolah ini demi melindungi para murid berprestasi dan menyelamatkan murid kurang mampu.'
'Jadi tunggulah, sedikit lagi akan aku ungkap semua.'
Tuk ... tuk ... tuk ...
Seseorang itu mengetuk meja sembari membatin, memantau keadaan sekitar serta berpura-pura sebagai wali murid dari siswi disini.
Ting ... ting ... ting ...
Pesanan sudah jadi dan orang itu pun langsung pergi meninggalkan lokasi sekolah agar identitasnya tidak terbongkar.
...~▪︎~...
Kelas IPA 2.
"Huh ... panas an**r badan gua," Siswa di dalam kelas ini mengipaskan tubuh merek dengan buku.
"Haduh Tiyas bantu gua ngipasin ya! Panas banget si*lan, mutung badan gua," ucap Teo menghampiri Tiyas.
"Ya ampun Teo badan lo merah banget kek kepiting rebus," ucap Tiyas melihat tubuh Teo.
Tiyas pun membantu Teo mengipas tubuhnya dengan buku tipis miliknya sembari mengelap keringat di tubuh Teo dengan baju olahraga Teo sendiri.
'Kalau Renaldi tau! Mungkin dia bakal cemberut, ngamuk, pundung seharian full,' ucap Tiyas dalam hatinya.
"Dah pegel tangan aku," ucap Tiyas menaruh baju Teo.
"Makasih ya."
Teo pun ke mejanya kembali mengambil cangkir yang berada di loker lalu menuju dispenser kelas. Meminum minuman dingin membuat hati lega sekaligus tenang.
__ADS_1
"Bisa-bisanya orang itu bawa cangkir sendiri," gumam Tiyas tidak menyangka.
Bersambung ....