
"Hehehehe, makasih kembali tante."
...Flasback off....
...~▪︎~...
"So? Kamu mau marah sampai kapan?" Tanya ku ke Viko.
Tetapi Viko hanya diam seribu bahasa dan tidak menjawab perkataan demi perkataan yang terucap dari mulutku.
"Gua ... gua gak tau Nadt."
"Kamu udah mau dewasa Vik, kamj harus tentuin semua dari kata hati kamu. Pilihan ada di tangan kamu dan semua keputusan kamu yang punya."
"Iya Nadt, makasih," ucap Viko sembari mengelus kepalaku.
...----------------...
...Kantin....
Di waktu yang bersamaan.
Dugh!
Kyeri menghantam meja dengan tangannya sembari menatap tajam ke arah Nadta dan juga Viko yang berada di taman.
"Biasa aja Ke kaget gua," ucap Renaldi yang baru saja menyendok bakso dari mangkuknya.
"Uhuk ... uhuk ...aku geh sampe keselek loh! Dasar kamu ini Ke!" ucap Tiyas kesal dengan Kyeri.
Sedangkan Teo hanya bisa memandang raut wajah Kyeri saat melihat kejadian romantis itu.
'Kyeri benar-benar makhluk pencemburu ya,' ucap Teo dalam hatinya.
Setelah selesai mengobrol, mungkin beban yang ada di kepala Viko sedikit berkurang. Jadi Viko lah hari ini yang akan membayarkan makan siang untuk Nadta.
"Mau makan apa?" Tanya Viko.
"Seblak, tapi jangan pedes-pedes."
"Oke, minumnya?"
"Jus jeruk."
"Oke, bi pesen jus jeruk 2 seblak 2, yang satu pedes dan yang satunya sedang ya." Viko memesankan makanan.
"Woke siap den."
Dret .... bruk ....
'Huh ... tatapan Kyeri mematikan gini, jadi ngeri deh.' batin ku saat melihat wajah Kyeri dari sebrang meja tempat kami makan.
'Haduh ... pasti bakal perang lagi deh ini sama si manja yang posesif itu.'
'Duh ... jangan natap aku kayak gitu dong Ke, aku jadi ngeri gini. Ah mampus aku di kelas nanti,'
"Mana pacar kamu itu Nadt, kok gak keliatan," ucap Viko tiba-tiba membuat aku tersedak saat sedang minum.
"Hmmpft ... Uhuk ... uhuk ...."
"Eh, minum yang bener atuh."
__ADS_1
"Kamu sih nanya nya suka aneh-aneh, kesedak akunya."
"Lah emang bener kan, si Matteo itu pacar kamu. Mana dia?" Tanya Viko lagi.
Di meja seberang.
"Denger gak Ke?" Tanya Tiyas profokator.
"Ehem .... pacar banget gak tuh," ledek Renaldi.
"Dapet lampu ijo nih kayaknya lo Ke," sahut Teo lagi.
Kyeri yang mendengar itu hanya bisa diam tertunduk dan wajahnya pun memerah seperti seseorang yang di mabuk asmara.
"Muka lo merah tuh, hampir sama kayak udang punya gua ini," ledek Renaldi sembari mengangkat udang balado yang ia pesan.
"Enggak kok," ucap Kyeri mengangkat pandangannya dan memasang raut wajah kesal tetapi mereka tahu kalau sebenarnya Kyeri amatlah senang.
Dreet ... (Kyeri beranjak dari tempat duduknya dan menuju langsung menghampiri Viko yang berada di meja sebrang).
Tap ...
"Dari mana kalian?" Pertanyaan tanpa basa-basi terucap langsung.
"Nah panjang umur orangnya."
'Halah ... halah .... bilang aja kamu gak mau aku ngobrol sama Viko, dasar pencemburu akut!' batinku.
"Gua sama Nadta tadi dari taman belakang, ada pembahasan privasi yang harus di bahas. Gak usah cemburu, gua sama Nadta kan sepupuan." Viko menjabarkan secara detail.
"Oh," respon singkat dari si Kyeri.
"Kalo lo mau makan, makan aja gua yang bayar nanti."
"Oh yaudah, ambillah kalo lo mau makan," ucap Viko lagi lalu memakan makanannya.
Kyeri hanya memperhatikan diriku dengan tatapan teduh tapi aku tidak mengerti apa arti dari tatapan itu.
Hingga jam istirahat selesai, aku dan Kyeri kembali ke kelas bersama. Mengobrol di sepanjang lorong menuju kelas.
"Kemana semalam?" Tanya Kyeri.
Aku sudah menduga kalau Kyeri akan bertanya seperti ini dan aku akan menjawab sedetail mungkin agar tidak terjadi salah faham.
"Ke rumah nenek, sama Viko. Ada pembahasan keluarga yang cukup penting kemarin malam dan hanya aku, Viko, Zera dan tante Lia yang ada di rumah nenek," jelasku.
"Oh, gak pergi ke tempat lain?" Tanya Kyeri lagi.
"Enggak, aku di rumah nenek nemenin tante Lia ngobrol karena minggu depan dia akan pergi ke Australia untuk launching toko kue nya."
"Oalah, aku kira kamu sama si Viko itu pergi jalan-jalan."
"Gak mungkinlah, aku mana mungkin jalan-jalan di tengah tugas yang numpuk," ucapku begitu tegas.
"Yakin? Kalo jalannya sama aku gimana?" Tanya Kyeri lagi.
"Hmmm gimana ya?" ucapku sedikit mempermainkan perkataan Kyeri tadi.
"Jadi gak mau nih?" Tanya Kyeri lagi dengan raut wajah cemberut.
"Mau gak ya?" ledekku lagi.
__ADS_1
"Yaudahlah kalo kamu gak mau, gak-" Belum saja selesai Kyeri berbicara, aku langsung memotongnyq dengan cepat.
"Boleh, kapan? Kemana? Jam berapa?"
"Hari ini mau? Kita ke festival kopi yang di selenggarakan oleh perusahaan Hero."
"Tapi di kota sih memang, kalo kamu mau nanti aku pinjamkan baju kaos untuk ganti dan sendal juga," lanjut ucapan Kyeri.
Aku hanya bisa terdiam kala mendengar kata "Hero." Karena kata itu tak asing di telinga ku dan aku pun mulai menebak-nebak.
'Hero? Apa mungkin festival ini milik keluarga asli Viko?' batinku.
'Aku harus cari tau sedetail mungkin agar Viko bisa mempertimbangkan, siapa yang akan ia pilih nanti,' lanjutku lagi.
"Nadta!" Panggil Kyeri.
"Hah? Iya? Apa Ke?" Aku pun tersadar dari lamunan.
"Kan malah ngelamun dia," ucap Kyeri lesu.
"Jadi mau ikut gak?" Tanya Kyeri lagi.
"Mau dong, aku juga mau nyicip-nyicip rasa kopi itu gimana dan nyoba gimana cara buatnya."
"Bagus deh, kalo gitu abis pulang sekolah kita berangkat ya."
"Oke," jawabku sembari memberikan dua ibu jari ke hadapan Kyeri diiringi senyum manis yang tidak di lihat Kyeri selama 1 hari penuh.
'Akhirnya dia senyum juga. Mana manis banget lagi senyumnya, ih dasar Nadta!' Batin Kyeri bak ingin terbang rohnya.
...Kelas....
"Ciee dah akur lagi," ledek Tiyas.
"Akhirnya akur lagi dua spesies ini hahaha," ledek Renaldi.
"Ngeledek aja terus lu," umpat Kyeri kesal.
'Huh ... andai aja,' batin Teo namun tidak ia lanjutkan kembali dan ia langsung memungkas pikirannya sendiri.
...~▪︎~...
...Jam pulang sekolah tiba....
Aku dan Kyeri seperti biasa berjalan berdua menuju parkiran. Kyeri juga tak lupa membawakan 1 helm cadangan untuk ku walau aku tidak berangkat bersamanya.
"Sini aku pakein." Kyeri langsung memakaikan helm yang biasa aku pakai.
Lalu Kyeri merapihkan rambutku yang berantakan karena terhalang helm sembari sedikit mencubiti pipiku yang chuby.
"Ish orang ini! Jahil banget sih!" gumamku lalu memasang wajah cemberut.
"Hehehe," dan itulah Kyeri hanya tersenyum kala wajah cemberut ini membentuk.
Kyeri mengeluarkan motornya dan mempersilahkan aku naik kala dia sudah benar-benar siap.
"Ayok naik Nadt!"
"Iya."
Hari-hari seperti biasa pun kembali aku mulai lagi bersama Kyeri, sahabatku, kakakku, dan mungkin dia kekasih hatiku nanti hehehe.
__ADS_1
Pov Nadta (Aku) selesai.
Bersambung ....