Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Orion •


__ADS_3

Kyeri hanya bisa memasang wajah cemberut bercampur malu karena ucapan itu harusnya ada di pikirannya bukan terucap di bibirnya.


"Mau makan gak?" Tanya Kyeri.


"Makan apa?" Tanyaku balik.


"Aku kemarin ketemu warung tau di deket sini, warung baru kalau mau kamu tunggu sini. Aku mau ambil motor dulu."


"Hmm gak bisa jalan kaki emangnya?"


"Kamu masih sakit Nadt, gak boleh capek-capek nanti malah tambah sakit." Kyeri berdiri menuju arah tangga.


"Yaudah deh, boleh." Aku pun ikut turun dari rumah pohon ini dan menunggu Kyeri tepat di bawah rumah pohon.


Saat sedang menunggu Kyeri, aku melihat Cece lewat berboncengan dengan laki-laki mungkin saja pacarnya.


"Itu bukannya Nadta ya?" Tanya Cece sembari memicingkan matanya.


"Disini ada rumah pohon juga ya? Terbuka untuk umum gak?" Tanya Cece ke pacarnya.


"Enggak, itu punya pribadi karena itu lahan punya pak Bram," jelas pacar Cece.


"Oh gitu."


Aku pun masih memperhatikan Cece hingga mereka menghilang. Aku melamun sembari mengerutkan dahi sedikit.


Bahkan kehadiran Kyeri pun aku tidak mengetahuinya. "Nadta!" Panggil Kyeri.


"Eh? Hmm?" Aku sadar kembali dari lamunanku.


"Ngeliatin apaan sih?" Tanya Kyeri.


"Enggak, bukan apa-apa. "


"Terus mikirin apa?" Tanya Kyeri lagi.


"Kepo banget ih kamu Ke, ayok jadi gak?" Tanya ku.


"Ya jadilah Nadta, ini aku udah bawa motor."


Akhirnya aku dan Kyeri pun menuju sebuah warung baru yang di ceritakan oleh Kyeri tadi.


Memakan perjalanan tidak sampai 5 menit, aku dan Kyeri pun turun ke dan memesan makanan di sana.


"Halo bi!" Ucap Kyeri.


"Eh Matteo, mau pesen apa?"


"Aku mau pesen mie ayam dong bi."


"Oke siap. Lah ini siapa? Pacar mu ya?" Tanya Bi Inem.


"Hehehe iy-" ucapan Kyeri langsung aku tahan dan langsung aku pungkas.


"Bukan bi, aku temen Kyeri dari kecil karena rumah kami bersebelahan," jelasku.


"Oalah, jadi mau pesen apa non?" Tanya Bi Inem lagi.

__ADS_1


"Aku mau pesen tekwan aja bi."


"Oke neng gelis."


Aku dan Kyeri menunggu sembari memakan jajanan ringan yang ada di warung ini, eits itu Kyeri bukan aku.


Kalau aku .... aku sedang merasakan pusing kembali, kepalaku terasa berdenyut bahkan mataku sedikit berair karena kepala ini sangat sakit.


"Kenapa Nadt? Sakit lagi ya?" Tanya Kyeri peka akan situasi.


"Dikit."


"Huh ... sorry Nadt aku ajak kamu kesini," ucap Kyeri lesu.


"Ngapa minta maaf? Kan aku yang mau, aku juga bosen di rumah terus," ucapku secara fakta.


"Yakin?"


"Iya Kyer-" Ucapanku lagi-lagi terpotong kala melihat tas hitam yang sangat-sangat aku kenali.


Aku mengambil wajah Kyeri dan memaksanya menengok ke arah tas yang aku liat. Kyeri pun berfikir sama dengan ku.


"Bi, itu tas Teo ya?" Tanya Kyeri langsung.


"Iya, kamu kenal Teo?" Tanya Bi Inem.


"Iya bi, kami teman sekelasnya."


"Oalah, iya-iya."


"Jadi bi Inem ini ibunya Teo ya?" Tanyaku langsung karena aku tidak mau ada beban lagi di fikranku.


Aku dan Kyeri baru tau kalau ibu Teo memiliki sebuah ruko di dekat pasar. Karena setauku dulu, Ibu Teo adalah pebisnis yang terkenal di kota bahkan memiliki toko butik dimana-mana.


"Oh, gitu. Kami baru tau bi," jawabku atas penjelasan bi Inem.


"Ya wajarlah Teo anaknya tertutup banget setelah pindah dari sini," ucap bibi sembari memberikan pesanan makanan ke kami.


Deg!


"Emang mereka pindah tah bi?" Tanya Kyeri.


"Iya mereka dari sini dulu banget, kalau gak salah pas Teo masih SD." bi Inem menjelaskan tentang kehidupan Teo.


Flasback on.


Dulu sebelum pindah, bapak Teo terlilit hutang hingga 1 miliar lebih. Tapi keluarga mereka tidak tau untuk apa hutang itu.


Hingga akhirnya Ibu Teo rela mengorbankan semua bisnisnya demi menyelamatkan suaminya.


Namun sayangnya semua aset tidak mencukupi dengan hutang yang ada. Akhirnya mau tidak mau bapak Teo di tarik ke sel jeruji besi.


Disitulah titik terendah keluarga mereka, Teo dan ibunya pun pindah ke rumah orangtua atau nenek dari ibunya hingga Teo SMP.


Saat Teo SMP, ibunya kembali berdiri lagi dengan modal usaha yang orangtuanya berikan. Membeli ruko kecil untuk usaha frozen food.


Flasback off.

__ADS_1


"Kadang pulang sekolah dia langsung ke ruko bantuin ibunya, malamnya baru belajar ngerjain tugas."


"Oh, kita baru tau cerita ini bi, kasian ya Teo." Aku tersentuh dengan ucapan bibi tentang Teo.


"Lalu dia dimana sekarang bi?" Tanya Kyeri sembari mengunyah mie yang baru saja ia suap ke dalam mulutnya.


"Enggak tau bibi den, tadi dia lagi ngintai para preman pasar di ujung jalan sana, tapi gak tau deh sampe sekarang blm balik lagi dia," ucap bi Inem.


Deg!


'Preman?' batin kompak antara aku dengan Kyeri.


Setelah perbincangan hangat terjalin disini, aku mendapatkan saran dari bibi agar luka di kepalaku cepat kering dan juga tips-tips orang jaman dulu.


10 menit kemudian.


"Halo bi, maaf ya aku lama," ucap Teo dari arah belakang.


"Lama banget, ngapain kamu?"


'Alat tato?' Batin Kyeri sembari menyerengitkan dahinya.


"Eh Kyeri, Nadta. Udah sembuh Nadt?" Tanya Teo langsung duduk di depan kami berdua.


Aku dan Kyeri kompak diam sembari memandangi Teo dengan tatapan tajam penuh tanda tanya.


"Hmm kenapa nih?" Tanya Teo menganalisis.


"Lo ada tato?" Tanya Kyeri.


"Oh ini?" Ucap Teo menunjukan taro di lemgannya.


"Ini tato anak sd, yang di gosok sabun bisa cepet ilang," jawab Teo dengan nada berbisik.


"Hah? Terus alat tato untuk apa?" Tanya Kyeri lagi.


"Udah liat aja besok di sekolah," ucap Teo santai.


"Yakin gak tato lo bakal ilang?" Tanya Kyeri lagi.


"Santai, gua ada pembersihnya."


"Terus kenapa rambut lo modelan kek gitu si? Norak tau!" Ucapku sembari memasang wajah aneh.


"Ini namanya penyamaran Nadta, gua harus sesuai sama kondisi mereka, kalau mereka tau gua ini anak sekolahan, bisa di bantai sekolah kita nanti," jawab Teo masuk akal.


"Oh, tapi cepetan ganti deh. Dari pada nanti ketauan sama mereka." Aku mengkhawatirkan Teo.


"Iya ini gua juga mau pulang, yaudah bi makasih ya atas bantuannya. Aku pulang dulu." Teo berpamitan ke bi Inem sembari menyalimi tangan bi Inem.


Aku dan Kyeri masih menerka-nerka apa yang akan terjadi di sekolah besok. Aku penasaran sekali tapi Kyeri tidak mengizinkan aku ke sekolah.


Tapi Kyeri juga tidak bisa masuk ke kelas karena ia sedang di skors selama tiga hari. Tetapi Kyeri tidak kehilangan akal untuk datang ke sekolah.


Menyaksikan pertunjukan bagus yang sedang di rencanakan oleh Teo.


"Kita lihat siapa-siapa yang bakal masuk ke perengkap ini," gumam Teo sembari mandi.

__ADS_1


"Pemburu tau mangsa yang harus ia tangkap, jadi tunggulah permainan ini!" Lanjut gumaman Teo di kamar mandi.


Bersambung ...


__ADS_2