Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Mensa •


__ADS_3

10 menit kemudian...


Aku dan Kyeri akhirnya sampai di sekolah juga. Setelah turun dari motor, aku berniat pergi lebih dulu ke dalam kelas.


Tetapi langkahku langsung ditahan oleh Kyeri karena ia tidak mau aku terluka lagi seperti kemarin-kemarin.


"Bareng."


"Iya deh, iya."


Aku dan Kyeri masuk ke dalam sekolah bersama dan saat aku memasuki lorong kelas, sudut-sudut mata dari siswa-siswi disini mengarah kepadaku.


'Kenapa sih? Kok kayaknya aku di liatin gitu? Apa baju salah ya? Atau bedak aku berantakan? Atau ...'


Puk ...


"Gak usah di pikirin," ucap Kyeri menepuk kepalaku dengan lembut.


Aku hanya terdiam dan berfikir, 'Bagaimana bisa Kyeri tau apa yang sedang aku fikirkan?'


Tapi aku masih terus berfikir dan terus berfikir hingga akhirnya aku menemukan jawaban.


'Oh iya lupa, Kyeri kan habis di skors selama 3 hari karena kejadian di kantin. Mungkin aja dia jadi anak famous sekarang gara-gara kejadian itu.'


Grek ...


Kyeri membukakan pintu kelas untukku dan untuk yang lain, karena hari ini aku dan Kyeri datang terlalu pagi ternyata.


"Udah gak usah di pikirin Nadta."


"Apa? Aku mikirin apa sih?" Tanya ku berpura-pura polos.


"Kamu mikirin kenapa anak-anak tadi ngeliatin kita kan?"


"Ih geer, mana ada! Orang aku mikirin tugas rumah biologi itu, aku gak tau apa dan kamu juga gak tau," jelasku.


"Yakin?"


"Iya yakin Kyeri."


"Tau gak sih Nadt?"


"Enggak," aku langsung menjawab sembari menaruh tasku di kursi.


"Makanya aku kasih tau ini."


"Apa?"


"Renal, Teo, Tiyas manggil aku sekarang pake Kyeri tau. Jadi panggilan Kyeri yang kamu buat malah gak jadi spesial lagi." Kyeri tiba-tiba berkata seperti itu dan langsung memasang wajah lesu.


"Hah? Ya biar ajalah Ke yang penting satu."


"Apa?" Tanya Kyeri kembali.


"Aku selalu manggil kamu pake nada gak kayak yang lain."

__ADS_1


"contohnya gimana?" Kyeri sedikit menggoda.


"Gini, Kyeriii main yuk!"


"Kamu mah gak pernah manggil aku kayak gitu. Ada geh aku selalu manggil kamu kayak gini, Nadta, Nadta main yuk!"


"Hahahahaha," canda tawa terukir kembali di pagi hari.


"Waduh, waduh, waduh .... Masih pagi udah tawa tawa. Ada gerangan apa nih dua sejoli ini?" Sahut Renaldi dari depan pintu diiringi langkah Tiyas yang sedang memasang dasi.


Bugh!


"Ren kalo berhenti jangan depan pintu dong ngalangin orang masuk tau gak?!"


"Enggak."


"Awas ah! Aku mau mas-" ucap Tiyas terpotong kala melihat aku sudah duduk di bangku milikku lagi.


Kyeri dan Renaldi sudah siap menutup telinga begitu juga denganku karena sebentar lagi Tiyas akan mengeluarkan suara merdunya itu.


"AAAAAAA NADTAAAAAAA," sambutan oktaf ke 6 dari Tiyas.


Tiyas berlari menemuiku, mendorong Kyeri jauh dari bangku, lalu Tiyas memeluk tubuhku.


"Aaaaaaa Nadtaaaaa apa kabar? Gimana lukanya aman? Udah kering? Atau masih luka parah?" Pertanyaan yang berulang di ucapkan oleh Tiyas.


"Udah, udah aku udah sembuh kok." Aku menjawabnya sembari tersenyum.


Renaldi menaruh tasnya dan duduk di ujung meja berhadapan dengan Kyeri. Saat Tiyas sedang heboh bertanya, tiba-tiba ketua kelas masuk sembari menyahut.


"Yas toak lo tuh sampe lantai dasar tau, masih pagi loh ini."


"Justru nih ya, ketua kelas. Masih pagi ituharus membuat semangat dan membuat senyum untuk orang-orang," Tiyas hari ini begitu exaited.


"Iya deh, iya. Basing lo." Ketua kelas tak mau berdebat.


"Oh iya, ini surat dari Geo dia izin ada keperluan keluarga."


"Geo siapa?" Tanya Kyeri.


"Teo," ucapku.


"Lo tau Nadt?" Tanya Tiyas.


"Taulah, nama aslinya Teo yang sekarang itu Abraham Geofani." Aku menjelaskan sembari mengambil surat di meja ketua kelas.


"Oh, bukannya dulu nama Teo itu Abraham Fiteo?" Tanya Kyeri lagi.


"Emang kamu gak tau tah ke? Waktu SMP kan Teo ngejelasin kalau nama dia di ubah karena suatu hal."


"Enggak, kapan?" Tanya Kyeri bernada cemburu.


"Makanya Matteo, jangan cuma Nadta aja yang lo perhatiin. Info kecil kek gini aja lo jadi gak tau kan!"


"Iya sih, tapi kapan?"

__ADS_1


"Udahlah Ke, mending kita liat tugas rumah biologi sama Tiyas dari pada mikirin hal kayak gitu."


"Oh iya PR biologi gua belum juga Yas," sahut Renaldi.


Aku, Kyeri dan Renaldi pun akhirnya mengerjakan tugas biologi bersama pagi itu. Mengerjakan di satu meja agar kami bisa menyelesaikan tugas rumah ini tepat waktu.


Semua siswa-siswi pun masuk ke kelas dan pelajaran pun dimulai. Akhirnya Tiyas tidak merasa sendiri lagi dan akhirnya aku (Nadta) kembali ke sekolah ini.


...~•< Di tempat Teo berada>•~...


Teo benar-benar melakukan aksinya demi teman-temannya dan juga nama baik sekolah Citra Bangsa.


Teo mengintai kepsek di setiap tempat yang ia kunjungi dan mengambil momen-momen saat kepsek tersebut menerima sebuah benda berwarna cream.


"Baru hari pertama gak masuk sekolah aja saya udah dapet 3 gambar bukti kuat."


"Gimana kalau libur 5 hari coba?" gumam Teo memandangi kameranya.


Teo juga mendengar sebuah percakapan antara kepsek dan walikota membahas seputar anaknya yang bersekolah di SMA Citra Bangsa.


"Kemarin ada yang menemui saya dan ia memberi tahukan saya kalau anak saya bernama Ical menggunakan tatto di tubuhnya dan ia juga sering melakukan kejahilan di sekolah."


"Tolong maklumi ya pak, namanya juga masih anak-anak," lanjut pak walikota sembari mengepalkan benda berwarna cokelat cukup tebal.


'Oh, jadi ke curigaan Viko benar adanya.'


'Pantes sekolah kita ini gak pernah ganti kepsek, karena ada permainan di balik permainan.'


'Gua bakal mengungkapkan apa yang terjadi di sekolah kita ini dan gua bakal bantu Viko untuk ngumpulin semua bukti ini.'


Deg!


Tiba-tiba saja Teo berfikir kalau kepsek ini pasti saja memakan uang beasiswa para murid berprestasi.


Karena ia mulai curiga dengan data penerimaan beasiswa sana yang di dapat oleh siswa.


'Aneh, ini harus di selidiki lagi.'


Teo pun meninggalkan daerah itu dan pergi kembali ke tempatnya berada. Berjalan pelan sembari memperhatikan langkahnya.


Saat hendak turun ke tangga terakhir, tiba-tiba Teo menabrak seseorang hingga tersungkur di tanah.


Teo langsung meraih tangannya sembari tersenyum, lalu Teo meminta maaf kejadian barusan.


"Kak maaf ya, maaf banget saya gak liat ke depan."


"Iya, gak apa-apa kok. Lain kali hati-hati ya."


"Siap kak."


Baru saja langkah kaki Teo melanjutkan jalan kembali, seseorang yang ia tabrak tadi menanyakan satu hal.


Deg!


Teo terdiam dan ia berfikir kalau dirinya sudah tamat karena ketahuan menguntit kepsek Citra Bangsa hingga ketempat seperti ini.

__ADS_1


"Lo dari SMA Citra Bangsa kan?"


Deg!


__ADS_2