Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Zeta Ophiuchi •


__ADS_3

"Kita lihat siapa-siapa yang bakal masuk ke perengkap ini," gumam Teo sembari mandi.


"Pemburu tau mangsa yang harus ia tangkap, jadi tunggulah permainan ini!" Lanjut gumaman Teo di kamar mandi.


...~▪︎~...


Keesokan harinya.


Tepat pukul 07.00 WIB, Teo datang ke sekolah. Memberikan sedikit informasi ke Viko lalu ke dalam kelas secepatnya.


Saat berada di dalam kelas, kelas masih sangat sepi hanya ada beberapa siswi yang sudah datang.


Teo menaruh tasnya di tempat ia duduk sembari menatap empat meja kosong di sebelahnya.


"Huh ... bakal sepi gak ada mereka," gumam Teo.


Bangku Nadta kosong, bangku Kyeri pun begitu, bangku Renaldi pun sama kosong. Tinggal tunggu saja Tiyas datang atau tidak.


15 menit kemudian, Tiyas datang dengan wajah lesu karena penyemangat dan sahabatnya tidak ada disini.


"Tumben kamu dateng cepet Teo," ucap Tiyas menaruh tasnya di meja yang ia tempati.


"Iya tadi bareng sama tetangga jadi pagi deh." Teo memberikan alasan masuk akal.


"Renaldi, Kyeri, Nadta, pada gak masuk. Kompak banget ya!" Ucap Tiyas kesal, sedih bercampur aduk.


"Ya gitu lah, 2 jagoan yang satunya karena kecelakaan," ucap Teo.


"Iya bener itu."


"Jadi anak IPS itu kena skorsing juga gak?" Tanya Tiyas berbisik.


"Kena tapi yang awal mulai keributan di kantin sama Kyeri."


"Oh, kok bisa yang lain gak kena skorsing?" Tanya Tiyas heran.


"Karena ada dari mereka anak pemilik sekolah ini, terus juga anak dari pelopor sekolah ini dan juga ada anak dari wakil Bupati." Teo menjelaskan.


"Hah? Anak wakil Bupati? Gak jadi panutan banget sih!" Tiyas kesal.


"Makanya itu, untungnya Kyeri sama Renaldi cuma dapet skorsing 3 hari. Jadi nilai tetep aman," ucap Teo.


"Iya bener, oh iya! Hari ini ada razia ya?" Tanya Tiyas.


"Iya tah?" Tanya Teo pura-pura tidak tahu.


"Iya! Kalau gak salah, aku tadi denger dari anak-anak di bawah lagi pada sibuk nyumputin apalah gitu."


"Oh, wah gua nyumputin apa ya?" Tanya Teo pura-pura panik.


"Udah gak usah panik, aku tau kamu gak bawa yang aneh-aneh. Aku aja gak bawa aneh-aneh jadi santai." Tiyas bersikap tenang.


...~•< Rumah Kyeri >•~...


Kyeri sudah bersiap akan bertemu dengan Renaldi di lapangan bawah, entah apa yang mereka berdua rencanakan.


Tetapi yang pasti Kyeri pergi setelah membeli sarapan pagi.


Di tempat Renaldi menunggu.


"Haih ... lama banget Kyeri ini," ucap Renaldi menutup jam tangannya.


"Jam 8 gak nongol gua tinggal, bener aja!" Renaldi mulai kesal.

__ADS_1


Tin ... tin ... tin ...


"Akhirnya dateng juga."


"Sorry gua telat, gua tadi beli makan dulu." Kyer menjelaskan alasan terlambat datang.


"Iya-iya, gak apa-apa. Yaudah ayok berangkat sekarang."


Mereka berdua pun berangkat langsung ke tempat yang mereka tuju, mencari sesuatu entah apa untuk melindungi Nadta dan juga Tiyas.


"Yang mana Ke?" Tanya Renaldi memantau daerah yang mereka datangi.


"Itu," tunjuk Kyeri ke salah satu orang yang sedang menerima telfon di luar.


"Yakin lo?" Tanya Renaldi lagi.


"Iya, ayok kita samperin."


"Iya oke."


Mereka berdua jalan bersama menemui orang tersebut. Baru saja melangkahkan kaki beberapa meter dari tempat mereka berpijak tadi.


Kyeri dan Renaldi di tahan oleh beberapa orang bertubuh kekar, mungkin saja ini pengawal orang tersebut.


"Mau apa?" Tanya orang bertubuh kekar itu.


"Saya Bram, dan ini Ival. Kami hanya ingin bertemu dengan bapak itu apa boleh?" tanya Kyeri memakai nama belakang.


"Apa sudah ada janji?" Tatap curiga orang itu.


"Belum, tapi ada yang ingin kami bahas dan penting."


"Tidak ada janji, tidak boleh bertemu!"


"Ini penting!" Ucap Kyeri menekan.


Glek ...


Renaldi menelan salivanya dengan susah payah, tubuhnya berkeringat dan kakinya sedikit bergetar.


"Ya ampun, saya ini mau ketemu dengan bapak itu untuk memberi tahu seputar kak Ical." Kyeri langsung membuka topik ucapan yang ingin ia bicarakan.


"Ical? Apa kamu kenal dengannya?" Sahut bapak yang diincar Kyeri.


"Iya, kami kenal akrab sekali."


"Baiklah, ayok masuk. Aku ingin tau perkembangan Ical sekarang."


'Hehehe, satu masuk perangkap," ujar Kyeri sembari menyeringai.


Mereka mengikuti langkah bapak itu hingga masuk ke dalam ruangan mewah, besar dan megah.


"Duduklah anak muda," ucap bapak tersebut.


"Apa yang ingin kau siapkan tentang Ical?" Tanya bapak itu.


Kyeri pun menjelaskan apa yang ingin sampaikan begitupun dengan Renaldi membantu Kyeri berbicara.


Setelah mendengar semua ucapan Kyeri dan Renaldi, bapak itu terkejut bahkan tidak menyangka dengan kelakuan Ical di sekolah.


Deg!


"Anak itu, sungguh memalukan! Aku akan mengadap ke sekolah besok." Bapak itu menyerengitkan dahinya bertanda kecewa.

__ADS_1


"Tapi aku punya permintaan lain." Kyeri meminta penawaran.


"Apa itu?"


"Tidak susah dan tidak banyak. Aku hanya ingin bapak merahasiakan siapa yang telah memberi tahukan info ini, agar wanitaku dan wanitanya (Renaldi-Tiyas) Aman."


"Baiklah, aku akan merahasiakan semuanya."


"Baiklah terimakasih, aku harus pergi segera."


Kyeri dan Renaldi pun pergi dari tempat ini, berjalan menuju kendaraan mereka dan pergi lagi ke target selanjutnya.


...~•< Di sekolah >•~...


Tepat jam 11.00


Setelah istirahat, semua siswa-siswi masuk ke kelas masing-masing, mengikuti pelajaran seperti biasa dan akhirnya ....


Brak!


Deg ... deg ... deg ...


"Permisi bu, kami izin razia ya!" Ucap guru BK serta pengawalnya.


"Oh razia ya, baik bu silahkan."


"Wah, kok mendadak? Haih sial!" Ucap panik para siswa-siswi.


"Apa aja yang di razia bu?" Tanya ibu guru ke guru BK.


"Tenang cuma kaos kaki, lipstik, rambut, baju dan juga kulit," jelas ibu BK.


"Kulit? Maksudnya?" Tanya siswa-siswi kebingungan.


Seperti biasa guru melakukan razia satu persatu tas anak murid, menemukan banyak sekali make up di tiap-tiap tas.


Serta menemukan benda-benda aneh yang mencurigakan di tas laki-laki.


Setelah semua di periksa dan guru BK merasa puas, inilah akhirnya razia terakhir di mulai.


"Terus razia kulit ini maksudnya apa bu?" Tanya Ketua Kelas.


"Untuk semua siswa buka bajunya!"


"Hah? Maksudnya gimana?" Tanya seluruh siswa.


Deg!


'Jangan-jangan razia kulit itu maksudnya ...' batin seorang siswa.


Ctak!


Ctak!


"Catet namanya bu!" perintah guru yang bertugas di bantu guru BK.


Deg ... deg ... deg ...


'Sial! Sial! Sial!' Batin anak-anak yang berada di lapangan sekolah.


Berjemur tanpa mengenakan baju di terik sinar panas matahari.


'Hehehe gimana? Permainan di dalam permainan? Keren kan?' Batin Teo menyeringai puas.

__ADS_1


'Kerja bagus Teo,' batin Viko menunduk kepanasan.


Bersambung...


__ADS_2