
Teo pun kembali ke mejanya, mengambil cangkir yang berada di loker lalu menuju dispenser kelas.
Mengambil minuman dingin untuk menurunkan suhu di badannya dan juga membuat hati lega sekaligus tenang.
"Bisa-bisanya orang itu bawa cangkir sendiri," gumam Tiyas tidak menyangka.
Tok ... tok ... tok ...
"Iya kak, ada apa?" Tanya ketua kelas.
"Permisi mau manggil Abraham Geofani," ucap siswa yang berada di depan pintu.
"Iya saya kak," ucap Teo.
"Nanti setelah istirahat kamu ke ruang osis sebentar ya, Viko nyariin kamu."
"Oke kak siap, makasih informasinya."
Siswa tersebut pun pergi kembali ke kelasnya dan saat mendengar nama Viko, semua murid terkagun dengan Teo.
"Yo, kok bisa lo di panggil ke osis?" Tanya teman sekelasnya.
"Gak tau gua, ada yang mau di omongin kali. "
"Nama lo Geofani? Kok di panggil Teo?" Tanya teman lainnya.
"Hehehe ceritanya panjang itu mah," ucap Teo lalu kembali ke bangkunya.
Flasback on.
POV Teo.
Saat SD Nama Teo aslinya adalah Rateo Abraham namun karena tingkahnya dulu sangat nakal dan membuatnya harus pindah sekolah, Akhirnya orang tua Teo mengganti namanya menjadi Abraham Geofani.
Berharap anaknya akan menjadi anak yang jenius, pintar dan memiliki sikap yang lemah lembut di kondisi apapun.
Tetapi karena Nadta dan Kyeri sering memanggilnya Teo, akhirnya teman-teman terdekat hanya mengetahui nama panggilan saat SD saja.
Karena nama itu sudah melekat di dalam benak kawan lama Teo dan Teo juga tidak mempermasalahkan kalau nama itu terpakai kembali.
Flasback off.
"Namanya sih keren gak salah-salah tapi malesnya kadang sebelas dua belas sama Renaldi sama Kyeri. " Tiyas menyahut.
"Ih mana ada."
"Mana ada, ngaca nih. Lo tuh kadang males banget sama kek mereka."
"Iya deh iya, dari pada gua di musuhin nanti." Teo mengalah.
Teo berfikir mengapa Viko memanggilnya, apa mungkin ini ada hubungannya dengan masalah kasus Nadta atau mungkin ada hal lain.
'Baru aja semester awal, udah ada aja masalah di sekolah ini yang kebongkar. Mulai dari perudungan, anak-anak pejabat yang mengalami pergaulan bebas dan masih banyak lainnya.'
__ADS_1
'Untung aja gak sampe kena ekspose media loh. Coba kalo kena, bisa hancur reputasi sekolah ini.'
'Tapi gua harap Kyeri bisa ngelindungi Nadta sampe di kelulusan sekolah nanti. Agar dia tidak kena masalah bertubi-tubi.'
"Lo mikirin apa sih Teo?" Ucap Tiyas menarik baju Teo.
"Hah? Kenapa-kenapa?"
"Ih lo ini! Percuma qku dari ngomong lo gak denger!"
"Iya maaf, gua lagi nahan boker soalnya.:
"Ih jorok banget! Sana ke toilet! Nanti malah bau sekelas lagi Ih, jorok Teo." Tiyas langsung menghindari Teo.
"Hehehe yaudah gua ke toilet dulu ya." Teo berlari menuju toilet.
Sembari menahan bok*ngnya dengan tangan kiri, Teo berlari dari lantai 3 menuju lantai dasar.
Melewati ruang osis, Teo mengabaikan Viko yang memanggilnya dari tadi dan lebih memilih ke toilet segera.
Sesampainya di toilet, tanpa basa-basi lagi Teo langsung membuang semua yang sudah ia tahan dari tadi.
...~▪︎~...
Cukup lama Teo di toilet dan setelah selesai, Teo keluar dengan wajah lega sembari tersenyum dan mengelus perutnya.
"Lega!"
Tap ... tap ... tap ....
Teo mengendap-endap sembari melihat apa yang sedang di lakukan para siswa itu disana.
Teo melihat sekumpulan siswa sedang asyik menghirup sebuah narkoba entah jenis apa.
Yang pasti teo melihat botol dan alat hisapnya serta rokok di tiap tangan siswa itu. Mereka tertawa lepas tanpa ada beban sedikitpun.
Deg!
'Kasus baru lagi ya?! Gua harus balik biar gak ketahuan.'
Teo pun langsung keluar dari ruang itu dan menuju ke ruang osis segera. Menemui Viko untuk bertanya mengapa ia memanggil tadi.
"Lo ini gua panggilan dari tadi. Malah lari!"
"Ya maap, gua kebelet boker tadi."
"Disiram gak? Cebok gak?" Tanya Viko langsung.
"Gila siramlah, nih udah cebok juga gua!"
"Ada apa?" Tanya Teo lagi.
"Masuk sini, gua mau ngobrol sama lo dulu."
__ADS_1
"Apa?"
Viko pun menjelaskan apa yang sedang terjadi belakangan ini di dekat ruang toilet itu. Viko curiga ada siswa yang sedang memakai ruang tersebut.
"Lah emang kenapa kalo di pake? Bukannya bagus ya kalo ruangan di pake? Kan kalo gak di pake malah jadi sarang hantu ya gak sih?"
"Iya, tapi masalahnya ruangan itu di pake untuk pergaulan bebas." Viko mulai curiga.
"Hah? Maksudnya? Pikiran gua kemana-mana ini."
"Gua juga masih curiga aja kalau ruangan itu entah di pakai untuk apa tapi yang pasti gua curiga." Viko menekankan kalau dia curiga.
"Jadi? Lo maunya gimana?"
"Abis pulang sekolah nanti tepatnya jam 5 sore kita geledah ruang itu."
"Gua mau pasang kamera mini di salah satu sudut ruangan untuk memantau gerak gerak mereka."
"Kalau misalnya udah ke bongkar? Apa ini gak jadi masalah? Kepala sekolah bisa kena, bahkan yang lebih parah reputasi sekolah kita bakal kena." Teo mengingatkan Viko agar tidak salah mengambil langkah.
"Gua tau resikonya tinggi, tapi apa lo bakal diem aja kalau suatu saat nanti ada orang yang bongkar aib sekolah kita dan tiba-tiba sekah kita di tutup cuma gara-gara fasilitas sekolah ini sebenarnya tidak memadai?"
"Ya gak mau juga gua, gua belum lulus soalnya."
"Nah makanya itu, gua mau lo bantuin kita semua untuk mata-matain kepala sekolah."
Deg!
"Lo gila Ko! Yang bener aja! Kita lagi bahas gudang deket toilet eh tiba-tiba gua punya tugas baru mata-matain kepsek. Gak, gak gua nolak."
"Teo, ini kesempatan bagus. Lo gak terlalu di kenal sama guru dan sama kepsek. Lo bisa jadi Ophiucus yang ngebantu gua," ucap Viko.
"Gua gak mungkin minta Kyeri atau pun Renaldi untuk bantu, karena apa? Mereka udah terkenal di kalangan Guru dan .... kepsek pun tau mereka berdua."
"Gak mungkin gua minta bantuan Nadta atau gak Tiyas, mereka siswi penerima beasiswa. Gua gak mau sampe beasiswa mereka di cabut."
Viko menjelaskan apa maksd dan tujuan Viko tidak mempekerjakan Renaldi, Kyeri, Nadta dan Tiyas.
Hal ini membuat Teo berfikir dua kali, 'Ada benernya juga ucapan si Viko ini.'
"Jadi gimana? Lo mau bantu gua kan?"
"Ophiucus tuh apa? Gua bakal terima, tapi dengan beberapa syarat!"
"Ophiucus dalam rasi bintang adalah tangan naga, artinya lo adalah tangan bagi wadah disini."
"Lalu apa itu syaratnya?" Tanya Viko kembali.
Teo pun menyebutkan satu persatu keinginannya. Viko menerima karena syarat yang di ajukan Teo tidak berat sama sekali.
Mereka berdua pun akhirnya resmi mendapatkan tugas baru yang akan di bongkar selama beberapa bulan kedepan.
'Demi sekolah dan demi teman-teman gua!' Batin Teo.
__ADS_1
Bersambung....