
...~▪︎~...
Nyatanya Kyeri tak kunjung kembali setelah hari itu. Kyeri dan sekeluarga nya pergi sampai kami lulus dari SMA Citra Bangsa.
Nadta selalu mengirimkan surat dan ia taruh di kotak pos depan rumah Kyeri. Surat berbentuk pesawat kertas yang selalu ia selipkan di jendela kamar Kyeri.
Bahkan setiap hari setelah ibunya pergi, Nadta pasti selalu memasukan surat berbentuk pesawat kertas itu ke kotak pos depan rumah Kyeri.
Nadta yang dulu ceria kini hanya berdiri, diam, pandangan lurus, tak menyapa, bahkan tidak tersenyum. Sampai hari dimana Nadta masuk ke perguruan tinggi, dirinya menemukan dia kembali.
Namun ...
"Kyeri!" Panggil Nadta dari jauh.
Tap ....
Langkah seseorang itu berhenti dan Nadta yakin kalau dia memang Kyeri seperti dugaannya.
"Kyeri?" Panggil Nadta lagi sembari mendekat.
"Maaf saya bukan Kyeri. Tetapi mungkin orang yang kau cari ada disini," ucap pria ini.
Memang bukan Kyeri ternyata tetapi orang ini memberikan secarik kertas berwarna pink untuk Nadta.
Secepat mungkin Nadta membuka surat itu dan bertulis "Jln. Linggar no 10 blok F no 108, Rumah berwarna cream gerbang cokelat."
"Tapi kenapa ada dua alamat? dan mengapa alamat kedua ini rumah sakit?" Ucap Nadta sembari mengamati isi surat.
"Rs. Dyagun, gedung A lantai 5 ruang Vvip no. 4."
"Apa Kyeri sakit?" Ucap Nadta sembari menerka-nerka.
"Gak, gak! Kalau aku hanya diam, aku tidak akan tau apa maksud dari alamat ini!" gumam Nadta.
"Aku harus mencari Teo segera untuk membantu aku menuju ke alamat ini."
Nadta pun mulai menelefon Teo karena mereka satu kampus yang sama hanya beda gedung dan jurusan saja.
Setelah menunggu Teo hampir 20 menit, Teo pun datang dengan motor scope cyan kesayangannya.
"Ada apa Nadt?" Tanya Teo.
"Bisa minta tolong kan?" Tanya Nadta yang terlihat begitu gelisah.
"Iya bisa! Kapan pun kamu minta pertolongan aku bisa," ucap Teo meyakinkan Nadta.
"Tolong anterin aku ke alamat ini ya, please!" Nadta memohon.
"Alamat yang mana?" Tanya Teo lagi karena ia bingung lebih memilih alamat Rumah Sakit dulu atau alamat Rumah.
"Hmm ... ke ... ke Rs aja!" ucap Nadta langsung.
__ADS_1
"Iya, oke."
Teo dan Nadta pun berangkat menggunakan motor Teo menuju alamat Rumah Sakit itu. Sepanjang perjalanan Teo mengumpat dalam hatinya.
'Sial! Mengapa aku tidak memberi tahunya sejak awal saja?!'
'Dua minggu lalu aku bertemu dengan Kyeri dan tubuhnya sangat kurus sekali. Matanya satu, wajahnya pucat dan nampak sekali aura tak segar dalam dirinya.'
'Tapi kenapa aku tidak bisa bilang akan hal itu? Nadta maafkan aku,' ucap Teo dalam hatinya.
Dreet ... dreet ... dreet ....
"Langsung ke Resepsionis rumah sakit Nadt!" Perintah Teo.
"Iya-iya." Nadta langsung berlari ke arah Resepsionis dan menunjukan alamat rumah serta nomor kamar di Rumah Sakit ini.
"Maaf sus, kalau boleh tau gedung A dimana ya?" Tanya Nadta langsung.
"Di sebelah sana mba, dekat parkiran mobil." Suster Rumah Sakit menunjukan arah gedung.
"Kalau boleh tau atas nama siapa kak?" Tanya Suster itu lagi.
"Matteo Kyeri Bram. Ada gak kak nama itu?" Nadta langsung menebak nama Kyeri.
"Sebentar ya kak saya carikan dulu."
5 menit kemudian.
"Oh ada kak, di gedung A lantai 5 ruang nomor 4." Suster memberitahukan hasil pencarian data Rumah Sakit.
"Oh iya sus, kalau boleh tau pasien sakit apa ya?" Tanya Nadta ke Suster Rumah Sakit.
" ... "
Bruk!
Tiba-tiba tubuh Nadta terjatuh ke lantai, tatapan matanya kosong dan jantungnya pun berdegup dengan kencang.
"Nadt! Kenapa?" Tanya Teo.
Teo dengan sigap langsung memapah Nadta ke kursi tunggu dan menyadarkan Nadta dari lamunannya.
"Baru aja kemarin aku baca tentang hal ini, kenapa ini terjadi di Kyeri. Sejak kapan? Sejak kapan Kyeri mengalami penyakit ini?" Tanya Nadta dengan mata berkaca-kaca.
Teo pun langsung memeluk Nadta dengan pelukan hangat dan air mata yang terbendung itu pun tak sanggup Nadta tahan lagi.
Derai air mata pun mulai mengalir di hadapan Teo, di pelukan Teo. Untuk pertama kalinya Nadta menangis di depan seorang laki-laki.
"Udah Nadt, cup cup cup. Ayok kita ke ruangan Kyeri, kita liat dia bener-bener sakit apa enggak," ucap Teo.
"Dia sakit parah Teo!" ucap Nadta penuh dengan air mata.
__ADS_1
10 menit kemudian, Nadta pun mulai berhenti menangis dan mereka berdua akan menuju ke ruang yang ada di dalam surat ini.
"Terimakasih sus," ucap Teo.
Teo dan Nadta pun langsung menuju gedung A bersama. Teo merangkul Nadta dengan penuh rasa khawatir.
Teo memiliki kekhawatiran yang tinggi akan dirinya. Bagaimana tidak, Teo tau kalau Kyeri sedang sakit parah tetapi Teo tidak pernah bilang ke Nadta.
Teo tidak pernah memberitahukan Nadta atau pun yang lain kalau sebenarnya Kyeri pergi dari sekolah karena penyakitnya mulai parah.
Teo juga khawatir akan Nadta akan menjauhinya karena dirinya masih terikat dengan janji yang di tawarkan oleh Teo.
Saat perjalanan masuk ke dalam gedung A, tiba-tiba saja awan menjadi gelap bahkan sangat gelap dari biasanya.
Entah pertanda apa tetapi yang pasti awan sangat gelap seperti ingin hujan berkumpul di gedung-gedung rumah sakit.
"Naik lift atau tangga?" Tanya Teo.
"Yang bener aja kita ke lantai 5 naik tangga, hiks," jawab Nadta sembari menghapus air yang terus keluar dari hidungnya.
"Hehehe iya juga ya, yaudah ayok kita naik lift."
'Kepalaku berat sekali. Rasanya aku tak sanggup untuk berjalan ke arah ruang itu. Ruang dimana Kyeri berada.'
Nadta menyandarkan kepalanya di bahu Teo dan Teo pun masih tetap merangkul Nadta bak orang yang sedang sakit.
...~▪︎~...
Di waktu yang bersamaan, di kampus terkenal.
"Aku sudah memberikan surat itu dan sepertinya perempuan itu sudah pergi bersama lelaki menggunakan motor scope berwarna cyan," jelas seseorang dari balik telfon.
"Iya, terimakasih bantuanmu."
"Aku akan menunggu dia datang."
"Mengapa kau tidak memberitahunya sejak awal?" Tanya seseorang dari balik telfon itu.
"Aku tidak mau dia kecewa dan khawatir kepada ku secara berlebihan."
"Tetapi kau malah membuatnya semakin khawatir bodoh!" umpat seseorang itu.
"Ya, ya tau. Tapi ... sudahlah terimakasih atas bantuanmu."
"Ya sama-sama, cepatlah sembuh! Agar kau bisa lulus SMA," Ejek seseorang dari telfon.
"Ya, ya, ya aku tau."
Tut ... tut ... tut ...
Telfon pun mati dan seseorang yang sedang duduk di ranjang hanya bisa menatap arah luar jendela sembari membantin.
__ADS_1
'Aku tunggu kedatangan mu, wahai wanitaku.'
Bersambung ....