
Grek ...
"Silahkan masuk den," ucap bibi membukakan pintu.
"Terimakasih bi."
Nadta dan Teo secara bersamaan masuk perlahan-lahan ke dalam mansion yang sangat megah ini.
Saat langakh kaki mereka baru terhitung dua langkah, terlihat wajah tak asing di depan dekat meja bar.
Seseorang wanita paruh baya sedang menunggu sekaligus nyambut merekaberduq dengan senyum hangat yang sangat indah.
"Akhirnya kalian datang," ucap mamah Kyeri dengan wajah berseri-seri menyambut kedatangan Nadta dan Teo.
"Wah, kami langsung di sambut oleh mamah Ony. Apa kabar mah?" Tanya Nadta sembari bersalaman dengannya.
"Kabar baik sayang."
"Ini siapa?" Lanjut pertanyaan mamah Ony saat melihat Teo bersalaman dengannya.
"Saya Abraham Geofani tante, biasa di panggil Teo kalau sama Nadta, sama Kyeri," jelas Teo.
"Owalah, ini yang namanya Teo. Yasudah ayok ikut ke atas nanti makan siangnya tante bawakan ke atas."
"Eh? Gak usah tante, kami sudah makan tadi. Gak perlu repot-repot kok," Tolak Nadta dengan nada begitu halus.
"Yasudah kalau gitu, ayok ikut tante ke atas."
Mereka pun mulai berjalan melalui tangga spiral hingga sampai di tujuan mereka balroom lantai 2.
Terlihat jelas kemewahan rumah ini di mulai dari lantainya yang sangat bersih dan warna keramik yang elegan, dindingnya berkilau, atapnya serta lampu yang menjuntai dengan anggun.
Bahkan pintu kamar saja seperti pintu istana karena begitu besar dan mewah. Nadta pun sampai berfikir, 'Sekaya itu kah keluarga Kyeri?'
Hingga akhirnya mereka berhenti di depan pintu sangat besar ini. Nuansa kerajaan sangat terasa bahkan Nadta sedikit bergidik merinding melihat kemewahan rumah sahabatnya.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu kamar pun di ketuk oleh mama Ony dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Greek ...
'Gila, suara pintunya ke buka aja elegan banget apalagi suara pintu toiletnya pasti kek sereosa,' batin Nadta saat mendengar eratan suara pintu.
Berselang pintu terbuka, seseorang keluar dari kamar itu dan Nadta mengira itu Kyeri tetapi sayang pikirannya salah.
Seseorang yang keluar dari bilik itu adalah bibi yang merawat Kyeri saat sedang sakit. Bibi baru saja mengantarkan obat untuk Kyeri.
__ADS_1
"Kirain si Kyeri jadi cebol," bisik Teo ke Nadta.
Nadta hanya bisa menyikut perut Teo agar ucapannya sedikit di pelankan karena takut terdengar oleh mamah Ony.
"Silahkan masuk bu, obat den Kyeri sudah saya bawakan terapi den Kyeri belum mau meminumnya," ucap bibi.
"Iya bi terimakasih, ndak apa-apa kalau belum di minum kan ada teman-temannya ini." Mamah Ony menjawab dengan sangat lembut.
'Tutur kata mamah Ony kayak ibu ratu yang ada di dalam komik ya,' batin Nadta saat memperhatikan mamah Ony dan bibi bercakap.
'Bahkan mamah Ony yang terlihat biasa bisa seperti ibu ratu saat di rumah mewah ini. Apalagi dengan Kyeri yang jelas-jelas sangat tampan semasa SMA, pasti saat ini dia seperti CEO yang ada di serial drama korea.' Nadta membantin lagi sembari menundukan kepalanya.
Kakinya bermain ke kanan dan ke kiri sembari diikuti senyum pahit akan pikirannya sendiri.
Tap ...
Tangan Teo tiba-tiba saja berada di kepala Nadta, entah Teo paham akan perasaan Nadta, tetapi Teo hanya melemparkan senyum saat Nadta hendak menengok ke arahnya.
"Hmm?"
"Masuklah kalian berdua nanti tante bawakan makanan ke kamar," ucap mamah Ony.
Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam kamar yang megah ini dan benar saja dugaan Nadta tadi terlihat jelas disana.
Seorang pria yang cukup tinggi dengan posisi badan tegak menghadap ke jendela kamar, tangan masuk kedalam saku serta tatapan tajam melirik ke arah luar jendela.
Pria itu pun langsung menengok dan melemparkan senyum manis ke arah mereka berdua.
Senyum bahagia pun nampak jelas terlihat di wajah kedua pasangan ini. Nadta yang terlihat malu-malu karena lama tak bertemu, Kyeri yang begitu bahagia sampai wajahnya memerah.
Teo mendorong maju tubuh Nadta ke dekat Kyeri sembari berkata, "Nih paketnya gua bawain." Lalu Teo pun duduk di sofa sembari menghidupkan TV.
"Ngobrol lah kalian, gua mau nonton motor gp." Teo langsung mengambil remot control dan mencari tayangan yang di inginkan.
"Hay?" Ucap Nadta kaku.
"Apakabar?" Tanya Kyeri.
"Jawab dulu kek, 'Halo' baru di tanya lagi, 'apakabar' gak berubah ternyata sifat kamu ini," umpat Nadta ke Kyeri.
"Lo jaga cwe ini baik-baik kan Teo?" Tanya Kyeri sembari memandangi wajah Nadta sangat dalam.
"Liat aja sendiri, ada bagian yang lecet gak? Ya pasti gak ada dong." Teo menjawab walaupun matanya tertuju ke TV LED yang menempel di dinding.
"Maaf ya Nadt, aku pergi tanpa kabar dan kembali diam-diam," ujar Kyeri sembari memandang indah wajah Nadta.
"Jahat."
__ADS_1
Hanya itu jawaban yang Nadta lontarkan sembari menunduk karena menahan tangis yang ia bendung selama berminggu-minggu.
"Iya aku tau aku jahat, maaf ya Nadt."
"Iya gua maafin Ke," ledek Teo.
Teo sebenarnya tidak benar-benar fokus menonton siaran televisi tetapi Teo tetap paksakan untuk fokus.
"Lo ini ganggu aja, gua baru mulai komunikasi lagi ini." Kyeri melempar bantal ke wajah Teo.
"Hahaha, kalian tuh kek anak baru pdkt tau gak, biasanya geh sat set sat set kalau ngomong, ini segala hay, apakabar, nanti udah makan? Udah mandi? Udah-udah."
"Hahaha lucu kek bocah," lanjut Teo sembari tertawa.
"Kan, sebenarnya bawa Teo ini ganggu banget cok!"
Mereka pun akhirnya berbincang-bincang mengenai semasa sekolah, cara Kyeri melanjutkan sekolah selama masa pengobatan, serta berbincang mengenai masalah kampus.
"Cie sekarang udah jadi anak kuliahan, gimana di kampus?" Tanya Kyeri sembari mengacak-acak rambut Nadta.
"Ya gitu."
"Gitu gimana?" Tanya Kyeri lagi.
"Dia ini gak pernah cerita masalah di fakultasnya, tiba-tiba di labrak senior di sangka pelakor, terus hampir di DO gara-gara selip pembayaran UKT ilang 2 semester, Tiba-tiba di telfon dapet juara 1 tingkat Internasional Word Day, tiba-tiba pingsan gara-gara haid, banyak pokoknya masalah cewe lo ini Ke," tutur Teo.
Nadta hanya diam tertunduk malu saat Teo menjabarkan segala masalah yang di alaminya mulai dari MABA hingga menginjak semester 3.
"Teo boong deng," Elak Nadta.
"Yakin?" Tanya Kyeri.
"Hehehehe." Nadta hanya melemparkan senyum malu-malu saat mendengar kata yakin.
Nadta pun mulai cerita segala hal yang dirinya alami saat menginjak kaki di dunia perkuliahan.
Flasback on.
Pas aku jadi MABA itu, aku, Teo, Tiyas, Renaldi itu beda fakultas dan semua aktivitas yang aku lakuin itu gak kepantau sama mereka.
Pas ospek, aku di dekatin sama kak Gerand karena aku pendiam katanya, terus masih dia deketin aku sampe akhirnya di semester 1 pas UAS, aku di tarik ke loteng gedung kampus.
Terus aku tampar kan sama senior itu, dia marah-marah sambil nunjuk-nunjuk gitu ngatain aku "Lon**, Univ chicken, dan gatel segala macem."
Terus aku bilang aja kan, "Maaf kak, saya juga punya pacar. Dia lagi sakit, sekarang lagi berobat. Cowo saya ganteng banget ngelebihin cowo kakak yang gak seberapa itu, untuk apa saya gatel kak kan cowo kakak sendiri yang gatel kemana-mana."
Nah dari situ ...
__ADS_1
Bersambung ....