
Mereka bercerita tentang apa yang di alami namun sayang Viko tidak bisa memberikan info yang terjadi pada dirinya.
Nadta pun sudah berusaha keras tetapi sayang dia tidak bisa menanyakan dan mendapatkan informasi yang dia mau.
...~▪︎~...
3 minggu berlalu.
Berita gempar tiba-tiba saja menyebar luas ke penjuru sekolah. Berita ini bukan menyangkut Viko melainkan Wulan.
Nadta pun baru sadar kalau Icha yang di maksud adalah Wulan dari kelas 12 Mipa 7 sekaligus demisioner sekretaris umum osis.
Wulan Dyahicha, ya! Itu adalah perempuan yang dihamili Viko. Tapi entah siapa yang menyebar berita itu, yang pasti satu sekolah sudah tau kalau Wulan di keluarkan secara terpaksa karena hamil.
Tetapi mereka masih bertanya-tanya siapa yang menghamili Wulan? Karena mereka tau Wulan merupakan wanita tegas dan susah sekali dekat dengan laki-laki.
"Beritanya udah nyebar Nadt," ucap Kyeri sembari berbisik.
"Iya bener, siapa yang nyebar beritanya?"
"Entahlah, untung Viko pindah sebelum Wulan dikeluarkan. "
"Iya benar."
...~▪︎~...
Walau hanya berita rumor yang menyebar di sekolah, tetapi Wulan sangat tertekan akan hal itu, bahkan tangis pun sering ia keluarkan.
Tapi untunglah ada Viko disampingnya yang selalu menguatkan dia, menyebarkan dia dan merawatnya.
...~▪︎~...
8 bulan kemudian.
Ujian kelulusan pun sudah di mulai dan dengan sekuat tenaga Viko mencoba lulus dengan nilai terbaik agar ia bisa mendaftar di universitas yang dia mau.
Tidak... tidak...
Setelah lulus ini Viko akan menikahi Wulan secara hukum karena mereka telah menikah secara agama sebulan setelah anak mereka lahir.
"Semangat sayang," ucap Wulan menyemangati Viko saat pergi untuk ujian terakhir.
"Iya sayang, doain aku lulus dengan nilai terbaik ya."
"Iya selalu."
Cup ... (Viko mengecup kening Wulan)
"Hati-hati di jalan sayang."
...~▪︎~...
Rahasia besar yang disimpan Viko kalo ini benar-benar disimpan erat bahkan dia rela tidak punya teman demi menjaga rahasia yang ia punya.
Demi menjaga hati sang istri dan sang buah hati, Viko rela menjadi introvet dan kutu buku selama di sekolah.
Bahkan saat ujian ini selesai pun tidak ada satu orang yang dekat dengan Viko bahkan berteman akrab saja tidak.
"Huh .... si kutu buku ini cepet bener siap-siap pulang," umpat temannya.
"Iya, mau kemana sih? Sok sibuk banget."
"Paling ujung-ujungnya di perpustakaan."
"Penjaga perpus sih dia kayaknya."
__ADS_1
"Hahaha."
Ledekan demi ledekan, cibiran demi cibiran di terima oleh Viko walaupun bukan cibiran yang menghina keluarga kecilnya.
Viko masih menerima semua cibiran itu karena dia beranggapan, "ini hari terakhir saya ada di tempat ini, jadi silahkan ejek saya sesuka hatimu dan setelah ini saya tidak pernah melihat kalian lagi."
...~▪︎~...
Setelah ujian kelulusan selesai, Viko mencari pekerjaan untuk membiayai sedikit demi sedikit keluarga kecilnya.
Membantu sang mamah menjaga toko kue hingga perlahan-lahan Viko membuka usaha cuci motor sendiri.
Semua hal itu dia lakukan dengan tekun dan ikhlas. Sang mamah hanya marah dan tidak kecewa dengan sang anak tetapi mamah selalu menasihati Viko dengan bijaksana.
...~▪︎~...
Hari pernikahan.
"Mah, ini bakal jadi cibiran orang-orang gak ya?"
"Biarin aja nak, mereka hanya bisa menilai tetapi kita bisa mengelak."
"Mau kita menutupi fakta serapat mungkin pun, semua akan tau seiring berjalannya waktu," lanjut mamah lagi.
"Iya Mah."
...~▪︎~...
Ya benar!
Seperti dugaan Viko, banyak orang yang mencibir pernikahan mereka tetapi untunglah Viko tidak mengundang banyak tamu dan hanya keluarga besar sampai teman dekat saja.
Tapi sudah bisa di pastikan berita dari mulut ke mulut akan sampai dan tersebar. Tapi sudahlah kita tidak bisa membuat semua orang senang dengan kita.
"Happy Wedding sepupu," ucap Nadta di atas puade.
"Iya, gua sama Viko sepupu dari ibu. Jadi wajar kemarin-kemarin gua deket sama Viko," jelas Nadta.
"Iya bener tuh, saya juga sepupunya kak Viko," sahut Zera.
"Kyeri mana?" Tanya Viko ke Nadta.
"Gak tau gua, dia lagi pergi ke luar kota sih katanya kemarin."
"Nyari cewe lain sih kayaknya ya kak, hahaha," ledek Zera.
"Ishh udah ayok! Yang antri banyak tuh." Nadta menarik tangan Zera untuk turun dari puade.
'Benar, apa mungkin Kyeri mencari perempuan lain? Atau mungkin Kyeri di jodohkan oleh orangtuanya?'
'Kyeri tiba-tiba pergi secara tergesa-gesa dan tidak mengabari aku lagi mau lewat surat ataupun telepon rumah.'
'Bahkan gerak gerik Kyeri aneh sekali setelah kenaikan kelas ini. Apa Kyeri juga sama dengan Viko?'
'Astaga Nadtaaaa! Kenapa kamu mikir yang aneh-aneh sih?'
Nadta berfikir keras akan ucapan dan kejadian yang dia alami selama ini. Kyeri tiba-tiba bertingkah aneh selama ujian berlangsung, dan selama liburan ini.
Nadta pun sering duduk sendiri di rumah pohon sembari membuat pesawat kertas yang berisi surat-surat.
'Tanah Lapang saja menjadi sepi tidak ada hadirnya Kyeri.'
"Woi! Bengong aja, kesambet ntar lu," ucap Zera menyadarkan Nadta dari lamunannya.
"Kenapa sih?" Tanya Zera lagi.
__ADS_1
"Disini rame kan?" Tanya Nadta menatap tamu undangan dan orang-orang yang ingin naik ke puade.
"Iya, terus?"
"Tapi sepi tau."
"Hah?"
"Lo gak ngerti Ze, disini rame tapi sepi."
"Yang sepi itu hati lu, yang rame itu disini. Lo harus bisa bangkit dulu ke dunia nyata hey!" ujar Zera paham akan situasi Nadta.
"Udah tenang, besok Kyeri pulang kok."
"Iya ya."
Nadta berharap besar untuk Kyeri datang lagi dan mengobrol bersama. Tapi 'apa ini? Perasaan apa ini?' umpat Nadta dalam hati.
"Apa ini rasanya suka?" gumam Nadta.
"Enggak-enggak. Kyeri udah kayak kakak aku sendiri dan aku sudah sebagai .... adiknya? Adiknya ya?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutnya sembari menunduk.
'Apa aku suka dengan Kyeri?'
'Kyeri?'
'Matteo Kyeri Bram?'
'Enggak! Gak boleh.'
"Huh ...." Hela nafas berat yang di keluarkan Nadta.
...~▪︎~...
Satu hari berlalu, Kyeri datang bersama keluarganya namun ada yang berbeda dari Kyeri kala turun dari mobil.
Wajahnya nampak pucat bahkan jalan pun sedikit terlihat tidak seimbang.
'Kyeri sakit?' Tanya Nadta dalam hatinya.
'Mukanya pucat banget.'
'Oh iya, buka jendela kamar!'
Nadta pun berlari ke arah jendela kamar dan membukanya selebar-lebar mungkin berharap mereka berdua berkomunikasi lagi.
Greek ...
"Mari kita tunggu."
1 Jam berlalu.
2 Jam berlalu.
3 Jam berlalu.
Pukul 16.00
"Huh... kok dia gak buka jendela?"
"Apa mungkin itu bukan Kyeri?"
"Jahat, kalo emang sakit bilang kek biar gak buat orang lain khawatir!"
Nadta mengomel sembari membereskan meja belajarnya. Saat ia ingin menutup jendela, tiba-tiba saja ada ....
__ADS_1
Bersambung ....