
Banyak mata melihat ke arah kami berdua, romantis seperti sepasang kekasih. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Nadta duluan ya," teriak seseorang melewati kami.
Aku hanya bisa tersenyum saja, karena aku sama sekali tidak mengenalinya. Rangkulan Kyeri pun seketita berpindah posisi sembari bertanya kepadaku.
"Lo kenal?" pertanyaan singkat seperti biasa.
"Ah elah Mat, Mat. Cewe lo kan cuma di tegur sama anak cewe lain, bukan di godaan bukan," ledek Koko.
"Iya nya lo ini Mat, posesif banget sih jadi cowo. Sampe pindah posisi segala jalannya," sahut Iqbal.
"Diem lo!" cetus Kyeri.
Aku hanya berjalan santai saja sembari menikmati pemandangan sawah yang sudah menghijau dan sejuk sekali rasanya.
'Matteo benar-benar melindungi nya ya,' batin Teo.
Di persimpangan jalan, aku, Kyeri dan Teo berpisah dengan Iqbal dan Koko karena kami hanya searah di jalan utama saja.
Saat memasuki pedesaan, Kyeri mendorong tubuhku maju dan Kyeri pun berjalan di belakang ku. Entah kenapa Kyeri tiba-tiba menyuruh aku duluan untuk pulang.
Tidak seperti biasanya. Tetapi aku hari itu sangat lelah jadi aku menurutnya saja dan aku pun lebih dulu sampai ke rumah.
Tepat pukul 15.00,
Aku baru melihat Kyeri pulang ke rumahnya dan masih berseragam sekolah. Aku pun mulai bertanya-tanya, "Kemana saja dia? Jam segini baru pulang?"
Tapi aku membiarkannya saja dan aku pun melanjutkan tugas sekolah yang belum selesai tadi.
Srek..srek... (membolak balikan kertas di buku cetak)
"Kok? Bukannya aku tadi nulis baru sampai dialog ya? Kok sekarang udah di bagian isi?" aku bertanya pada diriku sendiri.
"Kenapa? Bingung ya?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul di jendela.
"Aaah! Ah astaga Kyeriii bisa gak sih gak usah kagetin?!" cetus ku.
"Hehehe maaf, maaf. Tadi gua ngeliat jendela lo kebuka makanya gua langsung kesini aja," alasan Kyeri.
"Oh," jawaban singkat, hanya itu yang aku lontarkan saat itu.
"Kita ke rumah pohon yu Nadt!" ajak Kyeri.
"Gak."
"Ish kenapa? Ayo sih Nadt gua bete di rumah," ajak Kyeri memaksa.
__ADS_1
"Kenapa? Karena kamu baru pulangkan? Makanya ibu mu marah!" ucapan dariku bernada emosi.
"Hmm, iya. Ayok sih Nadt temenin gua di rumah pohon ya," ajak Kyeri lagi.
Aku tidak menjawab ajakan Kyeri dan aku pun langsung menutup jendela kamarku.
Blam!
'Dasar anak itu merepotkan saja!' batinku.
Walau pun aku sangat emosi, tetapi tetap saja aku akan menuruti Kyeri.
Aku pun berpamitan ke ibu untuk pergi ke rumah pohon bersama Kyeri dan ibu pun mengizinkannya.
Selama di perjalanan menuju rumah pohon, aku tidak berbicara begitu pun juga dengan Kyeri.
"Gua tadi berantem sama Teo."
Ucapan Kyeri membuatku terkejut, apa yang membuatnya sampai bertengkar dengan Teo? Aku tidak habis pikir dengan ulah Kyeri.
Kyeri ingin menjelaskannya tetapi aku selalu menolak untuk mendengarkan. Sejahat jahatnya Teo kepada ku, tidak ada terbesit difikiranku untuk membalas dendam.
Tetapi tidak dengan Kyeri. Aku hanya bisa menghela nafas berat sembari menutup mata.
Dari hari itu lah pertemanan aku dan Kyeri sedikit merenggang sampai kelulusan SMP.
Saat pendaftaran SMA, ayahku tiba-tiba saja masuk rumah sakit dan koma karena mengalami tragedi saat di proyek tempat kerjanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah lebih dahulu. Tetapi ibu ku memaksa, dan aku tetap dengan pendirian ku untuk tidak bersekolah dahulu.
Aku membantu ibu dagang di pasar selama beberapa hari sampai akhirnya Kyeri dan keluarga tau kalau ayahku sedang koma di rumah sakit.
Keluarga Kyeri juga tau kalau aku berniat untuk tidak melanjutkan sekolah lagi untuk sementara waktu. Dari situlah aku dan Kyeri mulai berbicara lagi dan pertemanan kami pun membaik lagi.
"Syukurlah dagangan kita kali ini laku ya bu," ucap ku tersenyum lebar.
"Iya benar sayang. Tapi maafkan ibu ya kalau ibu harus melibatkan kamu dan membuatmu harus putus sekolah."
"Tidak, tidak. Keputusan itu aku ambil karena keinginan aku sendiri ibu, jadi ibu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri ya," ucapku sembari memeluk ibu.
Sepasang mata melihat kami dari kejauhan dan mulai mengikuti kami saat perjalanan pulang.
"Mau kemana sih cantik? Buru-buru banget," ucap seseorang bertubuh kekar menghadang jalan aku dan ibu.
"Mau apa kau?!" ucapku berdiri di depan ibu.
"Kalian mau pergi gitu aja tanpa membayar uang pajak hah?" tegas orang bertubuh kekar lainnya.
__ADS_1
"Astaga siapa sih orang ini?" ucapku.
"Kamu meledek kami?" tanya kedua orang itu dengan tatapan yang tidak seram sama sekali.
Bahkan mata mereka seperti ingin loncat keluar tapi tertahan oleh otot-otot tubuhnya saja.
"Aku tidak meledek. Tapi ketiak kalian itu loh bau sekali! ih apa jangan-jangan kalian tidak mandi ya?" ucap ku meledek mereka.
Tapi ketiak mereka benar-benar bau, entah karena mereka terkena panas matahari setiap sehingga keringatan berlebihan atau memang mereka tidak mandi sama sekali.
"Uweek, ih cobalah cium ketiak kalian. Apa kalian sendirian merasakan bau?"
Dengan reflek yang sangat bagus, kedua orang bertubuh kekar itu pun mencium ketiaknya dan benar saja mereka ketauan sendiri.
Inilah kesempatan aku dan ibu kabur dari hadangan preman itu. Aku mengandeng ibu berlari ke arah yang kami saja tidak tau dimana dan sesampainya di gang kecil, tiba-tiba saja.
Bruk..
Aku menabrak seseorang, "Maaf ya mas, udah ayok bu kita lari." Namun tanganku di tahan oleh ibu dan akhirnya ibu pun menolong orang itu.
Rasa cemas semakin menjadi kala suara-suara gaduh sudah hampir mendekat. "Bu ayok cepetan kita pergi dari sini," ajakku.
"Loh Nadta ya?" tanya seseorang yang aku tabrak tadi.
Dia pun menolong kami dengan menyuruh kami masuk kedalam rumahnya agar aman dari kejaran para preman pasar yang begitu galak.
"LO LIAT ANAK CEWE RAMBUT SEBAHU SAMA IBUNYA GAK?" tanya preman itu dengan benada tinggi.
"Enggak bang, saya baru aja keluar rumah mau beli sayur."
"Arrgh payah lo!" cela preman itu sembari meninggalkannya.
Setelah di rasa aman dan preman itu sudah kembali lagi ke posisi awal, orang yang aku tabrak tadi datang menghampiri.
"Makasih ya, kamu udah nolongin saya sama ibu," ucapan terimakasih ku ke orang itu.
"Maaf juga tadi saya nabrak kamu," lanjut aku lagi.
"Enggak apa-apa kok, ini gak sebanding sama apa yang udah saya lakuin ke kamu dulu Nadt."
Aku hanya diam dan ibuku juga mengucapkan terimakasih banyak ke orang itu sebelum kami pergi pulang.
Bersambung...
..."Sejahat jahatnya manusia, pasti ada sisi baik di dalam hatinya yang kita saja tidak tau dimana letaknya."...
...-Paus bertanduk...
__ADS_1