
'Andai saja perkataan mu itu benar Ke, mungkin aku akan bahagia, sangat-sangat bahagia,' ucapku dalam hati sembari memeluk tubuh Kyeri.
Perjalanan panjang pun kembali kerumah pun dimulai. Tertawa bersama dan berbincang pembahasan random saat di perjalanan sangat asik ya.
Apalagi saat kami berdua memanggang ikan yang kami beli tadi.
...----------------...
Sesampainya di rumahku, Zera sudah menyiapkan tungku dan arang untuk memanggang ikan ini.
Kyeri menaruh bak besar di teras belakang, mengisinya dengan air dan memasukan ikan-ikan yang kami beli tadi ke xalam bak tersebut.
Kyeri dan Zera membersihkan ikan itu, sedangkan aku dan ibu membuat bumbu.
Bumbu sudah jadi, ikan pun sudah selesai di bersihkan. Pandangan pun sudah mulai panas barulah kami bertiga memanggang ikan.
Walau terkena asap yang begitu tebal, aku tidak malu sama sekali, bahkan aku yang mengira Kyeri sedikit perfeksionis kali ini tidak.
Dia bertarung dengan asap yang datang menghampiri tubuhnya, terkadang asap itu membuatnya batuk dan matanya pun terkadang memerah.
"Udah Ke sini aku aja. Nanti kamu bau asep lagi."
"Udah mending kalian berdua diem disitu, nanti kalo udah jadi baru masukin ke dalem biar gak di serang sama kucing duluan," ucap Kyeri menjawab perkataanku.
Seperti biasa, kucing selalu hadir kala menghirup aroma amis dari darah ikan dan kucing-kucing milik tetangga pun sudah berdatangan ke halaman belakang rumah.
Cukup lama kami memanggang ikan 5 kg ini, mungkin sampai jam setengah enam.
"Wah alhamdulillah selesai juga. Makasih nak Kyeri," ucap ibu.
"Iya bu, sama-sama. "
"Jadi ibu kapan ke rumah tantenya?" tanya ku.
"Sebentar lagi lah agar tidak kemalaman sampai sana."
"Aku boleh ikut?" tanya ku.
"Bolehlah. Tapi kamu kalo di ajak selalu nolak, tumben-tumbenan mau ikut ke arisan."
"Cuci mata."
"Yaudah nanti Nadta sama saya aja tante, bolehkan?" tanya Kyeri tiba-tiba menyahut dari belakang.
"Boleh dong. Malah bagus itu."
"Ikut mulu loh lo ini Ke, gak bosen-bosen apa ngeliat muka kak Nadta itu," cetusnya.
"Enggak. Gak akan pernah bosen, iyakan Nadt?"
"Iya kali."
Malam itu pun ibu membagi menjadi 2 bagian. Sebagian di bawa full untuk ke rumah tante ku, sedangkan sebagian lagi di bagi lagi.
Untuk aku sarapan besok pagi dan untuk mengirim ke rumah Kyeri. Kata ibu kasian rumah Kyeri hanya ngeisap bau asapnya saja.
Lagian Kyeri juga sudah banyak membantu aku selama ini jadi tidak masalah jika ibu mengirimkan ikan pangang ke rumahnya.
Malam pun tiba.
Ibu dan Zera lebih dulu ke rumah tante ku. Sedangkan aku belum berangkat ke sana, karena aku malas bertemu laki-laki sok tampan itu yang selalu mendekati ku.
Tok ... tok ... tok ....
"Nadt jadi gak?" tanya Kyeri dari depan pintu.
"Jadi, tunggu sebentar."
Grek ...
__ADS_1
Ini pertama kalinya aku memuji Kyeri tampan. Tampan sekali. Entah Karena pakaiannya atau tatanan rambutnya.
Memakai kemeja abstrak diiringi celana dasar berwarna hitam. Sama dengan ku, memakai celana dasar berwarna hitam dan baju tungku berwarna senada dengan Kyeri.
Rumah tante ku tidak jauh tetapi letaknya di atas bukit, lebih jauh dari tempat aku membeli sayur waktu itu.
10 menit kemudian, aku dan Kyeri sudah sampai disini. Memarkiran motor di halaman rumah, 'sepertinya tamu undangan sangat banyak.'
"Banyak ya Nadt?" tanya Kyeri.
"Entahlah aku tidak tau."
Kami pun masuk ke dalam, tetapi tidak terlalu ramai jika di lihat keseluruhan. Hanya ada ibu-ibu PKK dan ibu-ibu pengajian. Selebihnya ya keluarga.
"Halo tante," ucap ku menyapa tante.
"Wah Nadta, selamat datang. Udah lama ya kita gak ketemu."
"Hehehe iya tante."
"Sama siapa tuh?"
"Temen aku tante, ini Kyeri."
"Halo tante," sapa Kyeri.
"Halo, ganteng banget ya kamu. Oh iya Nadt itu ada Viko."
"Dia baru aja sampe tau kesini," lanjut tante lagi.
"Oh ya hehehe, nanti Nadta samperin tante," ucapku hanya sebagai formalitas.
"Iya, samperin lah. Kan kalian waktu kecil deket banget tuh kayak perangko hehehe."
"Iya tante."
'Siapa? Viko siapa? Bukannya Nadta dari kecil sama gua ya? Sejak kapan Nadta punya temen kecil juga selain gua sama Zera?' Pertanyaan-Pertanyaan pun muncul dalam benak Kyeri.
"Oh yaudah, ibu kamu lagi sama Zera tuh. Sama oma juga."
Aku pun langsung menarik Kyeri ke halaman belakang rumah tante. Terlihat ibu, Zera dan oma sedang berbincang hangat disana.
"Oma!"
"Aih, aih ada Nad nad."
"Oma ngapain disini? Nanti sakit loh di luar malem-malem."
"Enggak kok. Baru aja kita di luar," jelas ibu.
"Oalah, kenapa emangnya?"
"Terlalu rame di dalem. Kayak bajunya Kyeri," ledek Zera.
"Hmmm, untung aja di rumah orang ya Ze, kalo di rumah Nadta aja udah gelut kita," ucap Kyeri sedikit geram.
"Hehehehe."
"Siapa ini?" tanya Oma.
"Pacarnya Nadta," ledek ibu.
"Ih bukan ibu, Ini tuh Kyeri oma te-"
"Pacarnya Nadta oma," pungkas Kyeri dengan cepat.
Ibu hanya menunjukan ibu jarinya ke Kyeri sembari tersenyum. Kyeri pun begitu, malahan Kyeri terlihat begitu senang dengan ungkapan ibu tadi.
Saat obrolan hangat terbentuk di taman belakang rumah tante, tiba-tiba suara berat menyapa kami semua.
__ADS_1
"Oma disini ternyata. "
Deg ....
'Jangan sampai itu Viko,' ucap Nadta dalam hatinya.
"Nah Viko baru keliatan kamu, dari mana aja?" tanya ibu.
"Iya tante, aku lagi ngerjain tugas tadi."
'Kan bener. Belum aja ni nafas selesai di keluarin dah ke ucap aja tuh namanya,' ucapku dalam hati.
'Oh ini yang namanya Viko. Tapi kayaknya ini kakak kelas gua deh,' ucap Kyeri dalam hatinya sembari menyeringitkan dahinya.
"Wah ada Nadta juga. Apa kabar?"
"Baik Ko."
"Nadta sekarang kelas berapa?" tanya Viko terlihat begitu akrab.
"baru masuk SMA," ucap ibu.
"Dimana?"
"SMA Citra Bangsa. "
"Lah satu sekolah kita Nad."
Deg!
'Sialan gua ternyata satu sekolah sama nih orang, haduh!' batin ku.
Sedangkan wajahku hanya tersenyum seperti tersipu malu. Padahal hatiku sangat tidak nyaman lagi berada disini.
'Kan bener,' ucap Kyeri menatap Viko.
"Hmmm iya Ke, kita lupa buat tugas kelompok lagi. Haduh, maaf ya bu, oma, Viko. Aku sama Kyeri pulang dulu."
"Kalian udah ada tugas?" tanya Viko.
"Udah, tugas kelompok matematika," jawab Kyeri.
Aku pun langsung berpamitan dengan oma, ibu, Zera dan Viko. Aku pun menarik Kyeri pergi melalui pintu samping untuk pergi dari sini lebih cepat.
Di parkiran motor.
"Viko siapa?" tanya Kyeri.
"Sepupu aku."
"Oh, ganteng. Tapi kenapa kamu menghindar?" tanya Kyeri lagi.
"Entahlah Ke, nanti saja di rumah aku jelasinnya."
"Oke, oke. Ayok."
Baru saja Nadta naik ke atas motor Kyeri, tiba-tiba suara berat itu memanggil namaku lagi.
"Nadta, tunggu."
"Bentar Ke," ucapku memberhetikan motor Kyeri.
"Ini, untuk kamu. Saya sengaja siapin ini saat kita ketemu," ucap Viko memberikan sebuah paperbag berwarna pink.
"Makasih ya Ko."
"Iya, sama-sama. Kalian hati-hati ya."
'Apaan sih nih orang cari perhatian Nadta aja!' umpat Kyeri dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung ....