
"Apa mungkin itu bukan Kyeri?"
"Jahat, kalo emang sakit bilang kek biar gak buat orang lain khawatir!"
Nadta mengomel sembari membereskan meja belajarnya. Saat ia hendak menutup jendela kamarnya, tiba-tiba saja ada suara yang tak asing terdengar.
"Ngomel sendiri kenapa?" Ucap seseorang di depan jendela.
Nadta terdiam matanya mulai mengangkat kearah jendela sedangkan kepalanya masih menunduk. Bahkan tidak ada pergerakan selama beberapa menit.
"Kangen ya?" Ucap seseorang itu lagi.
Nadta mulai bereaksi dan kepalanya pun mulai ke arah jendela yang berada di sebarang kamarnya.
Deg!
'Seperti ada yang beda sari Kyeri, tapi apa ya?' Batin Nadta saat melihat wajah Kyeri di balik jendela.
"Enggak!"
"Bilang aja kalau kangen, aku dari tadi denger loh kamu ngomel-ngomel sendiri." Kyeri mulai menggoda Nadta.
"Enggak geh, aku ngomel itu karena ini ... Meja ... Meja belajar aku berantakan gitu."
"Oh gitu."
"Dari mana aja kamu?" Tanya Nadta langsung.
"Kan udah aku bilang kemarin kalau aku keluar kota sebentar sama keluarga mau kunjungan ke rumah kakek."
"Bohong."
"Aku bener loh gak bohong."
Walaupun Kyeri sudah menjelaskan panjang lebar dari mana dia selama ini, tetapi Nadta tetap tidak percaya akan ucapannya.
Seperti ada hal yang sedang disembunyikan oleh Kyeri karena melihat dari raut wajahnya, garis seperti orang yang sedang sakit.
"Gimana acara Viko kemarin?"
"Lancar, semua orang yang diundang datang kecuali kamu," ucap Nadta sembari memasang wajah kesal.
"Iya aku tau, maaf ya kalau aku tidak datang."
"Kamu sakit ya Ke?" Nadta langsung bertanya karena kata-kata itu sedari tadi mengelilingi kepalanya.
"Tidak."
"Kamu bohong lagi, aku tidak suka."
"Aku? Bohong? Ya enggak lah Nadt." Kyeri meyakinkan Nadta kalau dirinya baik-baik saja.
"Serius?"
"Iya aku serius Nadta."
"Tapi kenapa wajahmu pucat dan sedikit lesu?"
"Ini karena efek aku kurang tidur selama di rumah kakek. Kakek sakit dan aku harus berjaga tiap malam jadi ya seperti ini jadinya."
'Apa ucapannya benar?' Tanya Nadta dalam hati.
"Oh gitu," sambungnya
"Nanti sore kita ke rumah pohon yuk! Aku mau kasih sesuatu untuk kamu," ucap Kyeri sembari tersenyum.
"Apa?"
__ADS_1
"Ya nanti di rumah pohon."
"Hmm, yaudah deh."
...~▪︎~...
Sore pun tiba, Kyeri datang ke rumah Nadta untuk menjemputnya pergi ke rumah pohon bersama.
Saat Gerry berada di depan pintu, mereka tiba-tiba saja datang dan langsung memandangi wajahnya secara dekat.
Sontak Hal itu membuat Kyeri terkejut karena rasa penasaran Nadta masih belum terjawab dan akhirnya dia memastikan secara langsung, "Apa benar Kyeri tidak sakit?"
'Untung saja tadi aku sedikit berdandan,' batin Kyeri.
"Kamu masih penasaran ya?" Tanya Kyeri ke Nadta.
" Ya jelas aku penasaran! Karena aku khawatir denganmu."
Dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah pohon untuk bermain dan bersantai bersama.
Selama di perjalanan, mereka bertemu dengan yang sedang pergi menuju arah pulang bersama ibunya.
"Itu Teo kan Ke?" Tanya Nadta.
"Iya benar."
"OY Teo!" Panggil Kyeri dengan suara keras.
Mendengar panggilan namanya, Teo pun langsung menengok ke arah suara tersebut dan merespon panggilan dari Kyeri tadi.
"Oy!"
"Dari mana?" Tanya Nadta.
"Biasalah, habis antar mamah ke toko bu Lia untuk perlengkapan di dapur," jelas Teo.
"Wah..."
"Wah kayaknya Nadta ini yang sering di ganggu sama Teo dulu ya?" Tanya mamah membuat Teo malu.
"Hehehe." Nadta hanya bisa tersenyum saja kala mamah Teo mengingat hal itu.
"Mah!"
Kyeri pun sama hanya bisa tersenyum saja kala mamah Teo mengingatkan masa itu dulu.
"Yaudah kalau gitu kita duluan ya, masih ada yang mau di beresin lagi," ucap Teo ke teman-temannya.
"Iya hati-hati."
Mereka pun melanjutkan perjalanan bersama walaupun di pertengahan jalan mereka berpisah karena Nadta dan Kyeri pergi ke rumah pohon sedangkan Teo dan sang mama kembali pulang.
...~▪︎~...
Rumah Pohon.
"Nampaknya ada yang berbeda dari tempat ini," ucap Kyeri sembari menatapi rumah pohon.
"Apa coba?" Tanya Nadta.
"Apa ya?"
"Liat betul-betul geh."
" Oh aku tahu, sepertinya hiasan pesawat kertas semakin bertambah dan warnanya banyak macam iya kan?" tutur Kyeri kala berhasil mengamati.
Nadta hanya tersenyum manis sembari mengulurkan dua jempol tangannya ke Kyeri.
__ADS_1
"Hmmm kamu ini Nadt," ucap Kyeri sembari mengacak-acak rambutnya.
Mereka berdua pun bergegas naik ke rumah pohon sembari membawa barang-barang yang mereka bawa.
...~▪︎~...
...Perjalanan Pulang....
Teo dan sang mamah sedikit berdiskusi tentang Kyeri atau lebih dikenal dengan Matteo untuk kalangan mereka.
"Itu tadi Matteo mah."
"Hah?"
"Kata kamu Keri tadi namanya!?" Mamah terkejut.
"Itu panggilan sayang dari Nadta terus akhirnya kami juga manggil Matteo dengan nama tengah dia," jelas Teo.
"Oalah, ya ampun tampan juga ya!"
"Seperti Ayahnya dulu saat masih remaja."
"Mamah kenal sama keluarga pak Bram dengan jelas?" Tanya Teo sedikit mulai penasaran.
"Iya sedikit, karena ayahnya Matteo dulu pernah satu kelas dengan mama dari SMP hingga kami Kuliah."
"Tapi sayang, saat di bangku kuliah Gerry Bram bercekcok dengan senior dan terpaksa harus di pindahkan ke universitas lain," lanjut mamah Teo menjelaskan.
"Oh iya dulu kakaknya pernah mengalami sakit parah dan cukup akut hingga meninggal di usia 50 tahun."
"Tapi mamah lupa apa nama penyakitnya itu," ucap sang mamah sembari berfikir.
"Apa mungkin Kyeri mengalami kondisi yang sama dengan kakeknya?" Tanya Teo.
"Mamah tidak tau pasti. Tetapi mamah tidak asing dengan sebutan penyakit itu."
Mereka berdua masih membahas tentang Kyeri hingga tak sadar mereka sudah sampai di depan rumah.
...Kilas balik on....
Sekitar tahun 1980 keluarga Geo termasuk keluarga yang terpandang ke dua setelah keluarga Laksa.
Sedangkan di tahun-tahun tersebut keluarga Bram sedang membangkitkan usaha serta banyak promosi dan lowongan kerja dimana-mana.
Setelah 3 tahun bergelut di bidang bisnis dan salah satu orang terpengaruh di keluarga Geo meninggal, disitulah penurunan mulai terjadi.
Hingga akhirnya saingan baru antar 3 perusahaan terbentuk dan saat ini perusahaan yang sedang berjaya berasal dari keluarga Bram.
Tetapi entah mengapa setelah Gerry anak terakhir keluarga Bram menikah, mereka tidak pernah mendengar kabar lagi tentang Bram.
Tetapi perusahaan mereka masih tetap berdiri, bahkan menjadi nomor satu perusahaan berpengaruh.
Banyak isu mengabarkan kalau Gerry menikah karena terpaksa, banyak yang bilang juga Gerry menikah demi terbebas dari sistem aturan sang ayah.
Dan ada juga yang bilang Gerry sengaja keluar dari keluarga Bram demi keselamatan hidupnya dan keluarga yang ingin dia bina.
...Kilas balik off....
"Apa keluarga mereka sekeras itu mah?"
"Mamah kurang tau, tapi yang pasti semenjak kelahiran anak ke2 keluarga Gerry, keluarga Bram mulai terdengar lagi."
"Kalau feeling mamah mereka sedang menyembunyikan berita besar ke publik agar perusahaan mereka tetap berdiri," lanjut sang mamah.
"Ribet ya mah kalau dengar silsilah keluarga terpandang kayak mereka," ucap Teo dengan santai.
"Iya memang."
__ADS_1
"Oh iya!...." Tiba-tiba mamah teringat akan sesuatu.
Bersambung ....