Pesawat Kertas Untuk Kyeri

Pesawat Kertas Untuk Kyeri
• Moment •


__ADS_3

Terus aku bilang aja kan, "Maaf kak, saya juga punya Pacar. Dia lagi sakit, sekarang lagi berobat. Cowo saya ganteng banget ngelebihin cowo kakak yang gak seberapa itu, untuk apa saya gatel kak kan cowo kakak sendiri yang gatel kemana-mana."


Nah dari situ, Teo denger cerita miring tentang aku sampe akhirnya itu cewe ke bungkam sendiri atas ucapannya karena cewe yang lagi deket sama pacarnya itu ternyata anak dari fakultas pendidikan sedangkan aku bukan.


Terus dari situ aku selalu pulang sama Teo bahkan ke kampus pun aku sama Teo walaupun fakultas aku dan Teo beda gedung.


"Andai aja kamu disamping aku, mungkin ini gak akan terjadi," lirih Nadta sembari menundukan wajahnya.


Flasback off .


Tangan Kyeri tiba-tiba saja menempel di dagu Nadta sembari mengucapkan kata yang cukup romantis seperti ini, "Maaf ya Nadt, ini juga bukan mau aku kayak gini. Tapi aku selalu jaga kamu lewat Teo dan aku selalu perhatiin keseharian kamu lewat teman-teman kamu."


"Kamu gak perlu khawatir, perawat yang menjagaku memang cantik tapi mereka tidak kenal denganku. Mereka hanya tau aku adalah pasiennya bukan kekasihnya," lanjut ucapan Kyeri.


Hal ini membuat Nadta terbelalak bahkan matanya pun sedikit berkaca-kaca atas ungkapan manis yang di lontaskan Kyeri tersebut.


"Ih, jangan nangis dong," ucap Kyeri panik kala air mata Nadta mengalir.


"Nahkan nangis, lo sih Ke!" ledek Teo yang sedang asyik menikmati film waroop.


"Hiks ... hiks ..."


"Udah dong Nadt, jangan nangis gitu nanti aku jadi sedih juga." Kyeri pun mendekap Nadta ke dalam pelukannya yang begitu hangat terasa.


Momen ini sama seperti dulu saat mereka kecil dan bertumbuh bersama hingga akhirnya Kyeri menghilang karena suatu hal.


'Manis banget sih mereka ini, padahal gua bukan siapa-siapa tapi kenapa gua ngerasa kayak nyamuk gini di kamar ini huh....' Batin Teo yang sempat melirik mereka berdua.


Dreet ... dreet ... dreet ...


Dering telfon dari handphone Teo pun berbunyi dan segera mungkin Teo mengangkat telfon dari seseorang.


"Halo?" Salam Teo ke seseorang dari balik telfon.


"Iya, apa ini benar dengan keluarga Abraham?"


"Iya saya salah satu anak keluarga Abraham, yaitu Abraham Geofani. Ada yang bisa saya bantu?" Turur Teo sembari mengamati suara telfon.


"Hari ini bertepatan tanggal 19, pukul 09.00 pagi bapak Abraham Geonath baru saja menyelesaikan eksekusi mati dan beliau akan segera di makamkan di pemakaman umum di daerah setempat yang dekat dengan rumah keluarga besarnya."


Deg ...


'Pasti kakek!' Batin Teo.


Mata Teo terbelalak mendengar kata, "eksekusi mati" karena semalam mereka baru saja bercakap melalui telfon seluler yang di berikan oleh penjaga.


Tetapi itu adalah hal pertama dan terakhir bagi Teo dan sang mamah mendengar ucapan manis dari sang papah.


Karena nyatanya beliau akan keluar dari penjara tersebut dengan cara yang tidak mereka duga. Bahkan eksekusi mati ini pun tidak di ketahui keluarga besarnya termasuk keluarga inti.


"Apa kau bisa datang menyambut kepulangan almarhum?"

__ADS_1


"Hah? B-bisa." Teo tertunduk lesu mendengar hal yang sangat² menyakiti hatinya ini.


Setelah telfon terputus, Teo berdiri dengan badan yang tak sanggup ia topang sendiri. Sehingga pukulan di dadanya lah cara satu-satunya menghilangkan rasa sakit ini.


"Kenapa Teo?" Tanya Nadta karena dari tadi menyimak percakapan saat Teo menelepon.


"Gak apa-apa Nadt," jawabnya sembari tersenyum pahit.


"Gua pulang duluan ya!" Lanjutnya.


"Ih? Nanti aku pulangnya gimana?" Tanya Nadta ke Teo.


"Kamu udah di tempat yang aman kok, Kyeri bisa jagain kami sementara aku pergi." Teo pun menuju pintu kamar lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Teo pun berjalan dengan tatapan kosong, tangis terbendung di matany namun dia tak mau menangis tersedu-sedu karena bukan waktu yang tepat.


"Nak Teo mau kemana?" Tanya mamah Ony saat hendak naik ke lantai dua sembari membawa cake buatannya.


"Pulang tante, di telfon mamah," alasan yang masuk akal namuntidak dengan senyumnya.


"Wah, ini minum dulu! Tante sudah buatkan teh tarik hangat loh." Tante Ony memberikan minuman yang ia buat.


"Terimakasih tante."


"Iya sama-sama nak Teo, kalau gitu tante ke atas dulu ya."


"Iya tante," jawab Teo.


Glek ... glek ... glek ....


"Hah ..."


"Bi, terimakasih atas minumannya, tolong sampaikan ke tante Ony minumannya sangat-sangat enak sekali."


"Saya, permisi ya bi," lanjut ucapan Teo.


...Kamar Kyeri....


"Ke, aku merasa ada yang aneh deh dari sifat Teo. Masa tiba-tiba angkat telfon langsung berubah raut wajahnya," ucap Nadta.


"Iya aku juga ngerasa kayak gitu Nadt."


"Apa kita ikutin aja ya dia kemananya?" Kyeri langsung memberikan tawaran.


"Tapi kamu masih sakit Ke."


"Udah enggak, sayang."


Deg ... deg ... deg ...


Degub jantung Nadta kala itu tidak tergolong lagi. Ucapan pertama dengan kata, "sayang" yang didapatkan Nadta.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


"Masuk."


Grek ....


"Ini kue-nya sudah jadi, mari di makan!" mamah Ony menawarkan makanan.


"Makasih tante." Nadta membantu mamah Ony meletakan kue dan minuman di meja.


Setelah membantu meletakan makanan yang dibawa, Kyeri bertanya ke sang mamah akan hal yang di khawatir Nadta tadi.


"Mah?"


"Iya sayang?"


"Aku boleh keluar gak? Tapi pinjem mobil." Kyeri langsung bertanya tanpa basa-basi.


*Mungkin cowo gak suka basa-basi ya wkwkwk


"Mau anter Nadta ya?" Tanya mamah Ony lagi.


"Iyq, tapi sekalian ngikutin Teo mah, karena tadi sifat Teo ada yang beda jadi aku sama Nadta mau tau Teo ada masalah apa," jelas Kyeri.


"Oh iya, tadi mamah juga liatnya aneh gimana gitu, tatapan matanya kosong terus senyumnya juga terpaksa kayak lagi ada masalah berat yang buat dia syok."


"Kayaknya memang bener deh mah."


"Yasudah setelah habis makanan dan minum kalian pergi lah. Tapi inget Kyeri hati-hati mau pergi ataupun pulang, oke."


"Iya mamah sayang."


...~▪︎~...


Setelah negosiasi dengan mamah dan menghabiskan semua menu makanan yang di bawa oleh mamah Ony tadi, Kyeri dan Nadta bersiap-siap mencari keberadaan Teo.


"Kita ngikutinnya kayak mana Ke?" Tanya Nadta.


"Gampang kalau masalah itu Nadt, aku sama Teo masih terhubung ke maps karena aku takut kamu di culik sama dia tadi jadi aku sama Teo sepakat untuk pasang lacak maps."


"Emang udah ada?" Tanya Nadta.


"Sudah, walaupun belum bisa di gunain smebarang handphone. "


"Oalah yaudah ayok Ke, aku takut kamu pulang ke rumah ini terlalu malam."


"Iya, ayok."


Kyeri mulai menggenggam tangan sang kekasihnya kembali dengan senyum malu-malu karena akhirnya mereka bersama lagi.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2