
Kyeri mengajarkan hingga ke kelas, walau wajahku terlihat biasa saja, tetapi hatiku sednag membara entah mengapa.
Bruk!
Aku menggeser kursi dengan kasar, menyenderkan tubuh ke meja sembari menutupi wajah dengan kedua lengan bertumpu di meja.
'Aku kenapa sih?!' tanya ku pada diri sendiri.
"Nadt," panggil Kyeri.
"Hmm?"
"Kenapa? Kok ... hmm, pulang nanti ke rumah pohon yuk."
"Hmm."
'Lagi PMS tah ini cewe?' batin Kyeri sembari menatap pundakku.
...~▪︎~...
Tepat pukul 13.00 bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa-siswi berbondong-bondong menuju pintu utama untuk pulang kerumahnya.
Kyeri memimpin jalan saat ingin ke parkiran dan pastinya dia diikuti oleh aku.
...~•< Parkiran Sekolah >•~...
"Ini helmnya."
"Makasih."
"Nadta!" teriak seseorang dari belakang.
Aku menengok ke arah suara tersebut dengan mata dingin bahkan aku bersikap acuh tak acuh.
Taukan siapa orangnya? Ya Viko lagi-lagi mengejarku dari belakang. Entah apa yang di inginkan oleh orang itu.
"Pulang bareng yuk!" ajak Viko ke aku.
Padahal kalau Viko peka, aku sudah memegang helm yang Kyeri berikan tadi. Jadi sudah di pastikan kalau aku pulang bersama Kyeri.
"Gak! Dia pulang sama gua." Kyeri menyahut lalu menarik lenganku untuk menjauh dari Viko.
"Tapi gua mau Nadta pulang sama gua."
"Lo ini maunya apa sih?!" tanya Kyeri menarik kerah seragam Viko.
"Ke, Ke ... udah, udah. Ayok kita pulang," ucapku melerai agar tidak terjadi perkelahian.
"Sorry Kak, gua pulang sama Kyeri," ucapku langsung menarik Kyeri kembali ke motor nya.
Aku pun langsung menaiki motor Kyeri dan melaju tepat setelah Kyeri menyalakan motornya.
'Orang itu kayaknya mau bersaing sama gua! Gua gak bakal biarin lo menang gitu aja Vik!' batin Kyeri sembari menatap jalan.
"Ke jangan ngebut-ngebut. Takut."
"Sekali-sekali sih Nadt."
"Ih! Kyeri pelanin dikit geh!" pintaku sembari memeluk erat tubuh Kyeri.
'Ini pertama kalinya gua di peluk sama Nadta.' Kyeri kegirangan saat tubuhnya di peluk erat oleh Nadta walau dari belakang.
"Nadt?"
"Hmm?"
"Mau makan?"
"Makan apa? Dimana?"
"Nasi kucing mau?"
"Enggaklah, jangan yang berat-berat. Kita makan makaroni balado aja gimana?"
"Dimana?"
__ADS_1
"Di SD deket pasar tradisional itu. Yang deket rumah kita."
"Oh, oke. Kita otw kesana."
Selama di perjalanan, Kyeri sengaja melakukan rem mendadak agar aku semakin erat memeluknya.
Tapi bukan semakin erat memeluknya, aku malah mencubiti tubuhnya. Mungkin saja itu akan berubah warna menjadi biru.
"Jangan ngerem mendadak Kyeri!"
"Aw ... iya, iya iya."
Tanpa sadar kami telah di buntuti 2 mobil entah siapa. 1 mobil Agya berwarna merah dan satunya lagi mobil clasik berwarna cokelat.
10 menit perjalanan karena macet, akhirnya mereka sampai di gang SD yang di penuhi kuliner bak wisata kuliner tersembunyi.
"Mau makan apa tadi?"
"Makan makaroni basah."
"Dimana?"
"Udah kita jalan aja dulu, nanti pasti ketemu dimana nya."
"Mau krepes gak?" tanya Kyeri saat melihat bapak-bapak penjual kur krepes sedang memasaknya.
"Mau-mau."
"Bang 4 ya."
"Okey, mau rasa apa non?"
"Rasa yang pernah ada bang, eh?"
"Haduh ... di gantung ya non," ledek bapak penjual kue.
"Ahahaha enggak kok pak. Rasa yang masih sama aja pak," sahut Kyeri.
"Hmmm dasar ya anak muda jaman sekarang."
"Ih Kyeri," Aku memukul lengan Kyeri.
"Okey, nona dan den yang cakep, tunggu yak."
Sembari menunggu pesanan kami matang aku dan Kyeri berjalan kembali menyusui tiap-tiap tempat yang ada disini.
"Es yuk!" ajakku.
"Boleh, mau yang apa?"
"Mau yang cokelat sama yang ..."
"Tadi udah cokelat Nadt! Jangan cokelat lagi. Mending White Coffee gimana?"
"Boleh, eh ... enggak deng. Aku mau Taro."
"Yaudah deh, dasar cewe labil."
Kyeri pun memesankan minuman es 2 untuk kami. Aku kembali memperhatikan sekeliling lagi. Siapa tau masih ada yang ingin di beli.
'Kok kayak ada Viko di ujung? Apa aku salah orang kali ya?' ucapku dalam hati.
"Hah?" Lamunan aku tadi pun bayar seketika, kala dirinya menempelkan minuman dingin itu ke pipiku.
"Ih jahil banget sih! Ayok ambil kue Krepesnya."
"Dimana yang jual makaroninya?"
"Itu ada di ujung jalan, sekalian ambil motor aja kesana, baru kita beli. Gimana?"
"Boleh."
Di tempat lain, di waktu yang bersamaan
'Dih apaan sih! Kenapa Matteo mau ke tempat kek gini? jijik tau gak!'
__ADS_1
'Dasar Orang ini berani-beraninya ambil hati Nadta!'
Begitulah suara hati kedua orang yang sedang memperhatikan Kyeri dan aku dari jauh.
Setelah mengambil motor, aku dan Kyeri menuju sebuah warung yang menjual makaroni balado sembari pulang.
Membawa makanan-makanan itu ke tanah lapang atau ke rumah pohon untuk di makan bersama seperti biasa.
...~•< Rumah Pohon >•~...
"Naik duluan aja Nadt," pinta Kyeri.
"Gak lah, nanti lo ngintip lagi!"
"Gak ada gua ngintip, sana naik cepet."
"Iya oke, tapi awas kamu ya kalo ngintip!"
"Enggak Nadta. "
Aku pun mulai menaiki anak tangga satu persatu sembari meneriaki Kyeri dan menengok ke bawah.
"JANGAN INTIP!"
"Enggak Nadta."
"JANGAN INTIP KYERI!"
"Enggak Nadta, astaga."
Setelah aku sampai di atas, barulah Kyeri naik ke atas dan duduk tepat di samping aku.
Mengobrol pembahasan random, sampai pembahasan deep talk, kalo kata anak-anak jaman sekarang.
Hingga sunset menghampiri, aku dan Kyeri baru kembali ke rumah masing-masing.
...~•< Rumah Nadta >•~...
"Dari mana?" tanya ibu.
"Dari rumah pohon bu, hehehe maaf ya aku pulangnya telat. "
"Iya gak apa-apa, nih ibu buatin kamu browser spesial kesukaan kamu."
"Wah, tumben? Makasih ya ibuku sayang."
Muach ...
Sembari menghampiri kue, aku pun mencium pipi ibuku dengan sangat bahagia.
Baru saja kebahagiaan muncul, kebahagiaan itu pun langsung terpatahkan oleh ucapan ibu.
Ibu memberi tau kalau nanti malam Viko ingin datang ke rumah, hanya sebatas silaturahmi aja katanya.
Aku sudah ilfil dari awal dia memperlakukan keluargaku tetapi dia malah mendekati entah apa maunya.
...~▪︎~...
Malam pun tiba.
Tepat pukul 7.30 pm, Viko datang sembari membawakan bingkisan dari ibunya atau tante ku.
'Dih apaan sih ini orang, sok baik banget,' batinku.
Aku sengaja tidak berada di dalam rumah dan lebih memilih bersandar di teras belakang. Mentap jendela kamar Kyeri berharap Kyeri membukanya dan menghampiriku.
Layaknya pahlawan yang sedang menolong tuan putri dalam bahaya. Itulah bayangan yang ada di benak ku kala melihat jendela Kyeri.
Tap ... tap ... tap ....
Hoam ....
"Ngapain kamu di luar Nadt."
Deg!
__ADS_1
'Orang ini berani-beraninya dia kesini,' batinku karena sudah tau suara siapa itu.
Bersambung ....