PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 21 - Target yang Bodoh


__ADS_3

Bab 21 PMM


Tanpa pikir panjang lagi, Lani bangkit. Meskipun dia berdiri dengan kaki gemetar. Lani lantas naik ke rooftop tanpa berpikir lagi. Sepasang kakinya berlari menaiki anak tangga.


Ditutupnya kedua pintu jeruji besi menuju ke akses lantai di atap gedung. Kemudian, Lani mengunci dengan mengaitkan gerendelnya. Lalu dengan susah payah, Lani mengunci gembok besi yang cukup besar dan berat itu.


"Gue harap dia nggak akan bisa ke sini," lirih Lani yang kemudian menarik napas lega.


Akan tetapi, Lani tak menyangka kalau kelegaan yang ia rasakan hanya berlangsung sesaat.


"Sial! Gue ngunci diri gue sendiri! Gimana gue nanti keluar?" Lani mulai berjalan mondar-mandir kebingungan.


Lani mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rara.


"Lani! Kamu di mana sekarang?!" Suara Rara dan Briana terdengar memekik bersamaan.


"Gue nggak tau, Ra. Gue bingung … dan kayaknya nasib gue bakalan sangat Sial kayak Raisa dan Ajeng." Lani mulai menjawab pertanyaan Rara dengan isak tangis.


"Maksud kamu apa, Lan?" tanya Rara dari dalam ponsel Lani.


"Gue yakin kalau Dikta yang udah dorong Ajeng dan Raisa. Begonya lagi, gue sampai rooftop, nih! Nanti gue bakalan didorong juga kayaknya," lirih Lani.


"Lan, elu harus lawan Dikta! Jangan nyerah, Lan! Elu harus bertahan! Lawan dia!" Briana meraih ponsel Rara dan berseru seketika, "Jangan sampe elu nyerah!"


Briana menekan loud speaker di ponsel Rara.


"Gue takut, Bri…."


"Lan, ini aku Raja." Raja meraih ponsel Rara.


"Ja… tolongin gue, Ja! Gue takut…." Lani makin terisak.


"Tyo lagi berusaha tanya anak-anak dan cari kamu, Lan. Gini, deh… kamu inget kartun yang waktu itu pernah disuruh tonton sama dosen kocak, Bu Maya?" tanya Raja.


"Ummmm, yang judulnya kalau nggak salah, Adit Sopo Jarwo?" tanya Lani.


"Iya, kamu inget nggak?"


"Iya, gue inget. Kenapa emangnya?" tanya Lani.


"Nah, anggep aku jadi si Adit. Tutup mata kamu! Terus kamu bayangin aja kalau kamu adalah pahlawan super. Kamu bisa lawan si penjahat Dikta!" seru Raja


Lani akhirnya mengangguk-angguk. Dia menjawab dengan suara lemah.

__ADS_1


"Nah, kamu bisa ya lawan Dikta!" seru Raja.


"Iya, Lan! Elu denger apa yang Raja bilang, kan? Ya, meskipun aneh. Lawan Dikta kalau elu diapa-apain! Jangan mau kalah ya, Lan!?" Briana ikut berseru.


"Iya! Aku bisa lawan Dikta!" Lani mengangguk-angguk lagi.


Lani mulai yakin dan optimis kalau dia akan berani melawan Dikta. Perempuan ayu dengan rambut bergelombang itu lantas menutup ponselnya. Tak lama kemudian, Tyo menghubunginya.


"Gue tahu elu sekarang di mana, Lan. Tunggu ya jangan ke mana-mana!" seru Tyo.


"Gue aja kekunci tau di rooftop. Gimana gue bisa ke mana-mana! Tapi, kalau Dikta nanti dateng, gue bakalan lawan dia mati-matian!" sahut Lani.


"JANGAN!!!" teriak Tyo menggelegar.


"Ke-kenapa emangnya?"


Mendadak keberanian Lani yang tadi sudah dia kembangkan menjadi menciut layaknya balon kempis.


"Elu jangan ngelawan! Jangan lo tantang si Dikta! Eo bisa abis, Lan!" seru Tyo.


"Hah!?" Lani langsung membeku.


Sedetik kemudian, Lani mulai menjadi panik.


"Tapi, kalau gue nggak ngelawan gue bisa bernasib sama kayak Ajeng dan Raisa!" pekik Lani.


Tiba-tiba, Lani mendengar bunyi besi diketuk logam. Dia menoleh dan lang- sung ternganga. Dikta telah berdiri di balik pintu jeruji besi tersebut. Dikta lantas memberi isyarat pada Lani agar menutup sambungan ponsel itu.


"Lan? Elu masih di situ, kan? Laaaaaan?!"


Suara Tyo masih terdengar dari ponsel Lani, tetapi tak ada jawaban dari si empunya ponsel. Seperti terhipnotis, Lani malah menuruti perintah Dikta.


"Tolong buka pintunya, Sayang…." Dikta melukiskan senyum di wajah dinginnya itu.


"A-aku, aku nggak punya kuncinya," jawab Lani lirih dengan nada gemetar.


Kedua alis tebal Dikta sontak saja terangkat. Pemuda berwajah ala aktor Thailand, Bright dengan versi rambut gondrong itu terkejut.


"Kamu bodoh juga, ya! Kamu sengaja ngunci diri kamu sendiri di situ, gitu? Ayolah sayangku… di luar situ panas loh. Nanti kamu item," ucap Dikta lalu tertawa geli.


Lani hanya diam dengan mundur perlahan.


"Sayang… kamu tunggu sebentar, ya. Nanti aku balik lagi. Aku mau cari kuncinya. Tapi inget…," ucapan Dikta tertahan.

__ADS_1


Kedua matanya menajam dan tawanya menghilang.


"Jangan kamu hubungi siapa pun lagi! Ngerti Sayang?" Dikta mulai menyeringai.


"I-iya." Lani cepat-cepat mengangguk.


"Sini sini dulu! Jangan berdiri di tempat panas begitu. Aku nggak mau kamu gosong nantinya!" pinta Dikta.


Ketika Lani tidak bergerak dari tempatnya, Dikta langsung mendekatkan tubuhnya ke pintu jeruji besi. Dikta melayangkan tatapan tajam bagai busur panah penuh racun ke arah Lani.


"Sayang… aku serius, loh! Jangan bantah aku," ucapnya sangat tajam.


Dikta kemudian berbalik badan dan berjalan menuruni anak tangga. Begitu punggung Dikta tak terlihat lagi, Lani menarik napas panjang dan mengeluh pelan.


Sepasang kakinya terasa lemas. Ia melangkah gontai menuju teras tangga. Satu-satunya tempat yang terlindung dari sengatan matahari. Tubuhnya lantas menurun di sana, jatuh terduduk. Lani sama sekali tidak ingin mengangkat ponselnya yang terus berdering.


Lani merasa kalah, dia takut pada Dikta atau malah dia terhipnotis oleh pemuda itu. Ia merasa tidak ada gunanya mengangkat sambungan ponselnya. Terbersit di pikiran Lani tentang perkataan Tyo. Mungkin, dia memang harus mengikuti apa kemauan Dikta saat itu.


...***...


Dikta kembali ketika Lani sedang duduk membelakangi anak tangga. Gadis itu meringkuk di antara pintu jeruji besi dan tembok sempit yang membentuk teras. Ada sedikit lahan di sana yang terbebas dari sinar matahari.


Ponsel Lani terus berdering, tetapi perempuan itu tidak berniat mengangkatnya. Dikta menatap pemandangan yang sangat menyedihkan itu. Seorang gadis pasrah pada takdirnya.


Atau dia juga bisa berpikir tentang seorang gadis yang tunduk akan cinta sejatinya. Calon istri penulis yang disayang suami nantinya. Dikta sampai tersenyum sendiri membayangkan keluarga kecil bersama Lani.


Namun, sifat posesif Dikta kala itu malah memandang Lani dengan mata yang berbeda. Dikta sangat mencintai Lani, tetapi caranya salah. Dikta merasa sudah menunjukkan cinta teramat sangat dari perbuatan dan perkataan pada Lani. Jadi dia merasa seharusnya yang dia terima adalah balasan yang sama dari Lani.


Dikta tak menyangka kalau Lani tega dengan berani menyukai orang lain dan bermain di belakangnya. Dikta kembali mulai geram. Dia menendang jeruji besi itu dan membuat Lani tersentak.


"Duh, kaget ya? Maaf ya sayang…."


Dikta lalu membuka gembok tersebut


Lani yang terkejut, sontak mendongak. Namun, perempuan itu membuat Dikta jadi tertegun saat mendapati Lani ternyata sedang menangis. Tangisan tanpa suara lebih tepatnya dan lebih menyesakkan bagi wanita.


Dibukanya pintu jeruji besi di belakang Lani. Sedikit demi sedikit lalu Dikta duduk di belakang Lani lalu memeluk gadis itu. Saat Lani berada di dalam pelukannya, dengan jemari tangannya, Dikta menghapus air mata itu tanpa bicara.


Entah kenapa, Lani malah membenamkan wajahnya di dada Dikta. Dia pasrah, bodoh, dan lemah. Sementara itu ponsel Lani terus berbunyi. Tertera nama Briana di layar ponsel gadis itu.


"Sini hape kamu! Aku yang jawab kalau kamu nggak mau," bisik Dikta.


Lani benar-benar merasa telah terhipnotis. Ia menyerahkan ponselnya.

__ADS_1


...******...


...To be continued, see you next chapter!...


__ADS_2