PETAKA MAPALA MERAH

PETAKA MAPALA MERAH
Bab 60. Rumah Kosong


__ADS_3

Bab 60 PMM


"Terus gimana, Ja?" bisik Rara.


"Suruh abang kamu tangkap dia," sahut Raja.


"Kata kak Rio, si Boy bungkam. Dia nggak mau bilang apa-apa terkait bisnis ilegalnya.


"Maaf karena membuat kalian takut," ucap Pak Johan.


"Nggak apa-apa, Pak. Saya mau anter makanan pesanan Pak Johan," ucap Raja.


"Oh, begitu. Mari masuk!" ajaknya.


Belum juga Raja menjawab dan beranjak untuk masuk, anjing pitbull tadi sudah berlari kembali menuju Pak Johan. Hewan berwajah garang itu duduk dekat kaki sang majikan. Raja dan Rara sontak saja berteriak dan berpelukan.


"Haha, kalian semua takut, ya?" tanya Johan.


"Siapa yang takut, Pak. Kita cuma nggak berani, kok," sahut Raja.


Sontak saja Pak Johan semakin tertawa.


"Ayo, biarkan saja si Tom di sini," ujar Pak Johan, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Duh, tolong ya Tom, tolong jauh- jauh sana!" lirih Rara.


"Wah, ngeledek si Tom! Masa kita dimelet-meletin!" ucap Raja.


Kali ini, Raja dan Rara semakin memperhatikan langkah mereka. Pasalnya, sekarang mereka sedang berusaha melewati si pitbull Tom, yang tengah asik tiduran deket pot bunga besar. Keringat dingin mulai membasahi wajah Raja apalagi ketika hewan itu, menggonggong sekali lagi, sampai membuat Raja dan Rara itu kembali berteriak dan terkejut.


Spontan Raja langsung membawa tangan Rara lari terbirit-birit, lalu Raja naik ke pohon mangga diikuti dengan Rara. Sekali lagi, Pak Johan dan Dokter Salma tertawa ngakak sejadi-jadinya di halaman rumahnya melihat kelakuan Raja dan Rara. Sementara itu, si Tom malah cuma bengong melihat sang tuan yang sedang terkekeh, sambil mengibas-ibaskan ekornya dengan cepat.


"Pak! Kandangin nggak anjing itu! Mending saya ketemu setan daripada ketemu anjing kayak begitu!" pekik Raja memarahi Pak Johan.


"Iya ya, Ja, mending ketemu hantu daripada digonggongin gini," sejadi-jadinya." Rara ikut menggerutu seraya memeluk pohon mangga tersebut.


"Norak banget sih mereka!" sungut Dokter Salma, menatap penuh cibiran, lalu pergi ke dalam rumah.


"Pak, tolongin kita dong, Pak," pinta Raja.


Masih dengan terkekeh, pria itu akhirnya memasukkan si pitbul ke kandangnya kembali dan memastikan telah terkunci dengan benar. Dia pun membantu Raja dan Rara turun dari pohon mangga.

__ADS_1


"Kalian pas naik pada cepet banget jago-jago, lah kenapa pas turun malah pada nggak bisa, ya?" kata Pak Johan seraya terkekeh.


"Ih, si bapak mah bikin jantung saya pindah aja ke kepala," sahut Raja.


Pak Johan lantas meminta para asisten rumah tangganya untuk membantu Raja memandang nasi kotak dari mobil Raja ke dalam rumah. Setelah pria itu melakukan pembayaran, mereka pamit. Namun, sebelum Raja masuk ke dalam mobil, ia melihat salah satu asisten Pak Johan bernama Siti, tengah memandang rumah di belakang dinding rumah Pak Johan. Raja mendekati.


"Mbak, ngapain bengong?" Raja membuat wanita itu tersentak karena Raja mengejutkan saat dia menepuk bahu wanita itu.


"Ih, si Mas ngagetin aja!" tukasnya.


"Lah, lagian si mbak bengong di sini," sahut Raja.


"Saya dengar suara orang nangis, Mas Rumah di belakang ini kosong. Tiap malam ada suara yang nangis karena kamar saya nempel sama tembok kamar rumah itu. Saya malah takut yang nangis itu suara hantu," ucap Siti menjelaskan.


"Masa sih, Mbak?" Raja mengernyit.


Ia lalu masuk ke dalam mobil bersama Rara.


...***...


Raja yang penasaran, melintasi rumah kosong tadi. Rupanya, di tempat itu sudah ada Adam, Fasya, dan juga Rangga yang sedang melakukan uji nyali.


"Ya, jangan dong, Fas. Elu kan bisa liat juga kayak gue. Kalau si Rangga mah gue berasa bohong dia jadi sok sok -an aja dia pakek bilang bisa liat hantu," bisik Adam.


"Gue takut diomelin bunda tau!" sahutnya.


"Gue beliin bakso deh. Apa nasi padang, apa sate ayam plus lontong, gimana?" rayu Adam.


"Gue juga mau makan, dong," pinta Rangga menimpali.


"Lah, elu makan mie rebus aja nggak usah ikutan!" sahut Adam.


"Dih, begitu amat luh!" sungut Rangga.


"Ayo, kita ke sana buruan!" ajak Fasya akhirnya.


"Eh, mau denger nggak? Gue baru dapat pesen kalau temen gue punya video penampakan hantu di depan rumah itu," ucap Rangga.


Mereka mendengarkan cerita Rangga bak mendengar dongeng sebelum tidur. Mereka berjalan kaki karena jarak tempuh yang sangat dekat dari sekolah. Rumah kosong tersebut berhadapan dengan halte bus yang lama.


“Nih, gue dikasih lihat videonya dari HP bokap gue yang dapet dari Pak RT. Ada banyak penampakan tau. Ada sosok nenek-nenek, perempuan kakinya buntung, sama anak kecil. Tuh, pada liat kan hantu nya ya pada jalan biasa, lewat gang itu. Nah terus hilang di dekat rumah kosong,” cerita Rangga.

__ADS_1


"Video penampakan ini udah nyebar, dong?" tanya Adam.


"Nggak, kok. Rekaman itu nggak disebarluaskan, cuma ditunjukkan saja kepada warga yang penasaran terus pada saling kirim, deh, jadi nyebar," imbuh Rangga.


"Ya, sama aja dong disebar juga!" Adam menoyor kepala Rangga dengan gemas.


Video itu merupakan tangkapan kamera pengawas yang terpasang di depan gang dekat halte dan rumah kawannya Irfan.


Dalam waktu singkat ya jelas saja kabar penampakan hantu yang terekam video itu sudah tersebar luas. Hampir seluruh warga di jalan itu sudah mengetahui cerita tersebut. Akibatnya tak sedikit dari mereka yang merasa seram saat melintas di depan rumah kosong tersebut.


“Sejak tersiar kabar tersebut, satu per satu warga menceritakan peristiwa yang pernah dialami dengan rumah itu. Mereka mengaku pernah melihat penampakan di sana malam hari,” lanjut Rangga.


"Ya, tentu aja. Karena pasti ada sebagian yang mempercayai jika hantu penghuni rumah kosong itu bisa saja mengganggu orang lewat," ucap Fasya.


"Selain penampakan menyeramkan, ada juga suara aneh dari dalam rumah," tukas Rangga mencoba menakuti.


“Gua juga dengar tuh suara anak kecil nangis. Kadang ada pula suara perempuan tertawa," sahut Raja yang tiba-tiba mengejutkan ketiga pemuda itu.


"Kampret si Raja ngagetin aja!" pekik Adam.


Sementara itu, Rangga sudah memeluk Fasya dari samping saking ketakutannya.


"Pada ngapain sih ke sini?" tanya Raja.


"Gue mau uji nyali, Kak. Katanya sering kelihatan wujud penampakan yang katanya nenek-nenek,” jelas Adam yang sebenarnya belum pernah menjumpai sendiri makhluk itu.


"Heh, nanti gue aduin ke bunda loh!" ancam Raja.


"Jangan, Kak! Nanti gue diomelin habis ama dia," sahut Adam.


"Ja, lihat ada yang ngintip di jendela!" bisik Rara mendekat karena ketakutan di mobil sendirian.


Cerita rumah kosong yang angker itu sudah melekat sejak rumah itu dikosongkan. Rumah berukuran sedang itu ditinggalkan penghuninya sejak empat atau lima tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu alasan pemilik rumah mengosongkan tempat itu.


"Kok, mukanya kayak Dokter Salma, ya?" gumam Raja.


Rara mengangguk mengiyakan. Sosok hantu wanita itu hanya menatap Raja dengan tatapan datar yang menusuk dengan tampilan wajah pucat nya.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


__ADS_2